
Halo Readers. Berjumpa lagi dengan karya ku dengan judul Apa Salahku 😊 Jangan lupa like sebelum membaca, up, komen dan Vote 😊
Happy Reading 😍
****
Pagi hari....
Nazia berulang kali mengucek matanya. Ia pun bangun dari tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Saat hendak melangkah ia kembali melihat pemandangan yang ia tidak ingin lihat. Erlando tidur sambil memeluk Anata. Nazia mencoba menahan rasa sakit yang hadir di pagi itu.
"Jangan berharap lebih, Nazia. Kak Erlan menikahimu hanya karena permintaan ibunya bukan karena maunya. Bukankah hal ini kapan saja bisa terjadi." ucap Nazia pada dirinya sendiri.
Nazia melanjutkan aktivitas mandinya, ia keluar dari kamar mandi dan pergi ganti baju kemudian ia ke meja makan untuk sarapan roti di pagi hari. Nazia tidak membuat sarapan untuk Erlando maupun untuk Anata. Bahkan Nazia tidak menyiapkan baju kerja Erlando. Menurutnya siapa yang menemaninya tidur maka dialah yang harus menyiapkan semuanya.
Nazia bangkit dari duduknya beranjak masuk ke dalam kamar untuk meminta uang Jajan karena Nazia akan ke kampus. Saking ilfilnya Nazia enggan untuk menyentuh Erlando. Ia membangunkan Erlando menggunakan pulpen yang ditempelkan dipipi Erlando. Erlando merasa ada yang aneh membuatnya membuka mata. Ia melihat Nazia yang kini telah rapih dengan pakaian ala mahasiswi.
"Ada apa sih pagi-pagi juga." ucap Erlando kesal. Ia kesal bukan karena Nazia yang membangunkannya tapi kesal karena Nazia membangunkannya menggunakan pulpen.
"Aku minta uang, mau kekampus." jawab Nazia dengan santai.
Erlando melirik kesampingnya, ia melihat Anata masi tertidur pulas. Erlando kembali memandang Nazia. Sebenarnya ia tidak tega dengan Nazia tapi ia juga tidak bisa meninggalkan Anata.
"Ambil aja didompet ku." ucap Erlando, kemudian ia beranjak dari tidurnya menuju kamar mandi.
Nazia tak ingin menyentuh dompet Erlando. Ia memilih pergi tanpa membawa uang saku. Nazia keluar dari kamar menuju tempat parkir. Ia menyalakan mobilnya kemudian masuk dan keluar dari pekarangan Apartemen. Saat di perjalanan Nazia menepikan mobilnya di pinggiran jalan. Ia menangis sejadi-jadinya.
Apa salahku. Hiks, hiks, hiks. Kenapa kak Erlando tak sedikit pun memikirkan perasaanku hiks, hiks, hiks.
Setelah ia merasa tenang, Nazia kembali melanjutkan perjalanannya ke kampus. 20 menit telah berlalu Nazia sampai dan memakirkan mobilnya di parkiran kampus. Ia melihat Kania sedang berdiri seperti menunggu seseorang. Nazia pun menghampirinya.
"Tunggu siapa kamu?" tanya Nazia dengan melihat sekeliling.
"Tunggu kamu lah. Lama bangat sih." celetuk Kania.
"Maaf, maaf." ucapnya santai kemudian menarik tangan Kania lalu pergi.
****
Apartemen
Erlando selesai dengan aktivitasnya, ia membangunkan Anata kemudian menyuruhnya untuk sarapan. Anata tersenyum dan kemudian beranjak dari kamar menuju meja makan.
"Apa Nazia sudah berangkat?" tanya Anata.
"Iya," jawab Erlando santai.
"Apa kamu kekantor hari ini?" tanya Erlando.
__ADS_1
"Iya, aku ada mitting sama klien hari ini." jawab Anata.
Erlando mengambil gelas dan piring kotor kemudian mencucinya, sedangkan Anata asik dengan handphonenya. Erlando beranjak masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap ke rumah sakit.
"Ayo sayang, aku antar kamu setelah itu aku ke rumah sakit." kata Erlando.
Mereka berdua pun keluar dari Apartemen menuju tempat parkir. Erlando membukakan pintu untuk Anata. Mereka keluar dari pekarangan Apartemen menuju perusahaan. Saat dilampu merah Erlando melihat Ferdinan tepat disamping mobil mereka.
Ferdinan melihat Erlando dengan seorang wanita tapi ia tidak tahu siapa wanita itu. Ferdinan tetap melajukan mobilnya menuju tempat pertemuannya dengan klien.
Playfair Cafe
Erlando turun membukakan pintu untuk Anata. Di saat yang bersamaan Ferdinan juga ada di tempat kejadian dan ikut menyaksikan apa yang Erlando lakukan. Ferdinan mengepalkan kedua tangannya.
"Bisa bisanya Erlando menghianati Nazia." ucap Ferdinan saat melihat Erlando bermesraan dengan wanita lain.
Anata masuk dan Ferdinan pun masuk. Ferdinan tidak tahu jika wanita yang tadi dilihatnya bersama Erlando adalah kliennya sendiri. Ferdinan menghubungi Asistennya.
I was too strong you were trembling
You couldn't handle the hot heat rising (rising), umm
Baby I'm so rising
I was running, you were walking
There's only one way down
I'm giving
Dering teleponep Alex.
[Halo] jawab Alex.
[Batalkan kerja sama kita dengan perusahaan Woolworths] perintah Ferdinan.
[Iya Fer] jawab Alex singkat.
Tut tut tut. Telephone terputus.
******
Rumah sakit Magesta
Erlando duduk di ruangannya memikirkan perlakuannya terhadap Nazia. Ia tidak bermaksud untuk menyakiti Nazia. Hanya saja ia tidak bisa meninggalkan Anata. Erlando mengambil hanphon miliknya, ia melihat Foto pernikahannya dengan Nazia, seketika senyum terukir diwajah tampannya.
"Jangan harap kamu bisa pergi, Nazia." gumam Erlando dengan senyum.
__ADS_1
Erlando kembali meletakan henphonnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Jika di rumah sakit Erlando sangat ramah maka ia akan sangat dingin jika berada di perusahaan. Erlando sangat ditakuti oleh semua bahawannya. Hanya Asistennya Adrian yang selalu melihat senyum Erlando saat mereka di perusahaan.
Waktu sudah menunjukan pukul jam 1 siang. Erlando bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan. Ia melirik hendphonnya menunggu pesan masuk dari seseorang namun sejak pagi tadi sampai jam 1 siang tak ada pesan yang masuk dari seseorang yang ia tunggu. Ia pun tersenyum geli dengan sikapnya sendiri. Bisa-bisanya ia menanti pesan dari wanita yang ia benci.
Hahahhahahaha. Tawanya saat memikirkan sikapnya yang sedikit gila.
Erlando keluar dari ruangannya menuju tempat parkir, saat hendak menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Lan, aku bisa numpang kan, mobilku lagi diservice." kata Johan sambil membuka pintu mobil Erlando.
"Serius?" tanya Erlando memastikan.
"Tidak biasanya kamu numpang. Pasti ada sesuatu kan." tanya Erlando.
"Iya Lan, aku mau curhat ni. Beberapa bulan lalu ada pasien dan dia cantik bangat. Aku jatuh cinta padanya. Bantu aku ya untuk bisa mendapatkan hatinya." ucap Johan memohon.
"Kamu kira hati seseorang bisa kamu cabut. Hahahhahaha." canda Erlando.
"Hahahahha. Bisa aja kamu."
Saat diperjalanan, Johan melihat wanita yang ia suka. Johan menyuruh Erlando berhenti.
"Apa-apaan sih kamu." tanya Erlando dengan kesal.
"Aku melihat wanita yang aku ceritakan tadi. Dia masuk dalam Cafe itu." ucap Johan sambil menunjuk salah satu cafe yang ada dipinggiran jalan.
"Jangan bercanda deh." kata Erlando.
"Betulan Lan, aku tidak salah lihat kok." jawab Johan dengan serius.
Johan keluar dari mobil dan berjalan menuju cafe yang ia ingin tuju. Saat hendak masuk, wanita yang ia cari pun keluar. Mereka berdua pun saling sapa. Dari kejauhan Erlando terkejut melihat siapa wanita yang sedang mengobrol dengan Johan.
"Dasar wanita murahan." ucap Erlando sambil mengepalkan tangannya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Mohon kritik dan sarannya 😊