Jangan Di Baca. Ngak Nyambung

Jangan Di Baca. Ngak Nyambung
Apa Salahku. Episode 38


__ADS_3

**Hallo readers, jumpa lagi dengan karya "Apa Salahku" episode 38. Semoga kalian suka dengan isi cerita di bab ini. Jangan lupa Votenya kaka-kaka 😁


Happy Reading 😊😊**


****


2 bulan kemudian


.


.


Australia


Johan tersenyum saat melihat wajah Anatasya di pagi hari, cantik tapi kebiasaan Anatasya membuat Johan menggelengkan kepala. Bagaimana tidak, Anatasya bangun dengan celana pendeknya yang menurut Johan itu sangat pendek. Tanpa memperdulikan orang lain, Anatasya menuruni anak tangga dengan mata tertutup.


"Apa kamu ingin mati!" bentak Johan di pagi hari.


Dengan cepat Anatasya membuka matanya.


"Siapa yang ingi mati?" tanya Anatasya.


"Kalau bukan kamu siapa lagi!" balas Johan, geram.


"Aku? siap bilang." tanya Anatasya bingung.


"Lalu kenapa kamu berjalan dengan mata tertutup?" tanya Johan dengan, geram.


Belum sempat Anatasya menjawab, Ratri sudah menjawabnya terlebih dahulu.


"Itu sudah menjadi kebiasaannya, sayang." jawab Ratri.


"Wanita aneh." gumam Johan kemudian pergi meninggalkan Ibunya dan Anatasya. Sedangkan Anatasya masih bingung dengan apa yang terjadi di pagi ini. Ratri yang melihat wajah bingung Anatasya membuatnya tertawa lepas.


"Ibu kenapa tertawa Buk?" tanya Anatasya. Ia bingung dengan sikap Johan dan sekarang, Ibunya malah tertawa.


"Tidak, cepat mandi dan turun untuk sarapan," ujar Ratri.


"Ia Buk,"


Meja makan


Hening, hanya bunyi sendok yang terdengar. Sesekali Johan melirik Anatasya yang makan seperti anak kecil. Sebenarnya ia cemburu melihat ibunya menyuapi Anatasya yang sudah besar, ia juga ingin disuapin tapi ia juga malu untuk mengatakannya.


"Apa kamu juga mau disuapin?" tanya Ratri pada Johan.


"Tidak, aku bukan anak kecil lagi." tolak Johan.


"Apa kamu pikir hanya anak kecil yang boleh disuapin.!" ucap Anatasya dengan suara agak keras.


"Itu tahu," jawab Johan santai.


"Sudah-sudah, jangan berkelahi lagi. Cepat makan dan bersiap-siaplah ke rumah sakit." kata Ratri menghentikan perdebatan kedua anaknya.


"Jika kalian berkelahi terus, lalu kapan kalian bisa menikah." lanjut Ratri lagi.


"Siapa yang mau menikah dengannya? Tampangnya ganteng tapi sikapnya," balas Anatasya.


"Siapa juga yang mau menikah denganmu.!" celetuk Johan.


"Jika seperti ini terus aku rasa rencanaku untuk menjodokan mereka akan gagal." Batin Ratri.


Hari ini jam piket Johan dan Anatasya bersamaan, mereka pun pamit untuk berangkat ke rumah sakit. Johan keluar dari dalam rumah menuju tempat parkir mobil, yang kemudian disusul oleh Anatasya.


"Kamu kenapa, Johan?" tanya Anatasya.

__ADS_1


"Apa kamu tidak punya mata," ucap Johan dengan kesal.


Anatasya merasa aneh dengan sikap Johan akhir-akhir ini, ia suka sekali marah-marah.


"Ya sudah, aku duluan yah," pamit Anatasya.


"Tunggu!" teriak Johan.


"Bagaimana ini, apa aku kesampingkan gengsiku dulu?" Batin Johan.


"Boleh aku numpang di mobilmu?" tanya Johan lirih.


"Hmmm, baiklah. Tapi kamu yang menyetir ya," kata Anatasya.


Mereka pun masuk ke dalam mobil dan meleset pergi.


"Rencanaku tidak sia-sia," gumam Ratri saat melihat Johan meminta tumpangan pada Anatasya.


****


Jerman


.


.


.


Lampu jalan mulai tak memperlihatkan sinarnya. Menandakan waktu sudah memasuki pagi. Sang pemilik Mansion terbangun dari tidurnya karena mendengar tangisan bayi dari sebelah kamar mereka.


"Sayang, ayo bangun." Erlando membangunkan istrinya.


"Humm," jawabnya, kemudian kembali menarik selimutnya.


"Sayang bangun.!" Erlando menarik tangan istrinya.


Erlando melihat istrinya yang pergi tanpa memanggilnya membuatnya berdecak.


"Dibanguni susah, giliran pergi tidak bersuara." gumamnya pelan.


Erlando keluar dan menghampiri istrinya di kamar anak-anak. Sesampainya di dalam. Erlando melihat Nazia menggendong Nazira dan Lisna sedang menggendong Sahka. Ia pun menghampiri keduanya.


"Lisna, berikan Sahka padaku," seru Erlando.


Lisna pun memberikan Sahka pada Erlando kemudian ia turun bergabung dengan pelayan lainnya.


"Anak Ayah sudah bangun ya." Erlando mengajak Sahka berbicara.


Tiba-tiba Sahka menangis, Erlando menatap istrinya dengan tatapa sedu, Nazia terkekeh melihatnya.


"Apa mereka belum makan?" tanya Erlando.


"Sudah Kak, Lisna sudah menyuapinya," balas Nazia.


"Terus kenapa Sahka menangis lagi." Erlando tidak tahu apa penyebap anaknya menangis.


"Coba kaka pegang celananya. Basah apa tidak," ucap Nazia.


Erlando pun memegang celana anaknya, ia tersenyum saat memandangi Nazia.


"Jangan memandangku seperti itu. Kaka bisa mengganti celananya." kata Nazia, tersenyum.


"Ibu, Ayah." panggil Reix dengan mata yang masih tertutup.


"Iya sayang," sahut mereka bersamaan.

__ADS_1


Nazia meletakkan Nazira di atas tempat tidur, kemudian ia meminta Reix untuk mandi yang di bantu olehnya. Tak membutuhkan waktu lama, Reix pun selesai mandi dan berpakaian.


Reix bahagia saat melihat kedua adiknya berada di atas tempat tidur. Dengan segera Reix menghampiri kedua adiknya dan mengajaknya berbicara.


Sahka dan Nazira selalu tertawa saat di ajak berbicara oleh Reix, Reix pun bahagia mendapatkan respon dari kedua adiknya.


"Kak, apa kita akan tinggal selamanya di Kota ini?" tanya Nazia.


"Tidak, kita harus kembali ke Australia." Erlando berkata sambil menatap istrinya.


"Bagaimana dengan pekerjaanku di sini?" tanya Nazia lagi.


"Kamu tidak perlu bekerja, aku yang akan bekerja untuk kalian. Jika kamu merasa bosan di rumah, kamu bisa ikut denganku di rumah sakit," jelas Erlando.


"Terus kapan kita pulang, Reix juga harus sekolah, " ujar Nazia.


"Secepatnya," jawab Erlando.


****


**3 minggu kemudian


Australia**


Nazia dan suaminya beserta anak-anaknya telah tiba di Australia. Rumah sakit kembali ia serahkan pada Neska. Sedangkan Ferdinan dan Kania sudah menikah sebulan yang lalu dan menetap di London. Melyana dan Adiswa kembali tinggal di Australia.


"Apa kamu suka rumah baru kita?" tanya Erlando pada istrinya.


"Suka Kak, tapi kenapa harus membeli rumah baru lagi. Kan kaka punya apartemen dan aku juga punya rumah peninggalan Ibu dan Ayah. kenapa kita tidak tinggal di rumah yang sudah ada." kata Nazia pada suaminya.


"Aku tahu, tapi di sini kan dekat dengan rumah sakit dan perusahaan, jika kamu bosan di rumah kamu bisa ke rumah sakit atau ke perusahaan," jelas Erlando.


"Terimakasih Kak,"


"Oh ya, kamu harus bersiap-siap sebentar malam. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," kata Erlando.


"Mau ke mana Kak?" tanya Nazia.


"Jangan banyak tanya, ikuti saja perintaku," tegas Erlando sontak membuat Nazia membulatkan matanya.


"Tapi..." ucapan Nazia terpotong.


"Tidak ada tapi-tapian," kata Erlando kemudian pergi menghampiri ketiga anaknya.


Dengan kesal Nazia mengikuti langkah kaki suaminya dan mendahului suaminya. Erlando menatap istrinya sejenak, ia terkekeh melihat wajah istrinya yang kini sedang tidak bersahabat dengannya.


"Hei! tunggu aku," teriak Erlando saat Nazia melangkah secepat mungkin.


"Awas kamu ya!" Erlando mengejar istrinya.


"Hahahahaha, ampun Kak, " terdengar tawa Nazia. Mereka seperti anak kecil yang sedang bermain.


Note:


Dendam tidak akan membuat hidup kita tenang, hiduplah seperti Nazia. Walaupun berulang kali disakiti tapi masih memberi maaf.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like, komen, up, fav dan Vote tentunya 😁😁


__ADS_2