
**Halo Readers, jangan lupa tekan like sebelum membaca 😊😊
Happy Reading 😍😍**
****
Erlando mondar mandir di depan ruang operasi begitu pun dengan Melyana dan Bi Neona. Reix memandangi ketiga orang dewasa di depannya. Melyana maupun Neona belum mempertanyakan siapa Reix sebenarnya.
"Melyana Bagaimana keadaan Nazia?" tanya Adiswa khawatir.
"Operasinya belum selesai, sayang." jawab Melyana pada suaminya.
"Ayah, jangan takut. Ibu dan adiku baik-baik saja di dalam." kata Reix menenangkan Erlando yang kini dilanda rasa cemas.
Melyana, Adiswa dan Neona pun menatap Reix sejenak kemudian menatap Erlando dengan penuh tanya.
Erlando paham akan tatapan itu, "Reix adalah anak angkatku, aku mengadopsinya dari Panti Asuhan tempat Ayah dan Ibu mengadopsi Nazia." jelas Erlando.
Melyana diam kemudian menatap Reix, Reix merasa takut ia pun bersembunyi dibelakang ayahnya.
"Ayah, aku takut. Oma tidak menyukaiku." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Siapa namamu?" tanya Melyana.
"Re-ix." jawabnya sesegukan.
"Ayo sini."
Melyana menarik tubuh mungil Reix kemudian memeluknya.
Erlando terlihat legah saat melihat ibunya menerima Reix dalam keluarga mereka.
*****
Australia/Rumah Sakit Magesta.
Johan duduk di ruangannya sambil memainkan hanphonya. Ia berterimakasih pada tuhan yang telah mempertemukannya dengan sepupunya. Bertahun-tahun ia mencari sepupunya itu Namun tak ada hasil sedikit pun. Saat ia putus asa dan menyerah, tuhan mendatangkan seseorang yang memberinya kabar, wanita yang ia cari ada di dekatnya. Namun dengan kehidupan yang sulit. Johan berjanji pada dirinya ia akan membahagiakan sepupunya.
"Nazia. Maafkan kaka yang telat menemukanmu." ucapnya sambil memandangi foto Nazia.
"Kaka akan menebus kesalahan kaka padamu. Tahukah kamu, kakek sangat merindukanmu."
"Kaka janji, jika suamimu memperlakukanmu dengan tidak adil lagi, kaka akan membawamu pergi sejauh mungkin."
Setelah mengatakan semua itu, Johan memasukan handphonnya kedalam saku baju miliknya dan pergi menjalankan tugasnya sebagai seorang Dokter.
Perusahaan Magesta.
Adrian berdiri menghadap jendela, terlihat pemandangan indah di Kota Australia, kendraan berlalu lalang. Pikiran Adrian kemana-mana. Perkataan Anata mampu membuat Adrian cemas. Ia takut Anata melukai Nazia, terlebih lagi Anata tahu jika Nazia sedang hamil dan akan melahirkan.
Flashback Off /Anata
Anata datang menghampiri Adrian yang berada di Kantor. Ia datang dengan amarah yang memuncak, Adrian yang melihatnya pun menggelengkan kepala.
"Jika kamu tidak memisahkan Erlando dan Nazia, aku akan membuatmu menyesal telah berada dipihak mereka." ancam Anata.
"Kak, harusnya kaka sadar diri. Kaka yang menghianati Erlando. Dan Nazia, dia istri Erlando. Baik aku maupun kaka, kita tidak punya hak memisahkan mereka."
__ADS_1
"Aku tidak mau tahu. Jika kamu tidak bisa melakukannya maka aku yang akan melakukannya." ucap Anata kemudian pergi meninggalkan Adrian di dalam ruangannya.
Flashback On.
"Aku harus mengatur rencana agar Kak Anata tidak menemukan Nazia. Bagaimana pun caranya, Nazia harus selamat."
Adrian menghubungi seseorang untuk terus mengawasi Anata.
"Aku yakin, Naix pasti bisa mengatasi hal ini."
Tok..
Tok..
Tok..
"Masuk.!"
"Permisi Pak, ada seseorang yang ingin menemui bapak." jelas Lusi.
"Suru dia masuk."
Lusi pun mempersilahkan tamu itu masuk.
"Halo bro, apa yang membuatmu datang?" tanya Adrian saat melihat Johan di depan pintu.
"Aku datang mau membahas tentang percakapan kita ditelepon." jelas Johan kemudian duduk di sofa.
"Bagaimana kamu bisa mengenal Nazia?" tanya Adrian sambil memainkan pulpen yang ada di tangannya.
"Dia sepupu aku yang menghilang sejak kecil, kakek dan orang tuaku sudah mencarinya tapi mereka tidak menemukannya dan sekarang aku menemukannya. Terimakasih Adrian, kamu sudah menjaga Nazia dari kejahatan Erlando saat kecil."
"Oke baiklah, aku percaya padamu. Ow yah Adrian aku harap kamu pantau Anata, aku tidak ingin kita kita bermusuhan karena hal ini." kata Johan lagi.
Adrian terkekeh mendengar ucapan Johan yang terakhir. "Aku akan mengurus Kak Anata dan soal Alex aku serahkan padamu."
Alex adalah teman mereka saat kuliah dulu, namun siapa sangka Alex menghianati persahabatan mereka dan sekarang Alex berusaha menghancurkan Erlando.
****
Jerman/Rumah sakit.
Erlando mondar mandir di depan ruang operasi sedangkan Reix duduk dipangkuan Melyana.
Kring.. Kring... Handphon Melyana berdering.
Melyana mengambil handphonnya dari dalam tas, ia menatap layar, tertulis nama Neska di sana.
Aku lupa memberitahu Neska soal Nazia. Batin Melyana.
[Halo Neska, maafkan aku] Ucap Melyana saat panggilan terhubung.
[Tidak apa-apa. Bagaimana keadaan Nazia sekarang?]
[Nazia masih di dalam ruang operasi]
[Oke baiklah, kabari aku secepatnya]
__ADS_1
Tut.. Tut.. Tut.... Panggilan telepon berakhir.
Terdengar suara tangisan bayi dari dalam, Erlando menatap ibunya. Tak berlangsung lama, terdengar lagi tangisan bayi.
"Anak kamu kembar sayang." kata Melyana sembari memegang pundak anaknya.
Erlando meneteskan air mata, air mata yang jatuh karena kebahagiaan.
Reix menghampiri Erlando, yang kini duduk terpaku di lantai.
"Ayah, bukankah Ayah pernah bilang padaku laki-laki tidak boleh menangis. Kenapa Ayah malah menangis." ucap Reix sambil menghapus air mata Erlando.
Erlando memeluk tubuh Reix, "Ayah tahu, tapi Ayah lemah."
Operasi selesai, suster membawa kembar ke ruangan dan meletakannya ke dalam Box bayi sedangkan Nazia kritis karena banyak darah yang keluar saat operasi berlangsung.
Nazia di bawah ke ruangannya, Erlando duduk tepat di samping Nazia. Ia memegang tangan istrinya yang begitu dingin.
*Kenapa kamu belum membuka matamu, apa kamu tidak suka aku ada.
Jangan menghukumku seperti ini Nazia, maafkan aku. Aku tahu aku salah dan aku ingin kita memulai dari awal lagi bersama anak-anak kita.
Tahukah kamu, kasarku sejak dulu bukan tanpa alasan. Aku menolak keberadaanmu demi kebaikanmu, aku takut nasibmu sama seperti adiku. Aku tak mau hal itu terjadi padamu lagi. Naumi meninggal karenaku, seandainya aku tidak membawanya pergi mungkin dia masih hidup sekarang. Kamu pasti membenciku kan, aku tahu itu Nazia.
Buka matamu Nazia, hatiku sakit melihatmu seperti ini. Aku mohon buka matamu, aku dan anak-anak sangat membutuhkanmu*.
Erlando tak mampu lagi menahan air mata yang kini tertumpuk dipelupuk matanya. Tangis pun pecah, air mata membasahi pipi manisnya. Erlando yang gagah dan kuat kini lemah saat melihat wanita yang ia hindari sejak kecil terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit.
Aku seperti orang gila saat mendengarmu sudah menikah lagi, kenapa kamu membohongiku dan menyembunyikan mereka berdua. Apa kamu takut aku menolak keberadaan mereka. Hiks, hiks. Maafkan aku Nazia.
Erlando merasa matanya berat, ia pun tertidur sambil menggenggam tangan Nazia.
Waktu menunjukan pukul 05:00 Nazia membuka matanya, ia melihat Erlando tertidur di sampingnya.
"Ibu.." panggil Reix terbangun dari tidurnya.
Nadira mengeryitkan dahinya, "Siapa namamu sayang?" tanya Nazia.
"Aku Reix."
"Ibu, bolehkah aku memanggilmu ibu?" tanya Reix lagi.
Nadira meneteskan air mata saat pertanyaan itu keluar dari mulut anak kecil. Pertanyaan yang membuatnya mengingat kembali masa
kecilnya saat ia mengatakan hal yang sama pada Melyana.
.
.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan Up 😊😍