
Happy Reading 😊😍
.
.
.
Australia
Dengan senyum lebar Erlando menyalakan mesin mobilnya dan keluar dari parkiran Bandara. Sepanjang perjalanan ia terus melirik handphonnya, di sana terukir senyum bahagia di raut wajah pria yang sedang mengucapkan janji suci di depan para tamu undangan. 30menit kemudian Erlando tiba di rumah Winata. Ia melangkah dengan cepat dan menekan tombol di samping pintu rumah Winata.
Erlando tak sabar ingin mengatakan maaf sekaligus mengungkapkan perasaannya ke pada Nazia, Istrinya. Berulang kali Erlando menekan tombol itu namun tak ada yang membukakan pintu untuknya. Erlando mengeluarkan ponselnya mencoba untuk menghubungi Nazia. Berulang kali ia menelpon tapi tidak ada jawaban, ia mencoba mengirimkan pesan tapi tidak di balas oleh Nazia. Saat ia mencoba menghubungi kembali akan tetapi nomornya sudah di luar jangkauan. Erlando pun pergi dan masuk ke dalam mobil.
Ting.
Satu Notifikasi masuk. Erlando membukanya, terpampang nama Ibunya di sana. Ia pun membuka pesan dan membacanya.
Ibu kecewa sama kamu. Isi pesan.
Erlando berdecak pelan. Ibunya sudah tahu apa yang ia lakukan selama ini. Erlando memutuskan untuk ke rumah ibunya.
Terpampang dengan jelas di tembok pagar, ada tulisan Rumah Magesta. Erlando berhenti tepat di depan rumah orang tuanya. Di dalam rumah Melyana dan Adiswa sedang duduk di ruang tamu.
Pintu terbuka lebar, Erlando masuk dan mencari ibunya. Ia melihat Melyana sedang duduk. Ia pun menghampiri Ibu dan Ayahnya. Melyana melihat Erlando datang seorang diri.
"Apa yang membawamu datang ke rumah ini?"
"Ibu, aku bisa jelaskan semua buk. Ibu dengar dulu penjelasan aku."
"Apa yang mau kamu jelaskan lagi hah.!!"
"Aku mencintai Anata buk, aku tidak mencintai Nazia."
"Jika seperti itu, maka tinggalkan Nazia dan jangan pernah kamu datang ke rumah ini.!"
Melyana masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan suami dan anaknya.
"Ayah kecewa sama kamu." ucap Adiswa kemudian pergi meninggalkan Erlando sendiri.
Erlando memegang kepalanya yang tidak terasa pusing, berdebat dengan ibunya takan membuatnya tenang. Ia pun memilih pulang ke Apartemennya. Dalam perjalanan, ia kembali mengingat perkataan ibunya.
Apa aku tidak pantas mendapatkan maaf, apa aku tidak pantas untuk Nazia. Apa sikapku terlalu berlebihan padanya. Batin Erlando.
Dalam perjalanan, Erlando berkelut dengan pikirannya, ia meraih handphonnya dan kembali menelepon Nazia. Masih tetap sama, nomor Nazia di luar jangkauan.
Erlando tiba di Apartemen, ia melihat mobil Anata ada di tempat parkir. Dengan segera Erlando turun, ia mempercepat langkahnya. Di depan pintu Apartemennya ada seorang wanita yang ia sangat cintai, wanita yang menurutnya adalah wanita yang paling setia, wanita yang mau hidup bersamanya sampai ajal memisahkan mereka. Namun takdir membuat salah satu dari mereka meleset dari janji yang pernah mereka buat. Penghianatan cinta kembali hadir dalam hubungan mereka membuat salah satunya mengubah cinta menjadi benci.
"Apa yang kamu lakukan di sini Anata?"
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku. Aku bisa jelaskan semuanya." mohon Anata sambil meraih tangan Erlando.
Erlando menepis tangan Anata.
"Tidak ada yang perlu kamu jelaskan, aku melihatnya dengan mata kepala aku sendiri"
"Silahkan pergi dari sini, aku tak ingin melihat air mata palsumu itu.!"
Erlando melangkah masuk ke dalam Apartemennya.
"Sayang, buka pintunya sayang, aku bisa jelasin semuanya.!!" panggil Anata dari luar.
Praaaaaaaang...... Erlando membanting semua benda yang ada di meja.
"Larilah sejauh yang kamu bisa Nazia. Aku pastikan kamu akan kembali dan memohon padaku." ucapnya dengan mengepal tangannya, rahangnya semakin keras.
*******
Jerman
Malam hari......
Kamar yang di penuhi lampu tidur, seorang wanita berdiri di balkom sambil memandangi indahnya pemandangan malam dari balkom Apartemennya. Membuatnya hanyut dalam pikirannya. Masa depan yang ia inginkan tak seperti impiannya. Mimpi untuk bisa berbahagia dengan pasangan hidupnya kelak malah menjadi sebaliknya. Ia terjebak oleh pernikahan yang tanpa didasari cinta. Berharap kebencian itu segera berakhir namun siapa sangkah, kebencian itu malah semakin menggorogoti tubuhnya.
Di lingkungan yang baru ini ia berharap mendapatkan kebahagiaan, bahagia bersama dengan orang-orang yang ia sayangi.
"Non.! ayo masuk, udara yang seperti ini tidak baik untuk kesehatan non."
"Iya Bi, nanti aku masuk."
Dengan langkah pelan, Nazia masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat handphonnya ada di atas meja, ia pun meraih dan menghidupkan handphonnya.
Ting.
Ada notifikasi menandakan ada pesan masuk. Nazia membuka kunci layar handphonnya, di sana ada beberapa panggilan tak terjawab dan banyak pesan yang masuk. Salah satunya panggilan dan pesan dari Erlando. Nazia tak ingin membacanya, ia pun langsung menghapus pesan dari Erlando.
"Aku tak ingin terluka oleh kaka lagi. Kaka pantas bersama Kak Anata. Aku menyerah kak, aku kalah sekarang. Aku fikir aku bisa sabar, tapi ternyata tidak. Aku lemah dan tak berdaya." Ucap Nazia kemudian ia pun menangis.
"Hiks, hiks, hiks. Kenapa harus aku yang merasakan sakit ini. Apa aku pernah berbuat salah di masa lalu. Hiks, hiks, hiks."
Nazia menghapus air matanya.
"Ini adalah tangisan terakhir aku untuk kaka. Jika dulu kaka adalah kaka ku dan kemarin adalah suamiku, maka sekarang kaka adalah musuhku." ucap Nazia kemudian beranjak ke tempat tidurnya.
*****
.
.
__ADS_1
.
Australia
Erlando bersiap-siap untuk ke kantor setelah itu ke rumah sakit. Tanggung jawab membuatnya harus tetap stay walaupun banyak luka dihatinya. Ia melihat handphonnya, pesannya sudah terbaca tapi tidak terbalas.
"Sesakit itu kah hatimu, Nazia. Aku janji akan membawamu kembali dan kita akan memulai kehidupan yang baru." ucap Erlando.
Erlando keluar dari Apartemen, ia melihat mobil Anata masih berada di parkiran. Erlando mendekat, di dalam sana ada Anata yang ketiduran. Entah apa yang membuatnya bersihkukuh untuk menjelaskan semuanya.
Erlando mengabaikan Anata, kemudian masuk ke dalam mobilnya dan meleset pergi dari Apartemen menuju Perusahaan Magesta Group. Dalam perjalanan ia terus memikirkan Nazia.
Kring kring.... Dering telepon
[Segera ke kantor]
[Sebentar lagi aku sampai]
Tut tut tut. Panggilan berakhir
Aaaaaaaaah.....
Teriak Erlando memukul stir mobilnya.
"kenapa bisa seperti ini. Kenapa tiba-tiba mereka mencabut semua sahamnya dari perusahaan." ucap Erlando.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Perusahaan Magesta
Erlando masuk ke dalam lift sedangkan Adrian sudah menungggunya di ruangan Erlando. Dengan langkah cepat Erlando sampai di ruangnya.
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Erlando.
"Sepertinya ada orang lain dibalik semua ini."
"Hubungi semua anak buah kita, dan cari tahu siapa dalang dari semua ini. Untuk penurunan saham biar aku yang urus semuanya."
Adrian keluar dari ruangan Erlando dengan raut wajah yang berbeda dari biasanya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....
Terima kasih 😊😊