
Sore hari, mamah Riri, papah, kakek, dan Ryan telah kembali ke rumah.
Mamah Riri menyiapkan makan malam. Ia membawa banyak makanan dari Bogor. Setelah jam makan malam tiba, semua berkumpul di ruang makan.
Namun tidak dengan Bian dan Vega. Sejak pulang sore tadi, mereka langsung masuk kedalam kamar masing - masing.
"Yan coba panggil kakamu dan Vega. Kenapa mereka tidak turun - turun, atau sudah pada makan?" perintah mamah Riri sambil bertanya - tanya bingung.
"Ah, Ryan udah laper banget padahal" Ryan segera berlari menaiki tangga.
Tok tok tok
"Kak Bian sudah di tunggu di ruang makan buruan" teriak Ryan kemuduan beralih ka kamar Vega.
Tok tok tok
"Vega ayok sudah di tunggu mamah di bawah" teriak Ryan memanggil Vega.
Vega kemudian keluar kamar. Ia melihat pintu Bian yang mulai terbuka dari dalam. Sebelum Bian keluar, Vega langsung berlari munuruni tangga dan menyalip Ryan. Ia masih malu untuk berpapasan dengan Bian
Bian yang melihat Vega lari menuruni tangga seperti dikerjar setan, langsung tersenyum kecil.
Mereka makan dengan tenang.
Vega makan sambil tertunduk dan hanya berani melihat ke arah makanannya. Begitupun dengan Bian.
Ketika tidak sengaja bertatapan, Vega dan Bian lamgsung mangelihkan pandangan ke arah lain.
Mereka tiba - tiba teringat dengan ciuman panas semalam.
Mamah memperhatikan tingkah laku kedua anak tersebut.
Pasti sudah terjadi sesuatu diantara kalian berdua, batin Mamah sambil menyunggingkan senyum kemenangan.
Mamah Riri merasa berhasil akan ide liciknya, meninggalkan mereka berdua di rumah.
Hari - hari berikutnya pun sama. Bian dan Vega hanya saling mencuri - curi pandang sedikit, tanpa berani menyapa atau mengajak berbicara terlebih dahulu.
***
Sabtu sore.
"Tante, nanti malam Vega ijin ga ikut makan malam di rumah ya" ijin Vega.
"Loh kenapa memangnya nak? " tanya mamah Riri.
"Anu itu tante, temen Vega ada yang ngajak jalan - jalan" jawab Vega.
"Cowo atau cewe temenmu Ve?" tanya tante kembali.
"Cowo tan, dia teman kelasnya kak Ryan" jawab Vega.
Kemudian Bian lewat untuk mengambil minum di dapar.
"Oh kamu mau malmingan sama cowo toh" ucap mamah Riri sengaja meninggikan suaranya agar terdengar sampai ke telinga Bian.
"Bukan malmingan sih tan, cuma jalan aja karena sudah terlanjur janji" jawab Vega yang merasa tidak enak hati, karena ia kan sudah dijodohkan dengan kak Bian.
"Gapapa Ve, kamu bebas kok main dengan siapa aja. Kan kalian masih sama - sama belum menyetujui soal perjodohan" jawab tante Riri lagi sambil sedikit melirik ke arah Bian.
Mamah sengaja memanasi Bian. Namun ternyata pria yang sengaja di panasi itu, tidak memberikan respon apapun. Dan kembali ke lantai atas setelah minum.
Malam ini Vega tampil cantik. Ia memakai baju yang ia beli secara onlen. Vega sudah mengisi lemarinya penuh dengan baju - baju cantik pilihan Nita. Ia memang bertekad untuk menjadi wanita anggun dengan bantuan bestienya itu.
Vega memilih dress panjang berwarna coklat pastel. Dress itu tidak memiliki lengan, sehingga Vega memakai kardigan berwarna putih untuk menutupi lengan panjangnya.
__ADS_1
Ketika sedang mengaplikasikan bedak di wajahnya, Vega mendengar bunyi klakson mobil di lantai bawah. Danis memang bilang akan menjemputnya sekalian meminta ijin ke mamah Riri.
Setelah di rasa perfect, Vega mengambil tasnya dan bergegas keluar menemui Danis.
Di ruang tamu terlihat Danis sedang asik mengobrol dengan mamah Riri dan Ryan.
Mata Danis terpaku ketika melihat penampilan Vega yang menurutnya sangat cantik malam ini. Di tambah dengan pita kecil yang Vega kenakan di untuk menjepit poninya. Rambut vega hanya di ikat sedikit ke belakang.
"Ini dia anak yang ditunggu - tunggu sudah siap" ucap mamah ketika melihat Vega masuk ke ruang tamu.
"Kita pamit dulu ya tan" ijin Vega tanpa berlama lama lagi.
"Hati - hati sayang" jawab mamah Riri.
"Jaga adik gue bro" ujar Ryan kepada Danis.
"Tentu" jawab Danis
Kemudian mereka berangkat menggunakan mobil sport berwarna kuning milik Danis.
Bian melihat melalui kaca jendela kamarnya. Ia mengepalkan tangannya, melihat vega memasuki mobil Danis.
Tiba - tiba telepon Bian berdering.
"Halo" jawab Bian cuek.
"Sayang ayo kita makan diluar, sudah lama kan kita tidak pergi bersama" ajak Syaila di seberang telepon.
Bian mengiyakan ajakan Syaila. Ia sudah seperti cacing kepanasan di dalam kamar. Bian tidak mau gila memikirkan calon istrinya itu sedang malmingan dengan cowo lain.
Bian menuruni tangga dengan membawa kunci mobil miliknya.
"Loh mau kemana sayang? Tidak makan dirumah?" tanya mamah Riri melihat anaknya sudah berpakain rapi akan berpergian.
"Oh sama Syaila toh. Tadi kalo gasalah Danis mau ngajak Vega makan di cafe seafood Y dekat monas deh" ucap mamah Riri sengaja memberitahukan kemana Vega pergi.
Bian pura - pura tidak peduli dengan ucapan mamahnya. Ia hanya mencium tangan mamahnya, kemudian beranjak pergi.
Bian menjemput Syaila di depan lobby apartemen Syaila.
"Kita kemana sayang? Kok kesini" tanya Syaila melihat jalan yang mereka lewati bukanlah jalan tempat tujuan mereka. Padahal Syaila mengajak Bian untuk ke restoran itali, tempat yang biasa mereka kunjungi.
"Aku sedang ingin makan seafood" jawab Bian.
Syaila tidak bisa menolak keinginan pacarnya itu. Sudah untung ia bisa jalan berdua lagi dengan Bian. Karena akhir - akhir ini susah sekali untuk menghubungi Bian.
***
Vega dan Danis sampe di Cafe milik orang tua Danis, yang ada di dekat Monas. Kemudian ia memilih kursi yang tidak jauh dari panggung. Cafe ini kebetulan memiliki band musik untuk menghibur pengunjung.
Tidak jarang juga Danis tampil sesekali di cafe tersebut.
"Kamu mau makan apa?" tanya Danis sembil menyerahkan buku menu.
"Mau yang mahal" jawab Vega bercanda.
"Oke, buatkan semua makanan mahal yang ada disini" suruh Danis kepada pelayan cafe.
"Kak, aku cuma bercanda" ucap Vega yang syok.
"Gapapa, semuaya gratis dan spesial untuk wanita cantik ini" jawab Danis sambil tersenyum.
Saat menunggu makanan disajikan, Vega melihat Bian memasuki Cafe bersama Syaila. Mereka memilih kursi di sebelah pojokan.
__ADS_1
Sejak masuk kedalam cafe, mata Bian tidak pernah lepas menatap Vega. Vega merasa risih karena di tatap terus menerus.
"Kak aku ijin ke toilet dulu ya" Vega meminta ijin kepada Ryan.
"Oke, mau ku temenin ga?" jawab Ryan menawarkan.
"Gausah kak, bentar doang" jawab Vega.
Vega membasuh kedua tangannya. Ia tidak habis pikir, kenapa kak Bian bisa berada di cafe yang sama dengannya.
Saat keluar dari toilet, tiba - tiba ada tangan kekar yang menariknya ke arah tempat yang sepi.
Bian menghimpit Vega ke tembok.
"Kau mau jadi wanita ****** hah?. Mau menggoda laki - laki lain ketika sudah punya calon suami" tanya Bian kasar.
Hah, gasalah. Kak Bian sendiri juga tetep jalan sama kak Syaila. Tetep nemplok sana sini, batin Vega.
Tanpa terasa air mata Vega jatuh. Ia merasa sakit hati ketika disebut sebagai wanita ******.
"Lepasin kak" Vega mendorong tubuh Bian menjauh.
Bian yang melihat gadis kecil itu sedikit menangis, langsung melepaskan genggamannya dari tangan Vega.
Vega berlari kembali masuk ke dalam cafe, sambil mengusap air matanya.
"Maaf lama kak" Vega meminta maaf kepada Danis, karena meninggalkannya terlalu lama.
"Aku hampir saja menyusulmu tadi" jawab Danis.
"Buruan dimakan keburu dingin" ajak Danis yang sedari tadi menunggu Vega untuk makan bersama.
Bian pun kembali masuk ke dalam cafe.
Maafkan aku Ve, batin Bian.
"Kamu kemana aja Bi?" tanya Syaila setelah melihat Bian kembali.
"Toilet" jawab Bian singkat.
Bian tidak bernapsu untuk menghabiskan makanannya.
Disisi lain, Vega sudah menghabiskan dua posri makanan mahal yang di pesan Danis. Sebenarnya ia sudah merasa sangat kenyang, namun ia tidak enak hati karena Danis sudah memesan banyak makanan.
"Tunggu sini ya" ucap Danis.
Danis berlajan ke arah panggung yang kosong itu. Kemudian ia naik dan menyetel gitar. Danis juga mengetes microfon.
Setelah siap,
"Test test. Ehem. Selamat malam semua, kali ini gue mau bawaain sebuah lagu spesyal yang gue tulis sendiri. Lagu ini khusus buat wanita yang sedang duduk disana" ucap Danis sambil menunjuk Vega.
Semua pengunjung cafe langsung bertepuk tangan riuh melihat mereka berdua.
Vega yang merasa ditatap oleh semua pengunjung, merasa malu. Kemudian ia melirik ke arah Bian yang sedang menatapnya tajam. Vega langsung mengalihkan pandangannya dan bersikap masah bodoh.
Danis mulai menyanyikan sebuah lagu. Sebenarnya ia jarang sekali bernyanyi di depan umum. Biasanya ia hanya mengiringi vokalis dengan bermain gitar.
Di ujung lagu Danis terdiam dan menatap Vega.
Semua penonton pun ikut diam dan menunggu dengan tegang.
Kemudian Danis mulai berbicara.
"Aku tahu kalo selama ini sudah menjadi pria brengsek yang memiliki banyak cewek di sana - sini. Aku sungguh menyesal. Dan kali ini aku tulus padamu. " ucap Danis mulai serius.
__ADS_1
"Vega Putri Cayapata, I love U, maukah kamu menjadi pacar Danis Putra Hermawan?"
Bersambung