
Erlando memegang ponselnya. Sudah 2hari istrinya pergi dan tidak memberi kabar sekalipun. Erlando yang merasa dirinya aneh membuatnya bergidik dan berkata.
"Ada apa denganku, kenapa aku memikirkan dia, bukankah bagus jika dia pergi. Toh ibu juga tidak menghubungiku itu menandakan Nazia tidak ke rumah ibu."
Erlando meletakan ponselnya dan kembali fokus dengan layar leptopnya. Ia memeriksa berkas-berkas yang harus ia pelajari untuk mitting dengan kliennya dari London. Hampir sejam Erlando berkutak di depan leptop.
Waktu sudah menunjukan pukul 1 siang dan Erlando harus ke rumah sakit menjalankan tugasnya sebagai seorang Dokter. Ia harus tersenyum di depan para pasien agar pasiennya tidak takut melihatnya.
"Hahahaha," tawa Erlando saat memikirkan bagaimana sikapnya saat berada di perusahaan dan berada di rumah sakit. Erlando menelepon Adrian memintanya untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Apa jadwalku sebentar?" tanya Erlando.
"Untuk sebentar tidak ada." jawabnya sopan.
"Oke baiklah. Aku serahkan semuanya ke kamu sekarang aku harus ke rumah sakit." jelas Erlando.
Erlando turun lewat lift pribadinya. Sampai di loby, semua pegawai memberinya hormat. Erlando tidak tersenyum sedikit pun saat ia melewati semua karyawanya.
"Apa bos kita itu bersikap sama saat di rumah sakit? tanya seorang karyawan pada karyawan lainnya. Sudah jelas dengan nada saura pelan agar tidak di dengar oleh Erlando.
Walaupun pelan tapi Erlando bisa mendengarnya. Ia pun tersenyum. Membuat semua wanita terpesona dengan senyum tampan bos mereka.
"Siapa yang tadi berbisik?" tanya Erlando dengan tegas.
Tak ada yang berani menjawab.
"Apa kalian tidak dengar apa yang aku tanyakan.!" bentak Erlando.
"A-ku pak." jawab salah satu karyawan wanita dengan gugup.
"Besok ke rumah sakit dan kamu akan melihatku tersenyum." ucapnya tapi dengan menahan senyum kemudian berlalu pergi menaiki mobilnya.
Hampir 20 menit perjalanan, kini Erlando telah sampai di rumah sakit. Ia melihat Johan yang sedari tadi menunggunya di parkiran. Erlando menghampiri Johan kemudian mengajaknya pergi ke ruangan mereka.
"Aku kira kamu tidak punya jadwak piket hari ini." ujar Erlando pada Johan.
"Aku tahu. Tapi aku bosan di rumah, itu sebabnya aku ke rumah sakit." jawab Johan.
"Bagaimana kemarin, apa rencanamu untuk mengatakan cinta ke wanita pujaan hatimu itu sudah ada?" tanya Erlando untuk memastikan.
"Aku sudah punya rencana. Kemarin aku mengajaknya untuk jalan-jalan dan kami berencana untuk ke Bali." jawab Johan dengan senyum.
Erlando menahan emosi. Ia mencoba untuk tetap santai.
__ADS_1
"Oh ya. Selamat ya untuk kalian." ucap Erlando kemudian pergi meninggalkan Johan.
Johan tersenyum melihat Erlando yang kini mulai panas. Ia tahu Erlando pasti marah saat tahu istrinya akan pergi dengan pria lain ke Bali.
"Apa kamu fikir adiku bisa kamu permainkan" Batin Johan.
Di ruangannya, Erlando mengepalkan tangannya, ia mencoba menghubungi Nazia namun Nazia tidak menjawab panggilannya. Erlando semakin geram, ia memilih ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya kemudian pergi melihat pasiennya.
*****
Nazia berada di rumah Winata bersama Pa Aksan dan Bi Neona. Ia mengerjakan tugas-tugasnya di ruang TV agar dapat bercanda dengan mereka. Nazia merasa bahagia berada di rumahnya.
"Bibi, sudah berapa lama kalian kerja di sini?" tanya Nazia.
"Hampir 30tahun Non." jawab Bi Neona sambil makan nonton.
"Berarti bibi kerja di rumahku sejak aku belum lahir dong." ucap Nazia membulatkan matanya.
"Iya, Tuan Canda dan Nyonya Nurlaina begitu baik kepada kami." ucap Bi Neona dengan senyum.
Tiba-tiba Nazia diam. Matanya mulai berkaca-kaca. Bi Neona merasa bersalah karena ucapannya Nazia jadi sedih.
"Bibi, hiks hiks hiiks. Aku kangen sama Ibu dan Ayah." tangis Nazia pecah.
"Sabar Non. Orang tua Non pasti sudah bahagia di sana. Mereka akan sedih bila melihat Non sedih."
Bi Neona mencoba untuk menghibur Nazia. Ia mengambil buku Album dan memperlihatkan foto Nulaina dan Candra serta Nazia sewaktu bayi.
"Coba Non lihat foto ini." ucap Bi Neona sambil menunjuk salah satu foto.
"Ini foto saat non berumur 4 tahun, laki-laki di sebelah kiri Non adalah sepupu Non dari Ibu dan disebelah kanan Non adalah spupu dari Ayah. Non punya 2sepupu laki-laki." Bi Neona menjelaskan pada Nazia.
"Ini foto masa kecilnya kak Ferdinan. Tapi yang satu ini siapa?" ucap Nazia bingung.
"Apa sepupuku tinggal di Luar Negri Bi?" tanya Nazia.
"Bibi lupa namanya siapa. Tapi setahu bibi. Saat mendengar Ibu dan Ayah Non kecelakaan mereka langsung pindah ke Jerman untuk mengurus perusahaan ayahmu di sana." ucap Bi Neona panjang lebar.
Nazia kembali melihat foto anak laki-laki yang menurutnya wajah itu seperti tidak asing baginya. Nazia mencoba mengingat tapi entahla. Ia sendiri lupa di mana melihat foto itu.
*****
Kediaman Anggara
__ADS_1
Kania bersama calon mertuanya sedang sarapan. Setelah usai dengan aktivitas makannya. Neska mengajak Kania untuk pergi ke Mall belanja. Mereka berdua pun pergi. Sesampainya di sana. Neska meminta Kania untuk menemaninya memilih gaun pengantin. Kania bingung, secara tidak ada yang akan menikah di waktu dekat ini.
"Coba kamu tes gaun ini sayang." Ucap Neska dengan senyum manisnya.
"Loh, kok aku mah yang nyobain." ucap Kania.
"Lalu siapa lagi sayang, kan kamu yang bakalan nikah bukan mama." ucap Neska kemudian tertawa.
"Tapi kan pernikahan aku masih lama, Mah." ujar Kania lagi.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau." ucap Neska dengan pura-pura sedih.
"Loh, kok mama sedih sih, Mah, aku tidak bermaksud buat mama sedih. Aku bakalan cobain kok." kata Kania mencoba merayu Neska.
"Gitu dong." ucap Neska dengan mata berbinar.
Kania mencoba gaun pengantin warna putih membuatnya semakin cantik. Neska yang melihatnya dibuat bahagia.
"Menantu mama cantik bangat deh." puji Neska.
Saat mereka hendak pulang. Neska melihat Erlando bersama wanita lain. Ia berfikir bahwa itu adalah Nazia. Neska pun menghampiri mereka. Ia melihat wanita itu dengan tatapan aneh.
"Dia siapa Erlando?" tanya Neksa.
"Dia teman aku tante." jawab Erlando gugup.
"Nazia di mana. Kok tidak di ajak?" tanya Neska lagi.
"Nazia di rumah tante." jawab Erlando lagi.
Kania yang mengetahui kebusukan Erlando membuatnya geram. Namun ia tidak mau membuat keributan di Mall. Kania mengajak calon mertuanya untuk pergi. Neska pamit kemudian pergi. Sedangkan Anata hanya diam saja.
Erlando mengajak Anata untuk pulang. ia harus mencari Nazia sebelum keluarga mereka tahu jika Nazia tidak tinggal bersamanya lagi.
.
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir buat baca Karya Aku. Semoga kalian suka dengan ceritanya 😊