Jodohku Seorang Artis

Jodohku Seorang Artis
Bab 28 You're my only sunset


__ADS_3

Jam dinding di kamar Vega sudah menunjukan pukul 16.07. Vega keluar dari kamar dengan pakaian rapi. Ia sudah mandi. Vega berjalan ke arah ruang tamu. Ternyata Bian sudah menunggunya disana.


"Kamu sudah siap Ve?" tanya Bian bersemangat ketika melihat Vega.


"Hmm, sudah. Tapi apa tidak terlalu dini kak. Ini baru jam 4," ucap Vega. Ia tidak menyangka jika Bian sudah bersiap lebih cepat juga, sama sepertinya.


"Tidak apa - apa, kita bisa berjalan - jalan dulu di tepi pantai sambil menunggu matahari terbenam," ucap Bian.


"Baiklah kak, aku ambil topi dulu," jawab Vega kembali ke kamarnya.


Mereka berjalan beriringan di tepi pantai. Kebetulan hari itu banyak sekali pengunjung lain yang juga ingin melihat sunset. Tumben sekali, tidak seperti biasanya yang hanya ramai di hari weekend.


"Kakak tidak apa- apa ga pake masker?" tanya Vega mengingatkan Bian.


"Gapapa," jawab Bian singkat.


"Nanti banyak yang mengenalimu bagaimana?" tanya Vega lagi.


"Tidak masalah," jawab Bian sambil tersenyum.


Vega kemudian menggandeng tangan Bian dan menariknya. Ia membawa Bian ke tempat yang sering ia datangi berasama temannya. Di tempat itu aman, tidak ramai pengunjung. Vega ingin melepas genggamannya, namun Bian menahannya. Bian tidak ingin melepaskan tangan Vega.


Vega hanya menurut. Mereka berjalan bergandengan di tepi pantai yang di kelilingi oleh tebing tinggi. Bian teringat akan sesuatu. Tangan satunya lagi mengusap lumut yang tumbuh di bebatuan, di sekitar tebing tersebut.


"Nah masih ada," ucap Bian.


Vega mengarahkan pandangannya ke arah batu tersebut. Di situ terukir dua nama.


"Bian 🖤 Vega"


Tulisan itu sudah sedikit pudar. Namun masih jelas terbaca.


"Kapan kakak menulis ini?" tanya Vega sambil mengusap batu tersebut.


"Dulu, saat aku bersembunyi meninggalkanmu dengan sepeda polkadot itu" ucap Bian mengingatkan.


"Jadi apakah saat itu kakak juga sudah mencintaiku?" tanya Vega penasaran.


"Aku tidak tahu kapan tepatnya, tapi yang jelas jauh sebelum waktu itu," jawab Bian mantap.


"Tapi mengapa dulu kakak pergi meninggalkan Vega, bahkan kakak tidak pernah mengujungi Vega lagi di Jogja," ucap Vega bersedih.

__ADS_1


"Maafkan kakak Ve, kakak tidak bermaksud meninggalkanmu sayang," jawab Bian membelai kepala Vega dengan tangan satunya.


Bian kemudian menceritakan alasannya tidak pernah kembali lagi bermain ke Jogja. Bian juga menjelaskan kenapa dia tidak langsung menerima perjodohan mereka.


"Jadi itu semua karena pesan kakek kak?" tanya Vega tidak percaya.


Bian mengangguk mengiyakan.


"Tapi kak, sehari sebelum kakek meninggal, ia berpesan kepadaku. Ia menyuruhku untuk jatuh cinta hanya kepadamu kak. Katanya kelak aku hanya boleh menikah denganmu. Makannya seumur hidup, Vega jadi jomblo seperti ini," jawab Vega sambil sedikit kesal.


"Oh ya???" tanya Bian tidak percaya. Bian sangat senang, karena ia tidak mengingkari janjinya kepada Kakek Vega.


"Terus kamu menyesel sudah merelakan waktu seumur hidupmu menjadi jomblo untuk menungguku melamarmu?" tanya Bian menggoda.


Vega menggelengkan kepalanya malu. Ia merasa senang, sangat senang. Sejak dulu Vega memang hanya mencintai Abian Alfa Seirious.


Bian merasa gemas dengan sikap Vega yang malu - malu. Kemudian Ia menarik tubuh Vega mendekat. Bian mendekatkan wajahnya ke wajah Vega, dan menciumnya. Vega langsung membalas ciuman Bian. Ia merasa sudah sangat ahli meskipun baru beberapa kali berciuman dengan Bian.


Mereka melepaskan ciuman mereka, ketika menyadari ada seseorang yang tidak sengaja lewat di samping mereka. Bian tersenyum kecil menatap Vega yang tersipu malu, karena berciuman di depan orang lain.


Bian kembali mengandeng tangan Vega berjalan menyusuri pantai. Matahari sudah hampir tengelam di garis cakrawala dari arah barat.


Bian mengambil ponsel di sakunya. Kemudian mengambil foto selfie dirinya dengan Vega, membelakangi matahari. Bian menyandarkan kepalanya di bahu Vega. Cekrek. Wajah mereka tidak terlalu jelas terlihat di foto, karena backlight. Kamera lebih fokus akan keindahan matahari terbenam itu.


"Apakah ada yang lebih damai daripada menikmati keindahan matahari terbenam yang tenang bersama orang yang dicinta? Saat matahari menghilang di bawah cakrawala, menciptakan nuansa romantis merah dan oranye di langit, dunia memiliki kesempatan untuk bernafas dan meremajakan. Sementara matahari terbenam adalah akhir literal untuk hari, mereka juga menjadi simbol perdamaian, harmoni, dan janji pembaruan. Matahari terbenam adalah pengingat yang bagus untuk beristirahat dan mengatur ulang hati dan pikiran kita di penghujung hari" Bian mengetik panjang lebar.


Kemudian ia mengakhiri caption tersebut dengan, "You're my only sunset 💍". Bian menekan tombol kirim.


"Kamu akan mendapat masalah kak, memposting foto itu," ucap Vega khawatir.


"Ini masalah pertama yang harus kita hadapi bersama Ve, asalkan kamu berjanji untuk tetap setia di sampingku. Bagiku semua masalah bisa kita atasi," ucap Bian yakin.


Vega tersenyum menatap Bian, "Aku janji kak."


Bian mengecup tangan Vega lembut.


"Sejak kapan kakak bisa seromantis itu membuat caption. Biasanya juga cuma tiga atau empat kata doang," ujar Vega yang sejak dulu mengikuti Bian di instagram.


"Hahaha, aku tiba - tiba ingat sesuatu yang pernah ku baca di sebuah novel romance," jawab Bian asal.


"Memang kakak pernah baca novel?" Vega meledek Bian.

__ADS_1


"Ya pernah dong, aku sering berlatih akting dengan membaca percakapan di novel - novel," jawab Bian bersungguh - sungguh.


"Oooou," Vega hanya ber - O ria.


"Kenapa cuma Ooo?" tanya Bian tidak terima. Vega seolah - olah tidak percaya akan ucapannya.


"Mau bukti? Novelnya masih ku simpan kok di kamarku," ucap Bian.


"Engga, aku percaya kok kak," ucap Vega.


"Bibirmu mengatakan percaya, tapi wajahmu menyiratkan tidak percaya Vegaaaaa," protes Bian.


"Ya mau gimana lagi kak, wajahku memang seperti ini. Kan aku bukan artis seperti kakak yang bisa berekspresi apapun sesuai kehendak," Vega membela diri.


"Oke aku memang artis, tapi aku tidak pernah bisa akting di depanmu Ve. Semua yang ku lakukan tulus," ucap Bian meyakinkan Vega.


Bian mengecup bibir Vega sekilas, "Termasuk ini."


Vega balik mengecup bibir Bian. Bian kaget, sejak kapan Vega seberani ini. Ia menangkup kedua wajah Vega dan mencium Vega dengan dalam. Vega mendorong tubuh Bian menjauh.


"Nanti kalo ada yang lewat lagi gimana kak?" Vega menengok ka kanan dan ke kiri.


"Tidak apa - apa, gada orang lain, ini sudah gelap," jawab Bian kembali menarik tubuh Vega dan menciumnya. Vega kembali mendorong tubuh Bian.


"Kalo bukan orang, itu apa? hantu?" tanya Vega sambil menunjuk orang yang berlalu di pantai itu.


Bian tertawa pelan.


"Maksudku, dia tidak melihat kita," ucap Bian. Bian kembali menarik Vega ke dekapannya. Ia mencium bibir Vega dengan lembut. Kali ini Vega membalas ciuman Bian. Entah sudah ciuman ke berapa, sehingga mereka sudah sangat ahli saling membalas. Namun ciuman mereka harus terhenti ketika,


Teplak.


Vega menepak jidat Bian. Ia samar - samar melihat nyamuk hinggap di jidat Bian.


"Aww," pekik Bian sambil mengelus jidatnya. Vega memang- menepaknya dengan sangat keras.


Vega tidak bisa menahan ketawanya.


"Banyak nyamuk kak, ayo pulang udah gelap," Vega berdiri sambil menarik tangan bian supaya ikut bangun.


...Bersambung...

__ADS_1


Gimana readers terlovee?, akhirnya bisa bernapas lega yaaa, mereka udah baikan lagi.


__ADS_2