
**Halo Readers. Berjumpa lagi dengan karya "Apa Salahku" Semoga kalian menyukainya. 😊 Jangan lupa tekan like sebelum membaca, dan jangan lupa Votenya yah 😁
Happy Reading 😍**
****
Australia
.
.
Sepanjang perjalanan Anatasya memikirkan langkah yang diambilnya. Ia berharap langkah yang ia ambil sekarang adalah hal yang benar.
Semoga langkah yang aku ambil bukanlah langkah yang salah. Semoga Ibu bahagia melihat pria yang aku bawa sekarang. Maafkan aku Buk, tapi aku tidak tega melihat Ibu terus menangis disepanjang malam. Aku yakin, semuanya akan baik-baik saja. Batin Anataya.
Tidak membutuhkan waktu lama, kini mereka berdua sampai di tempat tujuan. Anatasya memakirkan mobilnya di depan rumah unik yang Johan sendiri tidak tahu rumah siapa itu.
"Ayo turun.!" ajak Anatasya sedikit meninggikan suaranya.
"Ini rumah siapa? Dan, kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Johan dengan bingung dan penasaran.
"Johan, bisa tidak! kamu ikuti apa yang aku katakan tanpa kamu takut dan menolak.!" balas Anatasya, geram.
"Iya." balas Johan lirih.
Johan dan Anatasya berjalan menuju rumah yang ada di hadapan mereka. Disetiap langka kaki Johan ia terus berharap Anatasya tidak memiliki niat jahat padanya. Sekali pun Johan adalah seorang pria tapi ia juga takut jika berhadapan dengan wanita apalagi seperti Anatasya. Menurut Johan, Anatasya tidak seperti yang ia kenal. Anatasya yang ada di sampingnya kali ini berbeda sifat dengan Anatasya yang selalu ia ejek di rumah sakit.
"Apa kamu takut?" tanya Anatasya.
"Tidak. Aku tidak takut." jawab Johan.
Johan dan Anatasya pun sampai di depan pintu.
Cekrek. Seorang wanita paru baya membuka pintu rumah unik itu.
"Apa kamu mengenalnya?" tanya Anatasya pada Johan yang kini berdiri mematung di depan pintu.
"Ini mimpi kan?" tanya Johan balik. Ia tidak mempercayai keberadaan wanita paru baya yang ada di hadapannya sekarang.
Wanita paru baya itu mendekat dengan mata berkaca-kaca.
"Kaukah ini, Johan?" tanya wanita paru baya itu dengan tangis yang tak dapat di tahan lagi.
Johan tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Penglihatannya buram dan ia pun jatuh di lantai.
"Johan, bangun Nak. Johan bangun.!" tangis wanita paru baya itu dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.
"Johan bangun, Johan." panggil Anatasya dengan menggoyangkan tubuh Johan.
"Sayang, ayo kita bawa Johan ke rumah sakit." pintanya.
"Biar aku yang menanganinya Buk. Ibu panggil satpam aja untuk bantuin kita angkat Johan." ujar Anatasya.
Wanita paru baya itu keluar menghampiri satpam yang ada di depan. Dengan segera ia meminta bantuan pada satpam. Satpam pun pergi membantu mereka.
"Sayang, kenapa kamu tidak memberitahu Ibu kalau kamu akan membawanya ke sini." ujarnya.
"Maafkan aku Buk, sebenarnya aku sering melihat Johan menangis di balkom rumah sakit. Aku tidak tega Buk. Aku akan terlihat seperti orang jahat jika terus menerus membohongi Johan." balas Anatasya.
"Terimakasih ya. Kamu sudah menjaga Ibu selama beberapa tahun ini." ucap wanita itu kemudian memeluk Anatasya.
"Ibu tidak perlu berterima kasih. Aku bahagia bisa bertemu Ibu." balasnya dengan senyum.
__ADS_1
Johan mengerjap, ia memegang kepalanya yang agak terasa pusing.
"Aku di mana?" gumamnya.
"Kamu sudah bangun Nak."
Johan menatap wanita paru baya yang ada di hadapannya, matanya mulai berkaca-kaca. Dengan segera Johan memeluk wanita itu. Tangis keduanya terdengar.
"Aku bahagia melihat kalian bahagia. Semoga pertemuan ini menjadi awal kebahagiaan untuk Ibu dan untuk kamu Johan." Batin Anatasya.
Johan melepas pelukannya kemudian menatap Anatasya.
"Kamu berhutang penjelasan padaku." ucap Johan.
****
Jerman
.
.
Nazia mengerjap, ia mendengar seseorang bermain di sampingnya.
"Reix.!" panggil Nazia pelan.
"Ibu sudah bangun." tanya Reix memeluk ibunya.
"Kamu sudah bangun." tanya Erlando kemudian.
"Di mana kembar?" tanya Nazia.
"Kembar ada di tempat tidurnya, mereka lagi tidur dan belum bangun." jawab Erlando dengan senyum.
Erlando melihat Nazia kebingungan ia pun menghampiri istrinya dan menggendong salah satu anak kembarnya.
"Sayang, kamu gendong Sahka saja yah. Nanti Nazira aku yang gendong." ucap Erlando.
Erlando tidak sadar dengan panggilan yang tadi ia ucapkan. Sedangkan Nazia berdiri mematung karenanya.
"Kamu kenapa?" tanya Erlando bingung.
"Ti-dak." jawabnya gelagapan.
Nazia menggendong beby Nazira.
"Sepertinya mereka haus, kamu bisa kan memberi mereka ASI?" tanya Erlando.
"Iya bisa Kak." jawabnya.
Nazia memberi ASI pada Nazira, setelah ia merasa sudah cukup. Nazia meletakan beby Nazira di tempat tidur dan ia kembali menggendong beby Sahka untuk menyusuinya.
Ilusi Reix
Ilusi Beby Sahka dan Nazira
Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Nazia memandikan Reix, selanjutnya Erlando yang mengambil Alih. Reix tersenyum melihat kekompakan kedua orang tuanya.
Nazia meminta Erlando untuk menjaga bayi mereka. Tanpa berfikir panjang Erlando mengiyakan perintah itu.
__ADS_1
"Ayo anak Ayah." ajak Erlando pada Reix.
"Oke, Ayah."
Reix dan ayahnya menghampiri kamar beby Sahka dan beby Nazira. Dengan senyum yang mengembang Erlando menghampiri kedua anaknya.
"Ayah, kapan adiku bisa berbicara?" tanya Reix dengan tangan kanan yang kini memegang pipi Nazira.
"Tinggal menunggu waktunya, sayang." jawabnya santai.
Reix mencoba mengartikan jawaban ayahnya namun ia tidak paham dengan jawaban itu.
"Saat adikmu besar nanti kamu harus menjaga kedua adikmu dengan baik." ujar Erlando pada Reix.
"Aku janji Ayah, aku akan menjaga mereka dan menjaga Ibu." ucapnya.
"Lalu bagaimana dengan ayah? Siapa yang akan menjaga Ayah?" tanyanya dengan sengaja.
"Hehehehe, Ayah juga." balas Reix, tertawa.
Nazia selesai dengan aktivitasnya di kamar mandi, ia keluar dan bersiap-siap. Hampir 10 menit ia pun sudah berpakaian ala anak rumahan. Dengan langkah pelan ia menghampiri kamar Reix dan kedua anak kembarnya. Tidak sengaja Nazia mendengar apa yang Reix katakan. Nazia merasa terharu dibuatnya, setetes air mata berhasil membasahi pipinya, dengan segera Nazia menghapusnya.
"Apa mereka menangis?" tanya Nazia, menghampiri mereka.
"Tidak, sayang." jawab Erlando.
Nazia merasa malu dengan kata itu, pipinya memerah dengan cepat ia melangkah melewati suami dan anaknya.
Erlando terkekeh melihat wajah Nazia yang kini merah.
"Aku sudah berjanji untuk menjaga kalian sekarang dan selamanya. Kalian berempat adalah prioritasku, aku sangat menyayangi kalian. Maafkan aku Nazia, aku baru menyadari perasaanku yang sebenarnya. Aku mencintaimu." Batin Erlando.
Tok
Tok
Tok
Seseorang mengetuk pintu kamar yang sebenarnya terbuka lebar.
"Permisi Tuan, Nyonya. Sarapa untuk makan malam telah tersaji."
"Oke baiklah. Kami akan segera turun." sahut Erlando.
Drt... Drt.... handphon Erlando bergetar, tertulis nama Johan di sana.
[Halo bro, ada apa menelepon malam-malam?] tanya Erlando dibalik telepon.
[............]
[Apa? Kamu pasti membohongiku kan.] ucap Erlando tak percaya
.
.
.
.
Bersambung
Yuk like, komen, up, fav serta vote yah 😁😁
__ADS_1