Jodohku Seorang Artis

Jodohku Seorang Artis
Bab 30 Wanita pelakor?


__ADS_3

Pagi - pagi sekali Bian mengetuk pintu Vega. Semalam Ia belum sempat bertemu, karena Vega sudah tertidur terlebih dahulu. Vega keluar lengkap dengan setelan kuliahnya.


"Ada apa kak?" Vega bingung mengapa Bian pagi - pagi sudah mengetuk pintunya.


"Are u okay?" tanya Bian dengan tatapan khawatir.


"Yah, I'm okay. Memangnya kenapa?" tanya Vega berpura - pura tidak mengerti.


"Kamu pasti sudah baca semua komentar - komentar artikel itu kan?" tanya Bian.


"Artikel yang mana? semalem aku sangat lelah, jadi langsung tidur," jawab Vega bohong. Ia tidak ingin Bian merasa khawatir.


"Baguslah, kamu tidak perlu membacanya," ucap Bian lega.


"Ada artikel apalagi memangnya kak?" tanya Vega sambil membuka Hp.


"Bukan apa - apa, ayo kita sarapan. Artikelnya pasti sudah lenyap sekarang," Bian menarik tangan Vega ka arah tangga. Vega hanya berjalan menurut.


Hari ini Bian mengantar Vega berkuliah. Ia ingin memastikan Vega aman sampai kampus. Sebenarnya Bian ingin tetap menemani Vega hingga pulang kuliah, namun Ia memiliki banyak pekerjaan yang harus di lakukan. Termasuk menyeleseikan gosip tentangnya.


Saat berjalan dikoridor kampus menuju kelasnya, banyak sekali orang - orang yang berbisik membicarakan Vega.


"Itu kan cewek yang ngerebut Bian dari Syaila," ucap salah satu anak kuliahan disana.


"Oh jadi Dia, bisa - bisanya si pelakor berasal dari kampus kita," timpal yang lain.


"Iya ih, ngerusak reputasi kampus kita aja ya."


"Cantik sih, padahal kan bisa cari yang jomblo aja."


"Cewe itu juga udah godain Kak Danis juga, senior seni itu."


"Dasar pelakor genit."


Orang - orang terus bergosip sambil melihat ke arah Vega. Namun Vega berusaha cuek, dan berpura - pura tidak mendengar. Nita datang merangkul lengan Vega.

__ADS_1


"Dah gausah didengerin, masuk kelas aja yuk" ucap Nita. Vega mengangguk dan masuk ke dalam kelas.


Nita tahu semua hal yang sebenarnya terjadi. Vega bukanlah pelakor seperti apa kata orang. Dari awal Vega selalu menceritakan apapun kepada Nita.


"Lu mau makan di kantin, atau tetap di kelas?" tanya Nita setelah jam kuliah pertama berakhir.


"Aku makan di rumah aja deh, abis responsi nanti kan ga ada kelas lagi," jawab Vega. Ia malas jika harus mendengarkan semua orang bergosip tentang dirinya.


"Aku mo ke toilet dulu," ucap Vega.


"Yaudah gue juga ga makan di kantin, gue ikut ke toilet aja, mau pipis," Nita yang sudah menahan hajatnya sejak kuliah tadi langsung berjalan mendahului Vega.


Vega dan Nita sedang berada di dalam bilik kamar mandi. Samar - samar terdengar suara dua orang wanita yang sedang mengobrol. Sena dan Sarah. Dua wanita angkuh dari jurusan manajemen.


"Tadi lu liat kan gadis pelakor itu? Gatau malu banget. Masih bisa nunjukin wajahnya di kampus," Sena bertanya kepada sarah sambil memperbaiki lipsticknya.


"Iya liat dong, bener kan kata gue. Ga cantik, biasa aja. Bisa - bisanya Danis juga jatuh cinta ke gadis genit itu," jawab Sarah yang sedang mencuci tangannya. Sarah memang sudah jatuh cinta kepada Danis sejak pertama kali masuk ke dalam kampus.


"Kata temen gue yang anak seni, tuh cewe pacaran sama Danis. Soalnya sering di jemput pas kelar kelas," ucap Sena menyinyir.


Vega berusaha menahan amarahnya. Ia ingin sekali berteriak marah kepada dua senior itu. Vega bukanlah tipe orang yang mudah di tindas. Ia biasa membalas teman SMA nya yang mencari gara - gara dengannya atau bestienya. Namun kali ini Ia harus menahan diri. Vega tidak ingin mengundang lebih banyak perhatian. Dan membuat orang - orang semakin membicarakannya.


Namun Nita sebagai sahabat Vega merasa tidak terima. Ia membuka pintu kamar mandi dengan kasar.


Brakkk!!.


"Jaga mulut lu ya, siapa yang ja**ng? lu sedang menyindir diri sendiri kan?" tanya Nita marah kepada kedua senior tersebut.


"Memangnya lo siapa? apa lo juga salah satu komplotan wanita ja**ng itu?" tanya Sena tidak terima.


"Mulut lu mau gue sobek hah? coba katakan sekali lagi!" ancam Nita.


Mendegar suara Nita yang sedang marah - marah, Vega spontan keluar dari bilik kamar mandi. Ia menarik lengan Nita.


"Sudahlah Nit, biarkan saja. Aku gapapa kok," ucap Vega berusaha sabar.

__ADS_1


"Oh pantesan, sama - sama ja**ng sih, jadi ngebelain, kalian pasti sudah menggoda banyak lelaki kan," ujar Sarah mencemooh saat melihat Vega yang baru muncul.


"Lu bener - bener ya, gue sobek beneran mulut ba**sat lu," ucap Nita sambil mendorong bahu Sarah.


Vega langsung menarik tangan Nita untuk mengehentikannya berbuat semakin jauh.


"Udah Nit, gausah di ladenin cewe - cewe berisik, sirik, dan kurang kerjaan ini," ucap Vega.


"Apa lu bilang? brisik? sirik? kurang kerjaan?," Sena bertanya sambil menunjuk wajah Vega, merasa tidak terima.


"Iya, kenapa? aku ngomong apa adanya kok. Kalian memang sirik dan kurang kerjaan kan. Jadi punya banyak waktu buat ngurusin hidup orang. Berisik banget padahal mulutnya cuma satu. Punya hati, tapi kalo ngomong pada ga hati - hati. Merasa paling benar sendiri, tanpa ingin mencari tahu lebih banyak. Berakal budi, tapi kalian lupa kalo kalian juga wanita, tega - teganya mencela wanita lain," ucap Vega panjang lebar karena sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan kedua senior tersebut.


Nita kagum dengan Vega yang sangat pintar dalam berbicara. Vega bisa mengatakan semua hal tersebut dengan tenang, tanpa di sertai rasa marah sedikitpun. Padahal kedua senior tersebut sudah sangat menghinanya.


"Bener deh ya, dari pada kalian sibuk ngurusin hidup orang lain, mending intropeksi diri dulu deh, nikmati dan syukuri hidup kalian," ucap Nita menambahkan.


Sena semakin merasa marah karena di cermahi oleh kedua juniornya tersebut. Dadanya naik turun mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Vega dan Nita. Karna sifatnya yang tempramen, Sena langsung mengamuk.


"Kalian gausah sok suci ya!" teriak Sena sambil menarik rambut kedua juniornya itu.


"Akhhh" teriak Vega dan Nita kesakitan.


Nita tidak terima dan balas menjambak rambut Sena. Melihat sahabatnya mendapat balasan dari Nita, Sarah ikut menarik rambut Nita. Begitupun Vega yang ikut menarik rambut Sarah. Mereka saling berteriak dan menjambak rambut satu sama lain.


"Lepasin ga?" ucap Nita sambil menjabak lebih kuat.


"Lo duluan yang lepasin ja**ng!" ucap Nita.


Mendengar dirinya di panggil jal**g, Nita semakin marah dan mengencangkan tarikan tangannya.


Sarah berteriak kesakitan. Ia merasa rambutnya hampir terkelupas dari kepalanya. Orang - orang mulai heboh menonton pertengkaran mereka melalui pintu toilet. Sarah dan Sena memang terkenal galak dan angkuh. Sehingga orang - orang segan untuk ikut campur urusan mereka. Bisa - bisa hidup mereka di kampus akan terancam, karena mengganggu wanita - wanita sosialita di kampusnya itu.


...Bersambung...


Ikuti terus kelanjutan ceritanya ya readers terloveee, bakalan update setiap hari kok. Saran dan masukan sangat diterima yaaa.

__ADS_1


Terimakasih banyak.


__ADS_2