Jangan Di Baca. Ngak Nyambung

Jangan Di Baca. Ngak Nyambung
Apa Salahku. Episode 30


__ADS_3

****Halo Reader, bertemu lagi dengan karyaku Apa Salahku.😊 Jangan lupa like sebelum membaca yah. Hehehe.


Oh ya, jangan lupa mampir di karya Awal Tanpa Cinta 😊


HAPPY READING. 😊****


.


.


Australia


.


.


.


"Sayang, kamu makan sekarang yah, setelah itu kamu beresin pakaianmu dan tunggu Ayah di ruang TV." kata Erlando sambil mengambilkan makanan dan meletakannya dipiring.


"Kita mau kemana Ayah?" tanya Reix.


"Nanti kamu akan tahu. Sekarang kamu makan dulu." jawbnya, kemudian beranjak pergi menuju kamarnya.


Cekrek.... Pintu Apartemen terbuka.


Reix menoleh, senyum terukir diwajah tampannya. Ia sangat bahagia bisa memiliki ayah angkat dan dua paman yang sangat menyayanginya.


"Halo paman." sapa Reix.


"Hai sayang." balas Johan.


"Di mana ayahmu?" tanya Johan.


Reix tersenyum.


"Ayah?" Reix berfikir sejenak." Ah..haa. paman, apa paman tahu. Ayah menyuruhku untuk membereskan pakaianku. Hiks, hiks. Ayah pasti akan mengembalikanku di Panti Asuhan." ujarnya dengan tangis.


Erlando mendengar suara tangis dari luar kamar, ia pun bangkit dan pergi mengecek siapa yang menangis.


"Johan.! Apa yang kamu lakukan pada anakku?" tanya Erlando saat menghampiri Johan dan Reix.


"Aku yang harusnya bertanya padamu. Apa salahnya, kenapa kamu mau membawanya kembali ke Panti Asuhan?" tanya Johan.


Erlando duduk di sebelah kiri Reix sambil memijat keningnya yang tak terasa sakit.


"Reix. Ayah tidak akan membawamu ke sanah." jelas Erlando.


"Kenapa Ayah menyuruhku untuk membereskan pakaianku?" tanyanya sesegukan.


"Kita akan pergi ke tempat Oma dan Opa."


"Benarkah. Paman... Ayah akan membawaku bertemu Oma sama Opa." ucapnya sambil berhambur memeluk Johan.


Erlando tersenyum melihat Reix tertawa lepas.


*****


Esok harinya....


Jerman

__ADS_1


.


.


Erlando menuntun Reix membawanya masuk kedalam mansion. Semua pelayan saling melempar pandangan satu dengan yang lain, ada pertanyaan yang ingin mereka tanyakan tapi tak ada yang berani bertanya. Hingga niat itu mereka urungkan.


"Kumpulkan semua pelayan, ada hal penting yang ingin aku katakan." tita Erlando.


Reix bersembunyi dibelakang tubuh Erlando. Kemudian keluar dan melihat-lihat isi dalam mansion.


"Ayah. Rumah ini besar sekali Ayah. Rumah kita yang kemarin kecil." kata Reix dengan senyum.


Erlando tersenyum kecil melihat Reix yang kini menariknya untuk menaiki tangga.


"Tunggu semua orang berkumpul. Setelah itu kita istrahat di atas."


Semua pelayan mulai berkumpul.


"Maafkan aku karena menyita waktu kalian sebentar. Aku mengumpulkan kalian disini karena ada yang ingin aku katakan." jelas Erlando yang kini berdiri tegak.


"Kenalkan, ini Reix dia anak sulungku. Aku harap kalian bisa bersikap baik padanya." lanjutnya.


Semua pelayan membungkuk sejenak tanda hormat pada tuannya.


"Selamat datang tuan muda." sapa seorang pelayan kepercayaan Erlando.


"Ayah.! Mereka memanggilku Tuan muda. Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya polos.


Erlando terkekeh mendengar pertanyaan Reix.


"Kamu hanya cukup nurut dan tidak boleh menjahili mereka yang ada di sini."


"Sekarang kalian boleh pergi dan lanjutkan pekerjaan kalian."


"Baik Tuan."


Waktu sudah menunjukan pukul 19:00. Erlando merasa ada yang menarik kakinya, ia pun mengerjapkan matanya pelan. Senyum terlukis di wajahnya saat ia melihat Reix berdiri berkacak pinggang dengan muka cemberut.


"Ayo sini." ajak Erlando.


Reix tak memperdulikan ajakan ayahnya.


"Apa kamu marah?" tanya Erlando sambil menarik tubuh Reix membawanya dalam pelukannya.


"Ayah, bukankah Ayah akan membawaku pergi menemui Oma dan Opa." kata Reix cemberut.


Erlando tersenyum. "Sekarang, kamu turun dan tunggu Ayah dimeja makan. Ayah mau mandi dulu setelah itu kita sarapan dan."


"Kita ke rumah Oma dan Opa." sambung Reix senang.


"Anak pintar," ucap Erlando.


Reix turun menuju meja makan dan Erlando masuk kedalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, ia terus tersenyum membayangkan hal yang pasti namun diragukan olehnya. Tapi keraguan itu tak membuatnya menyerah. Ia berharap bahwa video yang di kirim Johan adalah kebenaran.


Hampir 15 menit di dalam kamar mandi, kini Erlando keluar dan bersiap-siap. Ia memakai baju jas hitam lapisan dalam putih dan celana yang senada dengan warna jas yang ia kenakan. Tanpa menunggu lama, ia pun keluar dari kamarnya menghampiri Reix yang tengah duduk menunggunya.


"Ayah, apa harus terlihat tampan untuk bertemu Oma." ledek Reix.


Erlando terkekeh mendengar perkataan anaknya yang menurutnya masih kecil.


"Sempat Ayah bertemu Ibu baru untukmu." ucapnya santai kemudian duduk disamping anaknya

__ADS_1


"Ayo makan." ajak Erlando sambil mengambilkan makanan untuk Reix.


Reix diam dan tak mau menggubris ucapan ayahnya.


Erlando memandangi anaknya yang kini memalingkan pandangan ke tempat lain.


"Apa kamu marah?" tanya Erlando.


"Hmm." jawab Reix singkat tanpa menoleh menatap ayahnya.


"Jika ada yang salah dengan ucapan Ayah tadi. Ayah minta maaf."


Reix memalingkan wajahnya kembali menatap ayahnya. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Ayah, aku tidak mau Ibu baru. A-ku mau Ibu yang ada di handphon Ayah." ucapnya sesegukan.


"Oke baiklah. Sekarang kamu makan, Ayah akan membawamu bertemu seseorang."


Reix pun makan dengan lahap, ia tak sabar lagi bertemu Oma dan Opanya.


Makan malam telah usai, dua insan yang sedari tadi berniat untuk keluar bertemu orang tercintanya kini beranjak pergi menaiki mobil dan keluar dari pekarangan mansion. Reix meminta ayahnya untuk menurunkan kaca jendela mobilnya sebentar saja. Namun sang Ayah tak mau menuruti keinginan anaknya. Menurutnya angin malam tak baik untuk anak kecil.


Lampu jalan dimana-mana, membuat Reix takjub dengan pemandangan malam yang menurutnya Kota Jerman sangat indah.


Hampir 20 menit perjalanan, kini mereka sampai di tempat tujuan. Sebelum ke Jerman, Johan sudah memberinya alamat. Dan alamat itu ketahui oleh Erlando sehingga mudah sekali untuk ia kunjungi.


****


Jerman/Rumah Sakit...


Sejak kemarin Nazia merasa perutnya sakit, Melyana dan lainnya merasa cemas, mereka pun membawa Nazia ke rumah sakit. Namun belum ada tanda-tanda bahwa Nazia akan melahirkan.


"Ibu, kenapa perutku sakit sekali Buk?" tanya Nazia gemetar, rasa hawatir menyelimuti dirinya yang kini berbaring di ranjang rumah sakit.


"Itu pengaruh bayi yang kamu kandung sayang, bukan hanya 1 anak yang kamu akan lahirkan, tapi dua. Kamu harus optimis."


Nazia menyatukan kedua tangannya, ia memaninkan jari-jari tangannya, terlihat jelas rasa cemas yang membuatnya terasa pucat dan gemetar.


"Ibu, boleh aku minta sesuatu?" tanya Nazia.


"Apa sayang, katakan apa yang kamu inginkan."


"Ibu, saat aku melahirkan nanti, dan jika aku tidak bisa membuka mataku lagi. Aku minta sama Ibu untuk memberi kasih sayang kepada kedua anakku. Rawat mereka untukku Buk." pintah Nazia dengan senyum yang ia sengaja ciptakan.


Cekrek...... Suara pintu ruangan Nazia terbuka.


Nadira dan Melyana menoleh.


.


.


.


.


.


Bersambung......


Kira-kira siapa yah yang buka pintu. 😁😁

__ADS_1


__ADS_2