
"Ibu, Ibu kenapa?" tanya Reix saat melihat Nazia gemetar setelah menerima panggilan.
"Sayang," tangis Nazia pecah saat memeluk anaknya. Ia tidak tahu harus berbagi duka dengan siapa, hanya Reix satu-satunya yang bisa ia jadikan tempat bersandar.
"Ibu jangan menangis, aku tidak mau ibu sedih," ujar Reix sambil menghapus air mata ibunya.
"Nazia..." Kania memanggil Nazia dengan jalan terburu-buru.
Kreeeekkk...
Pintu kamar terbuka.
"Nazia, kamu yang sabar ya." Kania memeluk Nazia yang kini menangis.
Rumah Sakit Magesta
Ilusi Rumah Sakit Magesta
Nadira berdiri di depan gedung tinggi yang berdiri kokoh dengan beberapa warna chat, terdapat beberapa pohon yang sengaja di tanam.
Takut dan cemas, dua kata untuk kondisi Nazia. Dengan langkah kaki cepat, Nazia memasuki Rumah Sakit Magesta.
"Ibu... bagaimana keadaan suamiku, Buk?" tanya Nazia dengan panik. Mata yang sedari tadi lembam semakin lembam.
"Maafkan ibu sayang, ini semua salah ibu. Jika ibu tidak meminta Erlando untuk menikahi Laura mungkin semuanya tidak akan seperti ini," ujar Melyana dengan tangis.
"Apa!! ibu meminta Kak Erlan menikahi wanita lain dan aku." ucapan Nazia terhenti, "aku ibu anggap apa, Buk." Nazia mundur menjauh dari Melyana, ia tidak menyangkah ibunya bisa seperti itu.
"Maafkan ibu, Nazia." Melyana semakin terisak.
"Apa salahku, Buk? Kenapa ibu tega padaku! Hikz, hikz, hikz," ucap Nazia sambil menepuk dadanya, napasnya terasa sesak. Pandangan Nazia buram, ia merasa semua benda berputar hingga membuatnya tak sadarkan diri.
"Ibu, apa badan ibu sakit?" tanya Reix saat melihat ibunya mengerjap membuka matanya.
"Bagaimana keadaan.." ucapan Nazia terpotong saat Reix memeluk tubuh Nazia.
"Ayah, Buk. Hikz, hikz, hikz. Ayah tidur dan belum membuka matanya," tangis Reix di pelukan Nazia.
Aku harus kuat demi anak-anakku. Aku tidak ingin Reix sedih melihatku seperti ini terlebih lagi kondisi Kak Erlan sangat tidak baik. Batin Nazia.
"Kania, tolong jaga kembar," pinta Nazia saat Kania menghampirinya.
"Sahka dan Nazira sudah di bawah oleh Tante Ratri ke rumah mereka," ujar Kania.
"Bagaimana keadaan Erlando?" tanya Nazia lagi.
"Erlando masih di ruang operasi," kata Kania sambil memegang tangan Nazia.
__ADS_1
Semua keluarga duduk di depan ruang operasi, baik kelurga Winata maupun keluarga Anggara.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Adiswa saat pintu ruang operasi terbuka.
"Operasinya berjalan lancar. Pasien akan dipindahkan diruang perawatan," ujar Dokter Johan.
"Kamu yang sabar ya," kata Johan saat menghampiri Nazia.
Ruang perawatan Erlando
Nazia duduk disamping suaminya, memegang tangan kiri sang suami. Sedangkan Reix duduk disamping Nazia. Nazia menatap suaminya yang kini terbaring lemas dengan alat kesehatan yang terpasang dibeberapa bagian tubuhnya.
"Sayang, kamu pulang istrahat dulu, nanti Erlando biar ayah dan ibu yang jaga," ujar Adiswa yang sedang duduk di sofa dalam ruang perawatan.
"Tidak ayah, aku ingin di sini menemani Kak Erlan sampai dia sadar," tolak Nazia.
"Ya sudah jika itu maumu. Ayah dan ibu pamit pulang dulu, sebentar baru ayah datang lagi."
"Nazia, ibu titip Erlando ya sayang," ujar Melyana.
Untuk apa kata sayang itu? Aku rasa kata itu sudah tak berarti. Batin Nazia.
"Iya, Buk. Hati-hati ya di jalan," balas Nazia.
"Reix ayo ikut Oma pulang!" ajak Melyana.
Melyana dan Adiswa keluar dari ruang perawatan anaknya menelusuri lorong rumah sakit menuju basement. Tak berlangsung lama, mereka pun sampai di basement. Dengan singgap Melyana maupun Adiswa membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil. Mobil perlahan menjauh dari area rumah sakit menuju rumah Magesta.
"Nazia, Reix, ayo makan. Aku sudah pesankan makanan untuk kalian berdua," ujar Johan saat berada di dalam ruang perawatan Erlando.
"Reix kamu makan ya sama Om Johan," kata Nazia.
"Aku mau makan kalau ibu makan," kata Reix sambil menatap Nazia.
"Nazia, Kakak kembali bekerja dulu. Kamu makan ya, kasihan anakmu." Johan berlalu pergi setelah menyuruh Nazia makan.
Kreeeek....
Pintu terbuka lebar. Nazia dan Reix menoleh ke arah pintu. Di depan pintu ada seorang pria yang sudah lama tak berkomunikasi lagi dengan Nazia. Adrian, ya dia Adrian. Sahabat kecil Nazia yang sekarang menjadi kepercayaan Erlando.
"Om..." teriak Reix berhambur memeluk Adrian.
"Iya sayang." Adrian berjongkok membalas pelukan Reix.
"Nazia, bagaimana kondisi Erlando sekarang?" tanya Adrian saat berada di samping Erlando.
"Nazia!" panggil Adrian lagi. Namun, Nazia masih diam.
"Maafkan aku, Nazia." Adrian menundukan pandangannya dengan mata yang memerah menahan tangis.
__ADS_1
"Adrian, apa salahku? Hikz, hikz, hikz. Kenapa ibu meminta Erlando menikahi, Laura. Apa kamu tahu alasannya Adrian?" tangis Nazia pecah menanyakan alasan ibu atau mertuanya meminta anaknya menikahi anak pembantunya.
"Aku tidak tahu Nazia," balas Adrian berbohong. Ia sebenarnya tahu tapi ia tidak ingin Nazia semakin terluka.
"Makanlah, kasihan anak-anakmu jika kamu sakit." Adrian menepuk bahu Nazia.
****
Perumahan elit
Di dalam kamar megah, terbaring seorang pria dengan beberapa alat kesehatan terpasang di beberapa bagian tubuhnya. Dia adalah Erlando, Erlando Magesta. Dua hari di rumah sakit namun Erlando tak sadarkan diri dan dinyatakan koma. Nazia meminta untuk membawa Erlando pulang dengan catatan mendapatkan perawatan di rumah.
Johan dan Anatasya bergantian datang di rumah Nazia untuk mengecek keadaan Erlando. Sekalipun Nazia juga seorang Dokter namun ia tidak dalam masa bekerja. Namun, gelar Dokternya dan kepandaiannnya membuat Anatasya dan Johan tidak terlalu hawatir membiarkan Erlando di rawat di rumahnya sendiri.
"Anatasya, Johan, terimakasih kalian sudah membantuku. Sampaikan salamku sama tante ya," ujar Nazia saat mereka di dalam kamar Erlando.
"Iya, Nazia. Kamu tidak perlu berterima kasih pada kami," balas Anatasya.
"Nazia, kami pamit pulang dulu ada urusan di rumah sakit. Kamu yang kuat dan jangan terhanyut dalam kesedihan," pamit Anatasya dan Johan.
Johan dan Anatasya pergi meninggalkan rumah elit Erlando. Nazia kembali ke kamar melihat suminya, tawa Erlando tak terdengar lagi. Sunyi, itulah kata yang pas untuk suasana rumah elit Erlando.
"Ibu, apa ibu sudah makan?" tanya Reix mengagetkan ibunya.
"Belum sayang, ibu belum memasak." Nazia menghampiri anaknya.
"Aku memasak bubur untuk ibu, coba ibu cicipi." ujar Reix dengan senyum mengembang.
"Ummm enak sekali sayang, siapa yang mengajarimu memasak! " ucap Nazia bahagia.
"Reix lihat di internet," jawabnya dengan senyum mengembang memperlihatkan sejejeran giginya yang putih dan rapih.
"Anak ibu pintar sekali." Nazia memuji anaknya.
"Kamu jagain ayah dulu ya, ibu mau ke kamar sikembar dulu." Nazia berlalu meninggalkan Erlando bersama Reix.
"Ayah, buka mata ayah. Apa ayah tidak sayang ibu dan kami? ayah tahu, ibu menangis terus. Reix tidak tega lihat ibu sedih ayah." Reix memeluk tubuh kekar Erlando.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1