
Saat pertemuan Johan dan Erlando di waktu itu. Johan membuat rencana untuk mengerjai Erlando. Ia mengajak Erlando ke suatu tempat. Tempat di mana mereka selalu datangi saat kuliah dulu. Erlando tahu jika Johan akan mengerjainya. Ia pun mencoba untuk menghindar. Namun, Johan berhasil membujuk Erlando dengan alasan hanya untuk bersenang-senang. Karena alasan itu Erlando mengiyakan ajakan Johan.
"Lan, ayo kita ke tempat biasa," ajak Johan.
Lan atau Erlan adalah nama panggilan Erlando.
"Malas, aku. Kamu saja yang ke sana," tolak Erlando.
"Sebentar saja, Lan. Setelah itu kita pulang," bujuk Johan.
"Kamu tidak merencanakan sesuatu kan?" tanya Erlando memastikan.
"Kalau ada, kamu mau apa?" canda Johan di sertai tawa. Membuat Erlando menggelengkan kepalanya.
"Ya, tidak lah, Lan. Mana berani aku," jawabnya lagi dengan senyum.
"Oke, aku ikut," ucap Erlando.
Mereka berdua pun pergi menuju The World Bar
******
Kediaman Magesta
Seorang wanita berdiri memandangi rumah Magesta. Dengan deraian air mata yang kini membasahi pipi manis sang pemilik wajah cantik. Ada kerinduan di sana. Rindu yang sudah sekian lama terpendam. Rasa takut yang menyelimuti dirinya membuatnya takut untuk bertemu. Lantas, bersembunyi adalah yang terbaik baginya. Belum waktunya untuk mereka bertemu dan bergurau.
"Bagaimana keadaan kalian, aku kangen. Aku belum siap untuk bertemu kalian," ucap seorang wanita saat berada di depan rumah Magesta.
Adiswa keluar dari rumah menuju garasi mobil yang ada di samping rumahnya. Sesekali ia melihat depan rumahnya.
"Sepertinya ada seseorang yang sedari tadi memandangi rumahku," gumam Adiswa.
Dengan tergesa-gesa wanita itu masuk ke mobilnya sendiri agar tidak ketahuan. Saat hendak pulang tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk kaca mobilnya. Ia menoleh, rasa takut pun menghampirinya, ia menyalakan mesin mobilnya lalu pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Ia takut kedatangannya membuat Adiswa jantungan.
Sepulang dari kediaman Magesta, wanita itu memilih untuk berkeliling, ia memakirkan mobilnya di pinggiran jalan, memandangi indahnya pemandangan malam. Pikirannya melayang-layang entah kemana, banyak hal yang begitu membuatnya takut. Disatu sisi ia ingin bertemu pasangan suami istri rumah Magesta. Disisi lain ia tak ingin membuat salah satu pria di dalam rumah itu membencinya.
I love it when you call me señorita
I wish I could pretend I didn't need ya
__ADS_1
But every touch is ooh la la la
It's true, la la la
Ooh, I should be running
Ooh, you know I love it when you call me señorita
I wish it wasn't so damn hard to leave ya
But every touch is ooh la la la
It's true, la la la
Ooh, I should…
Dering telepon....
"Halo, Sayang. Kamu nginap di mana malam ini? kok belum pulang," tanya seseorang di seberang sana.
"Aku tidak pulang Kak. Bilang sama Ibu, aku nginap di Hotel Kita aja,"
"Oke, kamu hati-hati ya. Kalau ada apa-apa, hubungi Kakak secepatnya,"
******
The World Bar
Erlando dan Johan berada di Bar. Suasana Bar begitu ramai, membuat para pengunjung semakin bahagia dan bersorak. Erlando yang sudah lama tak minum Alkhol membuatnya enggan untuk meminumnya. Johan memaksa, Erlando pun meminum segelas Bir.
Wanita cantik berdatangan untuk menawarkan minum bersama. Namun, Erlando menolak. Ia memilih untuk keluar sebentar. Saat Erlando keluar, ia kembali melihat seorang wanita yang ia kenal.
"Anata," gumam Erlando.
Erlando kembali mengurungkan niatnya untuk pulang. Ia berniat menghampiri Anata. Saat ia hendak menghampirinya, ada seorang pria yang sedang mendekati Anata. Erlando mengepal tangannya, membuat Johan bingung. Erlando beranjak dari duduknya berjalan menuju tempat duduk Anata. Ia melayangkan tinjunya pada pria yang mencoba merayu Anata. Pria itu pun jatuh tersungkur di lantai. Johan mencoba menarik Erlando, tapi Erlando melepaskan genggaman Johan, ia kembali menarik dan memukuli pria songong itu.
Di waktu yang sama, saat wanita tadi ingin pergi ke hotel. Ia melihat seorang pria yang memandangnya sedari tadi. Pandangan yang menunjukan kerinduan yang mendalam. Wanita itu dengan segera masuk kedalam mobilnya.
Saat hendak menyalakan mesin mobilnya, pria misterius itu pun mengetuk kaca jendela mobil. Wanita itu semakin takut, ia meraih hendphonnya akan tetapi batreinya lobet. Rasa takut kembali menghantuinya. Ia menyalakan mesin mobilnya lagi dan lagi. Untuk yang ke 3 kalinya mesin mobilnya hidup. Dengan segera ia melajukan mobilnya menuju hotel milik Anggara.
Saat di perjalanan, ia melihat seseorang mengikutinya, ia kembali melajukan mobilnya. Mobil yang mengikutinya pun semakin cepat pula. Ia memandang ke belakang, mobil yang tadi mengikutinya sudah tidak ada. Saat ia memandang ke depan. Mobil yang mengikutinya sudah di depan.
__ADS_1
Pria misterius pun turun dari mobilnya, berjalan menghampiri wanita yang kini ketakutan. Wanita itu memilih keluar dari mobil mencoba untuk mencari bantuan. Akan tetapi tidak ada satu orang pun yang lewat. Tiba-tiba ada yang membiusnya dari belakang.
Wanita itu membuka matanya pelan-pelan, kepalanya terasa pusing. Ia melihat di sekelilingnya.
"Aku di mana?" gumamnya
Wanita itu kembali mengingat kejadian semalam dan dia pun mulai menangis. Pria misterius itu masuk untuk membawakan makanan untuknya.
"Makanlah, kamu butuh tenanga,"
"Kenapa kamu membawaku kesini?"
"Aku hanya mengikuti perintah."
"Apa kamu terpaksa menculik ku?"
"Maafkan aku,"
Tiba-tiba hening, wanita itu mencoba memandangi pria yang menculiknya dari jarak dekat. Ia merasa seperti mengenalnya.
"Kamu tak seperti dulu lagi, kini kamu telah berubah," ucap lelaki itu.
Wanita itu menghentikan langkahnya, ia semakin dibuat bingung.
"Bahkan kamu menganggapku orang jahat," ucapnya memalingkan pandangan ke luar jendela.
"Kini kamu telah melupakanku peri kecil,"
Padangannya kini beralih memandangi wanita yang kini matanya mulai berkaca-kaca.
"Kaukah itu Adrian?"
Terkadang kita akan merasa sedih. Di saat orang yang kita sayangi pergi tanpa kabar dan kembali tanpa kata.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa Rate atau bintang 5nya, Vote, like, kritik dan sarannya serta jangan lupa untuk membagikan cerita ini. 😊😊