
Rumah bernuansa moderen, terdapat bunga di depannya dengan pancaran sinar lampu yang tidak lama lagi akan redup dan tak terlihat. Di dalam rumah terdapat tiga orang anak kecil dan satu pasangan suami istri.
Erlando masih tertidur pulas bersama ketiga anaknya, sedangkan Nazia berkutak di dapur menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya.
Bau masakan tercium sampai ke dalam kamar membuat sang kepalah rumah tangga mengerjap. Dengan mata yang masih berat untuk dibuka Erlando tetap berusaha bangun.
"Sayang, ini masih pagi sekali," ujar Erlando saat mendapati istrinya di dapur sedang memasak.
"Tidak masalah, Kak. Asalkan bukan jam 5," jawab Nazia sambil mencicipi masakannya.
"Aku bantu ya," ucap Erlando sembari memakai apron.
****
Reix mengerjap, ia melirik ke samping kanan dan kirinya.
"Ibu dan Ayah di mana?" gumam Reix. Dengan langkah pendeknya, Reix keluar dari kamar mencari Ibu dan Ayahnya.
Terdengar suara aneh dari arah dapur, Reix memberanikan dirinya untuk mengecek.
"Apa yang Ayah dan Ibu lakukan?" tanya Reix sambil mengucek matanya.
Dengan cepat Erlando menghentikan aktivitasnya.
"Lagi-lagi Reix," umpat Erlando.
"Kamu sudah bangun sayang!" kata Nazia menghampiri anaknya.
"Iya, Buk." Reix bermanja pada Ibunya dengan mata yang masih tertutup.
"Ibu, aku mengantuk." ucap Reix.
Nazia meminta suaminya untuk menggendong anaknya dan membawanya ke sofa.
"Ayah, maafkan aku." Kalimat itu yang keluar dari mulut kecil Reix sebelum Erlando membaringkannya di sofa.
"Tidak apa-apa. Sekarang kamu tidur ya," kata Erlando sambil mengelus kepala anaknya.
Waktu sudah menunjukan pukul 6:50, sebentar lagi akan jam 7. Erlando membantu istrinya mengurus anak-anak.
"Reix!" panggil Erlando.
"Iya, Ayah!" sahut Reix.
"Cepat masuk dalam kamar mandi, kita akan mandi bersama," panggil Erlando.
Dengan langkah pendek Reix berjalan memasuki kamar mandi menghampiri Ayahnya.
Erlando memandikan Reix sama halnya memandikan anak kecil yang belum bisa mandi sendiri. Namun untuk memakai baju seragam sekolah, Reix melakukannya tanpa bantuan Ayah dan Ibunya.
Nazia membiasakan anaknya untuk memakai dan mengganti pakaiannya sendiri. Namun untuk persoalan mandi Nazia memilih memandikan anaknya sendiri. Ia takut anaknya jatuh di kamar mandi.
__ADS_1
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Nazia saat melihat Reix memegang baju Nazira.
"Aku mau bantu Ibu memakaikan baju untuk beby Nazira, Buk." Reix menghampiri Nazia dengan senyum.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Nazia lagi. Ia tahu pasti ada sesuatu yang Reix inginkan.
"Ibu, bolehka Ibu mengantarku ke sekolah, kali ini saja, Buk."pintah Reix memohon.
Nazia memandangi anaknya sejenak, ia tahu apa yang anaknya rasakan sekarang.
"Apa teman-temanmu mengejekmu?" tanya Nazia sembari memeluk anaknya.
Reix melepas pelukan Ibunya, "Iya, Buk. Mereka bilang aku anak yatim." tangis Reix pecah.
Nazia menyeka air mata anaknya, ia tahu betul posisi Reix. Ia bisa merasakan rasa sakit yang Reix alami.
Nazia kembali mengingat masa kecilnya saat ia berkelahi dengan anak tetangga.
"Hei anak yatim!" panggil anak tetangga.
"Jaga ucapanmu!" teriak Nazia.
"Kenapa aku harus menjaga ucapanku! Memang benar kan kamu anak yatim," kata anak tetangga sambil berkacak pinggang.
"Aku punya Ibu!! Aku punya Ayah! Hikz, hikz," teriak Nazia dengan bulir air mata sambil berlari memasuki rumah.
"Ibu, kenapa Ibu menangis!" Reix menyeka air mata Nazia. Nazia tersadar dari lamunannya.
"Ti-tidak, Ibu tidak kenapa-napa."
Aku tidak akan membiarkan ketiga anakku merasakan hidup yang sakit seperti itu. Aku harus membantu istriku merawat dan menjaga anak-anakku. Aku tidak ingin Nazia sakit karena kacapean merawat ketiga anakku. Batin Erlando.
"Sayang, kamu saja yang antar Reix ke sekolah. Nanti Sahka dan Nazira biar aku yang jaga." Erlando menghampiri istri dan anaknya.
"Ibu, Ibu mau kan antar aku ke sekolah!" tanya Reix dengan menyeka air matanya yang hampir saja jatuh.
"Iya sayang. Mulai sekarang Ibu yang akan mengantarmu ke sekolah," ucap Nazia sambil tersenyum.
Nazia menuntun anaknya ke meja makan, sarapan pagi pun dimulai. Tak membutuhkan waktu lama, mereka pun selesai dengan aktivitas makan.
"Sayang ayo cepat, nanti kamu terlambat Nak. " Nazia memanggil Reix.
"Iya Buk. Tunggu sebentar, aku ambil tupperware dulu!" sahut Reix.
"Ayah! Aku ke sekolah dulu ya," teriak Reix dengan terburu-buru.
"Iya, hati-hati ya." sahut Erlando dari kamar sikembar.
"Ayo Buk," ajak Reix saat ia sudah berada di dalam mobil.
Mobil meleset pergi keluar dari pekarangan kompleks rumah mereka. Dalam perjalanan Reix terus memumbuat lelucon yang berhasil membuat Ibunya tertawa lepas.
Nazia sampai di sekolah tempat anaknya menimbah ilmu setelah 20 menit perjalanan. Sekolah yang dulu ia tempati untuk belajar bersama Adrian dan teman-teman lainnya.
__ADS_1
Pandangan Nazia tersorot di pohon yang tak jauh dari ruang guru. Pohon yang Nazia jadikan teman saat ia sedang menangis dikala Adrian tidak ada untuk menghiburnya.
"Reix, itu siapa?" tanya seorang anak laki-laki yang seumuran Reix.
"Aku Ibunya," Nazia tersenyum pada anak lelaki itu.
"Nandri, ini Ibuku!" Reix memperkenalkan Ibunya pada temannya.
"Halo Tante!" sapa Nandri.
"Iya, Nak!" sahut Nazia dengan senyum.
"Ibu, aku dan Nandri ke kelas dulu ya. Ibu hati-hati di jalan," kata Reix sambil mencium tangan Ibunya.
"Nandri, tolong jagain anak Tante ya!" ujar Nazia pada Nandri.
"Siap Tante," balas Nandri.
Reix dan Nandri masuk ke gedung sekolah, sedangkan Nazia masuk ke dalam mobilnya. Roda empat bergerak perlahan meninggalkan area sekolah. Saat di perjalanan Nazia meneteskan air mata mengingat masa kelamnya, masa yang begitu menyakitkan baginya. Selang 20 menit, Nazia sampai di rumahnya.
Di depan rumah ada Erlando yang sedang berjongkok mensejajarkan dirinya dengan box bayi. Sesekali ia mengajak anak kembarnya untuk bermain. Beby Sahka terus tertawa begitupun dengan beby Nazira.
"Kak, ayo masuk dan bersiap-siaplah untuk ke rumah sakit."
"Sebentar lagi, aku masih ingin bermain dengan mereka."
"Masih ada sebentar dan besok, Kak."
"Sayang, aku pemilik rumah sakit. Jadi aku bisa masuk kapan saja," ujar Erlando.
"Hehehehe, aku lupa!" kata Nazia sambil tertawa memperlihatkan gigi putihnya.
"Sayang!" panggil Erlando saat mereka di ruang keluarga.
Nazia menoleh menatap suaminya, "Ada apa?" tanya Nazia.
"Akhir pekan kita honeymoon yuk," ujar Erlando.
"Apa aku tidak salah dengar?" ucap Nazia memastikan.
"Aku serius, aku ingin menghabiskan waktu akhir pekan denganmu dan hanya kita berdua.
"Bagaimana dengan anak-anak? Dan honeymoon itu kan untuk mereka yang baru menikah. Kita sudah punya anak, tiga lagi."
"Ada Ibu. Kita bisa bawa mereka ke sana, Ibu pasti paham kok," ujar Erlando.
"Kakak mau ngapain!" tanya Nazia saat Erlando mendekat.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....