Jodohku Seorang Artis

Jodohku Seorang Artis
Bab 18 Hari pertunangan


__ADS_3

Pagi - pagi sekali Ayah dan Ibu Vega sudah sampai ke rumah besar. Mereka berangkat naik mobil dari jogja kemaren sore.


Ibu memeluk putrinya senang, karena akhirnya mereka mau menerima perjodohan tersebut.


"Selamat ya nak, kamu akan bertunangan" ucap Ibu kepada Vega.


"Iya makasih Bu" jawab Vega.


Mamah Riri mengajak Ayah dan Ibu Vega masuk ke dalam rumah, untuk melanjutkan mengobrol di dalam.


" Maaf ya jeng, kami tidak ikut mempersiapkan acaranya" kata Ibu.


"Gapapa jeng, semua udah beres tenang saja" jawab mamah Riri.


Vega ijin masuk ke mamar, karena ada beberapa treatment yang haru ia lakukan.


"Vega ke atas dulu ya yah bu" ijin Vega.


Setelah Vega naik ke atas, barulah Ibu dan Mamah Riri heboh berjulid.


"Jadi gimana ceritanya jeng, kenapa mereka sampai memutuskan untuk bertunangan secepat ini" tanya Ibu Anna.


Mamah Riri menceritakan semuanya, dari mulai meninggalkan Vega dan Bian berdua dirumah, kemudian Vega di jemput teman kampusnya bernama Danis, dan sampe akhirnya Bian mengumumkan akan bertunangan dengan Vega.


"Oh jadi Bian cemburu dengan anak yang bernama Danis itu?" tanya Ibu Anna sambil tersenyum.


"Iya jeng, aku sengaja memberitahukan kemana Vega dan Danis pergi" jawab mamah Riri.


"Ternyata rencanaku berhasil" sambung mamah Riri senang.


"Jangan - jangan mereka sudah melakukan itu saat dirumah hanya berdua" ucap Ibu Anna.


Mendengar istrinya berkata yang tidak - tidak, Ayah langsung menegurnya.


"Hush Ibu, melakukan apa. Vega bukan gadis yang seperti itu" tegur Ayah.


"Apa sih yah, maksudku telah melakukan kesepakatan untuk saling memberi kesempatan jatuh cinta" ucap Ibu bohong.


Mamah Riri hanya tertawa sambil bertatapan dengan Ibu Anna.


Hari ini rumah besar sangat sibuk mempersiapkan acara untuk nanti malam.


Taman belakang sudah mulai di dekor dan dipasangi lampu - lampu hias. Mamah Riri dan Ibu sibuk berkeliling dan memastikan semuanya berjalan dengan lancar.


Vega mulai di makeup sore itu. Namun hatinya merasa tidak tenang. Pasalnya hari sudah mulai gelap dan kak Bian belum kunjung pulang. Bian memang tetap berangkat syuting meskipun hari ini adalah hari pertunangannya.


Vega takut kak Bian tidak pulang, dan pertunangan ini terpaksa harus di batalkan. Vega terlalu overthinking kali ini.


"Kenapa sayang, kok mukanya ditekuk seperti itu?" tanya Ibu Anna melihat anaknya yang cemberut saat di makeup.


"Kak Bian belum juga pulang?" tanya Vega kepada Ibu.

__ADS_1


"Kak Bian sedang diperjalanan sayang, sabar yah" jawab Ibu Anna.


Tamu undangan pun sudah mulai berdatangan. Mamah Riri sengaja hanya mengundang kerabat dekat saja. Karena Bian yang meminta pertunangan ini dirahasiakan dari publik.


Danis pun sudah datang. Meskipun harus menahan sakit dihatinya, Ia tidak ingin melewatkan hari bahagia gadis yang dicintainya itu.


"Masih kuat brou?" goda Ryan kepada Danis.


"Sebenernya kalau bisa gue udah pengen nangis guling - guling terus lenyap dari muka bumi ini, gue mau tinggal di mars aja" jawab Danis ketus.


"Ya kalo lu mau ke Mars bisa gue pesenin tiketnya brou" ledek Ryan.


"Stttt diem" perintah Nise ketika melihat Vega keluar rumah lengkap dengan makeup dan gaun cantiknya.


Semua mata langsung terpesona melihat kecantikan gadis desa itu. Saudara mamah Riri langsung memuji - muji Vega tanpa henti.


"Wah cantik sekali calon menantu Riri" ucap tamu undangan disana.


"Cantik dan kalem ya, manis sekali gadis itu" ucap tamu yang lain.


Bian turun dari mobilnya lengkap dengan setelan jasnya. Ia langsung bergegas ke arah taman karena acara sudah dimulai.


Bian berjalan ke arah orang tuanya.


Deg.


Jantung Bian berdegup kencang tidak karuan saat melihat Vega yang anggun dengan gaun yang ia kenakan. Ditambah lagi baru kali ini Bian melihat Vega dengan makeup tebal yang sangat natural itu. Rambut Vega di keriting sedikit, sehingga terlihat cantik bergelombang.



Vega sangat senang karena akhirnya Bian sudah datang. Ia langsung tersenyum ceria melihat calon tunangannya itu.


"Bisa ga dikontrol tuh mukanya dikit" goda Nita yang sedang menemani Vega.


Acara pun dimulai dengan sambutan dari Papah Bima. Kemudian dilanjutkan dengan mempertemukan kedua calon.


Setelah menyampaikan kesediaan dan ketetapan hati, barulah mereka bertukar cincin.


Bian tidak pernah berhenti menatap Vega. Ingin rasanya ia memakan Vega saat itu juga di depan umum. Vega terlalu cantik dan sexy dimatanya malam itu.


"Kenapa menatapku seperti itu kak" tanya Vega sambil berbisik.


"Kamu cantik Ve" ucap Bian ditelinga Vega yang membuat Vega merinding.


Acara pun telah usai, tamu undangan mulai pamit dan pergi meninggalkan taman rumah besar itu.


"Selamat Ve" ucap Danis sambil mengulurkan tangannya kepada Vega.


Bian merasa marah melihat Danis yang juga datang ke acara pertunangannya. Apalagi Danis memandang Vega dengan tatapan penuh cinta. Dia tidak rela ada yang menatap gadisnya seperti itu.


"Makasih kak" ucap Vega.

__ADS_1


Tangan Vega tiba - tiba di tarik oleh Bian. Bian membawa Vega masuk kedalam rumah dan menuju kamarnya.


Bian menghimpit Vega di pintu kamarnya setelah tertutup.


"Jangan pernah memakai pakaian seperti ini lagi didepan pria lain" ucap Bian dengan napas memburu.


"Baik kak" ucap Vega sambil menunduk merasa bersalah.


Tanpa ba bi bu lagi Bian memegang tengkuk Vega dan menciumnya lembut.


Jantung keduanya berdegup kencang tidak beraturan.


Ciuman Bian semakin lama semakin dalam dan menuntut. Ia menjejalkan lidahnya kedalam mulut Vega. Vega pun membuka mulutnya dan membalas ciuman itu. Tubuh mereka sudah saling menempel satu sama lain. Vega mengalungkan tangannya ke leher Bian. Tangan Bian megusap punggung Vega yang terekspos itu.


Ciuman Bian sudah berubah menjadi ganas. Ia kemudian beralih ke leher dan pundak Vega. Ia mencumbu dengan rakusnya. Vega menutup mata menikmati sentuhan Bian sambil mengacak - acak rambut Bian. Kemudian Bian kembali mencumbu bibir Vega, sambil sesekali menggigit bibir bawah Vega.


Vega mendesah pelan karena kedua tangan Bian sekarang sudah berpindah ke dadanya.


Oh tuhan, ini tidak benar, batin Vega ketika tangan Bian mulai ******* - ***** dadanya. Namun Vega menikmati semua itu. Ia tidak ingin Bian berhenti. ******* - ******* kecil keluar dari mulut mereka.


Baju Vega sudah tidak karuan dan hampir melorot di bagian lenganya. Vega hampir saja terjatuh lemas karena kenikmatan yang diberikan oleh Bian.


Tiba tiba,


Tok Tok Tok.


"Bian, Vega, apakah kalian didalam? Ayo keluar sudah ditunggu di bawah" tanya mamah Riri.


Mereka tersadar bahwa kali ini sudah bertindak melewati batas. Napas mereka masih memburu.


"Kalian sedang apa, ayo cepat keluar nak" ketuk tante Riri lagi.


"Iya mah" jawab Bian.


Bian membetulkan letak gaun Vega yang hampir melorot itu. Bian mengecup Bibir Vega sekali lagi dan menghapus lipstik yang sudah berantakan kemana - mana.


Bian kemudian membuka pintu.


Ceklek.


"Astagaaa, apa yang telah kalian lakukan?" teriak mamah Riri.


Vega langsung tersadar bahwa tampilannya dan juga tampilan Bian sudah sangat berantakan. Dengan keringat yang membasahi tubuh mereka. Mereka sudah hampir mirip orang yang baru kehujanan.


"Perbaiki tampilanmu nak" perintah mamah Riri kepada Vega.


Vega langsung berlari menuju kamarnya dan segera memperbaiki penampilannya yang sudah tidak karuan. Ia menghapus lipsticknya yang sudah berlari kemana - mana.


Vega mengambil tisu dan mulai mengelap keringatnya di tengkuk, leher, dan pundaknya. Ia tidak ingin menemui Ibu dan Ayahnya dengan penampilan seperti itu.


"Mamah gamau ya kamu macem - macem, kalian baru saja bertunangan, bukan menikah. Makannya cepatlah menikah" ucap mamah Riri. Sebenarnya ia ingin sekali mereka cepat menikah.

__ADS_1


"Bian ga macem - macem kok mah. Bian ga mungkin ngerusak wanita yang Bian sayang. Kami akan menikah juga sudah sama - sama siap" jawab Bian sambil menuruni tangga.


...Bersambung...


__ADS_2