Jangan Di Baca. Ngak Nyambung

Jangan Di Baca. Ngak Nyambung
Apa Salahku. Episode 8


__ADS_3

Nazia tak henti-hentinya memandangi Adrian. Rasa kesal karena ditinggalkan oleh sahabatnya sendiri membuatnya ingin memukul Adrian. Namun ia yakin, Adrian tidak mungkin meninggalkannya tanpa alasan.


"Ada yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Nazia.


"Iya ada."


Adrian menundukan pandangannya sejenak. Lalu bangkit dari duduknya menghampiri Nazia.


****


Beberapa tahun yang lalu.


Saat hendak masuk ke dalam kamar, Adrian merasa kepalanya terasa pusing, pandangannya kini buram. Saat ia membuka mata. Ia sudah berada di rumah sakit. Ia melihat di sekelilingnya, Anata, tante dan om nya ada bersamanya.


Dengan tatapan sendu, Adrian bekata. "Apa kalian akan membawaku pergi?"


Pertanyaan itu membuat Anata meneteskan air mata. Ia sangat menyayangi Adikya, Adrian. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana hidupnya nanti tanpa adiknya. Adrian adalah penyemangat Anata. Ia akan melakukan apapun demi kebahagiaan adiknya.


"Tentu saja, Adrian. Kakak ingin kamu sembuh, kakak ingin melihatmu tersenyum seperti dulu lagi." jawab Anata sambil mengelus kepala Adrian.


Adrian pun tersenyum sambil berkata. "Aku yakin, kakak akan melindungiku."


"Apa pun akan kakak lakukan demi kesembuhanmu." ucap Anata dengan senyum.


Adrian mengidap penyakit Arteri Koroner atau dikenal dengan Penyakit Jantung Iskemik sejak ia berada di kelas 1 SMP. Ia berusaha menyembunyikan penyakitnya dari Nazia. Namun tak berlanjut lama. Saat ia naik di kelas 3, penyakitnya kembali kambuh. Mau tidak mau Adrian harus pergi meninggalkan Nazia.


Semua orang mengimpikan untuk bisa pergi ke London. Begitu pun dengan Adrian. Ia ingin pergi bersama Nazia. Akan tetapi, kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan membuatnya harus pergi tanpa Nazia. Adrian berusaha agar cepat sembuh. Ia mencoba semua pengobatan yang disarankan oleh Dokter.


"Pagi sayang!" sapa Anata dari balik kamar Adrian.


"Pagi kak,"


"Bagaimana kabarmu?" tanya Anata.


"Sudah mendingan kok, Kak." jawab Adrian tersenyum.


Tiba-tiba Adrian diam dengan raut wajah yang kini lesuh membuat Anata kebingungan. Anata kembali berfikir, apa pertanyaannya tadi salah. Tapi mana mungkin salah, toh dia hanya menanyakan kabar adiknya.


"Apa yang membuatmu kembali murung?" tanya Anata dengan hati-hati.


Adrian masih diam, ia memilih mengalihkan pandangannya di jendela rumah.


"Apa aku membuat kesalahan?" tanya Anata lagi.


Masih tidak ada jawaban.


"Apa Nazia baik-baik saja, Kak?" tanya Adrian dengan pandangan yang masih di kaca jendela.


Anata pun mengampiri Adrian. "Nazia, baik-baik saja sayang."

__ADS_1


"Kakak yakin?" tanya Adrian memastikan.


"Kakak tidak bohong, Adrian. Kakak sendiri yang melihatnya. Ia bahagia sekarang,"


"Aku harap begitu."


Sebenarnya Anata tahu. Nazia tidak dalam kondisi baik-baik saja. Ia ingin memberitahu adiknya. Tapi ia takut adiknya tak ingin melakukan pengobatan. Ia mencoba menyimpan semua luka yang Nazia alami dan Berharap Adrian cepat sembuh


Kini Adrian kembali memandang Anata. "Kak!" panggil Adrian yang dijawab langsung oleh Anata, "Iya,"


"Aku titip Nazia, aku mohon jaga dia untukku Kak." ucapnya memohon.


"Nazia tak sekuat yang orang lain bayangkan," lanjutnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Ia sama seperti kita, tidak punya Ibu dan Ayah lagi."


Tangis Adrian pecah. Anata yang mendengar penuturan Adrian membuatnya ikut menangis sekaligus bangga pada adiknya. Pria yang ia anggap masih anak-anak ternyata berpikiran dewasa.


"Kakak janji, kakak akan jaga dia untukmu." ucap Anata di sela-sela tangisnya.


"Kak, apa kakak bisa membantuku?" tanya Adrian dengan raut wajah memohon.


"Apa sayang?" tanyanya.


"Kirim bunga buat Nazia, dan minta sama Bi Aira untuk masakin nasi goreng buat Nazia. Aku mohon Kak," Pinta Adrian sambil memegang kedua tangan kakaknya dengan sedikit manja.


"Kok nasi goreng sih?" tanya Anata dengan mengerutkan dahinya.


"Besok adalah hari ulang tahun Nazia," ucap Adrian dengan senyum yang kini mulai hadir.


Adrian tertawa melihat raut wajah kakaknya.


"Itu maunya Nazia Kak, Ia ingin disetiap ulang tahunnya dikasih makan nasi goreng." jelasnya dengan tawa.


"Unik," hanya itu yang Anata bisa katakan.


"Kakak bisa kan kabulin permintaanku?" tanya Adrian memastikan.


"Iya, sayang." jawab Anata sambil tersenyum.


****


Nazia dibuat marah sekaligus haru. Ia marah karena Adrian menyembunyikan penyakitnya dari Nazia. Baginya Adrian adalah sahabat sekaligus saudara untuknya. Tapi dengan teganya Adrian meyembunyikan hal yang begitu serius darinya. Kini ia bahagia Adrian telah kembali. Kembali bersamanya, ia berharap Adrian tidak akan meninggalkannya lagi.


"Kenapa kamu menculikku?" tanyanya dengan kesal.


"Aku memiliki tugas dari bos sekaligus teman." jawabnya enteng.


Nazia menatap Adrian dengan menaik turunkan alisnya, meminta penjelasan padanya.


"Jangan menatapku seperti itu." ketus Adrian. Membuat Nazia tertawa.

__ADS_1


"Hahahahaha oke. Katakan padaku siapa yang menyuruhmu dan kenapa kamu menculikku?" tanya Nazia.


Adrian menghela nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan.


"Erlando menyuruhku untuk membawamu pulang."


Deg, hati Nazia kini seperti disayat, bagaimana mungkin pria di depannya ini menjadi anak buah Erlando, lelaki yang selalu menyakiti perasaanya dengan kalimat-kalimatnya yang tidak menyenangkan.


"Kamu telah berubah. Hiks, hiks. Kamu bukan Adrianku dulu, hiks. Kamu telah berubah Adrian." ucap Nazia dengan tangis.


Kini ia kembali merasakan kekecewaan yang kedua kalinya.


"Aku punya alasan, Nazia. Suatu hari nanti kamu akan tahu sendiri tanpa aku memberitahumu."


Hanya kalimat itu yang dapat Adrian katakan. Setelah itu Adrian memilih bangkit dari duduknya berjalan menuju pintu.


"Jika kamu ingin melihat Ibu mu, maka hapuslah air matamu dan bersiap-siaplah." ucap Adrian dengan tegas.


"Tolong bawa aku pergi, Adrian." pinta Nazia.


Belum sempat ia meraih tangan Adrian, tiba-tiba Nazia jatuh pingsan.


Adrian mengirimkan sms pada seseorang.


"Datanglah, dan bawa dia pergi. Aku sudah membiusnya." Isi pesan


Nazia membuka matanya perlahan, menatap nanar ke depan. Ia melihat seorang supir yang sedang mengemudi. Pandangannya beralih ke samping, dan betapa terkejutnya Nazia saat mengetahui siapa pria yang kini sedang bersamanya.


"Apa yang kakak lakukan di sini?" tanya Nazia dengan rasa takut.


"Ini mobilku. Terserah aku dong." jawab pria itu dengan dingin.


"Turunkan aku di sini!!" pekik Nazia.


"Aku memberimu gaji, jadi ikuti perintahku." ucap pria itu dengan tegas pada supirnya.


Nazia semakin terisak. Ia sudah berjanji untuk pergi dan tak kembali. Namun kenapa ia harus kembali bertemu dengannya.


"Dari dulu sampai sekarang, kamu masih tetap sama, kamu begitu cengeng dan tak kuat. Sama seperti orang yang tak pernah di kasih makan." ucap pria itu dengan santai. Namun mampu membuat Nazia berpikir untuk mencerna kalimat itu.


.


.


.


Bersambung.....


Mohon Kritik dan Sarannya 😊

__ADS_1


jangan lupa like dan bagikan serta Vote 😊😊


__ADS_2