Jodohku Seorang Artis

Jodohku Seorang Artis
Bab 13 Di rumah berdua


__ADS_3

Malam ini Mamah Riri, Papah Bima, dan kakek Adi pergi ke Bogor. Kebetulan ada saudara dari papah Bima yang menikah.


Bian tidak bisa ikut karena besok ada jadwal syuting iklan. Begitupun Vega, ia ada jadwal responsi besok siang yang tidak bisa ia tinggalkan. Vega mempunyai jadwal presentasi.


Mamah Riri sengaja memaksa Ryan untuk ikut. Padahal Ryan masih ada satu matkul besok pagi.


Sebenarnya acara nikahannya baru akan dimulai besok siang setelah dzuhur. Namun mamah Riri sengaja berangkat malam ini, karena ingin meninggalkan Bian dan Vega berdua di rumah.


Ryan yang tahu akan rencana licik mamahnya, mau tidak mau dia harus menurut. Dan memilih untuk mengambil jatah bolos besok pagi.


"Kalian hati - hati ya dirumah. Mamah udah masak makanan buat kalian makan malam. Bi Inah pulang kerumahnya, soalnya anaknya sedang sakit" ucap Mamah Riri sebelum keluar rumah.


Mamah sengaja banget ninggalin Bian berdua doang dirumah sama Vega, batin Bian.


"Oke tante, tenang aja. Vega bisa kok masak sendiri kok buat besok sarapan pagi" jawab Vega.


"Hati - hati mah, pah" ucap Bian langsung naik ke atas. Ia tidak menunggu mamahnya naik ke dalam mobil.


"Dadah sayang, besok sore tante langsung pulang kok" pamit mamah Riri sambil melambaikan tangan melalui kaca mobil yang terbuka.


"Dadah tante, hati - hati" jawab Vega.


Kemudian ia juga naik ke lantai atas. Vega langsung masuk ke dalam kamar.


"Apa tidak apa - apa meninggalkan mereka berdua mah?" tanya Papah khawatir.


"Kalo ada apa - apa ya tinggal dinikahkan saja" sahut mamah Riri.


"Hush mamah, kasihan Vega masih kecil!" seru Ryan dari kursi belakang.


Mamah tidak tahu saja kalo kak Bian tuh udah ga perjaka, dia sudah sering menghabiskan malam dengan wanita, batin Ryan.


Ryan takut kakaknya khilaf dan memakan Vega secara paksa.


Ternyata tidak ada yang keluar kamar hingga pukul 9 malam. Karena merasa lapar, akhirnya keduanya memutuskan untuk keluar kamar.


Mereka tidak sengaja berpapasan saat akan menuruni tangga.


"Emm, aku mau makan malam kak" ucap Vega sebelum ditanya.


"Aku juga" jawab Bian datar.


Akhirnya mereka makan bersama dalam diam.


Beberapa menit kemudian, Bian telah menyeleseikan makannya. Ia langsung beranjak kembali ke lantai atas tanpa berkata sepatahpun.


Vega sudah terbiasa dengan sikap dingin Bian. Ia tidak mempermasalahkan hal tersebut.


Vega mencuci piring terlebih dahulu, sebelum kembali ke lantai atas.

__ADS_1


Ketika melewati ruang diantara kamarnya dengan Bian, Vega melihat bian sedang berdiri di balkon sambil menatap langit. Karena penasaran, Vega menyusul Bian ke balkon.


"Kakak sedang apa?" tanya Vega mensejajarkan berdirinya disamping Bian.


"Hanya menghirup udara segar" jawab Bian tanpa menoleh. Ia segera mematikan rokoknya yang baru saja ia sulut.


Bian memang merokok, tapi bukan pecandu seperti perokok lain. Ia hanya merokok sesekali ketika merasa stress.


"Wahh bulannya indah banget ya kak" ucap Vega yang tidak sengaja melihat bulan sabit diatas mereka.


Namun kemudian ia menyesal mengerluarkan kata - kata tersebut.


Kenapa aku jadi mirip fakboy yang sedang merayu cewe sih, batin Vega.


"Hmm" Bian hanya mengiyakan singkat .


Setelah itu tidak ada percakapan lagi. Mereka hanya diam menikmati hembusan angin malam.


Akhirnya Vega kambali membuka mulut.


"Kak Bian, aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Vega sambil menatap Bian.


"Apa?" jawab Bian datar.


"Emmm, aku nanya ini karena penasaran aja, bukan karena ada maksud lain atau apa" ucap Vega mulai dengan intro.


Seketika Bian menengok dan menatap lekat wajah Vega.


Vega merasa tidak enak mendapat tatapan tersebut.


"Atau karena perjodohan ini? Kaka tidak mau menikah denganku sehingga berubah jadi dingin gini?" tanya Vega lagi sambil menunduk.


Tanpa menjawab pertanyaan Vega, Bian mengecup bibir mungil Vega.


Cup.


Vega kaget dan mendongkan kepalanya. Mereka saling menatap. Merasa tidak ada penolakan atas ciumananya tadi, Bian kembali mencium bibir Vega. Kali ini lama dan dalam.


Tanpa sadar Vega mulai membalas ciuman Bian, meskipun dia belum terlalu ahli seperti Bian. Karena memang ini ciuman pertamanya dengan pria.


Salah, maksudnya kedua setelah ciuman pertama di Apartemen waktu itu.


Akhirnya mereka berhenti karena merasa kehabisan napas. Tidak ada yang berani berkata apapun setelah ciuman tadi.


Karena merasa panas dan grogi, akhirnya Vega kabur masuk kedalam kamar.


"Aku ke kamar dulu kak" ucap Vega sambil berlari meninggalkan Bian.


Apa itu tadi, kenapa kak Bian menciumku hah?, batin Vega setelah menutup rapat pintu kamarnya.

__ADS_1


"Kenapa hatiku jadi gonjang - ganjing seperti ini" gumam Vega sambil menepuk - nepuk dadanya yang berdetak tidak karuan.


"Bisa - bisanya aku membalas ciuman kulkas dua pintu itu" lanjut Vega masih bergumam.


Bian kembali masuk kedalam kamar. Tidak hanya Vega yang merasakan debaran luar biasa di jantungnya.


"Kenapa seperti ini?" gumam Bian sambil memegang dadanya.


Pasalnya Bian sudah ratusan kali berciuman dengan wanita. Baru kali ini ia merasakan jantungnya hampir loncat keluar.


Malam ini mereka sama sama tidak bisa tidur. Padahal besok pagi - pagi sekali, Bian harus syuting iklan.


****


Pagi harinya Bian keluar dengan setelan rapi. Ia keluar kamar dan melihat pintu kamar Vega yang masih tertutup rapat.


Ia mengurungkan niatnya untuk berpamitan dengan Vega. Ia masih merasa sangat malu dan canggung karena kejadian semalam.


Di dalam kamar, Vega sedikit mendengar pintu kamar sebelah dibuka dan tertutup kembali. Vega sengaja tidak keluar. Hari ini hanya ada jadwal responsi di siang hari. Jadi ia sengaja menunggu Bian pergi terlebih dahulu. Dia tidak berani betemu denga Bian, setelah kejadian tidak terduga semalam.


Setelah merasa sepi, dan tidak ada tanda -tanda kehidupan, barulah Vega keluar dari kamarnya. Benar saja Bian sudah berangkat untuk jadwal syutingnya.


Vega masuk ke dapur dan memasak makanan seadanya untuk dirinya sendiri.


Siangnya Vega pergi ke kampus. Dan seperti biasa, Danis sudah menunggunya di depan fakultas. Vega heran kenapa kak Danis selalu tahu semua jadwalnya setiap hari.


"Hai Ve, Ryan kemana kok tadi pagi dia ga masuk kelas" tanya Danis basa - basi. Padahal sebenarnya ia tahu kenapa Ryan tidak masuk. Nise sudah memberitahunya saat di kelas pagi tadi.


"Oh itu, kak Ryan ikut tante kondangan ke Bogor" jawab Vega.


"Oh pantesan" ucap Danis pura - pura baru tahu.


"Aku masuk kelas dulu ya kak" pamit Vega karena kelas responsi sudah hampir dimulai.


"Tunggu Ve, emm malam minggu kamu ada acara ga?" tanya Danis menahan Vega pergi.


"Kayaknya engga deh kak, kenapa?" tanya Vega.


"Aku mau ajak kamu jalan, mau kan?" tanya Danis grogi.


Melihat dosennya telah memasuki kelas, Vega langsung mengiyakan ajakan Danis.


"Oke kak, aku ke kelas dulu, udah ada dosen tuh" jawab Vega sambil terburu - buru lari ke arah kelas. Vega sengaja mengiyakan untuk mengganti janji makan bersamanya yang tertunda ketika ke mall kala itu.


Yesss, batin Danis sambil mengepalkan tangannya senang ke udara.


Sebenarnya ia sudah selesei kelas sejak pukul 9 pagi tadi. Tapi ia rela menunggu sampai jam 1 siang, demi bisa bertemu dengan Vega.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2