Jangan Di Baca. Ngak Nyambung

Jangan Di Baca. Ngak Nyambung
Apa Salahku. Episode 33


__ADS_3

**Halo Readers. Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca dan memberi dukungan dengan komentar yang membangun serta like dan vote kalian 😊


Yuk mampir di karya Awal Tanpa Cinta 😊


Happy Reading 😊**


****


Pagi yang begitu cerah, orang-orang kembali pada aktivitas mereka. Mobil berlalu lalang. Hati yang pernah tersakiti kini mulai sembuh seiring berjalannya waktu. Membuat sang pemilik rumah sakit tertawa karena ocehan anak kecil yang membuatnya merasa lucu karena tingkahnya.


Erlando membuka matanya saat mendengar tawa Reix. Seketika senyumnya terukir di wajah tampannya. Menyaksikan dua orang tersayangnya tertawa lepas.


"Ibu, apa benda ini membuat ibu sakit?" tanya Reix menunjuk selang infus yang kini terpasang ditangan dan hidung ibunya.


"Tidak, Ibu tidak merasa sakit." jawab Nazia sambil mengelus kepala Reix.


"Ibu, apa Ayah menyakitimu?" tanya Reix lagi.


Nazia terdiam, kemudian tersenyum, "Tidak, Ayah tidak menyakiti Ibu." ucap Nazia berbohong.


"Ibu berbohong kan Buk. Aku tahu Ibu membohongiku. Paman Johan memberitahuku bahwa Ibu pergi karena Ayah menyakiti Ibu." ujar Reix menatap Nazia.


"Aku janji Buk, suatu saat nanti, jika aku sudah besar aku akan membahagiakan Ibu. Aku janji pada Ibu, aku akan menjaga adik-adikku. Ibu jangan takut." ujar Reix kemudian memeluk Nazia.


Nazia terharu mendengarnya, air mata bahagia berhasil jatuh membasahi pipinya. Anak yang masih kecil bisa mengatakan hal yang harusnya orang dewasa katakan.


"Ibu percaya padamu."


Rian merenggangkan tangannya.


"Ayah, kenapa Ayah tidak menjaga ibuku." Kata Reix cemberut.


"Siapa bilang Ayah tidak menjaga Ibu. Ayah semalaman di sini."


Erlando menolak apa yang dikatakan anaknya.


Cekrek, pintu terbuka lebar.


Erlando, Nazia dan Reix menoleh ka arah pintu.


"Oma...." panggil Reix bahagia.


Melyana, Adiswa dan Bi Neona serta suaminya tersenyum mendengar teriakan Reix, mereka pun duduk di sofa yang ada dalam ruang perawatan Nazia.


"Sayang, kamu pulang dulu dan bersihkan tubuhmu serta mandikan Reix. Ibu tidak mengijinkan kamu menggendong sikembar dengan bau badanmu yang bau apek." jelas Melyana.


Mereka yang ada dalam ruangan tertawa mendengar perkataan Melyana.


"Oma, Ayah tidak pernah memandikanku, aku selalu mandi sendiri." ucap Reix dengan polosnya seperti orang yang tak berdosa.


"Hei, kenapa kamu malah berpihak pada mereka. Aku ayahmu dan." ucapan Erlando terpotong.


"Aku anakmu." sambung Reix.


"itu kamu tahu."


Nazia dan lainya tertawa lepas menyaksikan dua orang yang sedang beradu mulut di hadapan mereka.

__ADS_1


"Ayah dan anak sama aja." timpal Nazia.


Erlando dan Reix pun pamit untuk pulang, Erlando melirik Nazia.


"Ayah ayo cepat. Kita harus pulang mandi, Reix mau lihat sikembar." cemberut Reix saat melihat ayahnya yang tidak melangkahkan kakinya keluar.


"Iya... Bawel sekali kamu." ujar Erlando kemudian mengendong Reix.


Erlando pun pergi menuju ruangan bayi, ia memandangi anaknya dari balik kaca.


"Ayah, adiku cantik dan tampan yah."


"Iya. Ayo kita pulang setelah itu kita kesini lagi dan." ucapan Erlando terpotong.


"Kita gendong sikembar." sambung Reix lagi.


Dengan langkah cepat Erlando berjalan menuju tempat parkir. Dengan senyum mengembang ia membuka pintu mobil dan menyuruh Reix duduk di tempat bagian depan.


Mobil mereka meleset pergi meninggalkan rumah sakit. Dalam perjalanan Reix terus membuat Erlando tertawa.


"Terimakasih sudah hadir dalam hidupku, membuatku tersenyum dan tertawa. Aku janji akan menjagamu dan merawatmu seperti anak kandungku sendiri." Batin Erlando.


"Ayah, saat aku dewasa nanti, aku akan menikahi adiku." kata Reix saat mereka berada di dalam mobil.


Erlando membulatkan matanya saat mendengar anak yang masih kecil mengatakan hal yang belum seharusnya ia tahu.


"Jangan menatapku seperti itu." ucap Reix kesal.


"Berapa umurmu?" tanya Erlando, ia sengaja menanyakan umur Reix sekalipun ia tahu.


"7tahun." jawabnya singkat.


"Baru sehari."


"Adikmu masih kecil." kata Erlando sambil mengelus kepala Reix.


"Aku tahu itu, tadi kan aku bilang kalau aku sudah dewasa nanti." ucap Reix cemberut.


Percakapan Reix dan Erlando harus terhenti karena mereka sudah sampai di mansion.


Erlando turun dan membukakan pintu untuk anaknya, mereka pun masuk. Erlando meminta pelayan untuk memandikan Reix.


****


Jerman/Rumah Sakit Magesta.


Dokter Alfano dan Dokter Mega masuk ke dalam ruangan Nazia untuk mengecek sekaligus membesuk Kepala Rumah Sakit tempat mereka berdua mengabdi.


"Apa masih sakit?" tanya Dokter Mega saat memegang perut Nazia.


"Sudah tidak Dok." jawabnya tersenyum.


"Selamat yah untuk bayimu. Aku gemes melihatnya, bolehkah aku menggendongnya nanti saat kamu sudah sehat." kata Dokter Alfano yang disambut senyum oleh semua orang yang ada di dalam ruangan.


"Dokter boleh menggendongnya, kapanpun itu." jawabnya.


****

__ADS_1


Mansion


Reix mencari ayahnya, ia masuk ke dalam kamar tapi tidak ada ayahnya di sanah. Ia pun turun dengan hati-hati. Erlando melihat Reix hampir terjatuh dari tangga membuat rahangnya mengeras.


"Siapa yang ku tugaskan untuk menjaga anakku!" teriak Erlando.


Semua pelayan saling tatap dan mengegeleng.


"Maafkan aku Tuan." ucap salah seorang pelayan.


"Aku membayarmu dan apa yang kamu lakukan.! Kamu membiarkan anakku berjalan sendiri." bentak Erlando.


Tak ada yang berani menjawab lagi.


"Ayah, ini bukan salah mereka. Tapi salah Ayah." Ucap Reix.


Erlando menaik turunkan alisnya. "Maksud kamu apa. Jelas-jelas kamu hampir terjatuh."


"Ayah menyuruhku untuk menunggu dan menyuruh kakak itu" ucapnya sambil menunjuk pelayan yang Erlando marahi. "Untuk pergi melanjutkan pekerjaannya." Lanjutnya lagi.


"Benarkah.!" ucapnya tidak percaya.


"Maafkan aku." ucap Erlando pada pelayan yang ia marahi. mereka pun keluar menuju tempat parkir mobil, Reix mengikuti langkah ayahnya dari belakang.


"Apa kamu ingin menjadi bodyguard ayah.! Kenapa berjalan di belakang, percepat langkahmu dan jalanlah di samping ayah." perintah Erlando.


"Aku salah terus." gumamnya pelan tapi masih didengar oleh Erlando.


Erlando menghentikan langkahnya.


Brukkk.....


"Ah... Kenapa Ayah berhenti.!" kesal Reix sambil memegang kepalanya.


Erlandok terkekeh melihat raut wajah Reix saat sedang kesal.


"Kamu jelek sekali kalau lagi marah." ucap Erlando kemudian meraih tangan Reix dan menuntunnya berjalan disampingnya.


Mereka pun masuk ke dalam mobil dan pergi ke rumah sakit. Hampir 20 menit perjalanan kini mereka sampai di tempat tujuan. Erlando meraih tangan anaknya dan mereka pun berjalan menuju ruang rawat, Nazia.


"Ayah, jangan cepat-cepat.!" teriak Reix kesal.


Erlando membalikan badannya dan menggendong Reix. Mereka pun berjalan menuju lift. Lift terbuka dan mereka masuk. Tak membutuhkan waktu lama, kini mereka telah sampai di lantai atas khusus pemilik rumah sakit. Saat Erlando hendak membuka pintu ia melihat pemandangan yang ia tak ingin lihat.


"Kenapa dia harus tersenyum di depan pria itu. Apakah aku cemburu?" Batin Erlando.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa like, komen, fav, rate dan vote. Terima kasih ya 😍😍


__ADS_2