
Pagi ini Bian terus memaksa untuk mengantarkan Vega ke kampus. Bian tidak ingin ada orang yang masih berani merundung Vega. Apalagi setelah kejadian gelut waktu itu. Bian berjanji akan membuat perhitungan dengan siapapun yang mengganggu Vega.
Bian dan Vega sampai di depan gedung fakultas. Vega ingin membuka pintu mobil, tapi Bian menahannya.
"Tunggu!" ucap Bian sambil keluar dari mobil, dan berlari memutar untuk membukakan pintu untuk Vega.
Klise sekali, tapi aku suka, batin Vega sambil tersenyum melihat wajah Bian.
"Silahkan tuan putri," ucap Bian sambil menggerakkan tangannya layaknya pangeran kepada sang putri.
"Baik pangeran," jawab Vega mengikuti akting Bian.
"Pangeran kesiangan maksudku," tambah Vega lagi.
"Hhhhh," Bian merasa kesal.
Vega hanya tertawa kecil melihat Bian memanyunkan bibirnya.
"Gemas sekali," ucap Vega.
"Bye, aku masuk kelas dulu kak," Vega pamit dan pergi meninggalkan Bian.
Banyak sekali pasang mata yang memperhatikan gerak - gerik mereka. Namun bukan benci, kali ini semua orang sangat mendukung hubungan Bian dan Vega. Mereka merasa Bian sangat manis dalam memperlakukan Vega. Semua wanita dibuat iri oleh Vega. Vega beruntung sekali memiliki tunangan seperti Bian. Sudah artis tampan dan kaya, baik pula.
Setelah jam makan siang, Vega duduk disalah satu bangku panjang di lorong kampus bersama bestinya, Nita.
"Lucia udah balik ke Itali Ve?" tanya Nita.
"Udah, semalem kami nganterin ke bandara," jawab Vega.
"Semalem heboh banget tau Nit," sambung Vega.
"Pada gamau pisah dari Lucia?" tanya Nita menebak.
"Bukannn, tadi malem tuh Kak Ryan emang ga ikut nganterin Lucia kan, terus tiba - tiba Kak Ryan pulang dalam keadaan mabuk ke rumah," ucap Vega mulai bergosip.
"WHAT? terus ?" Nita terkejut.
"Terus ya gitu si Tante marah - marah. Karena ini memang baru pertama kalinya Ryan pulang kerumah dalam keadaan seperti itu," lanjut Vega.
Nita masih sabar menunggu kelanjutan cerita Vega.
__ADS_1
"Aku, Kak Bian, sama Kak Zeeko baru pulang dari nganter Lucia ceritanya nih, pas masuk ke dalam rumah, Kak Ryan lagi nangis - nangis, sedangkan Tante Riri lagi marah - marah, disitu juga ada Kakek. Kebetulan Om Bima masih di kantor," Vega manarik napas menjeda ceritanya. Belum sempat Ia mebuka mulut lagi, dosen yang akan mengajarnya sudah terlihat berjalan memasuki kelas.
"Nanti lanjut lagi, kelas dulu yuk," Vega menarik tangan Nita untuk segera memasuki kelas.
"Yah, udah kepo banget nih," ucap Nita sambil berlari mengikuti Vega.
Saat di kelas, Nita menulis sesuatu di sobekan kertas kecil. Ia memberikan kepada Vega.
"Lanjutin ceritanya dong, tulis pake kertas, gue kepo banget nih," isi tulisan Nita.
Vega menggeleng, kemudian berbisik di telinga Nita.
"Ceritanya panjang, susah kalo pake tulisan. Udah fokus aja sama pelajaran, ini UAS nya nanti susah loh," bisik Vega.
Nita mendengus kesal.
"Ada yang merasa kesal dengan pelajaran yang bapak kasih," tiba - tiba dosen bertanya karena mendengar dengusan Nita.
"Engga pak, tadi ada lalat di hidung saya," ucap Nita mengeles.
Pak dosen kembali meneruskan pelajarannya. Vega tersenyum menahan tawa karena tingkah bestinya yang sangat lucu itu.
Sudah 1 jam 40 menit berlalu. Tandanya waktu kuliah terakhir sudah selesei. Nita bersemangat karena ingin mengetahui kelanjutan cerita tentang Kak Ryan.
Belum sempat berkata, ponsel Vega berdering.
"Hallo Kak Bian, kenapa?" tanya Vega karena Bian yang meneleponnya.
Nita tidak bisa mendengar jawaban Bian karena Vega tidak meloudspeaker panggilannya itu.
"Oh oke, aku segera keluar," jawab Vega.
Nita langsung merengut mendengar Vega akan segera keluar.
"Sorry deh Nit, kita lanjut nanti aja ya ditelepon. Tunanganku udah nungguin soalnya hehe," ucap Vega sambil membereskan barangnya dan berdiri untuk pergi.
"Hissshhh, sudah ku duga, susah amat sih mau denger cerita doang," gerutu Nita kesal.
Vega tersenyum, "Bye bye Nit."
Benar saja, Bian sudah menunggu di depan gedung dengan duduk di atas kap mesin mobil. Tampilan Bian kali ini super perfect, menggunakan kaos putih oblong, jaket kulit berwarna hitam, dan celana jeans dengan sedikit robekan di lutut, lengkap dengan kaca mata hitam bertengger di wajahnya. Beberapa fans yang tidak sengaja melihatnya, langsung membuka kamera ponsel dan memotret pemandangan langka itu. Kapan lagi bisa ketemu artis secara langsung tanpa harus berdesakkan.
__ADS_1
Vega berjalan menghampiri Bian. Bian langsung membuka kacamatanya dan berdiri menanti kedatangan Vega.
"Sengaja yah mau menarik perhatian cewe - cewe sekampus, pake berpose seperti itu segala" ucap Vega ketika sudah berada di depan mobil.
"Pada dasarnya aku sudah menarik Ve, bahkan tanpa berpose pun, semua wanita akan melirik kepadaku," ucap Bian.
Vega langsung merengut berpura - pura ngambek. Ia langsung membuka pintu mobil penumpang, dan masuk. Bian bingung, kenapa mudah sekali tunangannya itu marah.
Akhir - akhir ini memang Vega hobi berpura - pura ngambek di depan Bian. Vega sangat suka melihat Bian putus asa dan mencoba membujuknya. Seperti saat mereka kecil dulu, Bian paling takut kalo Vega sudah ngambek dan marah - marah.
Bian mengikuti Vega memasuki mobil.
"Aku cuma becanda sayang, walapun ada jutaan wanita diluar sana yang melirikku, hanya kamu satu-satunya wanita yang ku tatap dengan mata penuh cintaku," ucap Bian menggombal.
Vega hampir saja memuntahkan isi perutnya ke arah Bian. Ia merasa geli dengan ucapan Bian yang seperti buaya darat tingkat suhu. Tapi sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya, Ia berharap kalo perkataan Bian itu benar.
"Kakak dulu pasti sering bilang begitu ke setiap wanita yang kakak kencani yah," ucap Vega menuduh.
"I swear engga, baru kali ini, dan cuma ke kamu. Ga ada wanita lain yang pernah menggantikanmu di hatiku Ve. Hanya kamu satu - satunya gadis yang pantas menjadi tunanganku. Percaya padaku Ve," ucap Bian mulai romantis, dengan memegang kedua tangan Vega.
Bian menatap Vega dengan penuh ketulusan. Sudah yang ke berapa kali, namun Vega masih tetap saja grogi jika harus ditatap seperti itu. Akhir - akhir ini hatinya mudah sekali bergonjang - ganjing tidak karuan.
Ya ampun, hentikan semua ini ya tuhan. Hatiku sangat lelah jika harus terus - terusan berdetak seperti ini, ucap Vega dalam hati. Masih dengan menatap ke arah Bian.
Bisa di tebak kan, kalo sudah begini apa yang akan dilakukan oleh Bian. Yap. Bian mencium bibir Vega. Bukan hanya mengecup loh ya, tapi mencium.
Vega membalas ciuman Bian. Ia memang sudah sangat candu dengan bibir Bian. Namun beberapa detik kemudian Vega tersadar, mereka masih berada di wilayah kampus. Ia langsung mendorong tubuh Bian. Vega menengok ke kanan dan ke kiri untuk memeriksa apakah ada yang melihatnya. Benar saja, orang - orang disekitar mobil sedang menatap ke arah mereka, bahkan ada yang memegang HP untuk memfotonya
"Kak aku malu, orang - orang melihat kita," ucap Vega sambil menutup wajahnya.
Bian ikut menengok ke kanan dan ke kiri. Ia hanya tersenyum melihat orang - orang yang sedang memperhatikan mereka.
Bian memegang tangan Vega dan menurunkannya dari wajah Vega.
"Gapapa Ve, kenapa harus malu. Kan semua orang sudah tahu kalo kamu tunanganku. Sekarang tidak ada lagi yang bisa menghalangi hubungan kita," ucap Bian meyakinkan Vega.
"Tapi aku masih takut Kak, aku takut mereka menghujat kita," jawab Vega.
"Ga akan Ve, karena aku ga akan biarin mereka," ucap Bian.
"Mending kita makan aja yuk," ajak Bian sambil menyalakan mobilnya.
__ADS_1
...Bersambung...
Akhirnya ya bisa pacaran di depan publik tanpa pake masker segala. Lanjut gak readers terlovee?