Jangan Di Baca. Ngak Nyambung

Jangan Di Baca. Ngak Nyambung
Apa Salahku. Episode 45


__ADS_3

1 tahun kemudian


Erlando mulai fokus pada satu pekerjaan, yaitu sebagai Dokter. Ia lelah jika harus bolak balik di Rumah Sakit dan di Perusahaan, sehingga ia percayakan Perusahaan pada Adrian untuk mengelolahnya.


Erlando berdiri di samping kendaraan roda empat berwana silver. Sesekali ia melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangan kirinya.


"Ayah!" teriak Reix.


"Ayo, Sayang. Ayah antar kamu pulang setelah itu Ayah ke Rumah Sakit," ujar Erlando.


Reix sudah kelas 6 SD, kepintarannya semakin bertambah. Tiap malam, Reix akan terus membaca buku hingga larut malam. Pulang sekolah, setelah selesai sarapan, Reix akan melanjutkan aktivitas belajarnya.


"Iya, Ayah." Reix masuk ke dalam mobil.


Mobil meleset pergi meninggalkan area sekolah. Sepanjang perjalanan, Erlando terus menerus melirik jam tangannya.


"Ayah, kenapa Ayah terburu-buru?" tanya Reix.


"Maaf, Sayang. Ayah ada jadwal operasi hari ini jadi terburu-buru," jawab Erlando.


"Ayah, jika aku sudah besar manti, aku akan bekerja di Perusahaan milik Ayah. Bisa kan, Ayah?" tanya Reix dengan mata berbinar memandangi Ayahnya.


"Tentu saja bisa, Sayang. Kalian bertiga yang akan meneruskan bisnis keluarga kita. Jadi kamu, harus rajin sekolah dan yang paling penting, kamu harus rajin belajar," jelas Erlando.


15 menit perjalanan, kini mereka telah sampai di rumah. Reix mencium tangan Ayahnya kemudian turun dari mobil, sedangkan Erlando kembali melanjutkan perjalanannya ke Rumah Sakit.


****


Disaat cinta semakin mekar di dalam hati, perselisihan datang menghampiri. Menghadirkan pertengkaran dan menghancurkan kepercayaan.


"Anatasya! Aku mohon. Tolong dengarkan penjelasan aku dulu," pinta Johan.


"Apa lagi yang perlu di bahas! Aku melihatmu dengan mata kepala aku sendiri!" Anatasya tak dapat mengontrol emosinya.


"Tidak, Anatasya. Kamu salah paham!" Johan mencoba menjelaskan namun Anatasya tetap bersikukuh pada apa yang ia lihat.


Johan menatap punggung Anatasya yang berlalu pergi. Membuatnya semakin frustasi. Perasaan cinta yang sudah berulang kali ia ungkapkan pada Anatasya selalu di tolak oleh wanita cantik itu.


BRAAAAKK....


Johan meninju meja kerjanya, buku tangannya terlihat mengeluarkan darah segar. Usaha untuk bisa bersama Anatasya kandas karena kesalapahaman.


Beberapa hari yang lalu...


"Ana, ayo kita pergi nonton," ajak Johan.


"Hmmm, bagaimana dengan Ibu?" tanya Anatasya. Ia tidak ingin meninggalkan Ratri.


"Kalian pergi saja, Ibu tidak apa-apa sendiri di rumah. Saat kalian pergi kerja kan, Ibu juga sendiri di rumah," ujar Ratri.


"Jadia bagaimana, Anatasya?" tanya Johan meminta kepastian.


"Iya, aku mau," balas Anatasya.

__ADS_1


Malam pukul 20:00, Johan dan Anatasya pergi ke bioskop untuk nonton. Kebetulan Johan juga ingin mengungkapkan perasaannya pada Anatasya.


"Ana, ada hal penting yang aku ingin katakan padamu, tapi kamu harus janji untuk tidak menjahuiku jika kamu tahu dan tidak terimah," kata Johan.


Anatasya mengerutkan kedua keningnya, "maksud kamu apa?" tanya Anatasya tidak paham.


"Sejujurnya aku suka sama kamu sejak dulu," ucap Johan dengan tatapan sayu, "Anatasya, apa kamu mau jadi pacar aku?" Johan mengatakan cinta yang selama ini ia pendam.


Anatasya berdiri mematung, ia tidak menyangka cintanya akan terbalaskan.


"A-aku Ma," kalimatnya terhenti saat seseorang memanggil Johan.


"Johan!" panggil seorang wanita yang takkalah cantik dengan Anatasya.


"Hai, Merry. Dengan siapa kamu ke sini?" tanya Johan sambil berpelukan dengan Merry di depan Anatasya.


"Aku datang sendiri, bosan di rumah terus seharin ini. Kamu, kenapa tidak mengajakku jalan-jalan lagi? Apa Johanku ini sudah..." Kalimat Merry terpotong saat mendengar Anatasya berdehem.


Ehem...


"Aku permisi ke toilet sebentar." Pamit Anatasya.


Di dalam toilet, Anatasya meruntuki kebodohannya karena telah berharap pada Johan.


"Aku bodoh sekali bisa berharap pada Johan." Anatasya menahan butir yang tertumpuk dipelupuk matanya agar tidak jatuh membasahi pipinya.


Dengan setegar mungkin, Anatasya menghampiri Merry dan Johan. Namun pemandangan yang ia lihat membuatnya sesak, Johan memegang tangan Merry. Mereka berdua pun saling melempar senyum.


"Johan, Merry, aku pulang duluan ya. Ibuku belum lama menelepon menyuruhku pulang." Anatasya beracting, sedangkan Johan mengeryitkan keningnya.


Anatasya keluar mencari Taxi.


"Taxi!" panggil Anatasya dengan melambaikan tangannya.


Dalam perjalanan, Anatasya meminta supir Taxi untuk menurunkan kaca jendela. Perjalanan malam yang harusnya memberi kebahagiaan justru memberi luka padanya.


Anatasya memejamkan matanya, menikmati udara malam. Tak berlangsung lama, Taxi pun sampai. Setelah membayar, Anatasya berlari menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.


"Hiks, hiks, hiks. Aku bodoh sekali." Anatasya meruntuki dirinya sendiri.


Tok...


Tok...


Tok...


"Sayang, buka pintunya, Nak!" Panggil Ratri di balik pintu kamar Anatasya.


Langkah kaki berjalan mendekat. Gerakan tangan mulai terdengar memegang gagang pintu.


Kreeek... pintu terbuka lebar.


"Ibu, a-aku mau pulang ke rumah, Buk. Hiks, hiks," ujar Anatasya dengan sesegukan.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Sayang? Cerita sama, Ibu."


"Ibu tanyakan saja pada, Johan."


"Buk, temani aku tidur ya," pinta Anatasya.


Waktu sudah menunjukan pukul 23:00.


Johan baru sampai di rumah, ia menaiki anak tangga mencari Anatasya di kamar. Saat ia membuka pintu kamar Anatasya, ia melihat pemandangan indah, Johan kembali menutup pintu kamar.


Esok harinya


Di meja makan tak ada yang bersuara, hanya bunyi sendok dan piring yang terdengar. Ratri melirik Johan, kemudian berpindah melirik Anatasya. Aktivitas makan telah usai, Anatasya berpamitan pada Ibunya untuk ke Rumah Sakit.


Anatasya keluar dari rumah tanpa memanggil atau melirik Johan. Ia terus melangkah hingga memasuki mobilnya, Johan melihat Anatasya yang mendiaminya dibuat frustasi.


"Ada masalah apa kamu sama, Ana?" tanya Ratri.


"Entahlah, Buk. Aku bingung mau cerita dari mana dulu. Buk, aku pamit ke Rumah Sakit dulu ya." Johan mencium tangan Ibunya.


****


"Rumah Sakit bukan tempatnya melamun!" Erlando mengagetkan Johan. Membuat Johan tersadar dari lamunannya.


"Kamu kenapa?" tanya Erlando.


"Entahla, Lan. Aku bingung harus berbuat apa lagi."


Tok...


Tok...


Kreeek... pintu terbuka lebar.


"Kebetulan ada Dokter Lan di sini," kata Dokter Mega, "ada pasien dari London yang di rujuk di Rumah Sakit Magesta. Kondisi pasien sangat tidak baik, kita harus segera melakukan operasi,"


Dengan segera, mereka bertiga berjalan menuju lift. Lift terbuka, mereka pun masuk. Selang beberapa waktu, lift terbuka. Erlando dan kedua temannya keluar dari lift menuju ruang operasi. Di sana sudah ada Dokter Anatasya.


Pekerjaan tetaplah pekerjaan, Anatasya menyapa Johan selayaknya menyapa teman. Johan pun begitu. Anatasya masuk dalam ruang operasi dengan pakaian yang sudah lengkap, begitupun dengan Johan. Johan menatap Anatasya, Anatasya menganggukan kepala.


Lampu menyala, menunjukan operasi telah berlangsung. Johan melakukan tugasnya dengan baik begitupun dengan Anatasya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2