
Nazia berdiri memandangi rumah unik yang berada di depannya. Sudah sekian tahun lamanya Nazia tak menginjakan kaki di rumah Magesta. Nazia ingin pergi dan tidak ingin masuk kedalam rumah. Akan tetapi Erlando terus berdiri di belakangnya. Saat Nazia melangkah untuk masuk ke dalam, hatinya menjerit mengingat perlakuan Erlando padanya. Sangat sakit, bahkan rasa sakit itu serasa membekas. Ia terus melangkah, hingga kini ia bediri tepat di depan pintu.
Erlando memandangi Nazia dari belakang, ia yakin Nazia masih mengingat masalalu yang menyakitkan itu. Erlando melihat Nazia yang sedari tadi berdiri membuatnya melangkah untuk membukakan pintu. Saat pintu di buka, Bi Inah dan Bi Syam sedang berada di ruang depan. Mereka syok saat melihat Nazia berdiri di depan pintu. Bi Syam yang tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia mencoba untuk mendekat, berjalan perlahan-lahan. Saat tangannya memegang kedua pipi Naziah, sontak tangis Bi Syam pecah.
"Non. Hik, hiks, hiks. Bibi kira, hiks,hiks. Non adalah hantu." Bi Syam menangis seperti anak kecil.
Bi Inah yang masih tidak percaya kini berhambur memeluk Nazia.
"Non Naziaaaaaaa! hiks, hiks. Bibi tidak mimpi kan Non," teriak Bi Inah histeris.
Adiswa yang mendengar suara tangis di lantai 1 rumahnya memilih untuk pergi mengecek. Namun siapa sangka saat ia melihat wajah putri yang bertahun-tahun dianggapnya telah meninggal malah berdiri tepat dihadapannya. Adiswa sempat shok melihat Nazia.
Nazia menghampiri ayahnya.
"Ayah, hiks,hiks, Nazia kangen ayah."
Adiswa baru menyadari kehadiran putrinya yang benar-benar nyata saat Nazia memeluk nya. Adiswa tak dapat menyembunyikan kesedihan sekaligus kebahagiaannya. Ia pun memeluk Nazia.
"Kamu kembali sayang," ucapnya dengan senyum bahagia.
****
Beberapa tahun yang lalu saat Jenazah Naziah telah di kubur dan semua orang telah pergi meninggalkan pemakaman.
"Hikz hikz hikz. Sayang kenapa kamu meninggalkan ibu!" Tangis Neska pecah.
"Buk, ibu jangan seperti ini!" ujar Ferdinan. "Ayo kita pulang, Buk." Ferdinan mengajak ibunya pulang.
Neska berdiri begitupun dengan Ferdinan, saat melewati kuburan baru, Ferdinan mendengar seseorang berteriak dari dalam kuburan.
"Ibu, sepertinya ada suara di dalam kuburan baru itu!" Ferdinan menunjuk kuburan Nazia.
"Ayo kita cek." Neska dan Ferdinan menghampiri, "iya betul sayang, cepat kamu kamu cari bantuan!" seru Neska.
Ferdinan berlari mencari bantuan, tak lama ia pun kembali bersama dua orang pria. Tak menunggu lama, mereka membongkar kembali kuburan Nazia dan mengangkat jenazah Nazia dari dalam kuburan.
"Cepat bawa dia ke mobil," ujar Neska saat melihat kondisi Nazia.
****
Nazia merasa ada yang kurang, ia melihat di sekelilingnya, tak ada ibunya.
"Ayah, ibu di mana?" tanya Nazia.
Mereka semuanya diam saat mendengar pertanyaan Nazia. Baik Bi Syam, Bi Inah, Adiswa maupun Erlando. Tidak ada satu orang pun yang menjawabnya. Nazia semakin dibuat bingung.
"Ayah, kenapa kalian semua diam!" isak Nazia sambil memegang lengan Adiswa.
"Ayah, jawab aku ayah."
Tangisnya semakin pecah, Nazia tak tahu arti dari semua ini. Kenapa semua orang malah memilih diam. Nazia berhambur menghampiri Erlando.
"Kakak! Di mana ibu?" tanyanya dengan sendu.
Erlando tak dapat menyembunyikan semua ini. Niatnya membawa Nazia agar ibunya bisa kembali sadar. Ia tahu ibunya sangat menyayangi Nazia.
"Ayo ikuti aku." ucapnya.
Nazia mengikuti langkah Erlando, ia berfikir sejenak saat Erlando membawanya ke suatu tempat yang setahu Nazia tempat itu belum pernah ia datangi.
"Ini di mana kak?" tanya Nazia.
__ADS_1
"Teruslah berjalan, kamu akan tahu sendiri saat berada di dalam sana." jawabnya dengan pandangan ke dalam ruangan yang asing bagi Nazia.
Nazia melangkahkan kakinya, memasuki ruangan yang ditunjuk Erlando. Ia melihat alat medis yang kini terpasang di tubuh seseorang yang ia cintai.
"Ibuuuuuuuu!" tangis Nazia pecah.
"Ibuuuu, hiks,hiks, ma-afin a-ku. Ibu bangun Buk, ini a-ku Nazia, Buk." Ucapnya disela-sela tangisnya.
Nazi memegang tangan ibunya, mencium dan memeluknya. tangis yang membuatnya tak mampu untuk berbicara. Rasa sakit membuatnya hampir jatuh, namun ia berusaha untuk tetap kuat. Kuat demi masa depannya dan kuat demi ibunya. Membuatnya kembali mengingat masa lalunya saat ia pertama kali menginjakan kakinya di rumah Magesta.
"Ibuuuuu, ini aku Buk, ini aku Nazia."
"Ibu pernah bilang kan sama Nazia. Nazia harus jadi anak yang kuat, harus sabar menghadapi sikap kakak. Harus melindungi kakak dan berusaha membuat kakak bahagia. Aku sudah melakukan itu semua Buk, aku pergi bukan karena ingin meninggalkan Ibu, aku pergi demi kebahagiaan kakak, Buk. Aku tidak tahu kepergianku justru membuat Ibu terluka." ucap Nazia panjang lebar, ia mengeluarkan semua unek-unek dalam hatinya dengan tangis yang tak kunjung reda.
Erlando berada dibalik pintu. Ia mendengar semua yang diucapkan Nazia. Membuatnya runtuh, wanita yang selama ini ia benci malah berusahan untuk melindunginya. Namun sekalipun begitu Erlando masih tetap memperlakukan Nazia dengan buruk.
Beberapa tahun yang lalu
"Hei, apa yang kamu lakukan pada Kakakku!!" teriak Nazia.
"Kakakmu? Kamu itu anak yatim yang tidak punya ibu, ayah dan juga kakak!" ledek anak tetangga.
"Tutup mulutmu!!" hardik Erlando.
Buf..... Satu pukulan berhasil mengenai perut anak tetangganya.
Setelah perkelahian itu terjadi, Erlando memilih pergi karena takut dimarahi ibu dan ayahnya.
Malam hari saat semua orang sudah tidur, Erlando masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan.
"Berhenti!!" teriak Melyana.
"Ibu, maafkan aku, Buk!" Erlando meminta maaf. Namun, Melyana tidak menggubrisnya. Melyana membawa Erlando di gudang dan menguncinya.
Saat semua orang sudah tidur. Nazia keluar dari dalam kamarnya menuju ruangan tempat Erlando dikurung.
Erlando merasa ada yang menyebut namanya ia pun bangun.
"Iya, aku di sini." sahut Erlando.
"Tunggu sebentar ya, aku carikan kunci dulu." ujar Nazia.
"Oke, aku tunggu." balas Erlando dengan senyum miris.
Entah apa yang ia pikirkan, ia ingin memberi pelajaran pada Nazia. Karena Nazia Erlando memukul anak tetangganya yang nakal itu.
"Kakak, aku di sini. Tunggu sebentar," ucapnya dengan membuka pintu.
Saat pintu terbuka, Erlando menyuruh Nazia masuk.
Erlando mengulurkan tanggannya ke depan sambil berkata. "Berikan kuncinya padaku."
Nazia tidak tahu jika Erlando memiliki rencana jahat. Ia pun memberikan kuncinya pada Erlando.
"Kakak! Buka pintunya kakak!" pinta Nazia pada Erlando.
Erlando tidak menggubris teriakan Nazia.
Esok hari ....
Melyana mencari kunci ruangan yang ia gunakan untuk mengurung Erlando. Tapi ia tidak menemukannya. Melyana pun memilih untuk mencari kunci cadangan. Saat membuka pintu ia kaget melihat Nazia yang terbaring lemas di lantai.
"Ayah... cepat kesini ayah..!" teriak Melyana.
__ADS_1
"Ada apa, Buk?" tanya Adiswa.
"Nazia sakit ayah, kita harus bawa Nazia ke rumah sakit!" teriaknya dari dalam gudang.
Erlando mendengar apa yang di katakan ibunya membuatnya merasa takut. Ia tak bermaksud untuk mencelakai Nazia.
****
Saat Nazia mencium tangan Melyana. Tiba-tiba Melyana menggerakan jarinya. Nazia memandangi jari ibunya mencoba untuk memastikan.
"Kakak... Ibu kak. Ibu menggerakan jarinya!" teriak Nazia.
Semua orang yang mendengar teriakan Nazia dengan segera mereka menghampirinya. Adiswa memegang tangan istrinya. Sedangkan Erlando menghubungi Johan.
I want to fly and run till it hurts
Sleep for a while and speak no words in Australia
I want to fly and run till it hurts
Sleep for a while and speak no words in Australiaβ¦
Nada dering Johan.
Panggilan terhubung....
"Segera kerumahku Johan," pintanya dengan tegas.
"Oke baiklah."
Tut, tut, tut... Erlando mengakhiri panggilan teleponnya dengan Johan.
Erlando menghampiri ibunya. Ia pun mencium tangan ibunya.
"Er..lan..do." panggil Melyana.
"Iya buk, ini aku Erlando." jawabnya sambil mengelus kepala ibunya.
"Ibu... ma-u. Kamu menikah dengan Nazi-a." ucapnya terbata-bata
Deg. Seperti tamparan keras buat Nazia. Tak pernah terbayangkan ibunya akan memintanya untuk menikah dengan kakaknya sendiri.
"Buk, aku janji sama Ibu, jika Ibu sudah sembuh. Aku akan menikahi Nazia." ucapnya meyakinkan ibunya.
"Iya kan Nazia?"
Erlando mencoba membuat Nazia membuka suara.
Haruskah aku menjawab iya? Batin Nazia.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Mohon kritik dan Sarannya π
Jangan lupa rate, vote, like dan bagikan πππ