Jangan Di Baca. Ngak Nyambung

Jangan Di Baca. Ngak Nyambung
Apa Salahku. Episode 42


__ADS_3

Tidak selamanya mereka yang jahat akan selalu menyakiti, dan mereka yang menyakiti kebanyakan orang-orang yang butuh perhatian.


Sama halnya dengan Anata, penghianatan cinta yang ia ciptakan karena kurangnya perhatian. Saat dirinya masih berstatus pacar seorang pria muda, tampan dan kaya. Ia jarang mendapatkan perhatian dari sang kekasih. Erlando terus menyibukan dirinya di perusahaan dan di rumah sakit. Hal itu membuat Anata mencari kenyamanan sementara dengan berselingkuh.


Perselingkuhan itu terjadi bukan berarti Anata mencintai pria selingkuhannya melainkan untuk dapat menemaninya bercanda dan bergurau. Tapi sayangnya, Erlando tidak menerima penghianatan itu.


****


Matahari mulai tenggelam, bulan kembali hadir untuk menyinari Bumi. Namun karena pancaran sinar lampu, cahaya bulan tak nampak di bumi namun nampak di langit.


Perlahan, kesedihan yang pernah hadir mulai sirna diganti dengan kebahagiaan yang tiada terkira. Berharap kebahagiaan itu tidak pergi tapi justru sebaliknya.


Nazia, wanita yang sejak kecil mendapatkan perlakuan buruk dari sang kaka yang sekarang menjadi suaminya. Kini ia menjadi seorang wanita beruntung yang memiliki anak-anak yang cantik dan ganteng. Terlebih lagi dengan suami yang kini mulai mencintainya. Bahkan kata mulai itu sudah tak pantas untuk diumpamakan.


"Sayang, ayo tidur!" Erlando mengajak istrinya tidur.


"Nanti! aku masih chatan dengan Anatasya dan Kania," jawab Nazia. Ia masih sibuk dengan ponselnya


"Nanti besok baru dilanjutkan," kata Erlando.


Dengan terpaksa Nazia mengakhiri obrolan mereka di group. Nazia menarik nafasnya perlahan dan menghembuskannya dengan kasar. Ia meletakan ponselnya di atas meja samping tempat tidurnya.


"Ayo tidur," ajak Nazia sambil memeluk suaminya.


"Apa aku.." jawabnya terpotong.


"Tidak boleh!" sambung Nazia dengan penolakan. Ia tahu apa yang diinginkan suaminya.


"Oke baiklah," balas Erlando dengan lemas.


Nazia tidur dalam pelukan suaminya, sejak mereka di Jerman tepatnya di Mansion Nazia sudah membiasakan dirinya untuk tidur dalam pelukan suaminya.


****


pagi hari


Wanita cantik dengan seyum manisnya berdiri berkacak pinggang saat melihat suaminya yang sulit dibangunin. Senyum yang tadinya terukir kini menghilang menjadi amarah.


"Kaka bangun! Ini sudah pagi, kaka harus ke rumah sakit!" kata Nazia sambil menggoyangkan tubuh suaminya.


"Sebentar lagi, sayang. Aku masih mengantuk," balas Erlando sambil menarik selimutnya.


Nazia mulai geram, ia menarik tangan suaminya hingga membuatnya terbangun.


"Bantu aku mandi, sayang. Aku malas mandi sendiri," Erlando bermanja pada istrinya.


"Setahuku aku hanya memiliki tiga anak bukan empat anak!" celetuk Nazia.

__ADS_1


"Apa salahnya membantuku mandi, tanpa ada aku kamu tidak mungkin memiliki anak!" kata Erlando dengan senyum.


"Cepat bangun! Nanti aku mandiin," ujar Nazia pasrah, ia tidak ingin berdebat dengan suaminya di pagi hari.


Erlando tersenyum memperlihatkan sejejeran gigi putihnya. Dengan senyum Erlando meraih tangan istrinya.


"Bantu aku berdiri!" kata Erlando lagi.


"Kaka....! Jangan buat aku marah. Cepat mandi dan antar Reix ke sekolah!" Nazia mulai geram melihat tingkah suaminya yang kini seperti anak kecil.


"Ah iya aku lupa untuk mengantar Reix ke sekolah," ujar Erlando. Dengan segera Erlando beranjak dari tempat tidurnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Nazia menyiapkan pakaian kerja suaminya. Ia kembali ke kamar anaknya untuk memandikan Reix.


"Reix sayang, ayo sini Ibu mandiin kamu setelah itu kamu sarapan dan pergi ke sekolah," ujar Nazia.


"Iya Buk," jawab Reix dengan mata yang masih tertutup.


Nazia menuntun anaknya ke kamar mandi. Reix berjalan dengan mata yang masih tertutup.


"Sayang buka matamu!" ujar Nazia.


"Iya Buk," jawab Reix dengan suara serak.


"Ini pasti ulah Erlando, anak masih kecil di suru belajar sampai larut malam!" gumam Nazia dengan kesal.


lima belas menit kemudian Reix selesai bersiap-siap begitupun dengan Erlando. Erlando menunggu anaknya di meja makan untuk sarapan pagi. Tak membutuhkan waktu lama Reix datang bersama Ibunya.


"Iya, memangnya kenapa?" Nazia balik bertanya, tidak biasanya Reix akan bertanya siapa yang mengantarnya ke sekolah.


"Ibu, bisa tidak! besok Ibu yang antar Reix ke sekolah, teman-teman Reix selalu mengejek Reix, mereka bilang Reix tidak punya Ibu," kata Reix dengan mata berkaca-kaca.


"Anak Ibu tidak boleh cengeng, anak Ibu harus kuat. Ibu janji mulai besok Ibu yang akan mengantarmu ke sekolah!" ujar Nazia.


"Janji Buk!" kata Reix sambil tersenyum.


"Ibu janji," balas Nazia.


"Reix, cepat sayang Nanti kita terlambat!" panggil Erlando.


Reix dan Nazia menghampiri Erlando di meja makan, Erlando terlihat cemberut saat memandangi dua orang yang baru saja datang.


"Ayo sarapan dulu!" ajak Erlando.


"Iya Ayah,"


Sarapan di pagi hari hanya roti tawar campur selei dan segelas susu. Nazia membuatkan bekal untuk Reix membanya ke sekolah begitu pun dengan Erlando, Nazia juga menyiapkan bekal untuknya.

__ADS_1


Erlando dan anaknya berpamitan, Reix mencium tangan Ibunya. Sedangkan Nazia mencium tangan suaminya dan Erlando mengecup kening istrinya. Mobil Erlando meleset pergi meninggalkan area rumah. Nazia menutup pintu rumah mereka dan pergi ka kamar kembar.


"Anak Ibu sudah bangun ya," Nazia mengajak kedua anak kembarnya untuk berbicara. Beby Sahka tertawa begitupun dengan beby Nazira.


"Bik Inah, bantu aku gendong sikembar yah, kita ke luar sebentar untuk berjemur di matahari sekalian aku mau lihat pemandangan pagi hari," pintah Nazia pada salah satu ARTnya.


"Iya Non," balas Bi Inah.


"Kata Bik Syam, Bik Inah punya anak perempuan yang seumuran Nazia. Betul itu Bik?" tanya Nazia saat mereka berada di taman rumah.


"Iya Non, tidak lama lagi dia akan datang ke Australia," balas Bi Inah tersenyum.


"Benarkah!" kata Nazia bahagia.


"Jika dia sudah datang, perkenalkan dia pada kami ya Bik. Aku ingin lihat anak Bibi," kata Nazia lagi.


"Iya Non, Bibi pasti akan memperkenalkan dia sama Non!" balas Bi Inah.


****


Rumah Sakit Magesta



Erlando duduk sambil tersenyum di kursinya. Sekali pun dia anak dari pemilik rumah sakit, Erlando tidak meminta harus di istimewakan. Sama halnya dengan ruangannya, ia duduk di ruangan yang sangat sederhana namun terdapat ruangan kecil yang di dalamnya ada tempat tidur juga lemari tempat ia meletakan pakiannya jika dinas malam.


"Pagi Lan, beberapa bulan cuti membuatmu banyak berubah yah!" kata Johan saat pintu ruangan Erlando terbuka.


"Sok tahu kamu!" celetuk Erlando.


"Bdw, maafkan aku yang selalu menyakiti adikmu!" kata Erlando.


"Jangan sesali yang sudah terjadi. Mulai sekarang aku minta sama kamu untuk menjaganya, jangan buat dia kecewa lagi. Aku akan membawnya pergi jika kamu menyakitinya lagi, dia satu-satunya saudaraku. Aku ingin dia bahagia, dan kebahagiaannya ada bersamamu. Jangan buat aku kecewa," Jelas Johan.


"Aku akan membalas rasa sakit yang kamu tinggalkan padaku," gumam seorang wanita yang kini berada dibalik pintu ruangan Erlando.


.


.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan up ya kak. 😊


Kritik dan sarannya juga dibutuhkan 😁


__ADS_2