Jodohku Seorang Artis

Jodohku Seorang Artis
Bab 17 Kali ini cincin?


__ADS_3

Drtttt, Drttttt, Drtttttt


Terdapat panggilan masuk di HP Bian.


Terlihat di layar Hp "Calon tunangan" memanggil.


Syaila bertanya - tanya, siapakah yang dimaksud calon tunangan tersebut.


"Gadi desa itu?" gumam Syaila.


Sudah sekitar 11 kali Vega menelepon Bian. Syaila sengaja tidak memberi tahukan Bian, yang sedang sibuk mengambil foto solo.


Kemudian dilanjutkan foto berdua dengan Syaila. Mereka sengaja mengambil foto hingga matahari hampir terbenam untuk mendpatkan efek - efek alami.


Simon langsung mengejar Bian ke ruang tunggu ketika selesei pemotretan.


"Tuan, tadi mamah Riri marah - marah menanyakan keberadaan tuan. Katanya Vega sudah menunggu hampir dua jam" ucap Simon sambil mengekor tuannya.


Bian langsung teringat perintah mamahnya tadi pagi. Mamah Riri menyuruhnya untuk menemani Vega mencoba gaun di Butik.


"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi hah?" tanya Bian marah.


Bian segera mencari HPnya. Ia kaget, ternyata ada 16 panggilan tidak terjawab dari Vega. Dan juga 3 panggilan tidak terjawab dari mamah Riri.


"Ayo cepat pulang" teriak Bian kepada Simon.


"B baikk tuan" jawab Simon kaget.


Bian memang suka marah - marah, namun baru kali ini Ia meneriaki Simon seperti itu.


Syaila masuk ke dalam ruangan, ketika Simon sedang tergesa - gesa membereskan barang milik Bian.


"Bi, staff mengajak kita makan malam bersama" ucap Syaila.


"Kami tidak ikut" jawab Bian singkat.


"Tapi Bi, " Syaila tidak berani meneruskan kata - katanya. Raut wajah Bian sudah tidak bisa diajak bersahabat lagi.


Syaila keluar ruangan Bian dengan rasa kesal. Semenjak ada gadis desa itu, Bian berubah 180 derajat. Dulu meskipun tidak mencintai Syaila, tapi Bian selalu memperlakukannya dengan baik. Selalu menuruti permintaan Syaila, dan saling berjanji untuk sukses bersama.


Bian pulang bersama Simon dengan terburu - buru. Bian mencoba menelepon Vega, namun tidak diangkat oleh Vega. Bian mencoba menelepon lagi, namun tetap nihil.


Simon melihat ke belakang melalui kaca spion. Ia melihat wajah Bian yang penuh khawatir.


"Tuan, tadi nyonya juga bilang Ia yang akhirnya menemani Vega ke butik" ucap Simon mengingat ucapan mamah Riri saat ditelepon.


Bian sedikit merasa lega mendengar hal tersebut.


Kenapa kau menungguku sampai 2 jam Ve, harusnya kau langsung pulang, batin Bian merasa bersalah.


Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Bian baru sampai dirumah karena sedikit macet saat diperjalanan. Ia melihat kamar Vega, tetapi sudah gelap. Sepertinya Vega sudah tertidur. Bian sangat menyesal telah membiarkan Vega menunnggunya kemaren.


***


Pagi hari, di hari yang cerah.


Vega membuka matanya dan mencari dimana HP nya. Kemaren batre HP nya lowbat, sehingga ia meninggalkan di kamar ketika Ia pergi ke Butik. Dan ketika pulang, Vega langsung tidur karena merasa sangat lelah. Ia tidak sempat memeriksa HP nya.


Di layar HP terlihat ada 5 panggilan tidak terjawab dari "Kulkas 2 pintu".

__ADS_1


Kak Bian meneleponku?, batin Vega.


Vega telah selesei mandi, kemudian ia segera turun untuk sarapan bersama.


Kemudian Bian menyusul dan duduk berseberangan dengan Vega. Vega sengaja mengabaikan Bian, Ia masih sedikit kesal karena tidak mengabarinya kemaren sore. Dan telah membuatnya menunggu lama.


"Bian, kali ini kamu harus menemani Vega mencari cincin" ucap mamah Riri setelah menyeleseikan sarapannya.


"Guasah tante, nanti ditemenin sama temen Vega aja" jawab Vega.


Bian menengok ke arah Vega, namun Vega tidak mau melihat kak Bian balik.


"Temen yang mana Ve?" tanya mamah Riri.


"Ada tan, temen kampus" jawab Vega lagi.


Bian mengira, mungkin saja Vega akan ditemani oleh Danis. Ia tiba - tiba merasa kesal.


Dan lagi - lagi meninggalkan meja makan tanpa menjawab perintah mamahnya.


Bukannya yang seharusnya marah itu aku?, batin Vega melihat Bian pergi dengan wajah kesal.


Vega berangkat ke kampus bersama Ryan menggunakan mobil. Tanpa disengaja mereka bertemu dengan Danis di parkiran.


"Hai yan, ve" sapa Danis dengan mencoba menampilkan wajah ceria. Rambutnya sedikit acak - acakan. Tidak biasanya Ryan mengabaikan penampilannya.


"Hai kak Danis" jawab Vega sambil tersenyum.


"Makasih hadiahnya yan" ucap Danis berterimakasih tentang foto yang kemaren Ryan kirimkan.


"Gimana, lu suka?" tanya Ryan meledek.


"Sialan lo, sabahat macam apa" jawab Danis sambil sedikit mendorong bahu Ryan.


"Nit, nanti pulang kuliah temenin aku ya" pinta Vega.


"Kemana ngapain?" tanya Nita.


"Nyari cincin" jawab Vega singkat.


"Cincin? buat tunangan?, kenapa ga bareng kak Bian?" tanya Nita.


"Kak Biannya sibuk terus Nit" jawab Vega lagi.


"Lah nanti gatau dong ukuran jarinya kak Bian seberapa, emang kamu tahu?" ucap Nita.


"Hmmm, iya juga aku gatau ukuran untuk kak Bian" jawab Vega lesu.


"Nah loh" jawab Nita.


Setelah kelas terakhir, Vega dan Nita berjalan keluar fakultas.


"Tuh bukannya mobil calon suami lo Ve?" tunjuk Nita pada sebuah mobil.


Vega melihat ke arah yang ditunjuk oleh Nita.


Kemudian Bian turun dari mobil dengan mengenakan masker dan topi.


Tanpa ba bi bu, Bian menarik tangan Vega masuk ke dalam mobil. Vega hanya menurut, karena tidak ingin mengundang perhatian.

__ADS_1


Setelah di dalam mobil,


"Kemana kak?" tanya Vega.


"Kita cari cincin" jawab Bian.


"Oh" jawab Vega cuek.


Bian tahu kalo Vega masih marah padanya. Namun ia tidak tahu harus bagaimana. Sebelumnya Bian tidak pernah membujuk wanita yang sedang marah padanya.


Akhirnya mereka sampai di sebuah toko perhiasan mewah. Vega terkagum - kagum karen banyak sekali perhiasan wanita berkilauan.


"Silahkan, mau cari apa?" tanya karyawati toko kepada mereka.


"Cincin pertunangan" jawab Bian singkat.


"Sebelah sini" tunjuk karyawati tersebut.


Pegawai itu merasa tidak asing dengan pria bertopi dan bermasker itu. Tapi siapa, ia tidak bisa menebaknya.


"Mau lihat yang ini mba" kata Vega kpada pegawai tersebut.


Vega mencoba cincin itu di jari manisnya.


"Gimana kak?" tanya Vega kepada Bian.


"Yang ini saja" tunjuk Bian ke salah satu deretan cincin mahal.


Vega melongo melihat harga cincin yang Bian tunjuk.


"Apa ga terlalu mahal kak? Kan cuma tunangan" tanya Vega.


Bian merasa tidak senang mendengar Vega berkata "cuma tunangan". Baginya untuk memutuskan bertunangan dengan Vega, membutuhkan tekad besar. Pasalnya ia harus mengingkari janji terhadap kakeknya, untuk menganggap Vega sebagai seorang adik.


"Di coba dulu" jawab Bian singkat.


Pegawai pun mengambil cincin tersebut dengan hati - hati. Kemudian Vega mencobanya.


"Gimana kak?" tanya Vega.


Bian kemudian memegang tangan Vega.



"Cantik, yang ini saja" kata Bian kepada pegawai di sana.


Vega hanya bisa pasrah dengan pilihan Bian. Ia memang sangat suka dengan cincin itu, tapi harganya terlalu mahal baginya.


"Kita makan malam dulu" ucap Bian sebelum mereka masuk ke dalam mobil.


"Makan diluar?, tapi kalo ada yang mengenali kakak nanti gimana?" tanya Vega.


Vega tahu kalo Bian masih mau merahasiakan hubungannya dengannya. Bian pun belum putus dengan Syaila.


"Yasudah kita ke apartemen saja, nanti bisa pesan onlen" jawab Bian santai.


"Emm, kenapa ga sekalian di rumah aja kak?" tanya Vega. Ia sebenarnya ngeri jika harus berduaan lagi dengan Bian di apartemen itu.


"Aku ingin makan malam hanya berdua denganmu Ve" jawab Bian sambil melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Hmm, baiklah" jawab Vega nurut.


...Bersambung...


__ADS_2