
Happy Reading 😊
.
.
.
Australia
Erlando berada di perjalanan menuju Bandara Sydney untuk melakukan bisnis di Jerman. Ia pergi seorang diri tanpa Adrian, kondisi perusahaan sangat buruk. Satu pekan terakhir perusahaan mereka kembali mengalami penurunan saham, banyak investor yang mencabut saham mereka dari perusahan Magesta. Erlando mendapatkan Email dari seseorang yang ingin menanamkan sahamnya. 20 menit kemudian Erlando sampai di Bandara. Tanpa menunggu lama, pesawat yang di tumpanginya akan segera berangkat ke Jerman.
"Seandainya kamu ada, mungkin aku tak akan seperti ini. Perusahaan tak akan sehancur ini. Apa ini hukuman untukku yang telah melukai hatimu, Nazia. Aku bimbang untuk memilih pekerjaan mana yang harus aku pilih. Aku lelah, apa artinya perjuangan ini jika hasilnya hanya untuk disimpan. Seandainya kamu ada, dan kita mempunyai anak mungkin lelahku ada gunanya. Kamu di mana Nazia. Suda 4 bulan kamu pergi, apa aku tak pantas untuk mendapatkan maaf darimu? Batin Erlando dengan arah pandangan ke jendela pesawat.
Pramugari telah mengumumkan waktu yang akan di tempuh dalam perjalanan ke Jerman. Beberapa jam kemudian mereka pun sampai di Bandar Udara Frankfurt.
Supir Erlando telah menunggu, Erlando melambaikan tangannya saat ia melihat seorang supir yang ia kenal.
"Biarkan aku yang menyetir"
"Baiklah Tuan"
Erlando masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin mobil kemudian keluar dari pekarangan Bandara menuju mansion.
Sejak kepergian istrinya, Erlando banyak menyibukan dirinya di rumah sakit. Urusan perusahaan ia serahkan kepada Adrian, namun perusahaan tetap mengalami penurunan.
Apa yang harus aku lakukan Nazia? Aku bingung, pikiranku buntuh, aku tak tahu harus bagaimana lagi. Ibu pergi meninggalkan aku begitu pun dengan ayah. Aku sendiri sekarang. Batin Erlando. Matanya mulai berkaca-kaca.
Flashback off
"Mama kecewa sama kamu! Apa salah Nazia, hah. Kamu menyiksanya sejak dia kecil. Mama kira pernikahan ini akan membuatmu kembali menyayanginya tapi mama salah. Mama membawanya ke jurang. Hiks hiks hiks, Erlando, kenapa kamu bisa seperti ini nak?"
Melyana menangis sejadi-jadinya. Rencananya untuk mengembalikan senyum anaknya, Erlando malah membuat luka yang dalam untuk putrinya, Nazia.
"Maafkan aku Mah" ucap Erlando memohon.
"Maaf, kamu bilang maaf ! Bukan mama yang harus dengar kata itu, tapi istrimu.!"
Erlando diam seribu bahasa ia tak tahu harus bagaimana lagi.
"Apa kamu pikir Nazia adalah tempatmu kembali saat Anata menghianatimu.! Mama akan memisahkan kalian berdua. Sudah cukup putri sekaligus menantu mama kamu sakiti hatinya. Ucamkan itu baik-baik"
Melyana beranjak pergi meninggalkan Erlando yang kini diam mematung. Sesampainya di dalam kamar, Melyana menghubungi seseorang.
[Halo bos] Sapa seseorang di sebrang sana.
[Lakukan tugasmu dengan baik. Aku akan memberimu tips sesuai dengan hasil kerjamu.]
[.........]
[Bagus, aku tunggu kabar selanjutnya] Ucap Melyana.
__ADS_1
Tut. Tut. Tut. Panggilan telepon berakhir.
****
Esok hari...
Melyana dan Adiswa keluar dengan membawa koper, Erlando menaik turunkan alisnya melihat mama dan ayahnya turun bersamaan dari dalam kamar.
"Kalian mau ke mana?"
"Kembali ke London. Kami akan tinggal di sana. Perusahaan yang di sini kami serahkan untuk kamu, terserah kamu mau urus atau mau apakan."
Deg.. Seperti tamparan untuk Erlando. Nazia pergi dan sekarang mama dan ayahnya juga akan pergi.
"Jangan tinggalin aku. Aku mohon, hiks hiks."
Air mata Erlando kini jatuh membasahi pipinya.
"Permohonanmu suda terlambat.!"
Melyana dan Adiswa keluar membawa koper mereka di bagasi. Bi Syam dan Bi Inah menangis sesegukan.
"Nyonya, hati-hati di jalan nyonya. Hiks, hiks."
Flashback On
Erlando sampai di tempat yang ia ingin kunjungi, waktu sudah menunjukan 13:00 ia pun mencari restoran di sekitar mansion untuk makan siangnya. Makanan khas Jerman yang ia pesan, menurutnya makan siang dengan makanan khas adalah pilihan terbaik. Makan siang pun telah selesai, Erlando memilih kembali ke mansion. Beberapa menit kemudian Erlando pun sampai.
"Selamat datang Tuan.!"
Hormat seorang pelayan sambil membungkuk sejenak.
Erlando melangkah menghampiri ruangan terlarang dalam mansion. Kamar yang hanya Erlando yang dapat memasukinya dan hanya satu pelayan kepercayaan yang bisa masuk itu pun hanya untuk membersihkan ruangan di dalamnya. Ada alasan tertentu sehingga Erlando tak ingin orang lain memasuki kamarnya.
"Aku rindu kehangatan kamar ini. Kamar yang membawaku dalam dunia mafia dan menjadikanku pria bertopeng. Hahahaha, aku tak menyangka bisa tersenyum di rumah sakit dan bisa galak di perusahaan." ucapnya lirih.
Erlando memilih untuk membersihkan tubuhnya, saat di dalam kamar mandi ia berendam dan pada akhirnya tertidur.
Tok. Tok. Tok.
Seorang pelayan mengetuk pintu.
"Permisi tuan, makan malam suda siap."
Erlando terkejut dengan suara ketukan pintu,
"Ya ampun aku ketiduran." gumamnya.
Erlando dengan cepat membilas tubuhnya. Ia keluar dari dalam kamar mandi dengan cepat dan bersiap-siap untuk bertemu kliennya. Dengan segera Erlando menuruni anak tangga.
"Panggil semua pelayan dan kalian makanlah.! Aku harus pergi sekarang"
__ADS_1
Beberapa pelayan yang menyaksikan hal itu membuat mereka terpengangah. Selama mereka bekerja, ini kali pertama majikan mereka mempersilahkan mereka makan di meja makan.
"Baiklah tuan,"
Erlando keluar dari mansion menuju tempat pertemuannya dengan klien, hampir 25 menit perjalanan, ia pun sampai. Erlando melihat seseorang melambaikan tangannya, ia pun menghampiri dengan segera.
"Apa yang kamu lakukan di sini Lex? tanya Erlando.
"Aku yang mengirimkan Email untukmu" Jawabnya.
"Kamu tidak bercanda kan Lex?" tanya Erlando lagi.
"Aku tidak bercanda, aku tahu perusahanmu sedang di ambang kehancuran. Semua keputusan ada di tanganmu." ucap Alex.
"Aku tahu kamu tidak punya pilihan, aku ingin membuatmu bahagia, kemudian membuatmu menangis" Batin Alex.
Erlando memikirkan tawaran kerja sama antara dirinya dan Alex.
"Oke baiklah. Terimakasih untuk bantuanmu" ucap Erlando.
Erlando memalingkan pandangannya ke arah pintu, Ia melihat seorang wanita yang sangat familiar.
"Nazia, apakah itu Nazia. Tapi bagaimana mungkin Naziaku hamil. Apa dia sudah menikah lagi? Tidak mungkin." Batin Erlando.
"Nazia.!" teriak Erlando.
Nazia merasa ada yang memanggil namanya, ia pun menoleh.
"Kenapa Kak Erlando ada di sini. Aku harus cepat-cepat pergi."
Erlando beranjak dari tempat duduknya, ia tidak memperdulikan Alex lagi.
"Nazia... Tunggu Nazia.."
Brukk.......
Tubuh seseorang terlempar jauh, darah kembali mengalir di jalan, malam yang seharusnya menjadi pertemuan yang membahagiakan malah menjadi duka dan luka.
.
.
.
.
Bersambung.....
Jangan lupa like, Up dan Komen 😁
Mohon Kritik dan Saran 😊😊
__ADS_1