Jodohku Seorang Artis

Jodohku Seorang Artis
Bab 34 Spageti Carbonara


__ADS_3

Bian masuk ke dalam rumah dengan menenteng kantong berisi bahan-bahan yang akan Dia gunakan untuk memasak. Spageti permintaan Vega. Bian langsung berjalan ke arah dapur tanpa masuk kedalam kamar terlebih dahulu. Ia langsung memasak Spageti spesial untuk Vega.


Bian memang sudah pernah membuat spageti untuk Vega saat di Apartemen dulu. Spageti lafonte. Kali ini Bian ingin membuatkan makanan yang lain, yaitu Spageti Carbonara. Ia menggulung kedua lengan bajunya, siap untuk memasak.


Bian mulai memanaskan air untuk merebus mie spageti. Sambil menunggu air panas, Ia menyiapkan bahan untuk membuat saus. Bian menuangkan minyak dan menumis irisan bawang bombai, jamur, dan sosis hingga harum. Kemudian ia memasukan saus ke dalam wajan tersebut. Ia juga menambahkan susu UHT full cream secukupnya. Bian mengaduk saus hingga kental. Setelah itu, Ia memasukan mie yang telah ia rebus ke dalam saus yang sudah jadi. Bian menyajikan Spageti Carbonara buatannya di dalam piring, dan menaburinya dengan perutan Keju.


Bian mengelap sisa - sia saus yang berceceran di pinggiran pring menggunakan tisu.


"Perfect!" ucap Bian memuji karyanya sendiri.


Ia segera membawa nampan berisi piring spageti tersebut ke lantai atas. Lengkap dengan satu gelas teh. Tanpa mengetuk pintu kamar Vega, Bian langsung membuka pintu tersebut dengan satu tangan.


Ceklek!


"Ahhh Kak Bian!" teriak Vega yang sedang berganti pakaian. Ia akan mengenakan piyama tidur.


Dejavu!.


Rasanya baru kemaren hal seperti ini terjadi.


"Ups maap," ucap Bian sambil membalikan badannya ke arah pintu. Ia tidak langsung keluar, namun segera menutup pintu dan memilih menunggu di dalam. Vega geram dengan tingkah Kak Bian yang seenaknya itu.


"Awas ya kak, jangan menengok," ucap Vega. Bian hanya mengangguk tanpa melihat ke arah Vega.


"Ini tuh kamar seorang gadis kak, harusnya ketuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk," ucap Vega marah sambil tetap melanjutkan kegiatannya berganti pakaian.


"Tapi kan gadis ini tunanganku sendiri, gapapa dong gausah ketuk pintu," jawab Bian enteng menatap pintu di depan matanya.


"Tunangan kan kak, bukan istri!" sahut Vega.


"Tunangan yang bentar lagi jadi istri lebih tepatnya," jawab Bian tidak ingin mengalah.


Vega tidak menjawab. Ia fokus dengan kancing baju atasan yang sedang Ia pasangkan.


"Sudah belum Ve? pegel nih," tanya Bian yang sedari tadi menunggu sambil memegang nampan.


"Belum," jawab Vega mengerjai Bian. Ia sebenarnya sudah selesei. Tinggal mengikat rambut.


"Keburu melar atuh mienya," ujar Bian.

__ADS_1


Merasa tidak ada jawaban dari Vega, Bian segera membalikan padanya. Benar saja, gadis itu sedang duduk didepan meja rias sambil sibuk menyisir rambutnya.


Pemandangan yang sangat indah menurut Bian. Bian berjalan mendekati Vega dan meletakan nampan tersebut di depan Vega.


"Silahkan bayik singa, ini sajennya," ucap Bian.


Spontan Vega memukul punggung Bian.


"Sajen sajen, dikira mahluk halus apa dikasih sajen," ujar Vega geram.


"Hahahha, dari belakang udah kaya mak kunti lagi nyisir rambut soalnya," bohong Bian.


"Mending Kakak keluar deh dari kamarku, daripada bikin kesel terus kerjaannya," Vega berdiri dan menarik tangan Bian untuk keluar. Namun Bian tidak bergerak semili pun dari tempatnya berdiri.


"Iya - iya maap, aku cuma becanda Ve. Kamu cantik banget kok dengan rambut panjang tergerai," ucap Bian menenangkan Vega.


"Sini kamu duduk, di makan spagetinya keburu melar. Biar Kakak yang mengikat rambutmu supaya tidak kemakan," ucap Bian sambil mengarahkan Vega untuk duduk kembali di kursi.


Vega mengambil sendok dan mengamati Spageti di depannya itu.


"Kok putih kak sausnya, beda sama yang dulu," tanya Vega. Ia mengira kalo Bian malah membelinya di restoran, bukannya memasak sendiri.


"Iya beda dong, yang sekarang carbonara," jawab Bian sambil mencoba mengikat rambut Vega.


"Iya lah masak sendiri, kan kamu yang minta. Spageti ini namanya 'Spaghetti full of love with special sauce for a little extra spice in your life combined with the right kind of salt sprinkled with sincerity, served with the warmth of a Bian's heart' yeah," ucap Bain mengarang nama tanpa jeda napas sedikit pun. Seperti orang yang sedang nge rap.


Vega tertawa kecil sambil mengunyah makanannya.


"Spageti apa kak?"


"Spaghetti full of love with special... emmm.. apa tadi?" Bian tidak bisa mengulang lagi nama makanan yang Ia sebutkan tadi.


Vega tertawa terbahak - bahak hingga keselek. Ia merasa gemas sekali dengan tunangannya itu. Bian segera mengambil teh di nampan untuk Vega.


"Minum dulu Ve," ujar Bian khawatir melihat Vega terbatuk - batuk karenanya. Namun rambut Vega tersangkut di gelas yang dia pegang. Bian memang belum berhasil mengikat rambut Vega sejak tadi.


"Susah sekali hanya mengikat rambut," gerutu Bian kesal sambil mencoba kembali mengikat rambut Vega. Vega tersenyum kecil melihat ekspresi Bian dari pantulan cermin di depannya. Vega melanjutkan menyantap spageti di hadapannya.


Bian telah berhasil mengikat rambut Vega, namun masih dengan menyisakan anak rambut sedikit di bagian tengkuk leher Vega.

__ADS_1


"Dah selesei," ucap Bian.


Vega memeriksa ikatan Bian buat dengan menengok ke kanan dan ke kiri di depan cermin.


"Ini apa kak, kenapa ga diiket semua," protes Vega.


"Habisnya anak rambut itu ga mau nurut sih Ve. Dia jatuh terus," jawab Bian membela diri.


Lagi - lagi Vega hanya bisa tertawa melihat sikap lucu Bian.


"Kakak mau nyoba spagetinya?" tanya Vega sambil mengarahkan sendok spageti ke arah mulut Bian.


"Aaa.."


Bian langsung membuka mulut dan mengunyahnya.


"Emm, kan udah lembek," ujar Bian mengomentari spageti di mulutnya.


"Tapi tetep enak kok kak," ucap Vega.


"Iya dong enak, siapa lagi yang bikin," jawab Bian menyombongkan diri.


Bian segera membereskan piring dan gelas yang mereka gunakan setelah menghabiskan makanan tersebut.


"Biar aku saja kak yang cuci," Vega menawarkan . Seperti saat di apartemen, Bian bertugas memasak, sedang Vega bertugas mencuci piringnya.


"Gausah, biar Kakak saja," ucap Bian membawa nampan ke pintu keluar. Vega segera membukakan pintu untuk Bian keluar. Vega sudah kembali menutup pintu, ketika Ryan berpapasan dengan Bian.


"Ngapain kalian berduaan di dalam kamar?" tanya Ryan sok menyelidik sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dia bertingkah seolah orang yang lebih tua yang sedang memarahi anak yang lebih muda.


"Ga lihat nih nampan? ngapain lagi kalo bukan makan," jawab Bian kesal melihat tingkah Ryan.


Melihat Bian yang memarahinya, Ryan langsung kembali ke mode seorang adik.


"Oh kirain ngapain," jawab Ryan sambil berlalu kabur menuju kamarnya. Dia selalu gagal jika ingin menggoda Kakaknya itu. Keburu Bian ngamuk terlebih dahulu.


...Bersambung...


Hai, selama malam readers semua. Makasih sudah setia mengikuti kisah Jodohku Seorang Artis.

__ADS_1


Menurut kalian ceritanya gimana? alurnya udah pas atau kecepeten? Ada saran dan masukan ga? apa yang perlu ditanbahin atau di kurangin?


Tolong di jawab ya, biar author bisa menulis lebih optimal lagi, heheh. Love u readers terloveee🖤🖤🖤


__ADS_2