
Ibu dan Ayah Vega merasa senang, mendapatkan kabar bahwa anaknya akan segera bertunangan.
Mereka mulai sibuk mendiskusikan hari akan diadakannya pesta pertunangan.
"Pertunangan kalian akan diadakan sabtu malam besok" ucap mamah Riri ketika mereka sedang sarapan pagi.
"Tapi mah, apa tidak terlalu cepat. Bian harus menyiapkan segala macam keperluan" jawab Bian menghentikan makannya.
"Tenang saja, semuanya biar mamah yang urus" jawab Mamah.
Lagi - lagi Bian tidak bisa membahntah perkataan mamahnya.
Vega hanya diam dan berniat mengikuti apa saja kemauan ibu dan anak itu.
"Nanti sore kamu temani Vega mencoba gaun di butik langganan mamah" ucah mamah Riri.
Bian tidak menjawab perintah mamahnya.
"Bian udah selesei makan, berangkat dulu mah pah" pamit Bian.
"Bian jangan lupa nanti sore jam 3!" seru mamah Riri melihat anaknya pergi begitu saja tanpa mengiyakan perintahnya.
Vega sedih melihat Bian kembali dingin.
Apa kak Bian menyesal akan bertunangan denganku, batin Vega.
Mamah Riri tidak tega melihat Vega yang tib - tiba murung melihat kelakuan anaknya.
"Kamu ga usah khawatir Ve, nanti sore pasti Bian mengantarmu" mamah Riri menenangkan Vega.
"Iya tante" ucap Vega memaksakan senyuman.
***
Hari ini Vega sengaja berangkat kuliah satu jam lebih awal. Ia ingin bertemu dengan Danis terlebih dahulu.
"Halo kak Danis" ucap Vega melalui panggilan telepon.
"Kak Danis dimana?" tanya Vega lagi yang telah menunggu 15 menit di salah satu cafe dekat kampus.
"Iya ini di parkiran" jawab Danis.
"Oke kak aku tunggu" jawab Vega.
Vega sedang sibuk merangkai kata untuk menolak Danis. Ia sebenarnya tidak tega membuat pria itu patah hati.
Danis berlari menuju meja Vega sambil ngos ngosan.
"Maaf Ve, tadi ada kecelakaan dijalan. Jadi sangat macet" ucap bian meminta maaf sambil duduk di depan Vega.
"Kenapa ingin bertemu pagi - pagi?" tanya Danis lembut.
Sebenarnya ia sudah merasa tidak enak, karena Vega tiba - tiba ingin bertemu untuk menyampaikan sesuatu.
"Maaf kak, aku mau menjawab permintaan kakak yang semalem" ucap Vega dengan tatapan sedikit bersalah.
Melihat raut waja Vega yang ragu - ragu, Bian semakin yakin kalo pagi ini dia akan ditolak.
"Emm, jadi gini kak"
"Kamu ga perlu buru - buru kok Ve" potong Danis.
"Kamu gaharus jawab sekarang. Kan aku dah bilang bakal nunggu sampai kapanpun kamu siap " sambung Danis.
__ADS_1
"Aku akan bertunangan kak" jawab Vega cepat.
Deg.
Hati bian langsung hancur berkeping - keping. Ia memang sudah mempersiapkan diri untuk ditolak. Tapi Danis tidak mengira jika gadis itu akan bertunangan dengan orang lain.
"Siapa Ve, siapa yang akan bertunangan denganmu?" tanya Danis lesu.
"Kak Bian" jawab Vega merasa bersalah.
"Serius? tapi kan kak Bian pacarnya Syaila Ve" ucap Danis tidak percaya.
"Awalnya kami memang sempat menolak perjodohan ini, tapi kami sudah sepakat untuk bertunangan" jawab Vega.
"Kamu mencintainya Ve?" tanya Danis sambil melihat mata Vega.
Vega hanya menganggukan kepala.
Danis terdiam dan berpikir.
"Jika kamu berharap aku akan mundur dan menjauhimu, maaf Ve, aku ga bisa" ucap Danis.
"Meskipun kamu sudah bertunangan dengan oran lain, aku akan tetap disisimu Ve" sambung Danis lagi.
"Tapi kak, aku gamau kakak terluka pada akhirnya" jawab Vega.
"Pliss Ve, jangan menyuruhku pergi. Beri aku kesempatan" mohon Danis.
"Setidaknya kita tetap bisa berteman" sambung Danis.
"Kamu harus berjanji, datanglah kepadaku jika pria itu membuatmu menangis" ucap Danis lagi.
Vega hanya bisa mengangguk mengiyakan.
Baru kali ini seorang Danis terlihat begitu terpuruk, karena mendapat penolakan dari seorang wanita. Ia memang tulus mencintai Vega. Kali ini Danis ingin menjadikan Vega sebagai pelabuhan terakhir untuk hatinya.
***
Jam sudah menunjukan pukul 15.17. Namun kak Bian belum juga menjemput Vega di kampus. Vega sudah menunggu Bian sejak pukul 14.30.
Vega mencoba menghubungi nomor Bian kembali. Namun lagi - lagi Bian tidak mengangkat teleponnya.
Akhirnya Vega memutuskan untuk pulang ke rumah karena sudah pukal 16.00.
"Loh kok pulang? Bukannya ke butik?" tanya mamah Riri ketika melihat Vega masuk kedalam rumah.
"Emmm, kak Bian gabisa dihubungi mah. Aku sudah menunggu sejak jam setengah tiga. Tapi dia tidak kunjung datang" jawab Vega sedih.
Tanpa terasa air mata Vega menetes. Mamah Riri langsung memeluk Vega dengan erat.
"Biar tante yang temenin yah" ucap mamah Riri.
Vega mengangguk sambil mengusap air matanya. Ia sendiri tidak tahu, kenapa bisa jadi selemah ini soal urusan hati.
"Sana kamu mandi dulu, nanti jam 5 kita otw" perintah mamah Riri.
"Baik mah" jawab Vega.
Akhirnya mamah Riri mengantar Vega ke butik. Ryan juga ikut. Kebetulan ia juga ingin membeli setelan jas. Sudah lama sekali Ryan tidak membeli pakain formal.
Sesampai di butik, pegawai sudah menyiapkan sederet gaun mewah yang indah, namun tidak berlebihan.
"Coba yang warna pink itu Ve" perintah mamah Riri.
__ADS_1
"Baik mah" Riri masuk ke dalam fitting baju. Ia dibantu pegawai untuk mencoba baju tersebut.
"Wah cantik sekaliii" ucap mamah Riri saat melihat Vega keluar dari tempat ganti.
"Tapi ada yang kurang deh. Coba baju yang satunya dulu" sambung mamah Riri.
Vega kembali memasuki ruang ganti.
Tapi mamah Riri lagi - lagi belum merasa puas dengan penampilan Vega.
Akhirnya sampai ke gaun yang terakhir. Vega sebenarnya sudah merasa lelah karena tidak satupun gaun sebelumnya yang mamah Riri suka.
"Mah gimana yang ini" tanya Vega ragu - ragu.
Mamah Riri dan Ryan menengok ke arah Vega.
"Wahhh, perfect sayang. Kamu liar biasa cantik" ucap mamah Riri.
Ryan bertepuk tangan sambil mengagumi kecantikan Vega.
Cekrek, Ryan memoto Vega secara diam - diam. Kemudian ia mengirimkannya kepada Danis. Ryan sengaja ingin membuat Danis menyerah untuk mengejar Vega.
Ryan tahu bahwa Vega sudah menolak Danis tadi pagi. Sepanjang kelas hari ini, Danis terlihat murung dan sangat sensitif terhadap orang lain. Ia tidak segan memarahi temannya yang membangunkannya ketika kuliah. Sebenarnya Danis tidak tidur, ia hanya menutupi air matanya yang tidak berhenti mengalir.
"Kita ambil yang itu mba" ucap mamah Riri ke pegawai butik.
"Tapi apa tidak terlalu terbuka mah" protes Vega yang merasa bahwa gaunyya terlalu sexy untuknya.
"Tidak sayang, ini sangat cocok untukmu" jawab mamah Riri.
"Baiklah" jawab Vega sambil mengangguk
"Untuk setelan prianya tidak sekalian di coba?" tanya pegawai sambil mencari - cari dimana calon tungannya prianya.
"Tidak usah mba, asalkan sudah sesuai ukuran. Langsung saja di bungkus" jawab mamah Riri. Sebenarnya ia sangat kesal karena anaknya itu tidak mau menemani calon tunangannya mencoba gaun pertunangan.
"Kamu udah yan milih bajunya?" tanya mamah Riri beralih ke anaknya.
"Udah mah, Ryan ambil yang tadi" jawab Ryan.
"Gimana untuk cincinnya mah?" tanya Ryan kepada mamah Riri. Ryan sebenarnya juga mearasa kasihan kepada Vega yamg harus menikah dengan kakaknya. Bian memang tidak pekaan.
"Biarkan Bian saja yang beli. Kali ini ia harus pergi sendiri bersama Vega" jawab mamah tegas.
Vega telah selesei mengganti pakainnya. Mamah Riri mengajak mereka berdua untuk mampir untuk makan malam disalah satu restoran favoritnya.
Ketika aka memasuki resto, tiba - tiba ada yang menyapa mereka.
"Hai calon besan" ucap Lisa, mamah dari Syaila.
Mamah Riri bingung harus merespon apa. Dia hanya coba mengangguk sambil memaksakan senyumannya.
"Kebetulan sekali, kalian juga mau makan disini?" tanya Lisa.
"Iya, kami mampir untuk makan malam" jawab Mamah Riri singkat.
"Tadi Syaila memberitahuku bahwa ia sedang bersama Bian dipuncak, untuk pemotretan sampul filmnya" ucap Lisa tiba - tiba.
Sebelum Lisa menyeleseikan ucapannya, mamah Riri segera meninggalkan Lisa bersama anak bungsunya, yaitu Tia. Adik Syaila.
"Maaf jeng, kami masuk dulu, sudah sangat lapar soalnya" ucap mamah Riri. Ia tidak ingin Vega mendengar hal - hal menyakitkan lagi.
Bersambung
__ADS_1