
Telihat urat leher seorang wanita karena menahan amarah, wajah putihnya terlihat memerah. Terlihat jelas bahwa wanita itu sangat tidak dapat mengontrol emosinya.
PRAAAAAAANG.......
Terdengar bunyi dari dalam kamar, semua benda berhambur di lantai.
"Aku akan membalasmu, aku tidak akan membiarkanmu bahagia di atas penderitaanku. Kamu milikku bukan miliknya, aku akan membuatmu berlutut memohon maaf padaku!" kata Anata dengan mengepal kedua tangannya.
Anata keluar dari dalam kamarnya menuruni anak tangga, nampak jelas kecantikan yang terpancar. Tinggi, seksi, bibir tipis dengan rambut lurus yang terurai membuatnya semakin terlihat modis.
"Bik!" Anata memanggil pelayannya saat duduk di sofa.
"Iya Non," sahut pelayan.
"Tolong buatkan sarapan untukku, aku lapar sekali," kata Anata dengan tangan yang kini memegang remot TV.
"Iya Non," balasnya.
Analin, seorang pelayan paru baya yang bekerja sebagai pembantu di rumah Anata sejak Anata masih kecil. Analin meninggalkan Anata yang kini sedang nonton di ruang TV.
Kasihan Non Anata, dia pasti lagi ada masalah. Batin Analin.
Analin mulai menyiapkan makanan untuk majikannya, tak membutuhkan waktu lama sarapan telah tersaji. Analin menghampiri Anata yang sedang asyik menonton.
"Non, Anata. Makanan sudah disiapkan," jelas Bik Analin.
"Iya Bik, terimakasih!" kata Anata.
Analin pamit untuk pergi melanjutkan pekerjaannya. Namun langkahnya terhenti saat Anata memanggilnya.
"Bibi, tolong temani aku makan!" pinta Anata. Anata sudah menganggap Bik Analin sebagai orang tuanya sendiri. Sejak Anata dan Adrian kecil, Bik Analin lah yang merawat mereka.
Analin tersenyum, "Anak bibi sudah dewasa sekarang, apa ada yang menyakitimu?" kata Analin.
Anata memeluk Bik Analin, ia menangis dalam pelukan pembantunya, terasa nyaman. Itu yang bisa Anata rasakan.
"Apa aku tidak berhak bahagia? Kenapa Adrian tidak berpihak padaku! Hikz, hikz, hikz," tangis Anata pecah dalam pelukan Bik Analin.
"Jangan bersedih, jangan menyimpan dendam. Bibi yakin, suatu hari nanti akan ada seseorang yang datang memberi kebahagiaan pada Non Anata," kata Bik Analin.
"Ayo makan, Non harus semangat!" kata Bik Analin lagi.
Sekalipun ia sudah besar namun Anata sering bermanja pada Bik Analin. Hari ini, Anata kembali bermanja meminta Bik Analin menyuapinya.
****
Adrian masuk ke dalam rumah, ia melihat kakanya sedang bermanja membuatnya tersenyum.
Maafkan aku yang belum bisa menjadi adik yang baik untuk kaka. Perbuatan kaka salah, aku tidak akan membiarkan kaka merusak kebahagiaan orang lain. Aku tahu kaka baik, tapi cinta membuat kaka seperti ini. Aku harap kaka bisa bahagia dengan pria yang lain nantinya. Batin Adrian.
Adrian menyapa Bik Analin tanpa menyapa Anata, ia tahu Anata sedang mendiaminya. Adrian tak ingin memperkeruh suasana, ia pun memilik naik ke kamarnya.
__ADS_1
Di dalam kamar, Adrian menatap foto mereka berdua. Foto dirinya dan Anata, kakanya.
Seandainya aku tidak memperkenalkan Erlando pada kaka, kaka tidak mungkin sesakit ini. Maafkan aku kak," kata Adrian sambil memegang foto yang berukuran kecil terletak di atas meja samping tempat tidur miliknya.
Tok...
Tok...
Tok...
Terdengan ketukan pintu dari balik pintu kamar Adrian.
"Siapa?" tanya Adrian dari dalam.
"Bibi," jawab Bik Analin.
Terdengar langkah kaki dari dalam kamar, semakin dekat dengan pintu. Pintu terbuka lebar, Adrian melihat Bik Analin tersenyum padanya.
"Makan dulu, setelah itu Tuan istrahat," kata Bik Analin.
Adrian tersenyum melihat Bik Analin yang baik pada mereka.
"Bik, aku akan mencari pembantu yang baru," kata Adrian saat berada di meja makan.
Bik Analin menatapnya, "Apa bibi akan dipecat?" tanya Bik Analin.
"Tidak, bibi akan tinggal bersamaku dan kaka. Aku ingin bibi istrahat, bibi sudah lama mengurusku dan kaka. Aku sudah menganggap bibi sebagai Ibuku. Aku tidak ingin melihat bibi kecapean lagi," jelas Adrian.
"Terimakasih, kamu dan kakakmu sangat baik pada bibi," balas Analin.
"Bik, aku minta sama bibi jangan panggil aku Tuan lagi! Tapi panggil aku dengan nama atau anak, seperti orang lain memanggil anaknya!" kata Adrian dengan senyum.
****
Erlando baru saja selesai melakukan operasi pada pasien tumor. Membersihkan tubuhnya setelah melakukan operasi adalah kebiasaannya. Sama halnya hari ini ia kembali membersihkan tubuhnya dan beristrahat di dalam ruangannya. Erlando kembali mengingat Anata, mengingat kebersamaan mereka dulu. Bayangan Anata serta senyumnya hadir dengan tiba-tiba.
"Apa yang Anata lakukan sekarang? Aku harus meminta maaf padanya," gumam Erlando saat tengah berbaring dengan pandangan menatap langit-langit ruangannya.
Erlando melirik mejanya, ada handphon genggamnya di sana, dengan nafas yang sedikit kasar Erlando bangun meraih hendphonnya.
Ia mencoba menghubungi seseorang tapi nomornya di luar jangkauan.
"Kenapa nomornya tidak aktif?" gumam Erlando.
"Apa aku kirim pesan saja?" gumamnya lagi
Dengan lincahnya Erlando mengetik beberapa kata dalam aplikasi Watshapnya untuk mengirimkan pesan pada seseorang.
Temui aku di tempat biasa. Isi pesan
Pesan terkirim dan masih centang satu.
__ADS_1
Sore hari, pesan yang dikirim oleh Erlando telah terbaca.
"Aku bisanya jam 9 malam," Balasan pesan.
"Oke baiklah, aku tunggu kamu jam 9," Erlado mengirim balasan pesan yang baru saja masuk.
Erlando meletakan ponselnya ke dalam saku baju dokternya kemudian pergi melanjutkan tugasnya.
Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, Erlando bersiap-siap untuk pergi ke tempat biasa yang ia janjikan bersama si penerima pesan tadi.
Dengan langkah cepat, Erlando menelusuri lorong rumah sakit menuju lift. Ia menekan tombol lantai paling dasar yaitu Basement tempat ia memakirkan mobilnya.
Sesampainya di Basement Erlando menaiki mobilnya, menyalakan mesin mobil kemudian meleset pergi meninggal Rumah Sakit Magesta.
Sepanjang jalan Erlando terus mengubungi Nazia tapi nomor Nazia tidak aktif. Erlando mencoba untuk menghubungi nomor rumah tapi tidak ada yang mengangkatnya.
"Apa tidak ada orang di rumah?" gumam Erlando.
Sekitar dua puluh menit perjalanan, kini Erlando sampai di tempat yang ia akan datangi. Erlando menatap ke arah tempat duduk yang biasa ia duduki bersama wanitanya. Ada seorang wanita dengan pakaian seksi menunggunya di sana. Erlando menghampirinya.
"Maaf, aku terlambat datang!" kata Erlando.
"Tidak apa-apa, aku juga belum lama datang," jawabnya.
"Aku sudah memesan minuman untuk kita," katanya.
"Oke baikla," kata Erlando.
"Apa tujuanmu menemuiku?" tanya orang itu.
"Aku ingin meminta maaf padamu, atas perbuatanku dan rasa sakit yang aku tinggalkan. Aku sudah bahagia bersama keluarga kecilku jadi aku mohon jangan ganggu kehidupan kami," jelas Erlando.
Pesanan pun datang, Erlando merasa haus ia pun meminum minuman yang sudah ada di atas meja tempatnya duduk mereka.
Minum sampai habis, besok kamu akan berlutut memohon ampun padaku. Batin seseorang yang sedang bersama Erlando.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Mohon Kritik dan sarannya. Dan jangan lupa vote serta like komen, up 😊😊
__ADS_1