
Di dalam rumah seperti biasanya, seorang pria selalu mengerjai wanita yang tinggal bersamanya. Sesuatu yang seharusnya tidak bisa dijadikan topik masalah tapi selalu di buat menjadi topik masalah. Malam ini hal itu kembali terjadi, keduanya kembali beradu mulut.
"Apa yang kamu lakukan di situ?" Johan menatap Anatasya yang sedang berdiri di balkon rumah dengan pandangan ke kota.
Terlihat pancaran sinar lampu di mana-mana, membuat Kota Australia semakin indah untuk dipandang. Gedung tinggi yang kokoh pun memancarkan sinarnya yang berasal dari lampu yang terpasang di dalam gedung.
"Apa kamu tidak punya mata?" Bukannya menjawab, Anatasya malah menanyakan hal yang tidak masuk akal.
"Ditanya malah balik bertanya," gumamnya.
"Terus apa yang kamu lakukan di sini?" Anatasya kembali bertanya dengan santai seperti seorang teman.
"Aku bingung mau mulai dari mana, pada intinya aku mencintai seorang wanita tapi aku sendiri tidak tahu harus bagaimana," ujar Johan.
"Jangan meminta bantuaku, aku tidak pandai soal cinta," balas Anatasya.
"Siapa yang meminta bantuanmu? aku hanya curhat," kata Johan lagi.
"Apa kamu pikir aku teman curhatmu!" balas Anatasya, geram.
Johan dan Anatasnya kembali beradu mulut.
"Pantas Erlando tidak menyukaimu, kamu terlalu suka mencari masalah!" kata Johan, membalas perkataan Anatasya.
Anatasya terdiam mendengarnya, dengan perasaan sedih ia pun memilih pergi meninggalkan Johan.
"Kamu mau ke mana!" teriak Johan.
Anatasya tidak menggubris teriakan Johan, dengan mata berkaca-kaca Anatasya melangkah pergi memasuki kamarnya. Johan mengikuti langkah kaki Anatasya.
"Anatasya, maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu." kata Johan dibalik pintu kamar.
"Johan, apa yang kamu lakukan? Kenapa Anatasya menangis." Ratri menghampiri Johan yang kini berdiri di depan pintu kamar Anatasya.
"Entahla Buk," jawab Johan.
Johan dan Ibunya pun pergi ke ruang tamu untuk berbincang-bincang.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Ratri.
Johan membulatkan matanya menatap Ibunya yang kini memandangnya.
"jawab saja tidak perlu malu," kata Ratri saat melihat ekspresi Johan.
"Buk, apa aku salah jika menaru perasaan padanya?" tanya Johan pada Ibunya dengan pandangan ke lantai.
"Kamu tidak salah jika menyukainya. Tapi caramu salah, kamu bukan membuatnya menyukaimu tapi malah akan menjauhimu," jelas Ratri.
"Aku harus bagaimana Buk. Aku bingung," kata Johan lagi.
"Kamu sudah dewasa, kamu tahu mana yang benar dan mana yang bukan. Ibu yakin kamu pasti bisa." Kata Ratri kemudian pergi ke kamarnya.
Johan, menatap Ibunya yang kini pergi meninggalkannya seorang diri diruang tamu.
"Apa aku terlalu kasar padanya?" Batin Rian.
__ADS_1
Waktu menunjukan pukul 8 malam, Johan berulang kali menguap, ia pun tertidur di ruang tamu.
Anatasya keluar dari kamarnya dan mendapati Johan yang tertidur pulas. Ia pun menghampiri Johan dan menutup tubuh Johan dengan selimut.
"Terimakasih," ucap Johan. Anatasya terkejut saat mendengarnya.
Johan menarik selimut yang diberikan Anatasya dengan mata yang masih tertutup.
****
Sepasang suami istri yang belum lama tinggal bersama dengan kehidupan harmonis keluar rumah untuk menikmatin suasa di malam hari, membuat mereka lupa bahwa ada 3 anak di rumah yang menunggu mereka.
Pemandangan malam hari "Opera Hous"
Restaurants. Di tempat inilah Erlando dan istrinya makan malam. Sejak mereka menikah sampai mereka memiliki anak, Erlando belum pernah mengajak istrinya keluar.
Penampilan Nazia.
Penampilan Erlando.
"Aku telah berjanji pada diriku, Ibu dan di depan semua orang untuk menjaga dan melindungimu. Malam ini aku akan memperlakukanmu selayaknya istri sekaligus Ibu dari anak-anaku. Aku berjanji untuk tidak menyakitimu lagi," Batin Erlando.
Erlando menatapa istrinya dengan senyum bahagia, Nazia pun membalas senyum suaminya.
"Aku sudah memaafkan kaka jauh sebelum kaka minta maaf," ucap Nazia tersenyum.
Acara makan malam mereka pun selesai, Nazia mengajak Erlando untuk pulang karena kembar dan Reix dititip di rumah Ibu sekaligus mertuanya.
"Aku masih ingin berdua denganmu," kata Erlando menarik tangan istrinya yang kini berdiri.
"Tapi Kak, kasihan Ibu harus mengurus ketiganya." balas Nazia.
Dengan pasrah Erlando menuruti keinginan istrinya.
"Resiko cinta hadirnya terlambat," gumam Erlando lirih.
Nazia terkekeh mendengarnya. "Ayo Kak, jangan sampai Sahka dan Nazira menangis, kasihan Ibu." kata Nazia.
"Ayo," ajak Erlando kemudian melangkah meninggalkan Nazia dibelakang.
"Terimakasih sudah kembali padaku Kak, aku harap kaka akan bersikap baik padaku sampai ajal menjemputku." Batin Nazia saat mengikuti langkah suaminya.
Erlando berbalik menatap Nazia yang kini tersenyum padanya.
"Apa kamu memikirkan sesuatu?" tanya Erlando saat menghampiri istrinya.
"Tidak," jawab Nazia berbohong.
Erlando menyatukan tangannya dan tangan istrinya, mereka pun pergi menuju tempat mereka memakirkan mobil.
__ADS_1
Erlando membukakan pintu mobil untuk istrinya, setelah itu ia pun masuk. Mobil mereka meleset pergi, saat di perjalanan Erlando menepikan mobilnya.
"Kak, kenapa kita berhenti di sini?" tanya Nazia.
Erlando mendekat, tanpa izin Nazia ia pun mencium bibir istrinya. Nazia terkejut saat mendapatkan perlakuan yang tiba-tiba. Erlando kembali melanjutkan aksinya saat melihat Nazia menerima ciumannya.
Nazia mendorong tubuh suaminya saat ia merasa tidak dapat bernafas, Erlando sudah dikuasai nafsu. Hinggga hal yang barusan terjadi kembali terulang.
Wajah Nazia memerah saat Erlando menatapnya dengan jarak yang sangat dekat, nafas keduanya tak beraturan. Erlando tersenyum saat melihat wajah istrinya.
"Maafkan aku," ucap Erlando kemudian pergi menuju rumah mereka.
"Kak, bagaimana dengan Kak Anata, kenapa kaka bisa putus dengannya?" tanya Nazia penasaran.
"Dia menghianatiku," jawabnya singkat.
"Jadi aku tempat kembalimu saat Kak Anata menghianatimu." Batin Nazia.
Dengan segera Nazia menghilangkan prasangka buruk dari pikirannya.
"Aku sudah berjanji untuk melupakan masalalu Kak Erlando dan menerimanya kembali, aku tidak boleh berfikiran yang aneh-aneh. Aku tidak akan membiarkan Kak Anata mengambil Ayah dari anak-anakku. " Batin Nazia.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di rumah, Erlando membukakan pintu mobil untuk istrinya. Nazia pun turun, mereka masuk ke dalam rumah bersamaan menuju kamar Reix. Di dalam kamar ada Melyana, Reix dan sikembar.
"Buk, Ibu bermalam di sini saja yah, sudah larut. Nanti besok baru aku antar Ibu pulang." kata Erlando.
"Iya Buk. Ibu tidur di sini saja," sambung Nazia.
"Kalian istrahatlah, Ibu mau tidur dengan cucu Ibu di sini." kata Melyana.
Erlando dan istrinya pun keluar dari kamar anaknya menuju kamar mereka. Sesampainya di dalam Erlando mengunci pintu dari dalam, Nazia menatap aneh suaminya.
"Sayang," panggil Erlando.
Deg, panggilan itu lagi. Detak jantung Nazia berjalan cepat.
"Aku menginginkannya," lanjut Erlando dengan tatapan sedu.
Nazia mengangguk menandakan ia mengizinkan suaminya untuk menyentuhnya.
Erlando menggendong tubuh istrinya, membawanya ke atas tempat tidur. Ia mencium kening kemudian berpindah di bibir istrinya. ********** hingga malam yang menjadi malam yang singkat bagi para jomblo menjadi malam yang panjang bagi Erlando dan Nazia. Berulang kali mereka melakukannya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Maaf Readers, aku tidak bisa mengisi hal-hal yang dapat mengundang nafsu, aku takut jiwa jombloku meronta meminta dicarikan pasangan halal 😂😂😂😂
__ADS_1
Jangan karena di skip likenya tidak mendarat 😁😁😁😁