Jodohku Seorang Artis

Jodohku Seorang Artis
Bab 27 Calon mantu Ibu


__ADS_3

Ibu berdiri di depan pintu, menerima tamu arisan, bersama Ayah. Sudah banyak sekali tamu berdatangan.


"Kenapa belum sampai ya Yah mereka berdua?" tanya Ibu khawatir.


"Loh itu mereka," tunjuk Ayah ke arah setapak di samping rumah. Vega dan Bian beriringan melangkah menuju pagar depan rumah.


"Ve maaf ya, gara - gara aku ikut, kamu jadi telat," Bian meninta maaf ketika melihat rumah sudah ramai dengan tamu arisan.


Belum sempat menjawab, tiba - tiba ada suara menyapa di belakang mereka.


"Oh ini toh tunangannya Vega, calon menantumu Bu Anna," ucap salah satu kerabat Ibu Anna sedikit terkejut, karena bisa bertemu dengan artis secara langsung.


Bian langsung mengulurkan tangan kanannya kepada kerabat tersebut.


"Iya saya tunangannya Vega tante," ucap Bian tanpa merasa ragu sama sekali. Ia bahkan lupa kalo dirinya seorang artis papan atas.


Vega langsung menengok ke arah Bian sambil melotot. Mantan tunangan maskudmu?, batin Vega.


Vega ingin meralat ucapan Bian, namun Ibu Anna langsung memotongnya.


"Ah iya benar, ini calon menantu saya," ucap Ibu Anna.


"Ah Ibu juga ikut - ikutan kenapa sih," gumam Vega pelan. Vega sudah bertekad tidak akan meneruskan perjodohan tanpa ada cinta di anatara mereka.


"Tampan sekali ya kalo dilihat langsung, daripada di TV," ucap Kerabat itu lagi.


"Ah, terimakasih tante. Saya ijin masuk dulu," ucap Bian mengejar Vega yang sudah meninggalkannya masuk ke dalam rumah lewat pintu samping.


Saat memasuki dapur, tiba - tiba Vega berhenti tepat di depan Bian. Bian tidak sengaja menabrak Vega dari belakang. Vega membalikkan badannya menghadap Bian, masih sambil melotot tajam.


"Aku bukan tunanganmu lagi kak," ucap Vega marah.


Bian menunduk, merasa bersalah, dan takut. Ia kira Vega tidak akan semarah ini, hanya kerena menyebutnya sebagai tunangannya. Bian kembali menatap Vega. Mata mereka bertabrakan.


"Maafkan aku Ve, jangan seperti ini ini, beri kakak kesempatan sekali lagi Ve," ucap Bian.


"Kakak tidak salah apa - apa, perjodohan ini memang tidak seharusnya dilakukan sejak awal," jawab Vega.


"Tapi kenapa Ve?" tanya Bian.

__ADS_1


"Aku tidak ingin jadi penghalang mimpimu kak," ucap Vega.


"Engga Ve, aku ga akan biarkan itu terjadi. Aku bisa cari cara untuk mempertahankan karirku Ve. Asalkan kamu mau bersamaku, mendukungku. Menikahlah denganku Ve" jawab Bian serius.


"Tapi aku gamau kak menikah karena paksaan," jawab Vega lagi.


"Tidak ada yang terpaksa Ve, ini murni keinginanku sendiri untuk menikahimu," ucap Bian meyakinkan Vega.


"Tapi aku tidak ingin kak," Vega masih berusaha keras menolak Bian. Sebenarnya ia sudah hampir goyah mendengar perkataan Bian. Tapi ia belum mendengar ucapan yang ia harapkan.


"Kenapa Ve, apa kamu tidak mencintaiku?" tanya Bian. Kali ini suaranya mulai melemah. Ada sedikit rasa takut di hatinya.


Vega hanya terdiam, tidak mampu menjawab. Ia tidak mungkin mengakui cintanya terlebih dahulu. Ia sendiri masih belum yakin, apakah dia benar - benar mencintai Bian, ataukah hanya obsesi semata.


"Apakah waktu yang sudah kita lewati bersama tidak berarti apa - apa bagimu Ve?" tanya Bian kembali.


Vega masih terdiam. Ia tidak mampu menatap mata Bian. Bian menarik napasnya panjang, kemudian memegang kedua tangan Vega.


"Aku mencintaimu Ve, sejak dulu, sekarang, maupun nanti, hanya kamu yang bisa mengisi hatiku Ve. Aku tidak peduli kamu mencintaiku atau tidak, aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku Ve. Beri kakak kesempatan," ujar Bian memohon. Ia sebenarnya terkejut, kenapa bisa berbicara selancar itu mengakui cintanya. Dia tidak pernah mengucap cinta kepada siapapun sebelumnya. Karena memang selama ini tidak ada wanita yang bisa membuatnya jatuh hati, kecuali Vega.


Hati Vega berdegup sangat kencang. Ia memang mengharapkan pengakuan cinta dari Bian. Tapi dia tidak menyangka rasanya akan sedahsyat ini. Kakinya tiba - tiba lemas, seakan tulangnya melunak. Dadanya naik turun menahan goncangan jantungnya. Tangannya mulai berkeringat di dalam genggaman Bian. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini.


"Ekhem." Ibu Anna berdehem memasuki dapur.


Vega segara mendorong tubuh Bian menajauh. Mereka berdua langsung salah tingkah, dan berpura - pura sibuk menurunkan bakwan dari dalam tas.


"Dimana bakwanya Ve, tolong di tata di atas piring ya," ucap Ibu Anna mengurangi kecanggungan di antara mereka.


"Baik Bu," jawab Vega. Vega mengambil tumpukan piring yang sudah di lap oleh Bian tadi pagi. Bian juga ikut membantu menata bakwan.


"Kalo sudah, tolong buatkan teh sebanyak 30 gelas ya," perintah Ibu Anna.


"Baik Bu," Bian langsung menyiapkan gelas dan menyendok gula ke dalam gelas tersebut. Ia menatanya di atas nampan.


Hari itu Bian dan Vega sibuk membantu Ibu Anna menyiapkan keperluan arisan. Bian bertugas menbawa nampan ke ruang tamu, sedangkan Vega mengikutinya di belakang untuk menurunkan piring dan gelas ke atas meja.


Acara arisan selesei pukul satu siang. Para kerabat juga sudah mulai pulang meninggalkan rumah Vega. Ada pula yang memilih tetap disitu terlebih dahulu untuk berfoto bersama Bian, atau meminta tanda tangan.


Setelah acara selesei, Vega dan Bian mencuci piring dan gelas kotor bersama. Kali ini tidak ada satupun yang berani berbicara. Mereka sama - sama malu untuk memulai obrolan.

__ADS_1


"Kalian istirahat saja sana, kasihan sudah dari pagi sibuk, nanti biar Ibu yang selesein," ucap Ibu Anna.


"Baik Bu," Vega dan Bian pergi ke kamar masing - masing.


Vega duduk di depan meja riasnya. Ia menangkup kedua pipinya yang sudah seperti kepiting rebus, merah sekali. Ia tidak menyangka Bian akan mengakui cintanya sekaligus melamarnya secepat ini.


"Tadi dia menyuruhku untuk menikah dengannya kan?" gumam Vega.


"Tunggu, maksudnya segera menikah atau nanti setelah aku lulus yah?" tanya Vega kepada pantulan cermin dirinya sendiri.


"Ah apakah langsung aku terimasaja sebelum kak Bian menarik kata - katanya" Vega masih berbicara pada diri sendiri. Kemudian ia beranjak dari kursinya dan berlari ke arah pintu. Ketika ia membuka pintu, terlihat Bian sedang berdiri di depan kamarnya, akan mengetuk pintu.


"Kak aku~"


"Aku ingin~"


Mereka berbicara bersamaan.


"Kau duluan Ve," ucap Bian mengalah sambil tersenyum.


"Emm, kakak dulu aja, ada apa kemari?" tanya Vega.


"Aku ingin mengajakmu melihat sunset di pantai setelah beristirahat, apakah kamu mau?" tanya Bian.


"Baiklah kak, nanti kita pergi ke pantai setengah lima ya, setalah aku mandi," jawab Vega.


"Iya," jawab Bian sambil mengangguk.


"Tadi kamu mau bicara apa Ve?" tanya Bian penasaran.


"Tidak ada, emm maksudku aku juga ingin mengajak kakak melihat sunset di pantai hehe," jawab Vega bohong.


"Yasudah, kamu istirahat sana," perintah Bian.


Vega mengangguk dan kembali masuk ke dalam kamar.


"Hhhhh, untung belum jadi ngomong. Malu banget kalo tadi singgung masalah pernikahan. Siapa tau kak Bian cuma ngomong ngasal agar aku mau melanjutkan perjodohan," gumam Vega.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2