
Lagi - lagi hari ini Bian harus bekerja di luar kota. Padahal pernikahan mereka harus berlangsung dua hari lagi.
"Gini amat ya punya calon suami artis, ditinggal mulu, nanti kalo udah nikah gimana deh nasib. Apa ku suruh Kak Bian berhenti aja jadi artis yaa nanti setelah menikah. Biar dia jadi bapak rumah tangga aja. Aku aja yang bekerja, biar tahu rasa nunggu pasangan dirumah," Vega berbicara sendiri ketika berada di dalam kamar.
Hari ini hari sabtu, jadi tentu saja Vega libur. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Sudah hampir 3 jam Ia hanya menscroll instagram, bolak - balik ke whatsapp untuk mengecek kabar dari Bian. Namun si Bian tetap saja belum mengabarinya.
Tiba - tiba ada panggilan masuk dari Bian.
"Yess," gumam Vega. Namun Ia tidak langsung mengangkat telepon tersebut. Ia akan membuat Bian meneleponnya tiga kali. Baru Vega akan mengangkatnya. Benar saja, setelah dua kali panggilan tidak terjawab, barulah Vega mengangkat panggilan yang ketiga.
"Hallo sayang, darimana saja?" tanya Bian yang khawatir karena panggilannya tidak di angkat -angkat.
Darimana saja ndasmu, Kakak tuh yang darimana saja tidak mengabar - ngabari, batin Vega.
"Dikamar," jawab Vega cuek.
"Ngapain emangnya?" tanya Bian lagi.
"Ngga ngapain," jawab Vega masih tetap cuek.
"Kamu marah ya aku harus terus - terusan bekerja di luar kota?" tanya Bian yang menyadari bahwa calon istrinya sedang ngambek.
"Aku? engga," jawab Vega seribu kali lebih cuek.
Bian mengubah panggilan telepon menjadi panggilan Vidio. Vega enggan menatap layar ponsel. Mukanya sangat jutek.
"Sayang jangan marah donggg, kemaren siapa yang nyuruh tetap ngambil project ini?" Bian mengingatkan Vega, bahwa Vega lah yang meminta Bian untuk tetap bekerja meskipun sudah dekat dengan hari pernikahan. Vega tidak tahu jika project tersebut mengharuskan Bian menginap beberapa hari.
Vega tidak menjawab, dan makin cuek. Ia ingin menjawab, namun tiba - tiba suaranya tercekat. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Vega sebenarnya sadar kalo dirinya sangat childish untuk hal sepele. Tapi entahlah, Bian sudah sangat memanjakannya sehingga membuatnya terus menerus bergantung pada Bian.
"Udah jangan marah lagi yaa, aku punya kiriman spesial loh buat kamu," ucap Bian berusaha membujuk calon istrinya.
Vega menatap layar ponsel.
"Kiriman apa?" tanya Vega dengan berusaha menyembunyikan rasa sangat penasarannya.
__ADS_1
"Hadiah khusus buat kamu, mungkin kirimannya sedang ada di perjalanan. Tapi aku yakin kamu pasti akan sangat senang," ucap Bian dari layar telepon.
Vega semakin penasaran, sebenarnya apa yang dimaksud hadiah khusus untuknya itu. Namun Ia enggan jika harus memohon untuk diberi tahu. Akhirnya Vega hanya pasrah menunggu hadiah itu sampai.
"Tunggu ya, bentar lagi sampai kok. Nanti Kakak telepon lagi. Kakak udah harus lanjut kerja. Jangan ditekuk terus gitu mukanya, nanti cepet tua. Calon pengantin harus ceria dong. Mana coba senyumnya," ucap Bian.
Vega menyunggingkan bibirnya sedikit, senyum terpaksa.
"Nah gitu kan cantik, bye sayang I LOVE U."
Vega kaget, bisa - bisanya Bian mengatakan cinta sambil berteriak. Apa nanti kata para staf yang ada disana. Namun disisi lain sebenarnya Vega senang. Karena Bian tidak perlu menyembunyikannya dari siapapun.
Tiba - tiba pintu kamar berbunyi, tok tok tok.
"Siapa?" tanya Vega yang malas membukakan pintu. Namun tidak ada jawaban.
Terpaksa Vega turun dari ranjang dan membuka pintu.
"SUPRISEEEEE!!!!!!" teriak Alma dan Vina. Dua bestie Vega dari Jogja.
Vega terkejut. Dia tidak menyangka bahwa kiriman khusus yang dimaksud oleh Bian adalah sahabatnya yang ada di kota jauh. Bian sengaja meminta Alma dan Vina hadir dalam pernikahan calon istri yang sangat dicintainya itu. Bian tahu, bahwa Vega pasti akan sangat senang jika bisa didampingi oleh sahabat - sahabatnya. Sebenarnya Bian ingin mengirim mereka tepat di hari pernikahan, namun karena Ia harus menginap di luar kota, jadi Bian mempercepat kedatangan Vina dan Alma.
"Naik pesawat dong," ucap Vina yang ditanya apa malah jawabnya apa.
"Kak Bian yang menyuruh kita datang lebih cepat sebelum hari H, Ia bahkan membelikan tiket pesawat dan hotel buat kami," ucap Alma menerangkan kepada Vega.
"Iya baik banget Kak Bian, sweet banget" Vina menambahkan.
"Ohhh, yaudah sini buaruan masuk," ajak Vega antusias.
Vina dan Alma menceritakan semua dari awal. Tentang mereka berdua yang memang sengaja ingin ke Jakarta naik kereta, dan kebetulan sekali Bian mengundang mereka lengkap dengan tiket pesawat serta tiket hotel untuk 3 hari.
"Jadi kalian bakal lama disini?" tanya Vega.
"Seminggu bisa, sebulan juga boleh, kan kami udah libur semester hahaha," jawab Alma.
__ADS_1
"Iya, kalo harus lama - lama disini dengan tumpangan gratis ya aku mau lah," Vina ikut menjawab.
"Beneran udah liburan semester, yeay bisa lama - lama kita ngumpul bareng," ucap Vega.
"Ya kalo habis nikah kamu ga nempel terus sama Kak Bian," sindir Alma.
Vega tersipu malu. Benar saja, dua hari lagi dirinya akan resmi menjadi istri Bian. Pasti Ia akan sangat menempel kepada suami kecintaannya itu.
"Ya kalo ada kalian mah, aku milih ngumpul sama kalian. Kan kapan lagi," ucap Vega bohong.
"Halah, gabisa dipercaya sih," ucap Vina.
Mereka kemudian tertawa. Ngobrol ngalor ngidul. Vega banyak cerita mengenai kejadian-kejadian yang sudah Ia alami. Mulai dari pertengkarannya dengan senior di kamar mandi, cara Bian melamarnya, kemudian tentang Danis yang sangat Ia kasihani. Semuanya Vega ceritakan kepada bestienya itu.
"Ngomong - ngomong nih ya, bukannya apa - apa, cuma kita hampir dua jam disini tapi ga ada sajian minum sama sekali atau apa, seret nih ngomong terus," sindir Vina.
"Hahaha ngomong dong kalo haus, aku ambil minum di dapur yah" ucap Vega.
"Eh gausah, aku ambil sendiri aja. Kalian lanjutin ceritanya. Dapurnya dilantai bawah tadi kan," tanya Vina tidak ingin mengganggu cerita Vega dengan Alma.
"Iya dibawah, dikulkas ada banyak minunam susu, atau apalah. Kamu tinggal pilih sesukamu. Cemilan juga ada, ambil aja terserah. Tante Riri sama Om lagi nganterin Kakek check up. Jadi gada orang sama sekali di rumah. Kecuali ART yang nengantar kalian tadi.Tenang aja santuy, anggap saja sedang dirumah Kak Bian,"pesan Vega.
"Ya emang rumah Kak Bian, emangnya rumah siapa lagi deh Ve," jawab Vina kesal dengan candaan Vega yang tidak lucu.
"Nanti kalo ada mba ART, tanya aja dimana cemilan - cemilannya. Kalo Dia ga ada, berati kamu ambil sendiri di laci - laci atas dapur," Vega menambahkan.
"Aku mau juga, jangan lupa ambilin," ucap Alma.
"Iye iye, semuanya ku ambilin khusus buat nyonya - nyonya, jangan lupa bayar jastip ya," jawab Vina.
Vina keluar dari kamar Vega dan menuruni tangga dengan pelan. Dirinya tidak berhenti - henti mengagumi keindahan Rumah keluarga Alfa Seirious yang sangat besar itu. Ia beberapa kali menelan ludahnya. Baru kali ini Ia menginjakkan kaki di rumah Sultan yang sangat mewah seprti di tv - tv yang pernah Ia lihat.
"Hei kamu!" sapa Ryan yang baru saja pulang dari kampus dan akan menaikki tangga. Biasa, mahasiswa tingkat akhir, sukanya ngerjain skripsi ramai - ramai di kampus.
"Kamu?" Vina bingung mengapa pria waktu itu bisa ada disini.
__ADS_1
"Kok bisa disini? Ngapain?" tanya Ryan bingung melihat gadis itu ada dirumahnya.
...Bersambung~...