
Pagi hari, Nazia bersiap-siap untuk ke Kampus menyelesaikan ujian tutupnya. Begitu pun dengan Kania. Nazia menghampiri Bi Neona meminta doa agar ujian tutup-Nya berjalan lancar. Nazia mencium tangan Bi Neona kemudian berangkat kekampus.
"Non.! Sarapan dulu baru pergi." teriak Bi Neona.
"Nanti di Kampus saja Bi. Aku sudah telat ni." ucap Nazia buru-buru.
Nazia masuk ke dalam mobil dan kemudian pergi menuju kampus. Hampir 30menit Nazia pun sampai di kampus.
KAMPUS
Nazia memakirkan mobilnya kemudian turun. Ia melihat Kania mondar mandir. Nazia menghampiri Kania. Mencoba memberi semangat kepadanya agar Kania bisa menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh pengujinya nanti.
"Apa kamu gugup?" tanya Nazia.
"Aku gugup, Nazia. Aku takut tidak bisa menjawab pertanyaan dari pengujiku nanti." Jawab Kania dengan rasa paniknya.
"Kamu harus optimis." ucap Nazia dengan memberi semangat.
"Kamu juga, Nazia." ucap Kania.
Hampir 10menit mereka menunggu. Kini giliran mereka berdua. Nazia dan Kania pun masuk, masing-masing dari mereka menghadap ke penguji mereka. Hampir 10menit mereka berdua selesai dan kemudian mereka keluarm Sesampainya di luar Nazia dan Kania saling berpelukan. Akhirnya perjuangan mereka untuk mendapatkan gelar Dokter sudah mendekati finish.
"Terimakasih Kania." ucap Nazia dengan tangis bahagia.
"Aku yang harusnya berterimakasih. Kamu banyak membantuku dalam perjuangan ini." ucap Kania dengan tangis.
Selesai berpelukan mereka pun berniat untuk pulang. Saat di parkiran Nazia melihat Ferdinan. Ia pun mencoba menggoda Kania.
"Ciee yang di jemput sama calon suaminya." ledek Nazia.
"Apaan sih kamu." ucap Kania memonyongkan bibirnya.
"Hahahahaha biasa aja kali.!" ledek Nazia lagi.
Dari kejauhan Ferdinan melambaikan tangannya dan tersenyum kepada Nazia dan Kania. Ferdinan merasa sangat bahagia melihat dua wanita yang di cintainya bahagia. Kebahagiaan Nazia adalah kebahagiaan Ferdinan juga dan kebahagiaan Kania juga menjadi kebahagiaan Ferdinan.
"Selamat sayang." ucap Ferdinan sambil memberikan bunga pada Kania.
Nazia yang menyaksikan itu membuatnya cemburu.
"Seandainya suamiku bisa seperti Kak Ferdinan mungkin aku juga bakalan bahagia" Batin Nazia.
__ADS_1
"Masa hanya Kania sih kak yang dapat hadiah. Punyaku mana." ucap Nazia cemberut.
"Kan kamu sudah punya suami." ucap Ferdinan meledek.
"Ih kaka. Apa kaka lihat suamiku di sini. Kan tidak ada. Jadi kaka dong yang harus memberiku hadiah." ucap Nazia lagi dengan cemberut.
"Kalau gitu besok kalian ikut kaka ke Bali.
Kaka ada mitting di sana dan kalian bisa ikut." ucap Ferdinan sambil mengelus kepala Nazia.
"Yes. Akhirnya bisa jalan-jalan lagi. Hahahaha." uvap Nazia dengan tawa kebahagiaan.
****
Apartemen
Kali ini Erlando tidur sendirian karena Anata sedang ke Luar Kota untuk menjalankan bisnisnya di sana. Erlando meraih handphonnya. Tak ada satu pun pesan atau panggilan dari Nazia. Erlando mencoba menghubungi Nazia namun di luar jangkauan. Erlando duduk kemudian memijat keningnya. Ia kembali mengingat ucapan Johan tentang jadwal mereka ke Bali.
"Dasar Wanita murahan.!" teriak Erlando kemudian membanting semua benda yang ada di hadapannya.
"Aku membiarkanmu pergi bukan berarti kamu berbuat sesuka hati. Aku akan membuatmu menyesal, Nazia."
Ferdinan tahu ada seseorang yang megikuti mereka. Ia pun mengelabui Erlando. Ferdinan membiarka Johan pergi dengan Nazia. Sedangkan Ferdinan bekerja sama denga seseorang untuk mengelabui Erlando. Sehingga yang Erlando tahu Nazia pergi berdua dengan Johan.
Erlando masuk kedalam mobilnya, ia memukul stir mobilnya. Emosinya kini memuncak. Ingin sekali ia memberi pelajaran kepada Nazia. Namun belum saatnya. Erlando tunggu sampai Nazia kembali dari Bali. Erlando menyalakan mesin mobilnya kemudian pergi meninggalkan bandara menuju Apartemen.
Sesampainya di apartemen Erlando membanting semua benda yang ada di dalam apartemennya. Pikiran kotornya kemana-mana. Ia membayangkan hal yang tidak-tidak terhadap Nazia.
"Aku akan memberimu pelajaran, Nazia. Aku tidak meminta hakku sebagai suamimu bukan berarti kamu tidur dengan pria lain" Ucap Erlando dengan emosi yang kini membuatnya seperti orang gila.
*****
Bali
Malam hari...
Mereka berempat sampai di Bandara Udara Internasional Ngurah Rai. Mereka pun pergi ke Hotel milik Ferdinan. Hotel yang ia bangun dari hasil kerjanya sendiri. Nazia dan Kania takjub dengan keindahan hotel milik Ferdinan. Mereka pun masuk, para karyawan yang bekerja di Hotel itu memberi hormat kepada mereka. Mereka pun pergi menuju kamar masing-masing untuk beristrahat.
Esoknya Ferdinan mengajak Kania pergi ke tempat yang Ferdinan sudah siapkan untuk Kania. Kania sangat beruntung bisa mendapatkan lelaki sebaik Ferdinan.
Sedangkan Johan mengajak Nazia untuk berkeliling. Ia ingin membuat Nazia bahagia sekaligus menebus kesalahannya karena tidak mencari Nazia di waktu lalu.
__ADS_1
"Nazia, ayo ikut kaka. Ada yang mau kaka omongin." ajak Johan lembut.
"Kaka mau ngomong apa?" tanya Nazia penasaran.
"Kaka tahu suamimu tidak bersikap baik padamu. Bahkan kaka tahu alasannya menikahimu" ucap Johan.
Deg. Hati Nazia serasa mau copot mendengar penuturan Johan. Bagaimana mungkin ada orang lain yang tahu tentang alasan pernikahannya apakah Johan memata mati mereka atau Nazia yang tidak sengaja curhat kepada Johan. Entahla, Nazia bingung memikirkannya. Toh apa yang Johan katakan itu betul.
"Inilah takdirku kak. Aku harus menjalaninya dengan baik. Di saat aku berada di posisi yang tidak baik. Aku bisa apa kak selain menerima dan mewujudkan permintaan ibuku." ucap Nazia tersenyum.
"Apa kamu punya niat untuk pergi atau mempertahankan rumah tanggamu?" tanya Johan.
"Aku akan bertahan sampai kesabaranku habis. Pulang dari sini aku akan kembali ke Apartemen dan menjalankan tugasku sebagai istri atau sebagai pembantu." jawab Nazia.
"Hubungi kaka jika kamu butuh bantuan atau butuh teman curhat." ucap Johan tersenyum.
"Ayo kita cari restaurat." ajak Johan.
Nazia dan Johan mencari restaurant, dalam perjalan ia selalu memperhatikan Nazia.
"Maafkan aku yang datang terlambat, jika aku datang lebih dulu mungkin kamu tidak akan sesedih ini." batin Johan
Mereka pun makan di salah satuh restaurant yang memiliki menu yang disukai oleh Nazia. Nazia sangat bahagia bisa pergi jalan-jalan. Kapan lagi fikirnya.
Johan mengeluarkan handphonnya dan meminta pengunjung lainnya untuk memotret Nazia dan Johan. Johan meminta Nazia untuk menatapnya dan kemudian tersenyum. Naza pun melakukan hal yang sama seperti yang Johan katakan. Johan mengambil handphonnya kemudian memposting foto mereka ke media sosialnya yang memang ia sengaja melakukannya untuk memanas-manasi seseorang.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1