
Vega turun dan berkumpul dengan keluarganya, ia sengaja memakai kardigan untuk menutup pakaiannya yang sedikit terbuka. Selain itu, banyak sekali tanda merah bekas cumbuan dari Bian tadi.
Bian terlihat sibuk mengobrol dengan Ayah dan Ibu Vega.
Vega hanya menyimak pembicaraan mereka. Ryan sudah pamit ke kamarnya untuk mengerjakan proposal skripsinya.
Jantung Vega masih gonjang - ganjing dengan kejadian tadi. Dia sangat malu duduk di depan tante Riri. Jangan sampai tante Riri memberitahukan kepada Ibunya.
Hari pun semakin malam. Taman sudah kembali di bersihkan dan di rapihkan. Tante Riri menyuruh mereka semua beristirahat. Mengingat kesehatan kakek yang harus dijaga karena semakin tua.
Vega berjalan ke lantai atas bersama Bian.
"Dia memang tenang sepanjang hari, atau hanya berpura - pura" gumam vega pelan melihat Bian yang bersikap biasa - biasa saja setelah kejadian tadi.
Sebelum Vega memasuki kamarnya,
"Vega" panggil Bian.
Vega menengok dengan wajah bertanya.
"Selamat malam" ucap Bian.
"Malam kak" jawab Vega sambil tersenyum.
Ntahlah, malam ini rasanya sangat indah. Rekaman adegan ciuman panas tadi terus berputar berulang - ulang di kepala mereka. Sampai akhirnya mereka bisa tertidur pulas.
***
Siang hari, di minggu cerah.
"Wah ibu sedang sibuk membuat apa?" tanya Vega antusias melihat Ibunya sedang mencampurkan bahan - bahan.
"Mau bikin kue, nanti sore Ibu harus kembali ke Jogja. Jadi sekarang bikin kue dulu buat kalian" jawab Ibu.
"Mmm, aku mo bikin kue juga boleh bu. Aku ingin buat pie buah buat kak Bian hehe" ucap Vega.
"Boleh sini, ayok kita buat kue yang banyak" ajak Ibu.
Vega mulai mencampurkan tepung terigu, butter, gula dan telur. Setelah adonan jadi ia mulai mencetaknya, sebagai kulit pie berbentuk seperti mangkuk. Kemudian ia masukan ke dalam oven.
Sambil menunggu kulit matang, Vega membuat adonan VLA dengan mencampurkan maizena dengan susu dan kuning telur. Kemudian di panaskan. Setelah itu, dimasukan ke dalam mangkuk pie.
Terakhir hias dengan buah sesuai seleran. Vega tidak lupa menyiramnya dengan satu sendok adonan agar - agar yang telah dididihkan.
Taraaaaa... jadi deh pie buah ala Vega.
"Wah ini siapa yang buat kue pie cantik sekalii" tanya tante Riri.
"Aku tan hehe" jawab Vega.
__ADS_1
"Mau dong" sahut Bian dari belakang.
"Jangan yang itu kak" teriak Vega ketika Ryan akan mengambil pie yang sudah ia tata di kotak.
"Yang itu spesial buat kak Bian" sambung Vega. Sedetik kemudian ia merasa malu, karena semua orang langsung menantapnya dengan senyuman smirk.
"Iye iye yang udah tunangan" jawab Ryan. Kemudia dia beralih ke tumpukan pie yang ada di nampan.
"Dari pada disimpen, mending kamu anterin sana ke tempat kerja Bian" suruh mamah Riri.
"Apa gapapa tan? nanti kalo ada yang menanyakan aku siapanya kak Bian bagaimana" tanya Vega ragu - ragu.
"Kan udah pernah ikut kak Bian sekali, kamu bisa mengaku sebagai apa aja" jawab mamah Riri.
"Bilang aja adek sepupu Ve" ucap Ibu menambahkan.
" Yaudah deh, Vega mandi dulu terus berangkat" ucap Vega.
Vega tidak berlama - lama di dalam kamar mandi. Ia sangat semangat akan bertemu dengan Bian. Soalnya tadi pagi ia tidak sempat bertemu dengab tunangannya itu. Pagi - pagi sekali Bian dijemput managernya dan berangkat ke lokasi syuting.
Vega membuka lemari pakaiannya. Ia ingin mengenakan dress abu - abu yang baru ia beli di Mall Ursa bersama Nita. Namun ia merasa baju tersebut terlalu ketat dan pendek.
"Bisa - bisa diamuk kak Bian kalo dateng pake baju begini" gumam Vega mengingat kejadian semalam, dimana kak Bian melarangnya berpakaian sexy selain didepannya.
Akgirnya Vega memilih dress berlengan sedikit panjang. Ia merasa lebih aman memilih baju tersebut.
"Cantik amat yang mau ketemu tunangan" goda Ryan melihat penampilan Vega yang semakin hari semakin feminim.
"Emang kakak doang yang bisa pamer ayang?" jawab Vega tidak mau kalah.
"Iya dah iya yang sekarang bisa, setelah 18 tahun hidup menjomblo, akhirnya ya Ve" canda Ryan lagi.
"Ih kak Ryan mah seneng banget kalo ngledek adik sendiri" ucap Vega sambil memanyunkan bibirnya.
"Hahah abis kamu lucu banget, kalian lucu, hubungan kalian sih yang paling lucu" goda Ryan lagi.
"Tau ah, males ngomong sama kak Ryan" Vega semakin ngambek.
"Yahh, padahal tadi gue mau nawarin tumpangan, sekalian gue mau jemput cewe gue, masa udah cantik - cantik, naiknya ojol" lagi - lagi Ryan menggoda Vega.
"Kalo itu sih pasti mau dong kak, bisa hemat dikit daripada naik ojol" jawab Vega cepat.
Ryan mengantar Vega hanya sampai halte dekat lokasi syuting. Vega berjalan memasuki gedung besar tempat syuting iklan di ambil.
"Eh non Vega, mau ketemu sama tuan Bian?" sapa Simon yang bertemu Vega di lift.
"Iya kak, kak Biannya dimana ya?" jawab Vega yang kebetulan ia bingung mau mencari Bian dilantai berapa.
__ADS_1
"Ayo ikut saya saja" ajak Simon.
Vega mengikuti Simon ke tempat penggambilan syuting iklan di lakukan. Ketika ia memasuki ruang tunggu, ia melihat Bian sedang duduk berdua dengan Syaila. Mereka sedang menunggu setting tempat selesei.
"Aku harus terbiasa dengan ini" gumam Vega yang merasa sedikit cemburu melihat kedekatan antara Bian dan Syaila.
"Kak Bian" panggil Syaila.
Bian yang sedang berlatih naskah dengan Syaila langsung menengok ke sumber suara.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Bian.
Bian sebenarnya sangat senang karena tunangannya itu datang menemuinya. Tapi disisi lain ia tidak ingin melihat Vega cemburu karena dia harus bekerja dengan Syaila secara profesional. Di tambah lagi staff disitu juga tidam tahu menahu tentang hubungan mereka.
"Emm, maaf kak. Aku hanya ingin mengantarkan ini" jawab Vega sambil memberikan kotak pie buah itu.
"Taruh saja disitu" ucap Bian sambil menunjuk meja diruangan itu.
Vega sedikit merasa kecewa. Karena bukan
seperti ini yang dia bayangkan.
"Baik kak" jawab Vega sambil menaruh kotak tersebut diatas meja.
"Simon antarkan dia pulang" perintah Bian kepada Simon.
"Baik tuan" jawab Simon.
"Ayo nona, saya antar" ajak Simon dengan perasaan sedikit tidak enak. Karena belum 5 menit ia disitu namun sudah disuruh pulang.
Vega hanya menurut dan mengikuti Simon pergi meninggalkan lokasi syuting.
"Bukannya kamu sedikit keterlaluan Bi?, dia baru sampe sini tapi kau sudah menyuruhnya pulang" tanya Syaila.
Bian hanya diam tidak menjawab pertanyaan Syaila.
Syaila beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja. Ia penasaran dengan kotak pemberian Vega untuk Bian.
"Wahhh, pie buah Bi. Boleh ku coba satu kan" ucap Syaila sambil membuka kotak tersebut.
"Jangan berani menyentuhnya. Itu milik gue" ucap Bian langsung berdiri dan mengambil kotak tersebut dari Syaila.
"Kan isinya banyak Bi, boleh ya satu" pinta Syaila manja.
"Tidak akan" jawab Bian singkat sambil membawa kotak itu keluar dari ruang tunggu tersebut.
"Bian makin kesini makin berubah deh. Apa dia mulai menyukai gadis desa itu?" gumam Syaila kesal.
__ADS_1
...Bersambung...