
**Halo Readers, semoga kalian suka part ini 😊
Jangan lupa tap jempolnya ya. Hehehe
Happy Reading 😊**
****
Tidak ada istri yang tidak terluka bila melihat ayah dari anak-anaknya terbaring lemas, terlebih lagi berada di zona antara hidup dan mati. Jangan tanyakan lagi seberapa besar luka Nazia saat menatap suaminya yang hanya menutup mata. Sakit? Sudah jelas
sakit, namun apala daya. Ia hanya manusia biasa sama seperti orang lain.
"Pa... pa... pa..." celoteh beby Sahka saat Nazia meletakannya di samping suaminya.
"Ungaaaa..." tangis beby Nazira saat digendongan Nazia.
"Ibu, baringkan saja Nazira di samping ayah. Lihatlah, Sahka tidak menangis berbaring di samping ayah," ujar Reix menatap ibunya.
Nazia membaringkan Nazira di samping Erlando, tangis Nazira berhenti saat tangan mungilnya memegang jari ayahnya.
"Hik... hik... hik..." tawa Nazira saat tangan mungilnya kembali memegang tangan ayahnya.
"Reix, jaga adikmu dan ayah dulu ya! Ibu mau mandi sebentar," ujar Nazia. Nazia pun pergi ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Di dalam kamar mandi, Nazia menyalakan kerang air. Membiarkan air mengalir membasahi tubuhnya dengan pakaian yang masih melekat ditubuhnya.
Nazia keluar dari kamar mandi setelah 20 menit di dalam. Dengan langkah kaki cepat ia mengambil pakaian ganti kemudian mengganti pakaian di kamar anaknya.
"Beby, apa kalian rindu ayah? Kak Reix juga rindu ayah. Hikz, hikz, hikz." tangis Reix pecah saat melihat adiknya terdiam memandangi ayah mereka.
Bayi yang tidak tahu apa-apa terdiam menatap sang ayah, tangan mungil keduanya meraih tangan sang ayah. Senyum dan tawa terdengar dari mulut bayi yang baru setahun lebih.
"Reix!" panggil Nazia saat mendapati anaknya menangis.
"Ibu!" dengan segera Reix menghapus air matanya.
"Bantu ibu gendong beby Sahka dan beby Nazira ya. Sudah saatnya mereka makan," ujar Nazia sambil menggendong beby Sahka meletakannya di tempat yang sudah di sediakan.
"Iya, Buk!" kata Reix sambil mengulurkan tangannya untuk menggendong baby Nazira.
__ADS_1
"Ibu, biar aku saja yang memberi makan adikku! Ibu mandiin ayah saja," ujar Reix.
Reix memberi makan kedua adiknya sedangkan Nazia mengelap tubuh suaminya. Keduanya masing-masing pada tugas mereka. Reix sangat lihai memberi makan kedua adiknya, membuat Nazia bahagia melihat anak sulungnya pandai dan sangat rajin.
Malam hari...
Malam yang terasa dingin, hampa tanpa tawa Erlando. Nazia dan ketiga anaknya berbaring di tempat tidur yang jaraknya hanya satu meter dengan ranjang Erlando. Saat Erlando dirawat di rumah, Nazia membersihkan kamarnya sehingga mereka bisa satu kamar sekalipun tidak seranjang. Reix tidur di samping kiri, kedua adiknya di tengah dan Nazia di samping kanan tempat tidur. Berseblahan dengan tempat tidur Erlando.
"Sayang, tutup matamu dan tidurlah. Besok kamu harus ke sekolah," ujar Nazia.
"Iya, Buk. Ibu juga tidur ya," kata Reix sambil menutup matanya.
Reix dan ketiga adiknya sudah terlelap, sedangkan Nazia masih menatap suaminya. Bulir air mata berhasil menetes membasahi pipinya. Ada kerinduan yang mendalam, rindu tawa dan candaan suaminya.
"Sayang!" panggil Nazia pelan sambil memegang tangan suaminya, "apa kamu suka panggilan itu? Mulai sekarang, aku akan memanggilmu dengan panggilan itu." Nazia memeluk tangan suaminya.
"Reix sudah pandai menjagaku dan menjaga adik-adiknya. Apa kamu tidak ingin menyaksikan kepandaiannya? Bukalah matamu dan kita akan memulai kehidupan yang baru tanpa tangis lagi dan hanya akan ada kebahagiaan," tangis Nazia pecah membasahi pipinya.
Pagi hari...
Cahaya pagi menyilaukan menembus kaca jendela kamar rumah elit Erlando. Nazia mengerjap membuka matanya pelan-pelan. Pandangannya tertuju pada sosok yang ia sayangi. Reix, berdiri di depan tempat tidur dengan berpakaian seragam yang rapih.
"Sayang, maafkan ibu. Ibu tidak tahu kalau sudah pagi." Nazia bangun dari tidurnya memegang pundak anaknya.
Pukul 12 malam. Saat Nazia bangun menghampiri Erlando, Reix membuka matanya saat mendengar tangis ibunya. Namun ia diam dan tak ingin membuat ibunya tahu kalau ia juga tidak bisa tidur.
"Ibu, aku sudah buatkan makanan untuk kembar dan untuk ibu. Nanti ibu makan ya, aku mau berangkat ke sekolah dulu," ujar Reix sambil mencium tangan ibunya.
Sejak Erlando koma, Nazia meminta Pak Aksan dan Bi Neona untuk tinggal bersama mereka. Dan pagi ini, Reix di antar oleh Pak Aksan ke sekolah.
"Pak, sebentar pulang dari sekolah antar aku ke rumah Oma ya," pinta Reix saat mereka di perjalanan menuju sekolah
"Iya, Tuan."
"Jangan memanggilku Tuan. Aku masih kecil, panggil aku Reix saja!" ujar Reix dengan senyum menatap Pak Aksan.
Mobil berjalan dengan kecepatan tinggi, tinggal beberapa menit mereka akan sampai ke sekolah. Reix terdiam menatap mobil berlalu lalang, orang-orang yang kembali pada aktivitas mereka.
"Seandainya ayah tidak sakit, pasti ayah akan seperti mereka. Bekerja untuk anak-anaknya!" gumam Reix pelan namun masih dapat di dengar oleh Pak Aksan.
__ADS_1
"Apa Tuan merindukan Tuan besar?" tanya Pak Aksan. Ia lupa dengan perkataan Reix untuk tidak memanggilnya dengan panggilan Tuan.
"Pak, Reix sudah bilang! Panggil Reix saja jangan panggil, Tuan. Aku tidak suka!" ujar Reix cemberut.
"Baiklah Nak Reix," ucap Pak Aksan tersenyum.
"Kita sudah sampai, sekarang Nak Reix ke kelas ya. Belajar yang rajin dan semangat!" ujar Pak Aksan saat mereka sudah sampai di depan sekolah.
Rumah Magesta...
Sepulang dari sekolah, Reix meminta Pak Aksan untuk mengantarnya ke rumah Omanya. Dan disinilah mereka sekarang berada.
"Oma, Reix ingin mengatakan sesuatu sama Oma," ujar Reix.
Melyana dan Adiswa serta ART yang lain saling tatap. "Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Melyana.
"Jangan minta ayahku menikah lagi," ujar Reix dengan bulir air mata yang tak mampu di tahan lagi. "Apa Oma tidak sayang ibuku!" lanjut Reix dengan isak.
Melyana memeluk tubuh mungil Reix, mereka berdua pun menangis. Orang-orang yang menyaksikannya pun ikut sedih.
Aku ibunya Nazia, tapi aku tidak memikirkan perasaan Nazia, dan Reix hanya anak yang diadopsi Erlando tapi perduli pada anakku, Nazia. Batin Melyana.
"Oma janji, Oma tidak akan meminta ayahmu untuk menikahi Tante Laura!" ujar Melyana.
"Oma, aku pulang dulu nanti ibu cariin aku." Reix pamit pada semua orang yang ada di rumah Magesta.
Dengan langkah pendeknya Reix berjalan sambil melambaikan tangannya pada semua orang yang ada di dalam rumah. Pak Aksan membukakan pintu mobil untuk Reix, Reix pun masuk ke dalam mobil. Mobil meleset pergi meninggalkan Rumah Magesta. Tak membutuhkan waktu lama, Reix dan Pak Aksan pun sampai di rumah elit kompleks moderen, tempat mereka tinggal.
"Ibu... Ibu kenapa, Buk?" tangis Reix pecah.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....