Jangan Di Baca. Ngak Nyambung

Jangan Di Baca. Ngak Nyambung
Apa Salahku. Episode 46


__ADS_3

Johan sangat lihai menggunakan pisau beda. Percakapan antara dirinya dan Anatasya terjalin saat di ruang operasi. Keduanya nampak seperti orang yang tidak memiliki masalah. Keduanya mengesampingkan masalah mereka dan mengutamakan keselamatan pasien.


Lampu dalam ruang operasi telah dimatikan, menandakan operasi telah selesai. Pasien dipindahkan di ruang perawatan, sedangkan Anatasya memilih duduk di ruang operasi sembari istrahat.


"Kenapa dia sampai semarah itu?" Batin Johan.


"Aku mau bicara sama kamu," kata Johan.


Anatasya melihat di sekelilingnya, hanya ada dia dan Johan. Anatasya menatap Johan, pandangan keduanya beradu. Tak berlangsung lama, Anatasya berdiri melangkah untuk pergi.


"Anatasya, tunggu!" cegah Johan dengan memegang tangan Anatasya.


"Ada apa lagi!" balas Anatasya.


"Tolong dengarkan penjelasanku!" Johan memohon pada Anatasya.


"Apa lagi yang perlu dijelaskan!" Anatasya menjawabnya dengan ketus.


"Apa yang kamu lihat waktu itu tidak seperti yang kamu pikirkan, aku bisa jelaskan siapa Merry." Johan memegang kedua tangan Anatasya, memandangnya dengan tatapan sayu.


"Aku tidak percaya!" ujar Anatasya berlalu pergi.


Johan menatap Anatasya hingga terhalang oleh pintu ruangan.


"Akhhhh... apa yang harus aku lakukan agar dia percaya padaku!" pekik Johan sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


****


Anatasya menghubungi pesien-pasiennya mengingatkan mereka untuk meminum obat yang ia berikan secara teratur.


"Halo, selamat siang!" sapa Anatasya pada seseorang di sebrang sana saat panggilannya terhubung.


"Siang," balas orang yang dihubungi.


"Aku Dokter Anatasya. Bagaimana keadaan Ibu kalian? Mohon teratur minum obatnya ya," ucapnya dengan senyum.


"Iya, Dokter. Terimakasih,"


"Sama-sama,"


Panggilan berakhir.


Tok...


Tok...


Tok...


Terdengar ketukan pintu dari luar.


Kreeeeek... Pintu terbuka lebar. Anatasya mengangkat wajahnya menatap ke arah pintu.


"Apa yang kamu lakukan di depan pintu, ayo masuk," kata Anatasya.


"Aku hanya ingin melihat wajah wanita cantik yang lagi cemburu," ledek Erlando.


"Siapa yang cemburu!!" Anatasya membulatkan matanya.


"Kamu terlihat jelek jika seperti itu," ledek Erlando lagi dengan tawa kecil.


"Apa kamu masih marah padanya?" tanya Erlando sembari duduk di kursi pasien.

__ADS_1


"Entahla, Lan. Aku bingung, aku takut dan," Anatasya menghentikan ucapannya.


"Dan apa?" tanya Erlando, "Kamu cemburu kan melihat Johan bersama Merry,"


"Kamu tahu dari mana?" tanya Anatasya dengan panik.


"Kamu jangan panik seperti itu, aku bisa jaga rahasia kok," ujar Erlando.


"Natasya, Johan sangat mencintai kamu. Apa kamu tidak kasihan melihatnya seperti itu!" katanya dengan menatap Anatasya, "Merry adalah teman kami saat masih kuliah dulu. Memang sih, Merry menyukai Johan. Tapi Johan tidak pernah membalas cintanya. Kamu wanita pertama yang membuatnya tergila-gila," jelas Erlando.


"Apa benar apa yang dikatakan Erlando," batin Anatasya.


"Hanya itu yang aku mau katakan, aku pulang dulu. Istri dan anak-anakku sudah menungguku di rumah." Erlando berlalu pergi.


Anatasya beranjak dari tempat duduknya, berjalan keluar mencari Johan. Ia menelusuri lorong rumah sakit menuju ruangan Johan.


Kreeeek. Pintu terbuka lebar.


"Jo-" ucapnya terhenti. "Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu kalian." Anatasya menutup kembali pintu ruangan Johan.


"Merry, maafkan aku. Tapi aku masih ada urusan lain," kata Johan berlalu pergi meninggalkan Merry sendiri di dalam ruangan.


"Anatasya tunggu!" panggil Johan.


Dengan mata berkaca-kaca Anatasya berlari menuju balkon rumah sakit. Dengan hampa Anatasya menekan tombol lift, lift terbuka dan Anatasya pun masuk.


Anatasya menangis di balkon, ia kembali meruntuki dirinya yang begitu percaya pada ucapan Erlando dan Johan. Jika Anatasya mendengar dari mulut orang lain mungkin ia masih tidak percaya, tapi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Johan berpegangan tangan dengan Merry di dalam ruangan.


****


Rumah Erlando


Terdengar tawa yang menggelegar di semua ruangan. Tawa yang membuat Nazia bahagia. Anak sulungnya sangat pandai beracting bahkan pandai menjaga kedua adiknya.


"Ka.. ka.. ka," Celoteh beby Sahka.


"Ibu!!" teriak Reix.


Nazia berlari menaiki anak tangga, ia takut anaknya kenapa-napa.


Kreeeeek. Pintu terbuka lebar.


"Ada apa, Sayang?" tanya Nazia dengan panik.


"Ibu, tadi adiku memanggilku!" ucapnya dengan senyum mengembang.


"Ibu kirain apa." Nazia mendengus mengeluarkan napasnya perlahan.


"Ma... ma.. ma." Beby Sahka menceloteh sambil mengibaskan tangannya.


"Ibu lihat kan, adik aku sudah bisa berbicara." Reix terlihat bahagia.


"Aku pulang, Sayang!" terdengar suara Erlando dari balik pintu kamar anaknya.


"Ayaaah." Reix berhambur keluar dari kamar memeluk Ayahnya.


"Kamu bahagia sekali malam ini," Erlando mencubit hidung Reix.


"Hehehehe, iya Ayah. Sahka sudah mengajakku berbicara!" ucapnya dengan mata berbinar.


"Iya kan, Buk." Reix mengajak Ibunya untuk membuka suara, mengiyakan apa yang ia ceritakan pada Ayahnya.

__ADS_1


"Iya, Ayah. Tadi beby Sahka mengajak Ibu dan Reix berbicara," kata Nazia meniru gaya bicara anak kecil.


Erlando menarik tangan istrinya menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.


"Aku suka mendengar gaya bicara itu, membuatku ingin memakanmu!" bisik Erlando ditelinga istrinya.


"Jangan macam-macam. Aku lelah dan ingin tidur nyenyak malam ini," kata Nazia.


Erlando beranjak dari duduknya menuju kamar mereka untuk membersihkan tubuhnya sekalian mengganti baju dan celananya. Tak membutuhkan waktu lama, Erlando keluar dari kamar mandi setelah 16 menit berada di dalam.


Dengan rambut basa yang acak-acakan Erlando keluar dari kamarnya menuju kamar anaknya.


"Ibu jangan Ibu. Geli, hahahahaha." Reix bermain dengan Nazia hingga membuatnya tertawa lepas.


"Hahahahahaha."


"Ayah, tolong aku, Ayah. Hahahhahahha." Reix berlari berlindung dibelakang Ayahnya.


Aku bahagia melihat kalian bahagia. Maafkan aku yang pernah menyakitimu, dan terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk menebus kesalahanku. Batin Erlando.


"Kak, ayo makan. Aku sudah masakin makanan kesukaaan Kakak," ujar Nazia sambil menggendong beby Nazira.


Meja makan


"Sayang, kamu makan yang banyak ya," kata Nazia sambil mengambil makanan untuk Reix.


"Kamu tidak mengambilkan makanan untukku!" kata Erlando cemberut.


"Ayah kan sudah besar, tidak perlu meminta Ibuku untuk mengambilkan makanan," ujar Reix.


"Tahu tuh, Ayah. sudah besar tapi masih mau bermanja," timpal Nazia.


"Jadi kalian berdua memarahi Ayah, begitu!" Erlando mengikuti permainan anak dan istrinya.


"Hehehehe," tawa Reix.


Makan malam telah usai. Keluarga kecil Erlando memilih duduk di ruang tamu sembari memutar TV. Sikembar berbaring di dalam box bayi, Reix memilih belajar. Sedangkan Erlando berbaring berbantalkan paha istrinya. Sesekali Erlando memasukan tangannya ke dalam baju istrinya, tangan yang tidak bisa berhenti menjelajah. Membuat Nazia kesal menatap suaminya. Sedangkan Erlando malah tersenyum melihat wajah kesal istrinya.


"Kakak!" bentak Nazia saat Erlando meremas payu dara Nazia.


"Ibu kenapa?" tanya Reix.


"Ti-tidak," jawab Nazia terbata-bata.


Erlando terkekeh mendengarnya.


Waktu sudah menunjukan pukul 23:00, Erlando menggendong Sahka membawanya ke dalam kamar. Saat hendak membuka pintu Reix menghentikan langkah Ayahnya.


"Ayah, aku ingin tidur bersama kalian," kata Reix


"Sial, gagal lagi malam ini," umpat Erlando pelan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Halo Readers dan Author hebat. Jangan lupa tap likenya ya 😊


__ADS_2