
"Eh Kak Danis gapapa kalo ikut?" tanya Nita ragu. Pasalnya pasti Danis masih sangat sakit karena ditinggal menikah pujaan hatinya. Apalagi harus ikut ke liburan bersama pengantin baru itu.
"Gapapa dong, rame - rame kan?" Danis berpura - pura terlihat baik - baik saja.
"Iyaa, nanti ada Vega, Ka Bian, Kak Ryan, Vina, Alma, sama aku, cuma belum tau nih mau kemana," jawab Nita.
"Kalo muncak gimana, gue punya vila di Bogor kalo mau," Danis menawarkan.
"Wahh seru banget muncak, soalnya kami udah sangat bosen sama wisata pantai yang panas," jawab Alma.
"Fix nih muncak?" tanya Danis.
"Hei bro," ucap Ryan yang baru menyadari kedatangan Danis.
"Kirain lo lagi mengurung diri di kamar dan merenungi kepahitan gidup hahah," goda Ryan.
"Sialan lo, emang lo yang habis putus terus mabuk mabuk ga jelas," Danis membalas menggoda Ryan.
"Eh jadi mau liburan kemana?" tanya Ryan mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau orang lain tau kegalauannya ketika baru putus, apalagi ada Vina juga disitu. Bisa mati kutu.
"Kak Danis nawarin muncak, gimana menurut lo Kak?" tanya Nita.
"Ke Bali aja yuk," ucap Ryan.
"Bosen ah Kak kalo wisatanya pantai - pantai terus," protes Vina.
"Oh bosen yah, yaudah kamu mau muncak aja? Kalo gitu aku juga setuju muncak," jawab Ryan langsung menurut ke Vina.
Alma tersenyum melihat interaksi antara Vina dan Kak Ryan yang sangat menggemaskan. Nanti kalo mereke beneran berjodoh, pasti Kak Ryan bakal jadi budak cintanya Vina. Eh tapi kurang seru kalo harus ldr jogja - jakarta.
"Aku belum pernah muncak sama sekali Kak, jadi pengennya muncak aja," jawab Vina.
"Oke siap kita muncak," Ryan memutuskan tujuan wisata, bahkan sebelum bertanya kepada Vega dan Bian.
"Eh tapi Vega sama Kak Bian mau kan?"tanya Alma.
__ADS_1
"Tenang aja, pasti mau," jawab Ryan penuh keyakinan.
"Lo belum ketemu kan sama Kak Bian dan Vega?" tanya Ryan beralih ke Danis.
"Belum," jawab Danis singkat.
"Yaudah sana buruan gih," Ryan memerintahkan Danis.
Nita, Alma, dan Vina sangat tahu perihal apa yang sedang terjadi. Mereka merasa sangat iba kepada Danis.
"Ayok Kak, ku temenin," Alma menawarkan.
Danis mengangguk dan berjalan mengikuti Alma menuju Vega dan Bian. Vega melihat kedatangan Danis. Dirinya langsung merasa bersalah. Ingin rasanya meminta maaf karena telah menbuat Danis patah hati.
"Selamat ya kalian, semoga samawa," ucap Danis sambil bersalaman dengan Bian dan Vega.
"Terimakasih Kak," ucap Vega saat tangannya bersalaman dengan Danis. Bian merasa tidak tenang saat melihat Danis menjabat tangan istrinya terlalu lama.
"Ekhemm," Bian sengaja berdehem. Danis langsung melepaskan jabatan tangannya.
"Muncak? mau banget. Dari dulu aku pengen banget muncak rame - rame kaya di tv tv," ucap Vega antusias. Tadinya Bian ingin menolak, tapi melihat reaksi Vega yang sangat abtusias itu, membuat Bian mengurungkan niatnya.
"Nanti kita adain pesta barbeqyu ya di malam hari," ucap Vega.
"Oke baiklah," jawab Danis sambil tersenyum melihat Vega yang sangat senang dan atusias itu.
"Oh ya Kak, ada kolam renang juga ga disana?" tanya Vega.
"Adaa," jawab Danis.
"Wahhh, aku harus membawa baju renang berati," ucap Vega.
Bian tidak suka melihat istrinya berlama - lama mengobrol dengan Danis. Ia mengajak Vega untuk menyapa teman - teman artisnya yang baru datang.
"Sayang ayok ke sana, itu ada teman - temanku," ajak Bian.
__ADS_1
"Aku duluan ya Kak Danis, Kakak sama Alma dulu ya," ucap Vega berpamitan kepada Danis. Danis hanya mengangguk sambil tersenyum.
Alma mendekati Danis dengan hati - hati. Lagi - lagi dia merasa tidak tega melihat wajah Danis yang sedih itu.
"Kak mau minum?" tanya Alma basa - basi menawarkan air minum untuk Danis.
"Lo mau nemenin gue keluar sebentar? nyari angin," ajak Danis.
Sebenarnya Alma ingin menolak. Karena dirinya belum terlalu mengenal Danis. Ia merasa canggung di hadapan Danis. Apalagi jika disuruh menghibur pria yang sedang patah hati itu. Namun dirinya tidak punya pilihan lain. Ia tidak mungkin membiarkan Danis yang sedang galau itu keluar sendirian. Alma takut Danis akan berbuat yang aneh - aneh.
"Oke Kak, ayok ku temenin," jawab Alma setelah menimang - nimang permintaan Danis.
Mereka berdua keluar dari hotel tempat diadakannya pernikahan dengan berjalan kaki. Danis malas jika harus mengambil mobil terlebih dahulu di parkiran basement. Danis memilih sebuah kafe yang tidak terlalu ramai, dan dekat dengan hote.
Mereka memesan dua gelas cocktail dan duduk di dekat jendela. Menatap ke arah jalan raya yang macet oleh kendaraan.
"Apa yang Kakak suka dari sahabatku Vega?" tanya Alma basa basi memecah keheningan.
"Dia berbeda dengan gadis - gadis yang sebelumnya gue kenal. Vega sangat tulus dan baik," jawab Danis sambil mengingat pertama kali Ia melihat Vega di kantin dulu.
"Semakin gue mengenalnya, semakin gue jatuh cinta pada Vega. Tidak ada yang mengecewakan sedikitpun tentangnya. Bahkan saat gue tahu, hatinya sudah untuk orang lain. Gue masih tetap memilih untuk mencintainya, dan berharap datang kesempatan buat gue," ucap Danis dengan wajah semakin murung.
Alma merasa bersalah karena telah menanyakan perihal Vega kepada Danis.
"Mungkin sekarang waktunya Kak Danis untuk mengikhlaskan Vega. Dia sudah sepenuhnya menjadi milik orang lain Kak, Kak Danis gaboleh terlalu lama bertahan dalam cinta bertepuk sebelah tangan," Alma mencoba menyadarkan Danis. Ia tidak mau melihat orang lain kesakitkan seperti dirinya dulu.
"Lo pernah jatuh cinta sepihak dengan seseorang ma?" tanya Danis.
"Cinta bertepuk sebelah tangan itu, awalnya memang menyakitkan, lalu lebih menyakitkan, lalu sangat menyakitkan, dan selanjutnya sakit setengah mati," jawab Alma. Danis langsung mendongakan wajahnya dan menatap Alma.
"Kita akan merasa terbiasa menyukai sampai kesakitan, sehingga tak merasa sakit walau sakit, dan tidak merasa menderita walau sebenarnya menderita," sambung Alma yang sudah pernah merasakan pahitnya cinta sepihak.
"Percaya deh Kak, suatu saat nanti pasti Kakak bakal ketemu sama orang yang tepat. Orang yang memang ditakdirkan untukmu. Dan sebelum orang yang tepat itu datang, Kakak harus menguatkan hatimu dahulu, bersihkan dari kenangan lama yang pahit. Kakak tidak boleh kehabisan cinta untuk orang selanjutnya," ucap Alma mencoba menghibur Danis. Dirinya memang tidak memiliki pasangan, namun sangat pintar jika harus memberi nasihat kepada orang lain.
Alma memang gadis yang cantik dan disukai banyak pria. Namun selama ini Ia hanya jatuh cinta pada Kakak kelasnya saat SMA. Kakak kelas yang mendekatinya untuk mendapatkan teman sekelasnya. Sejak patah hati itu, Alma memilih untuk sendiri terlebih dahulu. Dia belum sanggup jika harus mengalami patah hati lagi. Ia merasa, hidupnya lebih tenang tanpa memiliki pasangan. Alma bisa dekat dan jalan dengan siapa saja, namun tidak membawa perasaan di dalamnya.
__ADS_1
...Bersambung...