
Like dulu sebelum membaca 😊😁
Happy Reading 😊
*****
Flashback off
Saat Nazia keluar dari ruangan Erlando. Erlando meminta seorang perawat untuk menghubungi Adrian.
"Bisakah kamu membantuku?" tanya Erlando.
"Katakan Tuan."
"Hubungi temanku, aku ingin berbicara dengannya sebentar."
"Siapa nama orang itu Tuan?"
"Adrian, aku menulis namanya Adrian."
"Oke baiklah. Aku sudah menemukannya."
Panggilang terhubung.....
[Halo Adrian. Aku butuh bantuanmu sekarang.] ucap Erlando di telepon.
[Apa yang harus aku lakukan?] tanya Adrian.
[Pesan tiket pesawat sekarang dan ambil penerbangan awal. Bawa aku pergi dari rumah sakit. Aku mengalami kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit. Aku tunggu kamu di sini.] jelas Erlando.
[Baiklah. Aku akan berangkat ke sana] ucap Adrian.
Tut..Tut..Tut. (Panggilan telepon terputus)
Malam jam 04.00 Adrian tiba di rumah sakit Winata, ia melakukan pembayaran dan membawa Erlando pergi.
******
Flashback On
Melyana panik setelah mendapatkan panggilan telepon dari Adrian. Ia melihat Nazia yang kini memandanginya dengan deraian air mata.
"Ibu, katakan padaku jika itu tidak benar Buk, hiks, hiks." Nazia menangis hingga ia jatuh pingsan.
Adiswa menghubungi semua orang-orangnya untuk menyelamatkan Erlando dan Adrian.
Di tempat lain, Adrian mencoba mengelabui orang-orang yang mengikuti mereka. Ia tak ingin membiarkan Erlando dibunuh oleh orang suruhan Alex.
"Bersabarlah Lan, aku sudah menghubungi ibumu, aku yakin mereka akan menyuruh anak buah ayahmu untuk menolong kita."
"Menyerah lah Adrian, biarkan mereka membawaku pergi. Jangan kamu libatkan dirimu dalam masalahku. Mereka mengiginkanku, aku tahu itu."
"Maafkan aku Erlan, tapi aku tidak bisa. Selama Nazia masih hidup maka aku ingin melihatmu hidup."
__ADS_1
Adrian melajukan mobilnya, terdengar bunyi tembakan beberapa kali, luka Erlando semakin parah. Erlando hanya bisa memandangi Adrian yang kini sedang berusaha untuk kabur dari kejaran anak buah Alex. Adrian berhasil keluar di jalan raya, Adrian pun membawa Erlando di mansion. Mansion adalah markas mereka saat mereka menjadi Mafia dulu.
"Cepat panggilkan Naix ke sini.! Beritahukan padanya untuk berhati-hati, anak buah Alex sedang mematai matai kita." kata Adrian dengan tegas, rahangnya kini mengeras dengan tangan terkepal.
Adrian dan beberapa pelayan lainnya membawa Erlando ke kamarnya.
"Bertahanlah, Naix akan segera sampai" ucap Adrian.
"Kenapa kamu menyelamatkanku? Bukankah aku telah melukai perasaan Anata."
"Jangan banyak bicara. Kamu harus banyak istrahat" jawab Adrian tegas.
"Hahahhhaa sekarang aku mulai mencium bau-bau jahat. Apa Adrian yang baik dulu telah mengubah prinsip." ledek Erlando.
"Hahahaha, dasar kamu ya. Kematian sudah ada di depan matamu dan kamu masih sempatnya bercanda." balas Adrian menggelengkan kepalanya.
Naix pun datang, ia menghampiri Erlando dan memeriksa luka Erlando. Setelah lukanya di perban, Naix duduk tepat di samping Erlando.
"Bertahun-tahun kalian pergi dan sekarang kalian kembali dengan luka." ucap Naix.
"Jangan memarahi kami dulu. Kami tahu kami salah." balas Erlando.
"Apa Alex yang melakukannya?" tanya Naix
"Iya. Aku tahu penyebapnya." jawab Erlando.
"Lihatlah itu Naix, jangan kamu seperti Erlan. Cukup satu saja jangan lebih." ucap Adrian meledek namun mampu membuat Erlando kepikiran.
Erlando tiba-tiba diam. Ia kembali mengingat perlakuannya terhadap Nazia.
Naix dan Adrian saling tatap.
"Maksud kamu?" tanya Naix.
"Istriku sudah menikah lagi dan sebentar lagi di akan menjadi Ibu." ucapnya dengan mata tertutup.
"Apa... Bahkan kamu menikah saja kamu tidak memberitahuku.!" Hardik Naix kesal.
Adrian hanya diam, ia ingin memberitahu Erlando yang sebenarnya tapi menurutnya, waktunya belum tepat. Ia pun mengurungkan niatnya.
******
Nazia membuka matanya, ia melihat sekelilingnya ada Ibu dan ayahnya. Ia mencari sosok yang ia rindukan. Seketika matanya mulai berkaca-kaca.
"Apa sudah ada kabar dari Adrian Buk?" tanya
Nadira.
"Kamu sudah bangun sayang." ucap Melyana.
"Adrian tidak bisa dihubungi. Orang-orang suruhan Ayah juga sudah mencari mereka."
"Buk, apa aku harus jujur Buk?" tanya Nazia.
__ADS_1
"Jujurlah sayang, apa pun keputusan Erlando, mama akan selalu ada di pihak kamu." ucap Melyana kemudian memeluk Nazia.
Nadia memegang perutnya.
"Maafkan mama, maafkan mama yang menyembunyikan kalian dari ayah kalian sendiri. Harusnya mama memberitahunya. Mama takut ayah menolak kehadiran kalian. " Batin Nazia.
*****
1 bulan kemudian
Perusahan Erlando kembali maju dengan pesat. Adrian mengambil alih semua tugas Erlando. Ia mencari Investor untuk menanamkan saham mereka di perusahaan Magesta. Johan dan Naix pun menanamkan saham mereka di perusahaan Magesta. Erlando sudah sembuh dari lukanya. Ia pun berencana untuk kembali ke Australia.
[Halo Adrian, pesankan aku tiket untuk kembali ke Austrlia. 2 hari lagi aku akan kembali dan gabung bersama kalian.]
[Baiklah bos] ucap Adrian yang di sertai tawa.
[Aku ingin memberimu pelajaran yang setimpal karena mengabaikan panggilanku] ucap Erlando kesal.
[Hahahahha, kamu pandai sekarang ya.] ledek Adrian.
Tut..Tut..Tut.. Erlando memutuskan panggilannya.
Ia pun pergi ke rumah sakit untuk melihat Nazia. 25menit kemudian, ia tiba di rumah sakit tempat Nazia mengabdi. Terlukis senyum diwajahnya saat melihat Nazia berjalan sambil memegang perutnya yang membuncit.
"Seandainya anak itu adalah anakku. Mungkin akulah orang yang sangat bahagia di dunia ini." Batin Erlando.
Nazia merasa ada seseorang yang memandanginya ia pun menoleh
"Sejak kapan kaka di sini?" tanya Nazia.
.
.
.
.
Bersambung...
Kira-kira siapa yah yang datang, Erlando atau Ferdinan. 😁😁
.
.
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1
Mohon Kritik dan Sarannya. Jangan lupa like, komen dan Up 😊😊😉😉