Jodohku Seorang Artis

Jodohku Seorang Artis
Bab 21 Kami sudah berjuang bersama


__ADS_3

Bian kembali menggunakan topi dan masker sebelum lampu teater kembali menyala. Mereka keluar paling terakhir.


"Besok kamu kelar kelas jam berapa?" tanya Bian ketika didalam mobil.


"Emm, jam 3. Kenapa memangnya kak?" tanya Vega.


"Aku ada take vidio di kampusmu, kalo kamu mau, kamu bisa mampir sebentar" ucap Bian.


"Apa tidak apa apa kak?" tanya Vega.


"Tidak apa apa, kamu bisa menyapaku sebentar terus pulang" jawab Bian santai.


"Baiklah besok aku akan mencarimu kak" jawab Vega senang.


Malam ini sangat berharga bagi mereka berdua. Bisa dibilang ini kencan pertama mereka. Bian sangat bersyukur dijodohkan dengan Vega. Vega wanita yang baik dan sangat pengertian. Ia mau memahami pekerjaan Bian yang harus bersanding dengan wanita lain di depan publik.


***


"Nit mau ga temenin aku bertemu kak Bian" tanya Vega ketika kelas berakhir.


"Hah? gasalah, memang mau bertemu di mana?" tanya Nita.


"Di dekat gedung C kampus kita. Anterin aku pake motormu ya pliss, ga lama kok" ucap Vega.


"Kak Bian di kampus kita? serius? ngapain disitu" tanya Nita penasaran.


"Katanya sih ada take vidio disitu bareng kak Syaila" jawab Vega.


"Eh tapi lu gapapa, mereka kan pasangan dimata orang - orang" tanya Nita.


"Gapapa, ini resikonya bertunangan sama artis papan atas yang sudah punya pacar. Aku bakal terbiasa kok" jawab Vega yakin.


"Oke deh kalo lu gapapa, yuk gue anterin" ajak Nita.


Sebenarnya Vega bisa sendirian ke lokasi syuting. Tapi ia tidak ingin berjalan terlalu jauh. Jarak lokasi syuting ke gerbang utama sekitar 1 km. Lumayan kan kalo harus berjalan kaki.


"Kamu mau ikut masuk ato tunggu disini?"tanya Vega.


"Gue disini aja kali, bingung juga rame banget gitu staffnya" jawab Nita.


"Yaudah tunggu sini ya, aku cuma mau menyapa kak Bian bentar. Jangan tinggalin, aku gamau berlari ke gerbang depan" ucap Vega.


"Iye iye, buruan sana keburu sore" perintah Nita.


Vega berjalan mendekat ke arah lokasi syuting.


"Kak Simon" panggil Vega. Ia hanya mengenali Simon diantara banyak orang yang sedang sibuk bertugas.


"Eh, nona Vega. Bian sudah menunggu non" jawab Simon sambil menunjuk ke suatu ruangan.


Vega berjalan bersama Simon menuju sebuah ruangan tunggu. Lagi - lagi Bian sedang bersama Syaila. Kali ini Syaila sedang di makeup, sedangkan Bian sedang sibuk menghapal naskah.


Vega yang sudah terbiasa dengan pemandangan tersebut, mencoba mengabaikan Syaila dan hanya fokus pada Bian.


"Kak" panggil Vega.

__ADS_1


"Kamu sudah datang?" tanya Bian ramah. Ia kemudian berdiri dan menggandeng tangan Vega untuk duduk dikursi sebelahnya. Kali ini Bian memperlakukan Vega dengan sangat baik. Tidak seperti kemarin.


"Kelasku molor 30 menit kak, Dosennya tadi telat masuk diawal" ucap Vega.


Bian hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Kamu mau minum?" tanya Bian.


"Gausah kak, aku udah banyak minum tadi siang" jawab Vega.


"Baiklah, kalo haus bilang ya" ucap Bian penuh sayang.


Vega hanya mengangguk.


"Kakak syuting untuk apa memangnya?" tanya Vega penasaran sambil melihat naskah ditangan Bian.


"Untuk promosi kampusmu" jawab Bian.


"Oh iya, beneran?" tanya Vega.


"Tuan Bian! sudah ditungu untuk pemotretan solo" Simon memotong obrolan antara Vega dan Bian.


"Kamu tunggu disini sebentar ya, aku tidak lama" ucap Bian sambil membelai rambut Vega lembut.


Vega mengangguk.


Hal tersebut tidak luput dari tatapan Syaila yang melihat dari balik cermin makeupnya. Syaila merasa kesal melihat Bian yang sangat perhatian kepada Vega. Berbeda dengan kemarin.


Syaila telah selesei menata wajahnya. Orang yang bertugas merapihkan makeup Syaila pun sudah keluar dari ruang tersebut.


"Vega, aku boleh berbicara denganmu sebentar?" tanya Syaila pelan.


Vega terdiam menunggu Syaila berbicara. Kemudian Syaila mulai berucap.


"Aku pertama kali bertemu dengan Bian di tempat casting dikampus kami. Dia terlihat sangat terpuruk dan tidak bersemangat" ucap Syaila.


"Bian mengikuti casting karena ingin menyibukan diri dan melupakan kegalauannya. Entah masalah apa yang sedang ia alami. Tapi satu hal yang pasti, sejak saat itu ia mulai mencintai pekerjaannya sebagai artis."


" Kami berjuang bersama dari nol. Kami selalu ada untuk satu sama lain saat merintis karir ini. Kami saling berjanji akan sukses bersama - sama. Aku juga berjanji pada diri sendiri untuk menjadi pasangan yang baik untuk Bian" Ucap Syaila sambil menatap manik Vega.


Vega tidak berani memotong ucapan Syaila, Ia hanya tenang mendengarkan, dan berusaha menangkap apa maksud dari ucapan - ucapannya.


"Orang tua Bian dulu sangat menolak keputusan Bian untuk menjadi artis. Mereka berharap Bian Alfa bisa meneruskan usaha bisnis milik keluarganya"


"Kamu tahu bagaimana perjuangannya membujuk orang tuanya? usaha dia hingga bisa sukses seperti sekarang. Itu sangat berat bagi Bian. Butuh bertahun - tahun untuk meyakinkan kedua orang tuanya"


"Sekarang Bian sudah menjadi artis papan atas sesusai impiannya. Tapi tiba - tiba kamu datang untuk merusak karirnya."


"Sejak kecil Bian sangat patuh terhadap mamahnya. Bian tidak mungkin menolak permintaan mamahnya yang ingin menjodohkannya denganmu."


"Tante Riri selalu mengancamnya untuk berhenti menjadi artis. Hal yang sangat tidak mungkin dapat Bian lakukan" sambung Syaila.


"Jadi maksud perkataanmu, Bian mau menerima perjodohan ini supaya tante Riri tidak membuatnya berhenti menjadi artis?" tanya Vega yang mulai mengerti arah pembicaraan Syaila.


"Maafkan aku, seharusnya aku tidak menceritakan hal rahasia ini padamu" ucap Syaila.

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu memberitahuku?"tanya Vega menatap balik kepada Syaila.


"Karena aku sedih, aku tidak bisa melihat Bian kehilangan karir yang sangat ia cintai hanya karena seorang wanita. Jadi kupikir kau harus tau tentang semua ini" ucap Syaila.


Vega berdiri dan mengambil tasnya di meja.


"Kamu gaperlu merasa bersalah karena bercerita padaku. Aku sangat pintar dalam menjaga rahasia" ucap Vega.


"Dan sepertinya kamu harus berhenti mengkhawatirkan masalah pria yang sudah menjadi tunangan orang lain" ucap Vega lagi.


"Kak Syaila jangan salah paham, hubungan kalian hanya sebatas pasangan di mata publik, bukan pasangan sesungguhnya. Jadi berhenti ikut campur urusan pribadi masing - masing" ucap Vega sambil pergi meninggalkan ruangan tersebut. Ia berusah tertihat tegar menghadapi Syaila.


Vega berpapasan dengan Bian yang akan kembali masuk ke dalam ruang tunggu.


"Sudah mau pulang?" tanya Bian.


"Iya kak, Nita sudah menungguku terlalu lama di parkiran" jawab Vega tanpa menatap ke arah Bian.


"Baiklah hati - hati di jalan ya" jawab Bian tanpa merasa curiga apapun.


Vega tidak menjawab perkataan Bian. Vega langsung berlari ke arah parkiran sambil menahan air matanya. Namun ia tidak menemukan siapapun.


"Vega!" panggil Danis dari dalam mobil.


"Sudah mau pulang?" tanya Danis, Ia keluar dari mobil berjalan menuju Vega.


"Iya kak, dimana Nita?" tanya Vega melihat ke sekeliling.


"Tadi dia di telepon Ibunya, disuruh segera pulang. Jadi Nita menyuruhku untuk menunggumu disini dan mengantarmu" jawab Danis.


"Kenapa matamu merah" tanya Danis melihat wajah Vega yang sendu.


"Ah tidak apa apa, tadi ada debu masuk" jawab Vega sambil mengalihkan pandangannya.


"Baiklah, ayo masuk" Danis membukakan pintu mobil untuk Vega.


"Kamu mau pulang? aku antar yah" ucap Danis lembut.


"Aku tidak ingin pulang ke rumah kak Ryan, antarkan saja aku ke stasiun" jawab Vega.


"Memangnya mau kemana Ve?" tanya Danis.


"Aku mau pulang ke Jogja kak" ucap Vega.


"Bukannya besok kuliah?" tanya Danis bingung. Mengapa tiba - tiba Vega ingin pulang ke Jogja. Padahal ini bukan hari libur.


Vega hanya terdiam tidak menjawab.


"Vega kamu ada masalah?" tanya Danis lagi.


Vega tidak mampu lagi berkata - kata. Air matanya mulai berjatuhan.


"Baiklah aku tidak akan memaksamu untuk bercerita. Sekarang istirahatlah, aku antar ke Jogja ya" ucap Danis.


"Tapi kak" bantah Vega.

__ADS_1


"Tidak apa - apa, aku akan mengantarmu dengan aman sampai tujuan" kata Danis lagi.


...Bersambung...


__ADS_2