
Tanggal pernikahan Vega dan Bian sudah di tentukan, yaitu di minggu pertama bulan depan. Banyak hal yang harus disiapkan sebelum pernikahan. Bian juga harus memberikan pengumuman secara resmi melalui media masa tentunya. Namun itu bukan masalah, karena respon publik kali ini sudah sangat positif. Tidak ada lagi yang menentang hubungan mereka. Bian tidak perlu lagi menyembunyikan tunangannya ketika berada di depan umum.
Seperti saat ini, Bian dan Vega sedang menikmati kopi dan cake di salah satu cafe terkenal di situ. Tempat itu memang sering didatangi oleh pasangan - pasangan muda. Bian sengaja mengajak Vega untuk nongkromg disitu. Ia merasa bersalah karena kesibukannya di dunia hiburan, mereka jarang sekali menghabiskan waktu bersama diluar.
"Itu kan Om Bian mom," ucap salah satu gadis kecil yang sedang membeli kue bersama Ibunya.
"Aku mau foto sama om artis boleh mom?" tanya gadis kecil yang sering melihat Bian di TV.
"Jangan sayang, kita ga boleh ganggu waktu mereka, lain kali aja ya kalo Bian lagi ngadain jumpa fans, kita dateng minta foto dan tanda tangan ya," jawab si Mommy karena tidak ingin mengganggu kencan Bian bersama tunangannya.
Namun gadis itu tidak menurut, Ia melepas genggaman tangan Mommynya dan berlari ke arah Bian.
Gabruk, gadis kecil itu terjatuh di pangkuan Bian.
"Hei, ada apa? kenapa berlarian seperti ini, bahaya sayang," ucap Vega melihat gadis tersebut kesakitan karena sedikit terbentur meja.
Bian merapikan bajunya, karena ada beberapa krim kue yang mengenai celananya.
Mommy gadis kecil itu sudah berada disamping mereka karena mengejar gadis kecilnya yang keras kepala itu.
"Maafkan anak saya, Dia memaksa ingin meminta foto dengan Bian. Dia penggemar setia dari Bian," ucap Mommy sambil memeluk gadis kecil itu dari belakang.
"Oh gapapa, ayo sini aku yang fotoin," ucap Vega kepada gadis kecil itu.
Bian memberikan tatapan kode pada Vega, jika dirinya sedang tidak ingin berfoto. Saat berangkat, Bian sudah berjanji pada Vega bahwa hari ini Ia hanya ingin fokus menghabiskan waktu bersama, tidak untuk meladeni fansnya. Di tambah lagi Bian yang tidak terlalu suka dengan anak - anak.
Namun Vega memberikan tatapan balik yang galak. Bian hanya bisa menurut. Ia berjongkok disamping gadis kecil itu.
__ADS_1
"Satu, dua ,tiga cissssss," ucap Vega sambil mengarahkan kamera HP ke Bian dan si gadis kecil itu.
"Nama kamu siapa?" tanya Vega setelah selesei mengambil foto.
"Aku Sisil tante," jawab gadis kecil itu malu - malu.
"Terimakasih banyak telah memberikan anak saya kesempatan berfoto, kami pamit dulu ya. Sekali lagi terimakasih," ucap si Mommy sambil menggandeng tangannya pergi. Terlihat sekali bahwa si Mommy tidak ingin mengganggu lebih lama lagi. Sedari tadi ekspresi Bian sudah sangat jelek. Tidak seperti biasanya, dulu bagi Bian, fansnya adalah prioritas number one. Dirinya sadar, Ia bisa sesukses ini berkat dukungan para fansnya. Namun akhir - akhir ini, menurutnya tidak ada lagi hal yang lebih pentin dari Vega.
"Kenapa sih Kak Bian, Dia kan cuma anak kecil, kasihan," ucap Vega yang melihat mood Bian jelek gara - gara fansnya kecilnya itu.
"Kan dari dulu aku memang gasuka anak kecil Ve, merepotkan," celetuk Bian tanpa pikir panjang.
"Oh yasudah, nanti setelah kita menikah kita gausah buat anak deh ya," jawab Vega cuek.
Mata Bian langsung melotot panik, "Emm, tapi kalo anak kita ya pasti aku bakal suka banget dong, pasti seru kalo banyak anak kecil dirumah. Gemes banget deh ya kalo bayi punya pipi gembul. Emm, aku pengen punya anak kita laki - laki, terus mau aku beliin action figur marvel. Eh tapi gapapa juga kalo anak perempuan, pasti bakal manis banget mirip kamu, Mending kita punyak anak yang banyak aja deh," ucap Bian panjang lebar membual tentang bayangan memiliki anak kecil. Bian tidak ingin Vega benar - benar mewujudkan kata - katanya itu. Membayangkannya saja rasanya dunianya bisa runtuh sesaat.
"Tapi kita tetap melakukan itu setelah kita menikah kan?" tanya Bian was - was.
"Ya engga dong, tunda dulu sampai aku lulus," jawab Vega enteng.
"No, ga, aku mau langsung punya anak Ve, kasihan Mamah Riri sudah sangat ingin menimang cucu dari putra pertamanya, Kasihan mereka sudah tua tapi belum punya cucu sama sekali. Kan aku ingin berbakti dengan cara memeberikan cucu pertama secepatnya," jawab Bian melebih - lebihkan.
"Hmm, dimana ya pria 5 menit yang lalu, yang bilang anak kecil sangat merepotkan?" tanya Vega menyindir.
Bian langsung berakting tidak tahu menahu soal pria tadi, "Hah siapa pria itu. Aku ga kenal. Kalo Aku sih orangnya sangat senang dengan anak kecil."
***
__ADS_1
Zeeko berjalan sambil menikmati Ice americano di tangannya. Sedangkan tangan satunya sibuk memainkan HP. Ia sedang mengobrol dengan teman wanitanya yang ada di Itali. Temannya sangat menantikan kepulangan Zeeko. Pasalnya sudah cukup lama Zeeko berada di Indo.
Zeeko memang memiliki rencana untuk melanjutkan kembali studinya di Itali. Nanti setelah selesei menggantikan Pak Doni. Ia tidak enak jika harus menolak permintaan teman baik Mamihnya itu.
Brukkk, Zeeko tidak sengaja menabrak salah satu mahasiswi di kampusnya.
"Aww," teriak gadis tersebut saat kopi Zeeko tumpah ke bajunya.
"Maaf aku tidak sengaja," ucap Zeeko melihat noda kopi di baju gadis itu. Ia membuang gelas plastik ke tempat sampah yang tidak jauh dari situ. Kemudian Zeeko mengambil sapu tangan disakunya untuk membersihkan noda pada baju gadis itu.
Mengetahui bahwa Zeeko lah yang telah menabraknya, Nita langsung menepis tangan Zeeko dan langsung berpaling. Nita berniat pergi tanpa memedulikan Zeeko. Ia juga tidak peduli dengan noda kopi yang terjiplak jelas di kemejanya itu.
Namun Zeeko menahan tangan Nita.
"Kenapa tidak berkata apapun," tanya Zeeko melihat Nita yang hanya ingin langsung pergi tanpa berucap satu patah katapun. Seingat Zeeko, gadis itu selalu saja menghindarinya, menyapa juga tidak pernah. Padahal mereka sudah bertemu beberapa kali.
"Memangnya gue harus bilang apa, meminta maaf? kan bukan gue yang nabrak PAK," jawab Nita ketus. Ia lupa kalo sekarang pria yang dibencinya itu sudah menjadi salah satu doesen pengajarnya.
Zeeko langsung melepaskan tangan Nita, dan mebiarkan gadis itu pergi. Ia tidak tahu harus berkata apa kepada Nita. Padahal Ia hanya ingin berniat baik dan bertanggung jawab karena sudah memberikan noda di baju Nita. Namun tatapan Nita membuatnya takut. Baru kali ini ada wanita yang menatap wajahnya dengan kejam seperti itu. Bahkan Mamihnya yang sedang marah pun tidak akan memelototi pria tampan dan baik spertinya.
Lagi - lagi Zeeko semakin penasaran, mengapa setiap bertemu dengannya, gadis itu selalu terlihat marah. Ia semakin tertarik untuk mencari tahu tentang gadis itu. Sebenarnga Zeeko sudah membaca profil Nita yang ada di arsip kampus, namun tidak ada yang aneh sama sekali. Nita adalah anak terakhir dari dua bersaudara. Kakak perempuannya memiliki umur 6 tahun lebih tua dari dirinya. Ayah dan Ibu Nita memiliki bisnis di bidang perhotelan. Tidak ada masalah. Ia anak dari keluarga yang baik -baik.
Zeeko berjalan ke arah mobilnya yang ada di parkiran. Ia memutuskan untuk membeli mobil sendiri, karena lelah disindir oleh pasangan yang sering Ia tumpangi itu.
Zeeko melihat Nita berjalan bersama Ryan sambil asik mengobrol di pinggir jalan yang Ia lewati. Zeeko memang masih berada di wilayah kampus. Beda sekali ekspresi Nita saat ini, dengan ekspresi saat bertemu dengannya. Zeeko memang masih mengira bahwa Nita adalah pacar Ryan yang sekarang. Jadi Ia berusaha tidak peduli dan tetap melajukan mobilnya keluar kampus. Lain waktu Ia akan bertanya mengenai Nita kepada Ryan.
...Bersambung...
__ADS_1