
Ruang meka Up
Nazia memandangi dirinya di depan cermin dengan gaun putih yang ia coba di butik minggu lalu. Sesekali ia memainkan jemarinya. Ia berdiri begitu lama, mengingat percakapan Erlando dengan seseorang di telepon waktu lalu. Kata sayang membuatnya penasaran, siapa sebenarnya orang itu. Apakah orang itu pacarnya atau temannya.
Nazia bukannya cemburu namun ia takut jika seseorang itu adalah pacarnya maka Nazia termasuk perembut pacar orang. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan kakaknya. Nazia pun mondar mandir di depan cermin, rasa gugup menghampirinya.
Kreeeek. Tiba-tiba pintu terbuka.
"Apa kamu sudah siap sayang?" tanya Melyana.
"Iya Bu." jawab Nazia.
Nazia pun keluar didampingi oleh Adiswa Magesta. Kecantikan Nazia mampu menghipnotis semua orang yang hadir di acara pernikahannya. Erlando tak henti-henti memandangi Nazia. Mereka pun mengucapkan janji suci di depan keluarga mereka dan para tamu undangan yang hadir.
Pernikahan mereka berlangsung dengan lancar tanpa kendala. Nazia begitu cantik dan Erlando begitu tampan. Mereka seperti pasangan yang sangat serasi.
****
Apartemen
Setelah acara selesai. Keluarga Ferdinan dan keluarga Erlando kembali ke rumah mereka. Sedangkan Erlando memilih pergi ke apartemennya. Nazia merasa takut, ia takut Erlando akan menyiksanya. Dalam perjalanan tak ada yang berbicara. Hanya musik yang menemani perjalanan mereka di malam itu.
Saat tiba di Apartemen, Erlando turun tanpa membukakan pintu untuk Nazia. Nazia tak merasa sakit diperlakukan seperti itu. Ia sudah tahu akan seperti ini. Nazia keluar dari dalam mobil Erlando, berjalan mengikuti langkah suaminya.
"Kakak tunggu!" teriak Nazia saat Erlando mengabaikannya. Namun, panggilannya tak digubris oleh Erlando. Erlando terus melangkah meninggalkan Nazia. Saat Nazia melangkah cepat, tiba-tiba.
Bruuk. Terdengar suara seseorang yang jatuh.
Erlando menoleh, ia melihat Nazia yang kini tergeletak di lantai.
"Kalau jalan pakai mata!" bentak Erlando saat menghampiri Nazia.
Erlando mengulurkan tangannya. Nazia mencoba berjalan tapi kakinya sakit karena terkilir. Erlando terpaksa menggendong Nazia. Ini pertama kalinya Nazia digendong oleh Erlando. Nazia merasa malu namun apalah daya ia tak bisa berjalan. Erlando menyuruh Nazia membuka pintu apartemen. Nazia pun menekan tombol yang disebut oleh Erlando. 2404 itu adalah tombol yang Erlando sebut.
__ADS_1
Sesampainya ke dalam, Erlando menurunkan Nazia di atas tempat tidur mereka. Ia pun segera mencari P3K untuk mengobati luka memar Nazia. Sedangkan Nazia hanya diam mematung. Setelah selesai dengan aktivitas mengobati luka Nazia. Kini Erlando membuka baju, sontak membuat Nazia berteriak.
"Kakaaaaaak!" teriak Nazia, "jangan ganti baju di sini. Kakak ganti baju di dalam kamar mandi saja." ucap Nazia dengan menutup kedua matanya.
"Ini kamarku terserah aku mau ganti baju di mana." jawab Erlando santai.
Nazia yang mendengar jawaban Erlando membuatnya hampir frustasi.
Nazia berdiri untuk mengambil kopernya. Ia membukanya, mengambil baju tidurnya lalu beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Saat hendak membuka bajunya, ia di kagetkan dengan kedatangan Erlando yang tiba-tiba masuk.
"Aaaaaaaaaaah." teriak Nazia lagi. "Kakak kenapa masuk kesini?" tanya Nazia dengan ketakutan.
"Kamu kenapa dari tadi teriak terus!" ujar Erlando dengan kesal namun masih tetap berdiri di dalam kamar mandi.
"Kamu yakin bisa membuka kancing bajumu sendiri? " tanya Erlando dengan santai.
Erlando menghampiri Nazia, membantunya membuka kancing gaun pengantin yang Nazia pakai setelah itu Erlando memilih untuk keluar.
Nazia kembali dengan aktivitasnya, ia menganti bajunya di dalam kamar mandi. Saat hendak keluar, ia melihat seorang wanita yang kini berbaring di ranjang mereka. Nazia mengurungkan niatnya untuk keluar. Melihat wanita lain berada di kamarnya membuat hatinya hancur berkeping-keping.
Terlebih lagi wanita itu adalah kakak dari temannya sendiri. Wanita yang pernah bersikap baik padanya waktu kecil.
Malam yang seharusnya menjadi malam yang diimpikan oleh semua orang justru menjadi malam yang begitu menyakitkan olehnya. Menyaksikan kakak yang kini menjadi suaminya berciuman dengan wanita lain di kamar mereka sendiri.
Nazia menahan tangisnya di dalam kamar mandi. Ia pun menunggu mereka selesai sampai ia tertidur di dalam kamar mandi.
Jam 2 malam Nazia terbangun, ia melihat di sekelilingnya masih dengan suasana kamar mandi. Nazia mencoba berdiri dan keluar. Ia melihat Erlando tertidur pulas sambil memeluk wanita yang Nazia sendiri tidak tahu siapa wanita itu.
Nazia berjalan keluar dengan pelan agar mereka tidak terganggu. Ia pun memilih pergi dari apartemen tanpa membawa apa-apa. Ia menangis sejadi jadinya. Hujan mulai turun membasahi tubuh mungilnya.
Di tempat lain Erlando tersadar saat badai turun, ia menepuk jidatnya saat tahu siapa wanita yang kini tidur bersamanya. Erlando bangkit dari tidurnya dan berlari menuju kamar mandi. Tak ada Nazia di sana. Erlando mencari Nazia di ruang tamu dan di ruang TV namun ia tidak menemukan Nazia.
Erlando mencoba menghubungi Nazia. Ia kaget saat melihat ponsel Nazia ada di ruang TV. Erlando mengambil kunci mobilnya dan pergi mencari Nazia. Ia tak ingin menghubungi ibu dan ayahnya. Karena ia tahu akan menjadi masalah besar jika apa yang ia lakukan malam ini diketahui oleh keluarganya.
Di tempat lain Nazia kebingungan, ia tidak tahu mau kemana. Nazia tak membawa apa-apa. Ia pun memilih bertedu di depan halte. Tiba-tiba ada mobil putih yang berhenti di depannya. Nazia melihat siapa yang datang membuatnya ingin pergi namun tidak bisa.
__ADS_1
Adrian turun dari mobilnya menghampiri Nazia. Ia membuka jaketnya kemudian memberikannya kepada Nazia. Adrian membawa Nazia pergi ke apartemennya.
Saat di perjalanan tak seorang pun berbicara, Nazia diam seribu bahasa. Berkali-kali Adrian melirik Nazia. Hampir 15 menit mereka pun sampai di apartemen Adrian. Adrian mengambilkan pakaian ganti untuk Nazia dan membuatkan bubur untuknya.
"Aku sudah tahu apa yang membuatmu kabur dari Apartemen." ucap Adrian dengan santai.
Nazia masih tetap diam. Ia masih membayangkan kejadian yang ia saksikan tadi. Sangat memuakkan baginya. Lelaki yang selama ini ia anggap kakak ternyata memiliki sifat bejat.
"Aku rasa kamu sudah tahu hal itu kapan saja bisa terjadi."
Nazia masih tetap diam. Matanya mulai kembali berkaca-kaca. Seketika tangisnya pecah. Dalam tangisnya Nazia berkata
"Apa salahku, Adrian?"
Adrian kembali diam, ia tak tahu harus jawab apa. Ia sangat menyayangi Nazia. Tapi ia juga tidak bisa membawa Nazia pergi.
Kreeek. Suara pintu terbuka.
Nazia mengalihkan pandangannya ke pintu. Betapa kagetnya Nazia saat melihat siapa yang datang.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
Terimakasih untuk kalian yang telah setia membaca karya aku. 😊😊
__ADS_1
Mohon kritik dan sarannya
Jangan lupa like, rate, vote dan bagikan 😊