
Ruang keluarga terlihat rapih dan bersih dengan lantai dasar berwarna putih. Terdapat beberapa bantal di atas sofa dengan TV yang terletak di bagian dinding rumah. Bunga hias terletak di setiap sudut rumah membuatnya semakin terlihat indah. Disinilah Erlando dan keluarganya bersantai setiap harinya.
Malam hari
Berhubung Kania dan suami serta anaknya bermalam di rumah Nazia. Maka Kania membantu Nazia menyiapkan sarapan untuk mereka makan malam.
Semua orang mengimpikan rumah unik yang moderen baik ruang keluarga maupun ruang dapur. Begitupun dengan pasangan Erlando dan Nazia Rosalina. Kekayaan yang berlimpah memudahkan Erlando untuk membeli rumah yang bernuansa moderen dan seperti inilah dapur di rumah Erlando.
"Apa yang kalian lakukan prinses?" tanya Ferdinan pada kedua wanita yang ia sayangi.
"Seperti yang kakak lihat," balas Nazia.
"Singkat amat!" celetuk Ferdinan.
"Hahahaha, kakak sih. Bukannya bantuin, tapi malah bertanya," ledek Nazia.
"Di mana suamimu, Nazia." Ferdinan mencari Erlando namun tidak ditemukannya dengan terpaksa ia bertanya pada Nazia.
"Mungkin di kamar," ujar Nazia tanpa menatap Ferdinan.
"Oke, Kakak kesana dulu," ujar Ferdinan.
"Ungaaaa..." terdengar tangisan bayi dari ruang keluarga.
"Nazia, aku ke sana dulu ya! Sepertinya Syakilah menangis," ujar Kania.
"Oke siap!" balas Nazia.
Dengan jalan terburu-buru Kania menghampiri anak-anak. Dilihatnya Reix mencoba menenangkan Syakilah.
"Syakilah, jangan menangis ya. Ibu lagi masak makanan untuk Ayah. Syakilah sama Kak Reix di sini ya," ujar Reix pada beby Syakilah.
"hik hik, hik" Syakilah tertawa menceloteh.
"Syakilah pintar. Kak Reix maaaakin sayang," ujar Reix dengan senyum mengembang.
Kania memandangi Reix dari kejauhan, ia merasa Reix bisa menjaga ketiga bayi yang ada di ruang keluarga.
"Kenapa kamu kembali lagi?" tanya Nazia saat Kania berdiri di sampingnya.
"Anak kamu semakin pintar! Aku rasa dia akan menjadi kakak yang baik untuk kedua adiknya," ujar Kania.
"Aku bahagia dia hadir dalam keluargaku, dia sangat pandai menghiburku dan mejaga kedua adiknya. Kamu bisa lihat sendiri kan," kata Nazia tersenyum.
"Apa yang kalian bahas di dapur?" tanya Erlando saat mendapati dua wanita cantik sedang membicarakan sesuatu.
"Tidak, ayo makan, Kak." Nazia mengambilkan makanan untuk suaminya dan juga untuk kakaknya.
"Apa kamu sudah menyuapi anak-anak?" tanya Erlando.
__ADS_1
"Sudah, Kak. Mereka sudah makan," balas Nazia.
Makan malam di mulai, sekali-kali terdengar tawa dari arah dapur. Tak berlangsung lama mereka selesai dengan aktivitasnya.
Waktu menunjukan pukul 9 malam. Erlando menggendong baby Sahka membawanya masuk ke dalam kamar, sedangkan Nazia menggendong beby Nazira. Reix mengikuti langkah kaki Ayah dan Ibunya.
Kania dan Ferdinan serta anaknya sudah berada di kamar tamu. Beby Syakilah tertidur lelap sedangkan Ayah dan Ibunya berolahraga malam tanpa memikirkan kondisi bahwa mereka sedang bermalam di rumah keluarga.
"Sayang, sekarang kamu tidur. Ayah mau ke rumah sakit dulu. Kamu jaga Ibu dan kembar ya," kata Erlando pada Reix.
"Ayah, apa tidak bisa besok baru pergi? Apa Ayah tidak mengantuk?" tanya Reix dengan polosnya.
"Ada yang harus Ayah lakukan di rumah sakit," kata Erlando.
Saat Ferdinan mencari Erlando, Erlando berada di kamar menerima panggilan dari rumah sakit. Dengan terpaksa ia harus ke rumah sakit meninggalkan istri dan anak-anaknya.
Erlando mecium dahi Nazia kemudian mencium dahi anaknya. Tangan kekarnya meraih kunci mobil, dengan jalan tergopoh gopoh Erlando membuka pintu utama dan kembali menguncinya. Langkah kaki semakin mendekat menghampiri garasi mobil. Dengan singgap Erlando membuka pintu mobil, ia pun masuk dan menyalakan mesin mobil.
Mobil keluar dari pekarangan rumah menuju jalan utama Ibu Kota, angin bertiup riuk menembus tubuh membuat sang pemilik rumah sakit kedinginan, namun tugas tetaplah tugas. Erlando melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segerah sampai di rumah sakit. Hampir 20 menit perjalanan Erlando sampai di Rumah sakit Magesta.
Rumah Sakit Magesta.
"Maafkan aku, Lan. Aku menghubungimu karena Dokter Mega sedang sakit, dan kebetulan ada pasien yang harus di operasi malam ini juga. Kondisinya sangat parah, kita harus segera mengambil tindakan," jelas Johan saat melihat Erlando sudah ada diruangannya.
"Apa keluarganya sudah ada?" tanya Erlando.
"Sudah, keluarganya sudah datang."
Pasien sudah berada di ruang operasi tenaga medis pun sudah siap untuk melakukan operasi. Lampu dalam ruang operasi telah dinyalakan menandakan operasi telah berlangsung.
Seorang wanita paru baya mondar mandir di depan ruang operasi. Sesekali ia memainkan jari jemarinya, rasa hawatir terlihat jelas dari raut wajah dan gerakannya.
"Sabar Syam, Laura pasti baik-baik saja. Erlando dan tenaga medis lainnya pasti melakukan yang terbaik untuk Laura," kata Melyana.
"Aku takut Laura kenapa-napa," ujar Syam.
"Percaya padaku, Laura akan baik-baik saja," kata Melyana lagi.
Selang beberapa jam lampu dalam ruang operasi telah dimatikan menandakan operasi berjalan lancar.
"Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Syam.
"Operasiny berjalan lancar, Buk," jawab Johan.
"Bibi, apa yang bibi lakukan di sini?" tanya Erlando.
"Anak bibi yang baru saja di operasi," jawab Bik Syam.
"Jadi itu Laura!" Erlando tidak percaya bahwa wanita yang di operasinya adalah Laura, anak Bik Syam.
"Iya, Nak Erlando," balas Bik Syam.
Kompleks Moderen/Rumah Erlando
__ADS_1
Pukul jam 1 malam Nazia terbangun dari tidurnya, ia melihat suaminya tidak ada. Nazia meraih ponselnya, ada pesan masuk dari Erlando.
"Aku tidak pulang malam ini. Kamu baik-baik ya di rumah. Jaga anak-anak kita." Isi pesan.
"Jadi Kak Erlando di rumah sakit," gumam Nazia.
"Apa Ibu tidak bisa tidur?" tanya Reix yang sedari tadi memperhatikan Ibunya.
"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Nazia.
"Aku sudah tidur, Buk. Tapi pas aku buka mata aku lihat Ibu tidak tidur," jawab Reix memandangi Nazia.
"Ayo tidur, besok kamu harus ke sekolah," ujar Nazia.
Nazia mengelus kepala anaknya sampai anaknya tertidur. Ia mencoba memejamkan matanya namun sampai pukul 3 malam Nazia masih tetap tidak bisa tidur.
Ada apa denganku, kenapa aku memikirkan Kak Erlando terus. Semoga dia baik-baik saja di rumah sakit. Batin Nazia.
Nazia mencoba untuk memejamkan matanya hingga ia terlelap.
"Nazia, aku mencintaimu. Jaga anak-anak kita, rawat mereka dengan baik ya. I love you,"
"Kakak... Kakak mau ke mana?" teriak Nazia.
"Aku harus pergi, Nazia. Maafkan aku," kata Erlando.
"Kakaaaaak... jangan pergi tinggalin aku!!"
"Ibu, Ibu kenapa?" tanya Reix.
"Ternyata aku mimpi," gumam Nazia.
"Apa Ibu mimpi buruk?" tanya Reix.
Nazia memeluk Reix, air matanya berhasil jatuh dari pelupuk matanya. Ia takut mimpinya menjadi kenyataan.
Drrrrttt. Panggilan masuk
"Halo," sapa Nazia.
"......"
"Apa!"
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1