Jangan Di Baca. Ngak Nyambung

Jangan Di Baca. Ngak Nyambung
Apa Salahku. Episode 54


__ADS_3

****


London


Seorang ibu anak satu berdiri memandangi mobil yang barlalu lalang, pikirannya kembali mengingat masa indahnya bersama ibu dan ayahnya.


"Ibu, ayah. Kini aku sudah merasakan menjadi seorang ibu. Sulit, namun aku bahagia melihat senyum anakku." Batin Kania, masih dengan memandangi mobil yang berlalu pergi.


"Beby, apa yang kamu lakukan di situ?" tanya Ferdinan saat menghampiri istrinya.


"Terimakasih sudah menerima kekuranganku dan memberiku kebahagiaan" ucap Kania sambil menatap suaminya. Satu tetes air mata berhasil lolos. Dengan segera Ferdinan menghapusnya.


Ferdinan meraih kedua tangan istrinya. "Tugasku adalah menjagamu dan membahagiakanmu. Janji suci yang aku ucap adalah janji yang tidak akan pernah aku ingkari," jelas Ferdinan menatap istrinya.


"Hikz hikz hikz. Aku bahagia mempunyai suami yang baik sepertimu. Aku yakin, ibu dan ayah pasti bahagia melihat kita bahagia," tangis dan ujar Kania saat dalam pelukan suaminya.


Ferdinan melonggarkan pelukannya, menatap istrinya dengan jarak dekat. Pandangan mereka beradu, ada hasrat yang terpendam. Ferdinan menarik tenguk istrinya membuat istrinya terkejut. Tanpa menunggu lama Ferdinan menjalankan aksinya. Namun, saat ia hendak mencapai puncak tiba-tiba terdengar suara tangis seorang bayi.


"Syakilah!!" pekik Kania, spontan membuatnya bangun tanpa memikirkan suaminya yang kini dilanda nafsu.


"Ahhhh... Syakilah sangat tidak bisa diajak kerja sama." umpat Ferdinan, dengan cepat Ferdinan masuk ke dalam kamar mandi.


"Akhirnya," ujar Ferdinan saat ia merasa legah.


"Beby...!" pangil Kania dengan lantang.


"Kenapa Kania memanggilku seperti itu!" gumam Ferdinan. Dengan langkah cepat Ferdinan menghampiri istri dan anaknya.


"Ada apa beby?" tanya Ferdinan saat menghampiri istrinya.


"Ayo makan, aku sudah lapar lagi." Kania mengajak suaminya makan.


Sudah tiga hari, Kania terus menerus merasa cepat lapar. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya.


"Makanlah, aku masih kenyang" balas Ferdinan.


****


Australia


Di saat pagi telah menyapa, semua orang akan bersiap-siap untuk melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda. Namun, bagaimana dengan suasana rumah Erlando pagi ini?


Kreeekk... Pintu terbuka lebar.


"Maaf, cari siapa ya?" tanya Nazia saat melihat pria asing di depan pintu rumahnya.


"Apa ini rumah Erlando?" tanya seorang pria, ia takut salah alamat.


"Iya betul," balas Nazia dengan bingung.


"Kenalkan, aku Naix." Naix mengulurkan tangannya pada Nazia.


"Nazia," balas Nazia sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Silahkan masuk!" Nazia mempersilahkan Naix untuk masuk namun ia sendiri masih bingung.


"Paman Naix!" teriak Reix dari lantai dua.


"Hei sayang! Kamu sudah besar sekarang," balas Naix dengan gembira.


"Paman dengan siapa kesini?" tanya Reix, ia mencari seseorang yang ia rindukan. Senyum terukir diwajahnya saat ia melihat seorang pria berdiri di depan pintu utama.


"Paman Adrian...!!" teriak Reix, dengan cepat ia menuruni anak tangga.


"Paman, kenapa kalian baru datang?" tanya Reix cemberut.


"Hmmm, Paman lagi banyak pekerjaan di kantor jadi paman tidak menemuimu!" ujar Adrian.


"Nazia. Kami ingin bertemu dengan Erlando. Bisa?" Adrian meminta izin terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar.


Nazia yang sedari tadi melongo kembali tersadar saat Adrian mengajaknya berbicara. "I-iya bisa," ucap Nazia.


"Paman kalian duluan ya, Reix mau makan dulu," ujar Reix sambil meraih tangan ibunya.


Langkah kaki terdengar menaiki anak tangga, kedua pria tampan tersenyum sambil berjalan. Kerinduan yang sudah lama terpendam kini akan terbalaskan.


Krek... Pintu terbuka lebar.


"Halo bro." Naix menghampiri Erlando yang kini bersandar di tempat tidur dengan beberapa alat kesehatan.


"Hei, sejak kapan kamu datang di Australia?" tanya Erlando tak percaya.


"Aku kesini untuk mencari jodoh," canda Naix yang disambut tawa oleh Adrian dan Erlando.


"Pa... man." celoteh beby Nazira saat matanya terfokus pada Naix.


"Dia memanggilku," ujar Naix tersenyum bahagia.


"He... he... he." tawa sahka saat Adrian menggendongnya.


"Apa yang kalian lakukan pada anakku!" teriak Nazia saat mendapati anaknya menangis. Dengan segera ia menghampiri anaknya.


"Cup cup cup..." Nazia menenangkan anaknya.


"Kami hanya mengajaknya bermain tapi dia tiba-tiba menangis," jelas Naix menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Empat sahabat yang sudah lama tidak berkumpul kini kembali berkumpul, terdengar tawa mereka menggelegar di seluruh ruangan. Kebahagiaan yang diciptakan pagi itu serasa seperti saat mereka masih kuliah dulu.


Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 11 siang. Adrian dan kedua temannya pamit pulang, dalam perjalan Johan maupun Adrian serta Naix terus menerus bercanda.


"Johan, kapan kamu akan mengenalkan kami pada pacarmu?" seru Naix meledek Johan.


"Jangan meledekku soal itu. Hatiku hancur jika mendegar kata pacar!" balas Johan serius.


"Hahahaha. Wanita siapa yang membuat Johanku ini seperti tak punya semangat hidup," ledek Adrian.


"Sulit sekali mendapatkan cintanya. Dia begitu keras kepala," ujar Johan sambil memandangi arah jalan.

__ADS_1


"Stop!!!" tiba-tiba Johan meminta Adrian menepikan mobil.


"Kamu apa-apaan sih!! Kamu mau kita bertiga mati!!" ketus Adrian.


"Kamu kenapa Johan?" tanya Naix bingung.


"Aku melihat Anatasya bersama pria lain," ujar Johan dengan tatapan ke arah restaurant yang di pinggiran jalan.


"Anatasya!" gumam Naix.


"Kamu mengenalnya? tanya Johan.


"Mana mungkin aku mengenalnya, melihatnya saja aku belum pernah!" celetuk Naix.


"Apa dia, Anatasya yang aku cari selama ini," batin Naix.


"Di mana kamu melihatnya? Ayo kita ke sana," ajak Naix.


"Kalian berdua kenapa sih! Kalau pun betul itu adalah dia ya hak dialah mau jalan sama siapa," ujar Adrian bingung dengan kedua temannya.


"Ayo jalan," kata Johan.


"Kamu pikir aku supirmu tinggal kamu perintah sesukamu!" celetuk Adrian yang di sambut tawa oleh Naix dan Johan.


Adrian dan Johan serta Naix kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju apartemen Adrian. Mereka berencan untuk tidur bersama selama sebulan, melepaskan kerinduan mereka.Tak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di apartemen milik Adrian.


"Kenapa kamu tidak bekerja di perusahaan ayahmu saja?" tanya Naix pada Adrian saat mereka berada di ruang tamu.


"Aku malas berdebat dengan kakakku," balas Adrian.


"Oh ya, Adrian. Di mana Anata sekarang? Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya," tanya Johan.


"Anata sibuk dengan urusannya, aku malas membahas dia. Dia membuatku seperti orang gila!" ketus Adrian sambil berdiri menuju kulkas


Adrian membuka kulkas, mengambil beberapa kaleng minuman segar. "Minumlah, kita akan bersenang-senang hari ini!" seru Adrian sambil membuka penutup minuman kaleng.


"Tunggu-tunggu," ucap Naix menatap kedua temannya. "Kamu punya seorang kakak? Dia perempuan atau laki-laki?" tanya Naix lagi.


"Dia perempuan," balas Adrian santai.


"Yes!" seru Naix bahagia, "tolong kenalkan dia padaku!" pinta Naix memohon.


Ting... terdengar seseorang menekan tombol pintu dari luar.


"Siapa yang datang?" gumam Adrian.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2