
"Nit, tolong kasih ini ke Kak Zeeko ya diruangannya, aku pengen ketoilet gatahan banget nih," ucap Vega sambil memberikan sebuat map yang entah apa isinya.
"Hah, kok gue sih. Males. Gamau. Lu aja nanti abis dari toilet," Nita menolak dengan keras permintaan bestienya itu.
"Gabisa, harus sekarang, urgent banget. Dia butuh sekarang juga. Aku udah ga tahann, kasihin yaaa! Aku bakal lama di toilet nih" Vega berlari meninggalkan Nita menuju toilet di lantai satu.
"Sialan, bisa - bisanya nyuruh gue buat ketemu pria itu," gumam Nita kesal.
Nita berjalan ke arah ruangan Zeeko yang ada di lantai 4. Ia harus menaiki tangga, karna tidak ada lift di fakultasnya tersebut. Nita mencoba mengetuk ruang pintu Zeeko. Namun nihil tidak ada jawaban. Ia mencoba membuka pintu tersebut, dan berhasil, ternyata tidak terkunci. Nita memilih untuk masuk dan meletakan berkas tersebut di atas meja. Ia bersyukur karena tidak harus bertemu dengan pria itu.
Nita bergegas ingin keluar dari ruangan tersebut, namun saat membukan pintu, Ia berpapasan dengan Zeeko.
"Maaf pak, saya cuma mau nyerahin titipan berkas dari Vega," ucap Nita panik karena sudah masuk ke dalam ruangan dosen tanpa seizin pemiliknya.
"Berkas? dari Vega?" tanya Zeeko merasa bingung.
"Iya pak, itu saya taroh di atas meja. Permisi," Nita memilih untuk segera berpamitan dan pergi meninggalkan Zeeko sambil sedikit berladj. Dadanya terasa sesak jika harus berlama - lama berhadapan dengan Zeeko.
Zeeko berjalan ke arah mejanya. Ia tidak tahu, berkas apa yang dimaksud oleh Nita. Pasalnya Dia tidak pernah menitipkan apapun ke Vega.
Zeeko mencoba membuka map tersebut. Namun isinya hanya selembar kertas hvs A4 yang kosong. Zeeko mencoba membolak - balikan kertas tersebut. Namun Ia tidak menemukan apapun. Kemudian Dia sadar dan tersenyum.
"Vega sengaja membuatku bertemu dengan Nita?, jadi ini yang dimaksud mencari cara?" gumam Zeeko sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.
Namun Zeeko senang, setidaknya Ia memiliki alasan untuk bertemu Nita hari ini. Karna akhir - akhir ini dirinya hanya bisa melihat Nita jika sedang mengajar di kelas. Itupun Nita selalu duduk di kursi paling belakang, dan selalu sibuk dengan bukunya.
Zeeko membuka laptop yang Ia bawa. Hari ini Ia akan memberikan penilaian mengenai tugas menulis mahasiswanya yang dikirim melalui email. Zeeko membuka satu persatu email yang masuk sesuai dengan batas pengumpulan, dan mulai memberikan penilaian. Zeeko membaca tulisan Vega mengenai kisahnya dengan Bian.
"Oh jadi selama ini Bian begitu, dasar cowo Norak," gumam Zeeko ketika membaca cara Bian merayu Vega. Ia merasa saudaranya itu memang cassanove perayu ulung. Pantas saja Vega langsung terlena dan jatuh hati pada Bian.
Kemudian Zeeko beralih lagi kepada email selanjutnya. Email dari Nita. Zeeko membaca dengan seksama cara menulis Nita.
Apabila itu benar - benar kisah pribadi, sungguh kasihan keluarga Nita, batin Zeeko. Ia merasa kasihan, gadis diusia seperti itu harus kuat menanggung beban keluarganya itu. Ia harus tetap sekolah sambil mengurusi Ibu dan Kakanya yang terbaring koma di rumah sakit.
Zeeko memang menyuruhnya menulis tentang kehidupan pribadi. Namun boleh imajinasi atau karangan mahasiswa saja. Jadi Zeeko tidak tahu, sebenarnya apakah cerita itu benar - benar terjadi atau tidak.
Zeeko kembali melanjutkan membaca email dari mahasiswa lain untuk memberikan penilaaian. Namun pikirannya tidak bisa lepas dari tulisan Nita. Ingin rasanya Ia mendampingi dan memberi semangat gadis kecil yang malang itu.
__ADS_1
***
"Jadi itu yang dimaksud dengan cari cara Ve?" tanya Zeeko ketika mereka sedang makan malam berempat. Kebetulan para orang tua sedang tidak ada dirumah.
Vega bingung, apa maksud dari pertanyaan Zeeko.
"Cari cara?" tanya Vega dengan ekspresi bingung. Begitu juga Bian dan Ryan yang sedang makan itu.
"Map isi kertas kosong," jawab Zeeko.
"Ohhh, hahahha," Vega tertawa mengingat rencana yang Ia buat mendadak tadi siang.
"Sangat kreatif sekali ya, luar biasa," ucap Zeeko, entah memuji beneran atau hanya menyindir.
"Map apa?" tanya Bian yang juga penasaran.
"Jadi gini Kak, aku kan punya project besar buat deketin Kak Zeeko sama Nita, terus gatau kan mau pake cara apa. Yaudah aku pura-pura punya titipan berkas penting buat Kak Zeeko, terus nyuruh Nita yang kasih soalnya aku kebelet dan harus lama di toilet," Vega menjelaskan panjang lebar dan berusaha menahan tawanya.
"Jadi lo beneran mau deketin Nita?" tanya Ryan penasaran kepada Zeeko.
"Kenapa, lo berubah pikiran jadi tidak ikhlas gue deketi Nita. Kan lo sendiri yang bilang gasuka sama Nita," ucap Zeeko menyelidik. Dia tidak ingin berantem dengan saudaranya sendiri karena berebut wanita.
"Pacar lo mau dikemanain?" tanya Bian ke Zeeko yang tahu kalo Zeeko sudah punya pacar di Italia.
"Gue udah putus kali," jawab Zeeko enteng.
"Kapan?" tanya Bian basa basi. Sebenernya dia tidak terlalu peduli dengan kehidupan cinta orang lain. Yang paling penting itu kisahnya dengan Nita. Kisah yang perlu diabadikan di buku sejarah.
"Dua minggu yang lalu, atu tiga minggu yang lalu gue lupa," jawab Zeeko dengan ekspresi biasa-biasa aja.
"Buzyet," ucap Ryan.
"Cewe gue gamau ldr katanya, nyuruh gue buat cepet - cepet balik, kalo ga kita bakal putus. Yaudah mending putus aja," ucap Zeeko lagi.
"Ya ampun dasar ga Kakak sepupu gak adek sepupu, dua duanya playboy," ucap Vega menyindir Zeeko dan Bian. Namun yang disindir tidak merasa.
"Tentu kcuali aku kan Ve, inget kan selama ini gue pacarannya gimana" tanya Ryan menyombongkan kesetiaannya.
__ADS_1
"Iya kecuali Kak Ryan," jawab Vega.
"Maksudmu aku yang playboy?" tanya Bian baru sadar bahwa Vega telah menyindirnya.
"Siapa lagi? Memang bukan?" tanya Vega sambil memelototkan matanya galak.
"Iya maafin aku sayang, dulu aku khilaf, maaf," ucap Bian takut.
Ryan dan Zeeko tertawa melihat Bian yang langsung berubah jadi kucing peliharaan ketika Vega marah.
Vega tidak menjawab permintaan maaf dari Bian. Ia langsung beralih kepada Kak Zeeko.
"Awas ya Kak, kalo Kakak cuma mau main - main sama sahabatku itu. Sekali aja Kakak buat Dia menangis, Kakak akan berhadapan denganku," ucap Vega dengan wajah sangat menyeramkan bagi Zeeko. Zeeko menelan ludahnya dengan paksa.
"Bi, sepertinya calon istri tercinta lu butuh istirahat karna sudah malam, sana anter ke kamar dulu," ucap Zeeko kepada Bian. Ia tidak ingin berlama - lama mendapat tatapan mematikan dari Vega.
"Uhhh, cup cup cup, bayik macan kita udah ngantuk ya? bobo yuk," ajak Bian dengan nada manis seperti berkata kepada anak kecil.
Vega mengangguk manja kepada Bian.
"Aku ngantuk Kak," ucap Vega.
Bian langsung berdiri dan menggandeng tangan Vega untuk naik ke lantai atas. Bian mengantar Vega ke kamarnya. Ia mengecup lembut bibir Vega.
"Good night, selamat tidur, gausah mimpi Indah, cukup tidur yang nyenyak saja ya sayang," ucap Bian di depan pintu kamar Vega.
"Yah padahal aku mau mimpiin Kak Bian," ucap Vega menyayangkan ucapan Bian.
"Kalo itu pengecualian, kamu boleh mimpin aku sepanjang malam, setiap malam, oke," ucap Bian sambil mengusap rambut Vega.
Vega mengangguk sambil tersenyum manis. Senyum yang selalu menjadi candu bagi Bian. Bian mengecup bibir itu sekali lagi. Cup.
"Udah sana masuk," ucap Bian menyuruh Vega.
"Bye bye Kak," Vega masuk dan menutup pintu meninggalkan Bian.
Ryan hanya bisa menahan dirinya agar tidak muntah melihat adegan yang terlalu so sweet itu. Ia langsung masuk kedalam kamarnya tanpa ingin menyapa Kakaknya. Bisa - bisa Ia kena marah tanpa ada salah apa- apa.
__ADS_1
...Bersambung...