Jangan Di Baca. Ngak Nyambung

Jangan Di Baca. Ngak Nyambung
Apa Salahku. Episode 44


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul 22.00, Nazia terlihat mondar mandir di depan pintu utama. Sesekali ia memainkan jemarinya, melirik jam yang ada di dinding rumahnya. Rasa hawatir menyelimuti dirinya, suami yang ia tunggu belum juga pulang. Suasa malam yang begitu dingin tak membuatnya untuk berhenti menunggu suaminya.


"Kenapa Kak Erlando belum juga pulang? ini kan sudah jam 10 malam," batin Nazia.


"Non, apa yang Non lakukan di situ?" tanya Bik Syam.


"Kak Erlando, Bik. Dia belum juga pulang. Aku takut dia kenapa-napa," kata Nazia sambil memainkan jemarinya.


"Mungkin di rumah sakit banyak pasien, Non," ujar Bik Syam.


"Mungkin, Bik. Aku coba tanya Kak Johan dulu." Nazia mengambil ponselnya di atas nakas.


Dengan tangan gemetar, Nazia mencari kontak Johan. Terlihat jelas nama Johan di sana, Nazia menindis lingkaran hijau yang terdapat gambar telepon di dalamnya.


"Halo, Kak. Apa Kak Erlando masih di rumah sakit?" tanya Nazia saat panggilan telepon terhubung.


"Bukannya tadi Erlando sudah pulang?" batin Johan.


"Kakak masih di situ kan?" tanya Nazia lagi saat tidak mendapat respon.


"Maaf, Nazia. Kakak tidak tahu. Kakak sudah di rumah sejak tadi," kata Johan.


"Baiklah Kak, aku matiin teleponnya yah, Kak"


Nazia memutuskan panggilan teleponnya.


****


"Erlando ke mana? bukannya tadi dia yang pulang lebih dulu," gumam Johan.


Johan mengambil kunci mobilnya berjalan keluar mencari Erlando. Saat ia melewati 1 Restaurants ia melihat Anata membawa Erlando.


"Bukannya itu Erlando? mereka mau kemana? aku harus mengikuti mereka," batin Johan.


Mobil Anata meleset pergi meninggalkan Restaurants. Johan mengikuti mereka dari belakang, terlihat Anata memakirkan mobilnya di Apartemennya. Saat Anata hendak membawa Erlando keluar dari mobil, tiba-tiba Johan menghampiri mereka.


"Apa yang kamu lakukan pada, Erlando?" tanya Johan.


"A-aku tidak melakukan apa-apa." Anata menjawab terbata-bata.


"Lalu kenapa Erlando bisa bersamamu? dan kenapa Erlando pingsan?" tanya Johan menyelidik.


"A-aku," ucapnya terpotong.


"Bawa Erlando di mobilku sebelum aku melaporkanmu!" Johan mengancam Anata.


Dengan kesal, Anata membantu Johan membawa Erlando ke dalam mobil. Mobil Johan meleset pergi meninggalkan Anata yang kini berdiri mematung di depan Apartemennya.


****


"Apa aku telepon Adrian saja?" gumam Nazia.

__ADS_1


Saat Nazia hendak menghubungi Adrian, tiba-tiba Johan datang. Nazia menghampiri Johan dengan tatapan bingung.


"Bantu aku bawa Erlando masuk," kata Johan.


Dengan segera Nazia membantu kakaknya membawa Erlando ke dalam kamar.


"Apa yang terjadi, Kak?" tanya Nazia panik.


"Kamu jangan hawatir, Erlando akan baik-baik saja." Johan menenangkan Nazia.


"Aku pulang dulu, Nazia." Johan pamit dan pergi meninggalkan rumah Erlando.


Nazia membuka spatu suaminya serta jas yang Erlando pakai. Ia memandangi tubuh suaminya, menelusuri setiap inci bibir Erlando dengan jari jemarinya.


Erlando membuka matanya perlahan, senyum terukir di wajah yang kini memerah. Dengan buasnya Erlando menarik tubuh istrinya, menciumnya dengan paksa. Nazia memberontak tapi ia kalah, tenaga Erlando lebih kuat. Erlando melepas setiap kancing baju istrinya dan membuangnya di lantai.


"Aku menginginkannya," kata Erlando dengan tatapan sayu.


Nazia memandangi suaminya sejenak, kemudian ia mengangguk tanda mengiyakan.


Erlando yang mendapat jawaban, membuatnya menjalankan aksinya. Dengan segera, Erlando melepas semua pakaiannya. Kini, mereka tak memakai apa-apa.


Erlando menindih tubuh istrinya, ******* bibir seksinya dengan tangan yang menjelajah kemana-mana. Nazia merasakan kenikmatan hingga 1 desahan keluar dari mulutnya.


Erlando yang mendengar desahan itu membuatnya semakin mempercepat aksinya. Lagi dan lagi, hinga waktu menunjukan pukul 1 malam. Namun mereka masih dengan kegiatan panasnya.


"Terimakasih, sayang." Erlando lemas di atas tubuh istrinya setelah ia mencapai puncak.


Erlando tertidur disamping istrinya dengan tubuh yang tak memakai apa-apa.


"Ada apa dengan Kak Erlando? tidak seperti biasanya," gumam Nazia.


Dengan mengumpulkan sekuat tenaga, Nazia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh suaminya. Hingga malam itu mereka tidur tanpa sehelai baju.


****


Pagi hari...


Nazia mengerjap, membuka matanya pelan-pelan. Ia melihat Erlando masih tertidur. Nazia memilih bangun untuk menyiapkan sarapan buat suaminya dan anak-anaknya. Saat ia hendak berdiri, sekujur tubuhnya terasa sakit.


"Akhhh.... Kak Erlando buas sekali! badanku remuk semua!" umpat Nazia kesal.


"Kamu sudah bangun?" tanya Erlando dengan suara seraknya.


"Iya, tapi badanku sakit semua. Kakak kasar sekali!" ketus Nazia.


Erlando terkekeh melihat istrinya yang kesal.


"Kenapa Kak Johan yang membawa kakak pulang? Kakak dari mana semalam? dan kenapa kaka bisa sekasar itu?" Nazia melontar banyak pertanyaan.


"Satu satu kalau mau bertanya, aku pusing mau jawab yang mana dulu," celetuk Erlando.

__ADS_1


Nazia menarik napasnya, menghembuskannya perlahan. "Jawab yang menurut kakak harus di jawab,"


"Semalam aku bertemu Anata, tapi bagaimana mungkin aku bisa pulang dengan Johan? apa minuman yang semalam aku minum ada obatnya? jika iya, kenapa aku bisa bersama, Johan?" batin Erlando.


"Aduuh, badanku sakit semua," keluh Nazia.


"Untung aku melakukannya dengan Nazia, jika hal itu terjadi pada Anata. Aku yakin, Nazia akan pergi meninggalkanku," ucap Erlando dalam hati.


"Kamu di kamar saja, nanti aku yang antar Reix ke sekolah. Dan untuk Sahka dan Nazira, nanti Bik Syam dan Bik Inah yang jaga," kata Erlando.


"Tapi aku mau mandi, Kak. Badanku lengket semua." Nazia bermanja.


Erlando menatap istrinya dengan senyum, "Apa kamu menginginkannya lagi?" tanya Erlando menggoda istrinya.


"Apa kakak sudah gila!" ketus Nazia.


"Tunggu di sini sebentar," kata Erlando.


Erlando memakai baju dan celananya berjalan menuju kamar anaknya, di sana ada kedua ART-Nya.


"Tolong jaga sikembar hari ini, dan tolong mandikan Reix. Jika sudah selesai panggil aku di kamar," kata Erlando.


"Iya, Tuan"


Erlando kembali ke kamarnya menghampiri istrinya yang kini sedang berusaha untuk masuk ke dalam kamar mandi.


"Kakak! lepaskan aku!!" teriak Nazia saat suaminya tiba-tiba menggendongnya.


"Kamu nurut saja! jika tidak, hal yang kamu tidak inginkan akan terjadi di dalam kamar mandi." Erlandao mengancam istrinya.


Nazia terbelalak mendengarnya, "Aku lebih memilih diam," gumam Nazia.


Erlando memandikan istrinya, memakaikannya baju dan mengoleskan krim di wajah manis istrinya tak lupa pula ia mengeringkan rambut istri tercintanya.


Nazia hanya menatap dan menurut apa yang suaminya katakan. Ia tidak ingin berdebat dengan suaminya. Jika ia memberontak, Erlando akan kesal dan itu tidak baik dalam ikatan pernikahan.


"Kamu terlihat cantik jika nurut seperti ini," kata Erlando setelah semuanya selesai.


Nazia tersenyum, tanpa sadar Nazia memeluk suaminya. Erlando membalas pelukan Nazia.


"Terimakasih sudah menerimaku menjadi Adik sekaligus istri untuk, Kakak."


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa dukungannya readers 😊


__ADS_2