
Sudah dua hari Vega berada dirumahnya. Dan sudah dua hari pula ia tidak berkomunikasi dengan Bian.
Vega merasa sangat bosan karena teman - temannya yang di Jogja masih sibuk dengan tugas kuliahnya. Vega memang mengambil cuti kuliah selama seminggu. Jadi dia masih punya banyak waktu untuk menunggu temannya memiliki waktu luang untuk berkumpul.
Vega membantu Ibu Anna memasak di dapur. Sejak smp dia sudah terbiasa dengan dapur. Vega anak yang rajin dan suka membantu kedua orang tuanya.
Ketika memasak, Vega teringat dengan pie buah yang ia buat khusus untuk Bian. Vega pernah berjanji akan membuatkan rainbrow cake untuk Bian. Tapi sekarang Vega ragu, masih adakah kesempatan untuknya membuatkan Bian kue.
"Ve tolong ambilin oven di gudang belakang ya", ucap Ibu Anna menyuruh Vega.
"Baik bu", jawab Vega.
Vega mencari kunci gudang di laci dekat dapur. Meskipun gudang tersebut jarang dibuka, tapi bersih dan tidak banyak debu. Vega menurunkan kardus oven diatas lemari gudang. saat mencari tangga, ia tidak sengaja merobohkan sepeda. Sepeda Vega saat masih SD.
Tiba - tiba ia teringat sesuatu.
" Sepeda ini? Gadis kecil itu?", gumam Vega sambil mengingat gambar yang ia temukan di laci Apartemen Bian.
Jadi gambar itu adalah aku saat masih kecil?, batin Vega.
Sepeda Vega memang berbeda dengan sepeda lain milik temannya. Sepeda itu ia dapat ketika masuk kelas 4 SD. Kakek Vega yang membelikannya sebagai hadiah ulang tahun.
Saat itu, Bian juga sedang berada di Jogja. Ikut merayakan ulang tahun Vega. Mereka beramai - ramai mengecat sepeda Vega dengan warna putih polkadot hitam. Vega memang suka sekali dengan sapi perah saat kecil.
Ingatan masa kecil Vega bersama Bian kembali perputar di kepala Vega. Vega dan Bian kecil selalu menghabiskan sore harinya menggunakan sepeda tadi. Mereka biasa berboncengan berdua menyusuri tepi pantai.
"Aku mau bersepedaan tiap hari denganmu seperti", ucap Bian kecil kepada Vega.
"Janji? tiap hari sampai kita tua bersama?", tanya Vega kecil.
"Iya janji", jawab Bian kecil.
Kemudian mereka tertawa bersama. Mereka masih sama sama belum mengerti makna sebuah janji. Makna menua bersama.
"Vega!", teriak Ibu Anna dari dapur.
Vega tersadar dari lamunannya.
"Iya bu sebentar", ucap Vega.
Vega keluar membawa kardus berisi oven. Ibu Anna sudah siap dengan adonan kue yang akan dimasukkan kedalam oven.
"Kenapa buat kue banyak sekali bu", tanya Vega penasaran.
"Temen mamah ada yang minta di buatin", jawab Ibu Anna.
"Ooh", jawab Vega.
Hp vega bergetar. Ada pesan masuk di grup whatsappnya.
__ADS_1
"Gimana, besok pagi jadi kumpul gais?", tanya Vina di grup chat.
"Kuy, besok pagi aku kelas cuma sampe jam 9", balas Alma.
Vega ikut membalas.
"Ayo ah, ada yang mau aku ceritain", balas Vega.
"Ye nih anak pulang pulang mau curhat ya", balas Alma.
"Soal cowo? akhirnyaaaaa, Vega mengenal cowo wkwkwk", balas Vina.
"Diem deh ya kalian, bsok pas ketemu gue ceritain semuanya", balas Vega lagi.
"Oke, kumpul di rumahku jam 09.27 ya", balas Vina.
"Nanggung amat dah 27", balas Alma.
"Ya biarin, aku suka 27", balas Vina tidak mau kalah.
Vega hanya tersenyum membaca pesan chat mereka. Pasalnya mereja tidak berubah sama sekali sejak sma. Seperti kucing dan tikus saat barantem. Tapi langsung baikan saat itu juga.
Pagi - pagi sekali Vega sudah berada di rumah Vina. Dia memang sengaja datang lebih cepat untuk membantu Vina memasak sarapan untuk mereka. Vina ingin makan spagheti seafood yang biasa mereka makan saat masih SMA.
Alma datang dengan membawa satu botol besar Cola kesukaan mereka. Mereka sengaja ingin berparty karena sudah lama tidak bertemu.
Vega menceritakan semuanya. Mulai dari pengumuman perjodohannya dengan Bian. Perasaannya untuk Bian. Terus Danis yang tidak pernah lelah untuk berhenti mengejarnya. Sampai ucapan Syaila kemaren yang membuatnya membatalkan perjodohan. Hingga sampai Vega ada disini saat ini.
Vina terdiam mencerna cerita dari Vega. Ia tidak habis pikir, bestienya itu yang buta akan cowo malah terjebak diantara cinta segi tiga. Di tambah lagi semua cowonya tampan dan kaya.
"Jadi sekarang lu bingung, milih antara kak Bian sama kak Danis?", tanya Vina polos.
Alma langsung menoyor kepala Vina.
"Bego, bukan itu bambang", ucap Alma kesal.
Vega hanya memanyunkan bibirnya ke Vina. Sudah bercerita panjang lebar, tapi bestienya itu belum juga paham apa yang dibingungkan oleh Vega.
"Terus apa dong Ve", tanya Vina sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sebenernya aku ga bingung. Soal kak Danis, aku kan ga cinta ke dia. Jadi ga mungkin aku mau jadi pacarnya. Kasihan, dia sangat baik", ucap Vega.
"Terus soal kak Bian, hmmm. Aku sendiri juga gatau. Aku yang membatalkan perjodohan itu, tapi aku sendiri juga yang galau", sambung Vega.
Vina mengangguk mengerti.
"Tapi menurutku, mending sama kak Danis deh, dia kan sayang banget sama kamu", ucap Vina.
"Vinaaaaa, Vega bilang dia ga suka sama Danis" , teriak Alma.
__ADS_1
"Ya iyasih aku ngerti, tapi kenapa menyia - nyiakan yang pasti Ve", ucap Vina.
"Iya juga, kenapa kamu ga coba buka hati buat Danis ve?", tanya Alma.
Vega hanya bisa tersenyum melihat Alma yang langsung setuju dengan Vina.
"Gatau, gabisa maksain diri", jawab Vega singkat.
"Apa kamu udah benar - benar jatuh cinta sama kak Bian?" tanya Alma lagi.
"Emm, mungkin. Dia cinta pertamaku sejak kecil. Tapin mungkin hanya obsesi deh bukan cinta. Nanti lama - lama juga lupa", jawab Vega yakin.
"Aku ga mungkin merenggut kebahagiaan mimpi orang yang ku cinta demi kebahagiaan diriku sendiri", sambung Vega lagi.
"Gimana kalo kak Bian ternyata juga cinta sama kamu?", tanya Vina.
Vega terdiam dan berpikir.
"Sepertinya kak Bian hanya berpura - pura. Biar tante Riri tidak menyuruhnya berhenti jadi artis", hawab Vega ragu - ragu.
"Gini ya Ve, kalo aku sendiri, gampang banget ngerasaain cowo mana yang suka sama gasuka", ucap Alma.
"Iya bener Ve, kita bisa ngelihat dari perlakuannya, sorot matanya, caranya berbicara", tambah Vina.
"Tapi kak Bian kan seorang artis, mudah baginya dong berpura - pura jadi seperti apapun. Dia susah banget ditebak. Kadang baik banget, kadang juga cuek banget", jawab Vega.
"Iya juga sih dia kan artis", kata Vina.
"Lagian kalo dia beneran sayang sama aku, gam mungkin kan dia diem aja ketika perjodohan ini dibatalin. Buktinya udah lewat hampir 3 hari, dia diem diem ae tuh", ucap Vega menambahkan.
"Kan dia artis papan atas Ve, sibuk juga kalee. Btw kamu ngarep bgt ya dia ga diem aja", goda Alma.
"Bukan sih, eh, kayak masa dia iya iya aja sih. Setelah semua yang kita lakukan", Vega.
"Emang kalian ngapain aja weh?", tanya Vina
menyelidik.
"Eh maksudku, seteleh waktu yang kita lewati", Vega meralat ucapannya.
"Hayo udah ngapain", goda alma sambil menyenggol lengan Vega.
"Ga ngapa - ngapain, emangnya ngapain", jawab Vega sambil menutup wajahnya malu.
Vega teringat ciuman panas di malam pertunangannya dengan Bian. Hal itu masih membuat jantug vega berdetak cepat, hanya dengan mengingatnya saja.
"Dah ah ayok nyunset, udah mo sore" ajak Vega.
...Bersambung...
__ADS_1