Jangan Di Baca. Ngak Nyambung

Jangan Di Baca. Ngak Nyambung
Apa Salahku. Episode 31


__ADS_3

****Halo Readers, berjumpa lagi dengan karya aku dengan judul "Apa Salahku" Semoga kalian suka ceritanya yah 😊. Oh yah, jangan lupa like sebelum membaca ya. 😊


HAPPY READING. 😊****


.


.


.


Australia/ Kamis pukul 08:00


****


Adrian duduk di ruangannya dengan mata terfokus dilayar komputer dan jari-jari lentiknya yang berkutak di atas keyboard. Pria yang sejak kecil sudah termasuk dalam kategori pria tertampan semakin terlihat cool saat sedang fokus dengan kegiatannya. Namun ketampanannya tak dapat mengalahkan kegantengan Erlando.


Tok..


Tok..


Tok..


Terdengar ketukan dibalik pintu ruangannya.


"Masuk." Adrian mempersilahkan Lusi asistennya masuk tanpah menoleh ke arah pintu.


"Silahkan duduk."


Mempersilahkannya tanpa melihat kearah Lusi.


Lusi pun duduk dengan gugup. Sedangkan Adrian masih fokus dengan layar komputernya dan keyboard.


"Katakan." ucap Adrian menatap Lusi lekat.


Pandagan mereka beradu. Dengan cepat Lusi menundukan pandangannya. Sedangkan Adrian kembali menatap layar komputer yang ada di mejanya.


"A-ku minta cuti seminggu Pak." ucapnya gelagapan sambil memainkan jemarinya.


Adrian menghentikan aktivitasnya.


"Kanapa kamu mau cuti?" tanyanya sambil menatap lusi.


"Ibuku sakit dan aku harus menjaganya."


"Di rumah sakit mana Ibumu di rawat?"


"Di Rumah Sakit Magesta."


Ternyata dunia sangat kecil dari sekian banyaknya rumah sakit kenapa harus di Magesta. Batin Adrian


"Oke baiklah tapi ingat! hanya satu pekan."


Lusi tersenyum "Terima kasih Pak."


"Sekarang kamu bole pergi."


"Baik Pak."


Lusi pun keluar dengan senyum yang masih terlihat diwajah cantiknya.

__ADS_1


Saat pintu tertutup Adrian memegang dadanya.


"Astaga. Aku tidak bisa berlama-lama dengan Lusi. Aku takut dia mendengar denyut jantungku yang berdetak secepat ini. Kenapa juga Erlando memindahkan Lusi dari pekerjaan lamanya dan menjadikannya sekretarisku. Bukannya dia tahu aku jatuh cinta pada Lusi." gerutu Adrian sambil mengacak rambutnya.


"Ahkkkk dasar Erlando." ujar Adrian frustasi.


****


Kamis pukul 10:00


Dalam ruang rapat Adrian dan para pegawai lainnya sedang membahas proyek yang akan dibangun di Kota A.


Saat rapat sedang berlangsung, handphon milik Adrian berdering.


Panggilan terhubung....


[Halo.] Sapa Adrian.


[...........]


[Oke baiklah, aku akan segera ke sana.]


Tut.. Tut.. Tut... Panggilan terputus.


"Rapat sampai di sini dulu, aku ada urusan mendadak."


Adrian mengakhiri rapat kemudian keluar menuju lift. Sesampainya di basemen**t Adrian berjalan dengan cepat dan masuk kedalam mobilnya. Dengan cepat Adrian keluar meninggalkan perusahaan.


Hampir 20 menit Adrian pun sampai di rumah sakit. Ia turun dari mobilnya. Dengan langkah cepat ia mencari ruangan Ibu Nasya orang tua Lusi.


"Permisi! Di mana ruangan pasien atas nama Ny.Nasya?"


Dengan segerah Adrian mencari ruangan Ny.Nasya


Ia melihat nomor ruangan yang terpajang di atas bagian pintu. Dari balik pintu Adrian melihat Lusi menangis histeris sambil memeluk jasad ibunya.


Cekrekk.. Pintu terbuka


Lusi menoleh ke arah pintu. Adrian menatap Lusi dengan tatapan penuh iba, tanpa izin sang pemilik Adrian menarik tubuh Lusi dan membawanya kepelukannya.


"Hiks, hiks, hiks.. Kak, Ibu-ku. Hiks, hiks." Tangis Lusi dalam pelukan Adrian.


"Aku yang akan mengurus semuanya." kata Adrian sambil memegang pundak Lusi.


Jasad Ny.Nasya di bawah pulang ke rumah Lusi. Semua pegawai yang bekerja di perusahaan Magesta ikut serta dalam mengantar Jenazah ke liang lahat.


****


Jerman..


"Bagaimana keadaan Non Nazia sekarang?" tanya Bi Neona saat membuka pintu.


Nazia menggeleng tak mampu menahan rasa sakit diperutnya.


"Sakit sekali Buk. Tolong panggilkan Dokter." Pinta Nazia dengan keringat yang kini melekat di tubuhnya.


"Ibu... Aku tidak tahan lagi Buk.."


Melyana keluar dengan cepat memanggil dokter.

__ADS_1


****


Loby Rumah Sakit....


"Ayah, kenapa kita ke sini Ayah?" tanya Reix.


"Kita akan bertemu Ibu." Jawabnya.


"Tapi kenapa di sini Ayah. Apa ibu sakit?" tanya Reix lagi.


Erlando tak menjawab pertanyaan anaknya, tiba-tiba ia merasa ada sesuatu. Dengan langkah cepat ia bertanya pada suster di mana ruangan Nazia. Suster pun memberitahukannya.


Dari kejauhan Erlando melihat ibunya panik. Dengan langkah cepat ia menghampiri ibunya.


"Ibu.. Nazia di mana Buk?" tanya Erlando cemas.


Ahkkkkk.....


Erlando mendengar suara Nazia dari dalam ruangan. Dokter mulai datang untuk memeriksa Nazia dan melakukan tindakan yang dapat membantu Nazia.


"Ayah, Ibu berteriak di dalan sana." Reix menunjuk ruangan Nazia dan ia pun menarik tangan ayahnya.


Erlando, Reix dan Melyana pun masuk. Di dalam ruangan ada Dokter dan Bi Neona.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Erlando cemas.


"Kita harus segera melakukan operasi sesar. Jika tidak." ucapan dokter terpotong.


"Lakukan apapun untuk keselamatan anak dan istriku."


"Kamu harus kuat, aku yakin kamu bisa." ucap Erlando memegang tangan Nazia.


"Kak, maafkan aku."


Tangan Nazia gemetar, keringat pun bercucuran.


"Aku yang harusnya minta maaf. Kamu harus kuat demi keselamatanmu dan keselamatan anak kita."


"Ibu. Ibu harus sembuh. Reix ingin memeluk ibu dan adik Reix." ucap Reix pada Nazia.


Nazia melihat Reix sejenak kemudian menatap balik suaminya.


"Aku akan jelaskan nanti." kata Erlando sambil mengelus kepala istrinya.


Nazia pun di bawah ke ruang operasi. Saat hendak masuk ke dalam ruangan, Nazia meminta suster untuk berhenti sebentar.


"Kak, jika aku tidak dapat diselamatkan. Aku minta kaka untuk menjaga anak-anaku. Rawat mereka dengan kasih sayang dan jangan sakiti mereka."


.


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Mohon Kritik dan sarannya 😊


__ADS_2