
Rasa takut menghampiri Nazia saat mendengar teriakan anaknya dari dalam kamar. Dengan jalan tergopoh gopoh, Nazia menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
Kreeekk... pintu terbuka lebar.
Air mata kebahagiaan kembali menetes membasahi pipi manis sang ibu rumah tangga. Nazia, ia kembali menangis saat melihat suaminya membuka matanya untuk pertama kalinya selama ia dinyatakan koma oleh Dokter. Perlahan Nazia menghampiri suaminya, tangis berganti menjadi kebahagiaan.
"Sayang kamu sudah sadar," ujar Nazia dengan senyum saat tangannya meraih tangan suaminya.
Kebahagiaan yang hadir membuat Nazia lupa untuk menghubungi Dokter. Namun, kecerdikan anaknya sangat membantu Nazia. Tangan mungil meraih ponsel yang ada di atas nakas, mata kembali fokus dan jari tangan mulai bergerak mencari kontak seseorang dari daftar kontak.
Johan, nama yang dicari dari daftar kontak. Pandangan Reix terhenti saat mendapati nama dan nomor yang ia cari. Dengan singgap jari mungil yang terlihat lentik menekan gambar bulat berwarna hijau.
Tiiing... tiiiing... tiiiing... terdengar bunyi dering yang menandakan panggilan masuk namun belum terjawab.
"Halo, Paman!" sapa Reix saat panggilan terhubung.
"Halo sayang, bagaimana keadaan ibu dan ayahmu?" tanya Johan sambil menatap jam tangan yang terpasang dipergelangan tangan kirinya.
"Ayah sudah sadar paman. Paman cepat kesini ya!" seru Reix dengan semangat.
"Baiklah, paman akan kesitu!" ujar Johan kemudian memutuskan panggilannya.
****
Johan meraih kunci mobilnya berjalan keluar menuju pintu utama rumahnya. Dengan langkah cepat Johan menuruni anak tangga, senyum terukir di wajah tampannya.
"Kamu mau ke mana, Johan? Ini sudah larut!" tanya Ratri saat melihat Johan membuka pintu utama.
"Aku harus ke rumah Nazia, Buk. Erlando sudah sadar, aku harus kesana untuk memeriksa kondisinya."
"Aku ikut!!!" seru Anatasya dari tangga.
"Buk, kami pamit ya. Ibu hati-hati di rumah," pamit Johan dan Anatasya.
"Kalian hati-hati ya," balas Ratri kemudian menutup pintu rumah.
Mobil meleset pergi meninggalkan perumahan The Mutiara Residence. Hening, tidak ada yang bersuara selama diperjalanan. Sekali-kali Johan melirik Anatasya yang asik memainkan ponselnya.
"Aku akan berusaha untuk membuatmu memperyaiku dan membuatmu menyukaiku," Batin Johan.
Mobil sport hitam memasuki perumahan elit Primewood Mansion. Perlahan mobil berhenti tepat di bagasi mobil rumah Nazia. Johan keluar dari mobil membukakan pintu untuk Anatasya, sedangkan Anatasya bingung dengan tindakan Johan barusan.
"Silahkan turun!" kata Johan.
Anatasya menatap Johan lekat dengan mengerutkan dahinya, Johan tersenyum melihat tatapan aneh dari Anatasya.
"Apa kamu sakit?" tanya Anatasya sambil menempelkan telapak tangannya pada dahi Johan.
"Tidak," balas Johan sambil memegang tangan Anatasya.
__ADS_1
"Paman!! Ayo cepat!!" panggil Reix.
Reix dan Bi Neona sejak tadi keluar dan berdiri di depan pintu saat mendengar bunyi mobil yang sedang berhenti di depan rumah mereka.
"Sial! Reix melihatku lagi," umpat Johan malu saat ia ketangkap oleh anak kecil.
Anatasya terkekeh mendengarnya, "ayo masuk," ajak Anatasya sambil menarik tangan Johan.
Sejak memasuki rumah sampai mereka menaiki anak tanggga, Johan terus menerus menatap tangannya yang digenggam oleh wanita pujaan hatinya. Anatasya tidak sadar saat tangannya dengan ringan menggenggam tangan Johan.
"Apa kalian sudah baikan?" tanya Erlando memandangi keduanya.
"Maksud kamu?" tanya Anatasya bingung.
"Tuh!" Nazia menujuk tangan Johan dan Anatasya.
"Maafkan aku," ujar Anatasya, dengan cepat ia melepas tangan Johan.
Johan menghampiri Erlando yang kini tersenyum padanya, "Aku senang melihatmu pulih dari komamu," ujar Johan sambil memeriksa keadaan Erlando.
"Reix, sekarang kamu tidur ya. Besok kamu ke sekolah kan!" ujar Nazia saat melihat Reix berulang kali menguap.
"Tapi, Buk." Reix menatap Nazia.
"Tidurlah, ayah tidak akan tidur seperti kemarin." Erlando membujuk anaknya. Ia tahu apa yang dipikirkan anaknya.
"Ayah janji," balas Erlando.
Reix sudah hanyut dalam mimpinya. Bi Neona kembali ke kamarnya, Anatasya dan Johan pamit untuk pulang setelah memeriksa kondisi Erlando.
"Sayang, tidurlah denganku!" pinta Erlando saat melihat istrinya hendak berbaring di samping ketiga anaknya.
Nazia tersenyum menatap suaminya. Dengan langkah kaki pelan, ia menghampiri suaminya.
"Maafkan aku," kata Erlando sambil menatap langit-langit kamar.
Nazia memiringkan tubuhnya menatap lekat suaminya. "Maaf untuk apa?" tanya Nazia.
"Aku membuat kalian semua cemas, terlebih lagi soal Laura," hening. "Aku tidak akan menikahinya. Perjanjian itu sudah lama dibuat sebelum kamu hadir di keluarga kami. Sekarang kamu sudah hadir dan kita sudah memiliki anak." terang Erlando.
****
Beberapa tahun silam, saat Nazia masih tinggal di Panti Asuhan Mauhela. Melyana sempat menjodohkan Laura dengan Erlando. Namun perjodohan itu tidak diungkit lagi sejak kehadiran Nazia dalam keluarga Magesta. Saat Laura di fonis mengidap penyakit kanker otak, Melyana merasa iba hingga ia meminta Erlando untuk menikahi Laura tanpa memikirkan perasaan Nazia, anaknya.
Sebulan yang lalu sebelum Erlando ditimpah musibah, ia sempat bertengkar dengan mamanya di rumah sakit.
"Lan, ibu ingin kamu menikahi Laura!" terang Melyana.
Erlando terkejut mendengarnya, "apa aku tidak salah dengar?" tanya Erlando memastikan pendengarannya.
__ADS_1
"Kamu tidak salah dengar," balas Melyana. "Kasihan Laura, Lan!" katanya.
Mendengar ibunya mengatakan hal yang tidak pernah terbesit dalam pikiran Erlando membuatnya sakit hati, ia sangat mencintai istrinya. Ia tidak ingin melukai perasaan istrinya. Dengan pandangan kosong, Erlando keluar dari rumah sakit dan.
Brukkkk... Tubuh Erlando terlempar Jauh mengenai mobil yang berada di depan.
"Erlando...!!!" pekik Melyana histeris saat menghampiri kerumanan di depan rumah sakit.
Orang-orang membawa Erlando dalam rumah sakit, namun kerena benturan keras dan beberapa luka parah yang mengenai tubuhnya, membuatnya harus dioperasi.
****
"Aku siap diduakan," ujar Nazia memeluk suaminya.
"Sekalipun kamu siap tapi aku tidak akan menikahinya. Kamu istriku satu-satunya, sekarang dan selamanya," balas Erlando.
"Ayo tidur aku sudah mengantuk," ajak Nazia.
Nazia memejamkan matanya sedangkan Erlando masih menatap langit-lagit. Waktu sudah menunjukan pukul 1 malam, Erlando kembali hanyut dalam mimpinya.
Pagi hari...
Pagi telah tiba, Bi Neona bangun lebih awal menyiapkan sarapan untuk majikannya. Hampir 40 menit berkutak di dapur kini sarapan pagi telah tersedia di atas meja makan.
Nazia memandikan Sahka dan juga Nazira, terdengar tawa dari kedua anaknya. Reix menyiapkan baju untuk kedua adiknya sebelum ia ke sekolah.
"Pa... pa..." celoteh Nazira saat mendudukan Nazira di samping Erlando.
Erlando tersenyum melihat Nazira meraih tangannya, "anak ayah mulai belajar berbicara ya," balas Erlando meniru gaya bicara anak kecil.
"Pa... pa. He hehehe," tawa Nazira saat Erlando memegang pipinya.
"Reix, sekarang kamu makan di meja makan ya sayang. Nanti bibi yang temani, ibu mau suapin adik kemudian menyuapi ayah dan mengelap tubuhnya" jelas Nazia.
Tot... tok... terdengar ketukan dari pintu utama.
"Siapa yang datang sepagi ini?" gumam Nazia.
.
.
.
.
Bersambung..
Note: Aku mengisi alasan Melyana meminta Erlando menikahi Laura dengan penjelasan ya, tanpa flashback on atau off. Aku harap kalian paham dengan alur yang aku buat di part ini tentang alasan Melyana dan kejadian sebelum Erlando tertimpah musibah.
__ADS_1