
Malam ini, Bian gagal membujuk Vega untuk melanjutkan perjodohannya. Namun Bian belum menyerah. Dia akan berusaha sebisa mungkin, membuat tunangannya itu kembali. Bian sengaja menginap di rumah Vega.
Bian mencoba memejamkan matanya. Dia memalingkan tubuhnya menghadap kiri. Lalu kembali lagi miring ke kanan. Terakhir Bian menelantangkan tubuhnya ke atas. Posisi apapun tidak bisa membuatnya jatuh tertidur.
Disisi lain, Vega sudah tertidur pulas memeluk boneka alpaca kesayangannya. Besok Vega harus bangun pagi untuk membantu ibunya mempersiapkan Arisan keluarga.
Jam sudah menunjukan pukul 5 pagi. Bian baru saja tertidur sekitar satu setengah jam, namun dari arah dapur terdengar suara sangat riuh. Seisi rumah seperti turut ikut membangunkannya. Ayam jago dibelakang rumah sudah saling bersautan. Burung peliharaan Ayah Vega juga sudah berkicau menyapa matahari pagi, yang baru menyembul sedikit di balik gunung.
Bian membuka matanya pelan. Dia tersadar, dia bukan tidur di kamarnya, tapi di rumah Vega. Bian menggeliat sambil mengangkat tangannya ke atas. Ia bangun dan berjalan ke arah cermin yang menempel di lemari pakaian, di kamar yang ia tempati sekarang.
Bian melihat pantulan wajahnya di cermin. Sangat kacau. Bian tidak mungkin keluar dengan penampilan seperti itu. Ia kemudian beralih ke kamar mandi di kamar tersebut. Namun kemudian ia teringat sesuatu, dia tidak punya lagi baju ganti. Karena sebenarnya Bian tidak memiliki niatan untuk menginap dirumah Vega.
Bian mengambil ponselnya untuk mengecek, apakah ada baju yang bisa ia beli secara onlen. Namun tiba - tiba ada yang mengetuk pintu.
Tok, tok, tok.
Bian yang tidak jauh dari pintu langsung saja membukanya. Dilihatnya Vega sedang berdiri memegang lipatan baju.
Vega melihat Bian menyampirkan handuk di pundaknya.
"Kakak mau mandi?, pake baju ini. Ini milik sepupu aku yang ada di Sleman. Dia sering nginap disini, jadi banyak sekali bajunya di rumah ini" ujar Vega sambil menyodorkan lipatan baju yang ia pegang.
Bian tidak langsung menerimanya. Dia hanya diam memandang tangan Vega yang memberinya baju.
"Kakak ga biasa pake baju milik orang lain?" tanya Vega melihat Bian enggan menerima baju tersebut.
Bian spontan mengambil baju dari tangan Vega.
"Engga, aku akan pakai" jawab Bian cepat. Ia sedang dalam misi membujuk Vega. Tidak mungkin Bian menolak pemberian Vega, yang ada Vega bisa semakin marah padanya.
Vega beranjak pergi tanpa berkata apapun. Bian kembali masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri. Selesei mandi, Bian kembali menghadap ke arah cermin. Bajunya sangat pas untuknya. Kaos oblong dan celana pendek biasa. Seperti gayanya ketika sedang dirumah.
Bian keluar menuju dapur. Vega dan Ibu terlihat sangat sibuk membuat beraneka macam kue.
"Ve nanti itu gelas dan piringnya di lap ya," Ibu Anna menyuruh Vega mengelap peralatan yang baru saja dicuci.
"Biar saya saja Bu," sahut Bian menawarkan diri. Sebenarnya dari tadi ia ingin membantu, tetapi tidak tahu apa yang harus di perbuat.
__ADS_1
"Nak Bian memangnya bisa?" tanya Ibu Anna tidak yakin.
Mendengar Ibu Anna yang meragukan dirinya, Bian langsung mengambil lap dan mulai menyeka air di piring yang masih sedikit basah itu.
"Biasa dong Bu," ucap Bian penuh keyakinan.
Nih anak sejak kapan ikut - ikutan manggil ibu deh?, batin Vega.
"Ya ngelap doang, anak SD juga bisa kali," celetuk Vega ketus.
Bian hanya menengok, tidak berani menjawab. Ia harus sabar menghadapi tunangannya yang sedang marah itu. Entahlah marah atau bukan, tapi yang jelas Bian harus berhasil membujuk Vega untuk melanjutkan perjodohan.
"Nanti jam 9 kamu jangan lupa ke pasar ya, ambilin pesenan bakwan di Mbok Sri ya Ve," Ibu Anna mengingatkan Vega.
"Iya Bu, tapi kan motornya masih di bengkel," ucap Vega. Bengkel motor baru buka jam 10 an, karena sang empunya bengkel sedang di luar kota.
"Pake sepeda yang di gudang itu juga bisa, kamaren abis di ganti bannya sama Ayah," jawab Ibu Anna.
"Aku antar saja pake mobil," Bian ikut menimpali.
"Jalannya sempit nak Bian, tidak muat jika nanti harus berpapasan dengan orang," Ibu Anna menerangkan.
"Terserah," jawab Vega sambil mengangkat kedua bahunya.
Bian tersenyum senang. Terserah berarti boleh kan. Ia segera menyeleseikan tugasnya mengelap gelas dan piring.
Vega mengambil kunci gudang dan mengeluarkan sepeda polkadot miliknya. Sepeda itu memang cukup besar untuk ukurannya saat masih SD. Vega memakai sepeda tersebut hingga kelas 3 SMP. Karena setelah SMA, dia bersekolah menggunakan Scoopy kesayangannya yang di beri nama "gaspol". Kebetulan si gaspol sedang di tambal bannya di bengkel.
Setelah menyeleseikan tugasnya, Bian menyusul Vega keluar rumah dengan membawa tas yang biasa di bawa Ibu pergi ke pasar.
Bian menaikki sepeda tersebut membonceng Vega. Sepeda lama itu masih sangat kuat menampung mereka berdua. Bian menggayuh pedal dengan kencang.
"Pegangan Ve, aku ngebut ya," Bian mulai mengebut di jalan setapak samping rumah.
Namun baru beberapa meter, ontelannya melemah. Bian tidak terbiasa menggunakan sepeda, sehingga ia mudah lelah.
"Kalo begini caranya, cepetan jalan kaki dong kak," ucap Vega dari belakang.
__ADS_1
Bian bernapas dengan ngos - ngosan. Kapasitas oksigen di paru - parunya sangat tipis. Ia membutuhkan supply oksigen. Bian berhenti sebentar.
"Sini aku aja yang di depan," ujar Vega sambil turun dari boncengan. Vega menyerahkan tas yang sedang ia pegang kepada Bian.
Bian tidak bisa membantah. Ia menyerahkan sepedanya kepada Vega, dan bertukar posisi. Vega mulai menggayuh sepedanya. Setelah 10 menit berlalu, mereka sampai di pasar kecil di daerah sana.
Vega menaiki sepedanya sampaidi depan kedai Mbok Sri. Vega meninggalkan Bian di dekat sepeda, dan masuk ke dalam kedai.
"Kenapa lama sekali Ve? Apa belum mulai acaranya?" tanya Mbok Sri.
"Iya maap Mbok, soalnya naik sepeda," jawab Vega.
"Yasudah, ini buruan sana bawa pulang, keburu pada dateng tamunya," Mbok Sri memasukan bakwan ke dalam tas yang Vega bawa.
"Ibu sudah bayar kan Mbok?" tanya Vega memastikan.
"Sudah kok sudah, buruan sana," jawab Mbok Sri.
Vega keluar menuju sepedanya. Bian sudah menaiki sepeda tersebut, siap membonceng Vega. Kali ini dia tidak mau kalah, ia harus membonceng Vega sampai ke rumah.
Vega langsung naik sepeda itu. Kali ini Bian mengayuh dengan kecepatan sedang. Ia tidak mau terlalu cepat lelah sebelum sampai ke rumah.
"Kamu inget ga Ve, dulu kita sering sepedaan seperti ini di tepi pantai," Bian mencoba mengingatkan Vega tentang kenangan lama mereka.
Vega tersenyum mendengar ucapan Bian. Ternyata Bian juga mengingat hal tersebut. Namun Vega berpura - pura lupa.
"Ga inget," jawab Vega cuek.
"Ya tuhan, sabar Bi sabar ngadepin gadis baru puber ini, untung sayang. Kalo ga udah ku lempar ke parit" gumam Bian kepada diri sendiri. Namun sebenarnya Vega bisa mendengar semua ucapan Bian. Ia hanya memanahan tawa di dalam hati.
Baru setengah perjalanan, tiba - tiba sepeda yang mereka naiki oleng saat melewati bebatuan. Vega turun dari sepeda untuk mengecek roda belakang. Benar saja, bannya sudah sangat kempes. Mungkin bocor karena ban dalamnya sudah sangat tua. Kemaren Ayah hanya mengganti ban depannya saja.
"Bocor Ve?" tanya Bian memastikan kepada Vega.
"Iya kak, kita tuntun saja. Bentar lagi juga sampai," Vega berjalan mendahului Bian dengan memegang tas berisi bakwan. Ia tidak mau terlambat sampai ke rumah.
Vega mengecek jam ditangannya. "Bentar lagi acara di mulai."
__ADS_1
Vega memerlebar langkah kakinya. Bian segera menyusulnya di belakang, menuntun sepeda polkadot milik Vega. Bian akan sangat merasa bersalah, jika Vega telat gara - gara dirinya ikut ke pasar.
...Bersambung...