
**Hallo readers, berjumpa lagi dengan karya "Apa Salahku" di episode 37. Semoga kalian belum bosan yah 😁. Jangan lupa like sebelum membaca atau sesudah membaca, serta komen, up dan vote. 😊
Happy Reading 😊😊**
****
Australia
.
.
.
Cinta untuk keluarga tidak akan pernah hilang dalam diri seseorang, baik keluarga yang jahat maupun keluarga yang penyayang. Kasih sayang untuk seorang Ibu tak dapat diukur dengan kata ataupun kalimat. Namun untuk membuktikan kasih sayang itu kebanyakan orang-orang menerapkannya dalam bentuk lisan, tulisan bahkan tindakan sekalipun.
Setahu Johan, ibunya telah meninggal beberapa tahun yang lalu dalam kecelakaan mobil saat Ibu, Ayah dan supir mereka hendak ke Bandara. Namun siapa sangkah, ia kembali melihat Ibu yang dianggapnya telah meninggal dunia ada dihadapannya.
"Buk, aku bahagia Ibu masih hidup." ucap Johan dengan bahagia.
"Maafkan Ibu, Ibu tidak bermaksud untuk tidak memberitahumu." balas Ratri.
"Tidak apa-apa Buk. Aku bahagia Ibu masih hidup."
Flashback off
Ratri dan suaminya Riandi Winata serta supir mereka Agus, ayah dari Anatasya sedang menuju Bandara Sydney untuk melakukan perjalanan bisnis ke Jerman.
"Pah, cepat nanti kita terlambat." panggil Ratri pada suaminya.
"Tunggu sebentar." kata Riandi.
Ratri masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, tak berlangsung lama Riandi pun datang dan masuk ke dalam mobil.
"Pak, ayo berangkat." ucap Riandi pada Pak Agus, supir mereka.
"Baik Tuan."
Mobil meleset pergi. Saat diperjalanan, ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi menabrak mobil mereka. Mereka bertiga berlumuran darah dan Riandi tidak sadarkan diri. Ratri membuka matanya, ia melihat suaminya yang kini terluka parah.
"Nyonya!" panggil Pak Agus dengan suara agak keras.
"Cepat keluar, Nyonya. Cepat!" seru Pak Agus.
"Bagaimana denganmu?" tanya Ratri.
"Jangan perdulikan aku. Nyonya harus tetap hidup demi Tuan muda, Johan." ujar Pak Agus, ia tak mampu lagi menahan sakit.
"Nyonya, tolong jaga anakku, Anatasya." lanjutnya.
Ratri keluar dari dalam mobil dengan kepala yang berlumuran darah, darah bercampur dengan air mata saat mengalir membasahi pipinya. Dengan tenaga yang masih tersisah Ratri menjauh dari mobil. Tiba-tiba ia mendengar bunyi ledakan mobil.
Flashback On
"Jadi, Anatasya anaknya Pak Agus Buk?" tanya Johan tak percaya.
"Iya, sayang."
Johan menatap Anatasya lekat, "Ternyata selama ini kamu tahu siapa aku dan kamu tidak memberitahuku."
"Maafkan aku." ucap Anatasya menunduk.
"Kamu tidak perlu minta maaf." balas Johan.
"Terimakasih sudah menjaga ibuku selama ini. Aku berhutang padamu, dan maafkan aku atas kejahilanku di rumah sakit." ujar Johan tersenyum saat mengatakan kalimat terakhirnya.
__ADS_1
"Sebelumnya maafkan aku Buk. Tapi aku tidak memaafkan anak Ibu." ujar Anatasya, ia sengaja berkata begitu pada Ratri karena ia ingin menjahili Johan.
Johan yang mendengar penuturan Anatasya, sontak ia membulatkan matanya dengan mulut terbuka.
"Dasar wanita keras kepala." gumam Johan lirih.
"Hei, aku bisa mendengarnya." ucap Antasya geram.
Ratri terkekeh melihat tingkah anak-anaknya.
"Buk, Ibu ikut aku pulang yah." pintah Johan.
"Tidak bisa. Ibu harus tinggal bersamaku."
Belum sempat Ratri menjawab, Anatasya sudah menjawabnya terlebih dahulu.
"Dia ibuku jadi harus ikut denganku.!" ujar Johan sedikit kesal.
"Tapi dia juga ibuku.!!" balas Anatasya dengan suara takalah besarnya.
"Jangan berkelahi lagi.!" bentak Ratri. "Kalian berdua seperti anak kecil saja. Malam ini Ibu tidur dengan Anatasya. Besok malam Ibu tidur di rumah kamu, Johan." lanjutnya.
"Buk, bagaimana kalau Ibu dan Anatasya tinggal bersamaku!" ucapnya dengan senyum.
"Aku tidak mau tinggal denganmu." balas Anatasya.
"Kalau kamu tidak mau! Aku akan bawa ibuku pergi dan aku pastikan dia tidak akan datang menemuimu di sini." jelas Johan.
"Apa kamu sudah gila.!" bentak Anatasya, kesal.
"Semua keputusan ada ditanganmu. Malam ini aku biarkan ibuku tinggal di sini dan besok aku akan datang menjemputnya. Jika kamu ingin ikut bersama ibuku maka kamu juga harus membersekan barang-barangmu." jelas Johan kemudian mencium tangan ibunya dan ia pun pamit pulang karena waktu sudah menunjukan pukul 6 sore.
****
Dulu aku tersakiti. Namun sekarang aku justru bahagia. Bahagia memiliki anak yang cantik dan ganteng. Tuhan, aku berharap kebahagiaan yang kini menghampiriku tak pergi meninggalkanku. Batin Nazia.
Nazia menempelkan tangannya pada pipi Sahka, Sahka tersenyum dan menggeliat. Membuat Nazia semakin gemes pada putranya. Nazia kembali menempelkan tangannya pada pipi Nazira, dan ia melihat hal yang sama seperti yang Sahka lakukan.
"Anak-anak Ibu pintar yah." ucap Nazia tersenyum.
Tiba-tiba beby Sahka dan beby Nazira menangis, Nazia tidak tahu harus menggendong yang mana dulu.
Tok...
Tok...
Tok...
Terdengan seseorang mengetuk pintu.
"Masuk.!" sahut Nazia dari dalam.
"Nyonya, izinkan aku membantu Nyonya menggendong Tuan muda dan Nona muda." kata pelayan kepercayaan Erlando.
"Tolong gendong Sahka, aku mau menyusui Nazira dulu." pintah Nazia.
Dengan segera Lisna menggendong Sahka, menenangkannya hingga Sahka berhenti menangis.
"Sekarang giliran kaka Sahka yang minum ASI." ucap Nazia sambil mengambil Sahka dari gendongan Lisna. Sahka tersenyum membuat Nazia semakin gemes.
"Lisna, apa kamu melihat Reix dan suamiku?" tanya Nazia.
"Tuan dan Tuan muda sedang keluar sebentar, Nyonya." jawabnya.
"Terimakasih kamu sudah membantuku." ucap Nazia.
__ADS_1
"Itu sudah menjadi tugasku, Nyonya." balasnya.
"Berapa umurmu?" tanya Nazia lagi.
"23 tahun Nyonya." jawabnya menunduk.
"Kamu masih muda. Kenapa kamu harus menjadi pelayan di sini?" tanya Nazia lagi.
"Aku tidak punya pilihan lain, ayah ku memiliki banyak hutang pada Tuan. Dan aku, aku harus membayarnya dengan bekerja di sini." jawabnya.
"Aku tahu kamu punya impian, dan aku akan membantumu mencapai impianmu." ujar Nazia tersenyum.
"Tidak perlu, Nyonya. Aku sudah nyaman di Mansion." balasnya.
"Ibuuu.!" panggil Reix dengan berlari kecil menghampiri Nazia.
"Lisna, kamu boleh pergi sekarang." ucap Nazia.
Lisna pun keluar dan masih sempatnya ia melirik Erlando. Erlando tersenyum melihatnya. Entah apa hubungan mereka. Hanya mereka berdua yang tahu.
"Apa mereka membuatmu kewalahan?" tanya Erlando.
"Tadi, tapi ada Lisna yang membantuku." balasnya.
"Apa kamu butuh pelayan lebih?" tanyanya lagi.
"Tidak, aku akan merawat anak-anakku. Apa gunanya aku jika hanya duduk dan membiarkan anakku di rawat oleh orang lain." tolaknya.
"Ibu, kapan mereka bisa berbicara?" tanya Reix sambil memandangi kedua adiknya.
"Hmmmmmm kapan yah." Ia sengaja berfikir untuk menjahili anaknya.
"Ibu, kapan?" tanya Reix kesal.
"Masih lama sayang." balas Erlando.
Nazia menidurkan Reix dan kedua anaknya, kemudian ia kembali ke tempat tidur. Ia menyatukan kedua tangannya yang gemetar, Nazia masih takut untuk tidur bersama suaminya. Erlando memandangi Nazia yang kini gugup.
"Tidurlah. Aku tidak akan macam-macam." kata Erlando.
Mereka pun berbaring diranjang yang sama. Nazia memandangi langit-langit kamar.
"Maafkan aku Kak," kata Nazia memecah keheningan.
"Aku yang harusnya meminta maaf." ujar Erlando.
"Ayo tidur, aku sudah mengantuk." ajak Erlando.
Mereka pun tidur bersama di ranjang yang sama dengan posisi Nazia tidur berbantalkan lengan suaminya. Itu bukan maunya tapi Erlando yang memintanya untuk mendekat.
Seperti ini posisi mereka 😍
.
.
.
.
Bersambung
Terimakasih 😊
__ADS_1