
Vega dan Danis telah sampai di Jogja subu tadi. Danis sedang beristirahat dan tertidur di sofa ruang tamu rumah Vega.
Vega masuk kedalam kamar disusul oleh Ibunya. Saat itu juga Vega menyuruh Ibunya untuk memberitahukan mamah Riri, bahwa dia menolak melanjutkan perjodohan itu.
"Kamu yakin dengan keputusanmu nak?" tanya Ibu Anna.
"Aku yakin bu, aku sudah memikirkannya semalaman" jawab Vega.
"Ibu tidak tahu ada masalah apa diantara kalian, Ibu memang berharap kalian bisa menikah dan berbahagia bersama. Tapi jika yang kamu dapatkan hanya air mata kesedihan, Ibu pun tidak akan memaksamu melanjutkan perjodohan ini" ucap Ibu Anna sambil mengusap punggung Vega yang terlihat sedih itu.
"Maafkan Vega bu, kali ini Vega tidak bisa memenuhi permintaan Ibu dan Ayah" ucap Vega sambil memeluk Ibunya.
Vega memutuskan untuk membatalkan perjodohan. Dia tidak ingin karir Bian benar - benar hancur dengan kehadirannya di hidup Bian. Ia juga sudah memutuskan untuk keluar dari rumah Ryan, dan pindah ke kos.
Siang hari.
Kebetulan Ibu Anna sedang belanja ke pasar. Sedangkan Ayah Vega sudah berangkat ke kampus untuk mengajar. Mereka membiarkan Danis beristirahat, karena pasti lelah telah menyetir semalaman dari Jakarta ke Jogja.
Alarm Vega berbunyi. Jam sudah menunjukan pukul 9. Vega segera pergi ke ruang tamu untuk membangunkan Danis. Danis memang meminta dibangunkan pukul 9. Dia harus segera kembali ke Jakarta hari ini.
"Kak Danis, bangun sudah jam 9" ucap Vega pelan sambil menggoyangkan lengan Danis.
Danis menggeliat lucu, kemudian membuka matanya. Danis duduk untuk mengembalikan nyawanya yang belum penuh 100%.
"Ayok kita sarapan dulu kak, Ibu sudah masakin nasi goreng tadi sebelum ke pasar" ajak Vega.
"Hmmm, aku ingin ke toilet dulu" ucap Danis.
"Baiklah, disitu toiletnya. Ibu juga sudah menyiapkan handuk dan sikat gigi untukmu kak" ucap Vega sambil menunjuk ke arah kamar mandi.
Danis mengangguk dan pergi ke toilet. Setelah membersihkan diri, dia segera menuju ruang makan. Vega sudah menunggunya lengkap dengan teh panas diatas meja.
"Ayok kak dimakan" ucap Vega.
Danis mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Enak sekali Ve" kata Danis.
"Lain kali kakak harus cobain gudeg buatan Ibu deh, jauh lebih nikmat rasanya" ucap Vega.
"Wah benarkah?, lain kali aku akan main kesini lagi, yang lama" ucap Bian bersemangat. Ia menyesal karena harus segera kembali ke Jakarta, untuk mempersiapkan seminar proposal skripsinya.
"Iya, lain kali kakak boleh nginep ko disini" Vega.
Mereka kemudian melanjutkan makannya. Terakhir Danis meminum teh buatan Vega untuknya.
__ADS_1
"Ve, kamu ingat kan pesanku?" tanya Danis ketika mereka telah selesei makan.
"Yang mana kak?" tanya Vega bingung.
"Datang lah kepadaku jikan Bian membuatmu menangis" jawab Danis.
Vega hanya mengangguk, tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku memang tidak bisa menjajikan untuk membuatmu bahagia setiap saat, tapi aku berjanji tidak akan pernah membuatmu menangis Ve" lanjut Danis.
"Kamu tahu kan maksudku?" tanya Danis.
Vega kembali mengangguk. Dia tidak ingin menolak kebaikan Danis secara terang - terangan. Danis sudah terlalu banyak berbuat baik untuknya.
Vega mengantar Danis sampai ke mobilnya.
"Terimakasih telah mengantarku kak"
"Maaf telah merepotkanmu, hati hati dijalan ya ka, kalo ngantuk istirahat dulu dan tidur ya" ucap Vega. Sebenarnya ia sangat merasa bersalah pada Danis. Danis pasti lelah harus menyetir sendirian bolak - balik Jakarta Jogja.
"Iya aku akan berhati - hati" sahut Danis sambil masuk ke dalam mobil. Danis menurunkan kaca mobilnya. Vega melambaikan tangan kanannya.
"Bye kak" ucap Vega.
***
Terdengan tombol pintu di buka oleh seseorang.
Ryan masuk ke dalam Apartemen Bian. Ia melihat ke sekeliling ruangan. Sangat kacau. Bian terlihat sedang duduk bersandar ditepi sofa. Banyak sekali botol minuman kosong berserakan.
Ryan memunguti botol tersebut dan menatanya diatas meja. Ryan merasa kasihan sekaligus geram dengan kakaknya. Sudah hampir dua hari Bian seperti ini. Dia bahkan melewatkan jadwal syutingnya.
"Mau sampe kapan seperti ini kak?" tanya Ryan.
"Kau mau berubah dari brengsek menjadi bajingan kak?" tanya Ryan lagi.
Bian hanya mendongakkan kepala sedikit ke arah Ryan.
"Berhenti menjadi bajingan yang menyedihkan, cepat temui dia dan minta maaflah" ujar Ryan lagi.
Bian berpikir sebentar. Kemudian ia segera beranjak dan mencari kunci mobilnya.
"Kau mau menemui Vega dengan tampilan seperti itu?" tanya Ryan.
Bian berhenti dan mengecek dirinya sendiri dari atas sampai bawah. Kembali lagi dari bawah sampai atas.
__ADS_1
Sangat kacau, batin Bian.
Bian memilih masuk ke kamar mandi terlebih dahulu. Ia berendam sebentar di bathup untuk menghilangkan mabuknya semalam. Bian juga berpikir apa yang harus Ia katakan jika sudah bertemu dengan Vega.
Dulu Bian memang khawatir jika perjodohannya denga Vega akan memengaruhi karirnya. Namun kali ini ia sadar bahwa karirnya tidak lebih penting dari Vega. Bian hanya menginginkan Vega, tidak ada yang lain.
Bian sudah selesei mandi dan bersiap. Ryan masih setia menunggu di sofa. Ruang Bian sekarang sudah kembali bersih dan rapi.
Ryan memberikan tiket pesawat menuju Jogja ke Bian.
"Kapan kau membelinya?" tanya Bian.
"Mamah yang menyuruhku memeberikannya" ujar Ryan.
"Oh" Bian menjawab singkat.
Bian mengambil barang yang ia perlukan, kemudian pergi meninggalkan apartemen. Ryan mengekor di belakang. Di lobi sudah ada Simon menunggu mereka.
"Aku menyuruh Simon untuk mengantar kita ke Bandara kak" ucap Ryan.
"Kita?" tanya Bian dengan tatapan smirknya.
"Iya kita, mamah menuruhku untuk menemanimu" ujar Ryan.
Mamah Riri tidak mau Bian berpergian sendirian dalam keadaan kacau.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, Bian dan Ryan sampai di Jogja. Kemudian mereka menuju rumah Vega, menggunakan mobil yang sudah mamah Riri siapkan.
Mereka tiba di rumah besar yang asri di kota jogja. Rumah tersebut terlihat antik dan tua, dengan model rumah joglo khas jawa. Namun bersih dan terawat.
Ibu Anna membukakan pintu, dan menyuruh mereka berdua masuk.
"Vega dimana tante?" tanya Bian tidak sabar.
"Vega lagi keluar nak Bian, tadi pagi ia pamit mau bertemu teman - teman sma nya katanya" jawab Ibu Anna.
"Kalian istirahat dulu saja, nanti bentar lagi Vega juga pulang" sambung Ibu Anna.
"Baiklah tante" jawab Bian.
Ibu Anna sudah diberi tahu tentang kedatangan Bian oleh mamah Riri tadi pagi. Jadi dia sudah menyiapkan kamar untuk beristirahat Bian. Ibu Anna sengaja tidak memberitahukan kepada Vega. Biarkan saja merek bertemu secara alami dan menyeleiseikan masalah mereka sendiri.
Hari sudah hampir sore. Ryan berpamitan pulang terlebih dahulu ke Jakarta. Sama seperti Danis, Ryan juga mempunyai jadwal seminar proposal skripsinya. Sedangkan Bian memilih untuk menginap, karena belum bertemu dengan Vega.
Bian memutuskan untuk keluar mencari Vega. Ibu Anna memberitahu Bian, jika Vega pergi ke rumah temannya yang bernama Vina. Rumah Vina berada di dekat pantai Indrayanti. Pantai terkenal di daerah itu. Vega dan temannya biasa menghabiskan waktu bersama sambil menunggu sunset.
__ADS_1
"Kamu dimana Ve, apakah kamu sengaja menghindariku? Maafkan aku, pliss maafkan aku, aku mencintaimu Ve" gumam Bian sambil mencari Vega.
...Bersambung...