Jangan Di Baca. Ngak Nyambung

Jangan Di Baca. Ngak Nyambung
Apa Salahku. Episode 48


__ADS_3

"Apa kamu yakin tidak mau mempekerjakan Bi Syam dan Bik Inah lagi?" tanya Erlando saat mereka sedang santai di ruang keluarga.


"Aku yakin, Kak. Aku ingin menjadi Ibu yang baik untuk anak-anak. Aku ingin merawat dan mengurus mereka dengan tanganku sendiri dan mengurus kakak dengan tanganku juga," jelas Nazia.


"Oke baiklah. Tapi jika kamu kesulitan mengurus mereka hubungi Bik Inah atau Bik Syam minta mereka kesini," ujar Erlando lagi.


"Aku tidak perlu menghubungi mereka, kakak bisa membantuku mengurus anak-anak. Buatnya berdua yang urus hanya satu orang," ketus Nazia.


"Hahahha." Erlando tertawa lepas mendengar penuturan istrinya.


"Cepat mandi dan bersiap-siaplah ke rumah sakit," ujar Nazia.


"Aku shift malam sayang," balas Erlando sembari menggendong beby Nazira.


Drrttt... ponsel Nazia bergetar.


"Halo, Kania!" sapa Nazia saat panggilan telepon terhubung.


"Kirimkan aku alamat rumah barumu!" ujar Kania.


"Kamu di mana sekarang, Kania?" tanya Nazia dengan bingung.


"Aku di rumah lamamu," balas Kania.


"Apa! Jadi kamu di Australia! Oke, aku kirim alamatku sekarang."


"Sudah masuk kan?" tanya Nazia.


"Tunggu aku di rumah ya," ujar Kania.


Tut...


Tut...


Tut...


Panggilan telepon berakhir.


"Kania ke sini dengan siapa?" tanya Erlando sambil menggendong anaknya.


"Aku juga tidak tahu, Kak." Nazia berlalu pergi menyiapkan makanan siang.


"Anak Ayah sudah besar sekarang." Erlando menyatukan hidungnya dengan hidung beby Nazira.


"Hahahahaha." Tawa beby Nazira saat Erlando memainkan hidungnya.


"Ngaaaa. Ungaaa." Beby Sahka tiba-tiba menangis.


Dengan singgap Erlando meletakan beby Nazira di box bayi dan kembali menggendong beby Sahka. Beby Sahka berhenti menangis saat berada di gendongan Ayahnya.


"Ungaaaaaa...." Beby Nazira mulai menangis.


"Sayang... tolong bantu aku..." teriak Erlando.


"Hahahahahaha," tawa Nazia pecah saat mendapati suaminya dengan raut wajah yang patut dikasihani.


"Cepat bantu aku! Jangan menertawakan aku di situ!" celetuk Erlando.

__ADS_1


"Aa cup cup cup anak Ibu," Nazia menggendong beby Nazira.


"Ayah tidak menggendongmu lagi," Nazia mengajak anaknya berbicara. Tangis keduanya berhenti saat mereka sudah dalam gendongan Ayah dan Ibunya.


"Ma... ma... ma," celoteh beby Nazira.


"Anak Ibu sudah mulai bisa berbicara," ujar Nazia dengan senyum mengembang.


"Sayang, apa yang kamu lakukan jika keduanya menangis disaat aku tidak ada?" tanya Erlando sambil menggendong beby Sahka.


"Aku meletakan mereka berdua di tempat tidur dan menyanyikan lagu untuk mereka," jawab Nazia.


"Sayang sepertinya itu Kania," ujar Erlando saat mendengar klakson mobil di depan rumahnya.


Erlando melangkahkan kakinya mendekat ke pintu utama yang diikuti oleh Nazia.


Kreeeek. Pintu terbuka lebar.


"Kakak, aku rindu kakak." Nazia meneteskan air mata bahagia saat melihat Ferdinan di depan pintu.


"Kakak sudah di sini," ujar Ferdinan sambil menghapus air mata Nazia.


Kenapa aku merasa tidak sudi melihat pria lain menghapus air mata istriku. Batin Erlando.


"Ehem," Kania berdehem. Ia tahu Erlando pasti cemburu.


"Apa kalian akan berdrama di situ dan membiarkan aku berdiri menggendong anakku!" celetuk Kania dengan sengaja.


"Hahahaha aku sampai lupa kalau kamu juga datang," timpal Nazia mengejek.


"Ini anak kamu?" tanya Nazia sambil mengelus pipi mungil beby Syakila.


"Iya, Tante. Ini aku, Syakila." Kania meniru bicara anak kecil.


"Aku gemes lihatnya," ujar Nazia dengan senyum.


Waktu sudah menunjukan pukul 1 siang, Erlando pamit untuk menjemput Reix di sekolah. Dengan langkah panjang ia berjalan menuju garasi kendraan roda empat yang terletak di samping rumahnya.


Mobil sport warna silver, itulah warna mobil Erlando yang baru. Roda empat perlahan bergerak meninggalkan kompleks rumah moderen. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju Beaconsfield Primary School.


Erlando sampai di Beaconsfield Primary School setelah 15 menit perjalanan. Terlihat langkah pendek seorang anak dengan senyum mengembang yang memperlihatkan ada kebahagiaan di sana.


"Ayah..." panggil Reix berhambur menghampiri Ayahnya yang berdiri bersandarkan mobil sambil memainkan ponselnya.


"Hei, anak Ayah sepertinya bahagia sekali," goda Erlando.


"Iya, Ayah. Aku akan menceritakannya jika sudah sampai di rumah," ujar Reix sambil masuk ke dalam mobil.


Erlando masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin mobil kemudian pargi meninggalkan area sekolah. Sepanjang jalan, Reix terus menerus tersenyum membuat Erlando bingung namun ia bahagia melihat anaknya bahagia. Tak membutuhkan waktu lama, mobil mereka pun terparkir di garasi mobil samping rumah mereka berseblahan dengan mobil Ferdinan.


"Ibu...! Aku pulang!!" panggil Reix saat pintu terbuka.


"Anak Ibu sudah pulang," ujar Nazia saat Reix sudah ada di hadapannya dengan senyum yang tak hilang.


"Kamu bahagia sekali hari ini," kata Nazia.


"Eh, ada Om dan Tante." Reix baru menyadari kehadiran Kania dan Ferdinan.

__ADS_1


"Ibu, ini adik kecilnya siapa?" tanya Reix dengan menatap Beby Syakila.


"Itu anak Tante," jawab Nazia.


"Sekarang kamu ganti baju, mandi setelah itu turun ke bawah untuk makan. Kita akan makan siang bersama Tante dan Om juga," jelas Nazia pada Reix.


"Iya, Buk." Reix berlalu pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Erlando dan Ferdinan memilih duduk di ruang keluarga membiarkan dua wanita cantik menyiapkan makanan di meja makan.


"Maafkan aku," kata Erlando pada Ferdinan.


"Maaf untuk apa?" tanya Ferdinan tidak mengerti.


"Pernah melukai adikmu," balas Erlando.


"Aku tidak tahu harus bagaimana, sejujurnya aku marah saat tahu bagaimana perlakuanmu pada adikku. Tapi aku juga tidak bisa membalasmu karena aku tahu, adikku sangat menyayangimu." kata Ferdinan.


"Aku harap kamu bisa menjadi suami yang baik untuk adikku dan Ayah yang baik untuk keponakanku," ucap Ferdinan lagi.


"Aku tidak janji, tapi aku akan berusaha untuk menjadi dinding pertama untuk mereka," kata Erlando.


"Aku percaya padamu," ujar Ferdinan sambil menepuk bahu Erlando.


"Ayah, Om, ayo makan!" panggil Reix saat menghampiri keduanya.


Erlando dan Ferdinan pun beranjak dari duduknya menuju meja makan. 3 beby di letakan di box bayi sedangkan Reix ikut makan bersama ke empat orang dewasa yang kini duduk bersamanya.


Meja makan


Reix duduk di samping Ibu dan Ayahnya berhadapan dengan Kania.


"Kania, Kak Ferdinan. Kalian bermalam di sini saja ya, aku masih ingin melihat Syakila dan mau bercerita sama Kania," ujar Nazia.


Kania menatap suaminya, "Iya bisa asalkan kalian mau menampung kami semalam di sini," balas Ferdinan.


"Jangankan semalam, setahun pun kami siap menampung kalian," timpal Erlando.


"Hahahaha," tawa mereka bersamaan.


Makan siang pun usai, mereka kembali ke ruang keluarga. Tawa menggelegar di dalam rumah. Semuanya terlihat bahagia saat mendengar penuturan Reix.


"Ibu, Ayah dan juga Om serta Tante. Reix janji suatu hari nanti saat Reix sudah besar, Reix akan menjaga beby Sahka, beby Nazira dan juga beby Syakila. Kalian tidak perlu cemas," ujar Reix sambil memandangi ketiga adiknya.


Pada hakikatnya seorang kakak akan menjadi pelindung setelah Ibu dan Ayah.


.


.


.


.


.


Bersambung 😊

__ADS_1


__ADS_2