
Erlando sengaja bangun pagi untuk menyiapkan sarapan buat
Nazia. Ia memasak nasi goreng kesukaan Nazia. Ia tahu menu makanan kesukaan Nazia dari Adrian. Erlando mencoba untuk bersikap baik padanya. Nazia keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapih ala anak kampus.
"Duduk dan sarapan dulu." Erlando mengajak Nazia untuk makan.
"Aku Nazia bukan Kak Anata." ucap Nazia dengan penuh penekanan.
Erlando yang tadinya baik kini mulai emosi.
"Apa yang kamu inginkan hah.!" teriak Erlando.
"Lepaskan aku." ucap Nazia.
"Jangan harap.! Tidak akan pernah ada perceraian dalam pernikahan ini. Aku akan membuatmu tersiksa." ucap Erlando kemudian pergi meninggalkan Nazia sendiri di meja makan.
Nazia keluar dari Apartemen menuju kampus. Sebenarnya hari ini ia tidak punya kelas. Ia hanya tidak mau melihat Erlando di Apartemen. Melihat Erlando sehari full sama halnya dengan menyakiti perasaanya sendiri. Ia akan mengingat kembali apa yang pernah Erlando lakukan dengan Anata. Mengingat hal itu membuat hatinya semakin sakit. Nazia mengirimkan pesan untuk kania.
Temui aku di tempat biasa. Aku ingin curhat. Isi pesan Nazia.
Kania sedang bersama Ferdinan. Ia mencoba menutupinya dari Ferdinan. Ia tidak mau Ferdinan berurusan dengan Erlando yang kasar itu.
"Ada apa sayang?" tanya Ferdinan.
"Nazia minta aku untuk temani dia beli buku." jawab Kania berbohong.
"Nanti aku antar." ucap Ferdinan kemudian meminum minuman yang mereka pesan.
*****
Nazia dan Kania berada di tempat yang biasa mereka datangi. Nazia mengajak Kania untuk pergi nonton di bioskop. Saat memesan tiket Nazia melihat Erlando bersama Anata. Nazia mencoba menahan rasa sakitnya. Membuat dirinya setegar mungkin dan beracting sebagus mungkin. Ia tak ingin Erlando jadi kepedean jika tahu Nazia merasa tidak suka jika melihatya bersama Anata. Sehingga Nazia harus tersenyum dan menganggap apa yang ia lihat hanyalah mimpi buruk di siang hari.
"Halo Kak Anata, Kak Erlando. Ternyata kalian di sini juga." sapa Nazia dengan senyumnya.
Kania yang melihat Erlando bersama wanita lain mulai emosi dan ingin melabrak Erlando namun dicegah oleh Nazia.
"Eh Nazia. Kalian ke sini berdua aja?" tanya Anata santai.
"Tidak, kami kesini bertiga."
"Bukannya hanya aku dan dia, kenapa bisa bertiga," gumam Kania dengan sangat pelan.
"Nazia!." teriak Johan sambil melambaikan tangannya.
"Kami kesana dulu ya." pamit Nazia kemudian menarik tangan Kania.
Erlando mengepalkan tangannya. Ia berdecih melihat tingka Nazia. "Dasar wanita murahan." ucap Erlando dalam hatinya.
Nazia pamit ke toilet sebentar untuk merapikan bajunya. Saat hendak pergi menemui Kania dan Johan, Erlando menarik lengan Nazia.
"Lepaskan aku!!" seru Nazia. "Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu.!" ujar Nazia dengan air mata yang hampir saja jatuh karena menahan sakit.
__ADS_1
Erlando berhenti saat mendengar kalimat itu lagi. Ia semakin dikuasai amarah. Ia tidak suka melihat Nazia dekat dengan Johan. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia begitu tidak suka Nazia dekat dengan lelaki lain.
"Lalu apa yang kamu lakukan di sini hah.!" bentak Erlando.
"Hahahahhaa, apa yang aku lakukan? Lalu apa yang kakak lakukan di sini bersama kak Anata?" Nazia tertawa kemudian bertanya kembali dan pergi meninggalkan Erlando sendiri.
Nazia kembali bergabung dengan Kania dan Johan. Mereka bertiga pergi untuk menyaksikan filem yang sebentar lagi akan tayang. Sesekali Nazia membuat lelucon yang berhasil membuat Kania dan Johan tertawa. Johan memperhatikan Nazia.
"Kamu wanita kuat dan tegar yang pernah aku temui. Erlando akan menyesal telah memperlakukanmu dengan buruk. Aku akan berusaha untuk membantumu pergi dari penderitaanmu. Aku ingin melihatmu bahagia. Kamu satu-satunya keluargaku yang tersisa." Batin Johan.
"Kak Johan, apa filemnya tidak seruh?" tanya Kania.
"Seruh kok." Jawab Johan, ia kembali menatap layar bioskop.
Filem telah usai. Mereka pun memilih ke cafe untuk sarapan. Johan sengaja bermanja kepada Nazia. Ia ingin membuat Erlando kesal. Sedangkan Erlando selalu memperhatikan Nazia dan Johan. Anata yang mengetahui hal itu membuatnya marah dan memilih pulang.
****
Fair Cafe
Mereka bertiga berada di cafe untuk mengisi perut yang sedari tadi keroncongan. Di sana mereka bertemu dengan Ferdinan. Johan merasa tidak percaya bisa bertemu dengan Ferdinan.
"Apa kabar bro?" tanya Johan.
"Aku baik. Kamu ngapain di sini?" tanya Ferdinan.
"Aku kesini untuk sarapan bersama 2 adikku yang cantik." jawabnya dengan tawa sambil menunjuk Nazia dan Kania.
"Aku yang harusnya bertanya sama kamu!" ketus Johan.
Johan mengeryitkan dahinya ia tidak mengerti apa maksud dari ucapan Ferdinan.
Johan dan Ferdinan menghampiri Nazia dan Kania. Sedangkan Kania dan Nazia saling tatap, mereka heran kok bisa Kak Ferdinan dan Kak Johan bisa bersama.
"Kakak kenal sama kak Johan?" tanya Nazia pada Ferdinan.
"Dia teman kuliah kakak dulu." jawab Ferdinan kemudian duduk.
"Oh iya Johan, aku akan kenalin pacar aku sama kamu. Ini Kania pacar aku." ucap Ferdinan sambil tersenyum.
"Kok aku ngerasa akulah yang paling bodoh di sini." ucap Johan yang disambut tawa oleh Nazia, Kania dan Ferdinan.
*****
Perusahaan
Erlando berada di ruangannya, sibuk dengan tumpukan berkas. Ia mengecek semu file yang dikirimkan oleh Adrian. Suda jam 4 sore, Erlando masih berkutak dengan leptopnya di kantor. Sepertinya hari ini ia akan lembur karena di jam 8 malam nanti Erlando harus ke rumah sakit untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang Dokter.
"Apa kamu belum pulang?" tanya Adrian.
"Kamu duluan aja. Masih ada file yang harus aku cek." jawab Erlando.
__ADS_1
Adrian keluar dari perusahaan. Ia mencoba untuk menghubungi Nazia.
I love it when you call me señorita
I wish I could pretend I didn't need ya
But every touch is ooh la la la
It's true, la la la
Ooh, I should be running
Ooh, you know I love it when you call me señorita
I wish it wasn't so damn hard to leave ya
But every touch is ooh la la la
It's true, la la la
Ooh, I should…
Nazia melihat ada panggilan dari nomor yang tidak di kenal.
"Halo. Ini dengan siapa?" tanya Nazia.
"Ini aku, Adrian." Jawab Adrian dengan halus.
"Ada perlu apa kamu menghubungiku?" tanya Nazia lagi.
"Aku kangen sama kamu." ucap Adrian
"Hahahhahha. Kangen untuk menyakitiku!" tawa Nazia.
Tut tut tut. Nazia mengakhiri panggilan telepone dari Adrian. Sedangkan Adrian diam menatap ponselnya.
"Kamu membawaku kedalam luka yang tak aku inginkan. Dan kakakmu memberiku luka tambahan," Batin Nazia.
.
.
.
.
.
Bersambung.... 😊😊
Mohon kritik dan sarannya 😊
__ADS_1